
Atmosfer tegang masih melingkupi suasana percakapan di antara Lilis dan Shehan.
"Sekarang, Jesslyn pasti sedang sibuk mencari keberadaan dokumen ini," ujar Shehan cukup tenang. Kembali menutup sampul map merah muda.
"Dari mana Mas tahu?" Kening Lilis mengernyit penasaran.
Pria itu bangkit dari tepian ranjang, dengan masih memegang map merah muda ia berjalan menuju rak hias yang menempel di dinding dan berhadapan dengan mereka. Lilis sendiri mengawasi dari posisinya semula.
Tangan kiri Shehan terangkat, membenarkan sebuah kotak hiasan yang terbuat dari anyaman rotan dan terdapat di rak tersebut. Memang rumah Shehan bertema scandinavian, jadi akan banyak ditemukan perabotan yang terbuat dari anyaman rotan.
"Posisi kotak ini berubah," katanya saat menoleh Lilis lagi, "Tidak pernah sebelumnya perabotan rumah ini bergeser atau berganti posisi sebelum aku menyuruh pelayan rumah untuk melakukannya."
Jeli benar Shehan, dengan cepat ia dapat menyadari perubahan sekecil apapun yang terjadi di rumahnya. Lilis manggut-manggut tanda mengerti.
"Itu artinya, Nona Jesslyn sudah datang ke kamar ini untuk mencari dokumennya?"
"Ya, Lilis. Tapi dia belum menemukan dokumen ini." Shehan menyambangi Lilis lagi, "Pasti dia akan mendatangi tempat lain di rumah ini untuk mencari dokumennya yang hilang."
"Jadi, ruangan mana kira-kira yang akan didatangi Nona Jesslyn untuk mencari dokumennya, Mas?"
Shehan menghela napas dalam. Kedua sudut bibirnya berkedut, hendak menciptakan seulas senyum tipis, tetapi tak jadi. "Akan kuberitahu kamu nanti malam."
Lilis bungkam, tetapi sorot matanya menunjukan bahwa ia telah mengerti dengan apa yang Shehan katakan.
**
Malam hari.
Denting suara lari jarum jam jelas terdengar melatari ruangan-ruangan rumah yang sepi. Semua lampu utama telah dipadamkan. Yang tersisa hanyalah lampu teras serta lampu taman yang sengaja dibiarkan menyala sebagai penerangan di luar.
Para penghuni rumah juga sudah melalang buana ke alam mimpi mereka masing-masing kecuali satu orang, yakni Jesslyn. Sehelai pucuk gaun tidurnya yang berwarna hitam terseret mengikuti jejak kakinya yang melangkah menuju ruang kerja Shehan.
Ceklek!
Sampai ketika pintu ruangan itu terbuka, pucuk gaun tidur tersebut ikut masuk ke dalam dan menghilang setelah daun pintu kembali ditutup rapat.
Ctak!
Saklar lampu telah dinyalakan, dalam sekejap ruang kerja yang tadinya gelap gulita berubah terang benderang. Jesslyn sigap bergerak, mencari-cari keberadaan dokumennya yang dia yakini telah disimpan Lilis di dalam ruangan itu.
"Ke mana surat rekam medisku?" Jesslyn sibuk mengangkat satu-persatu map yang tersusun rapi di dalam laci meja kerja Shehan. Ia sendiri sampai berlutut di lantai demi mencari dengan teliti.
Tiba-tiba,
Ceklek!
"Apa kamu sedang mencari dokumen ini, Jesslyn?"
"Hah! Siapa yang datang?" Jesslyn sontak panik, melongok dari balik meja kerja Shehan. Sepasang matanya membulat saat mendapati Shehan dan Lilis bersama-sama telah masuk ke dalam ruangan lalu menutup rapat pintu.
"She--Shehan ...." Jesslyn tergagap, bangkit dan gugup. Pandangannya tak lepas sedikitpun dari map merah muda yang ditunjukan Shehan selagi pria itu berjalan menghampirinya.
"Aku sudah tahu tentang kondisimu yang sebenarnya," ujar Shehan lagi.
Jesslyn beranjak meninggalkan meja kerja Shehan, membiarkan beberapa dokumen yang tadi dia angkat-angkat tetap acak-acakan di dalam laci. Disambanginya Shehan. Tampak wajahnya sudah sangat pucat pasi, tak menyangka Shehan sudah mengetahui rahasianya begitu cepat.
"Berikan itu padaku!" hardik Jesslyn, gusar.
Lekas Shehan menjauhkan map tadi dari jangkauan Jesslyn. Lilis yang berada di sana siaga memperhatikan.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sudah tidak mengandung lagi?" tanya Shehan, serius.
"Jadi kamu sudah membaca isi surat itu, Shehan?" Tubuh Jesslyn gemetaran. Napasnya memburu sampai kedua bahunya mengedik, mengikuti irama napasnya yang labil.
"Ya, aku sudah membaca keseluruhan isi surat itu. Kenapa kamu menutupi fakta ini?"
Lirikan maut Jesslyn membidik Lilis yang berdiri di belakang Shehan. 'Ini pasti gara-gara perempuan sialan itu! Beraninya dia berbohong dan mengatakan tidak tahu tentang dokumen rekam medisku!'
"Arghh! Semua ini pasti gara-gara kau, Lilis! Dasar gadis sial!" Jesslyn mengerang berang. Sekonyong-konyong hendak menjambak rambut Lilis.
Sudah akan berhasil Jesslyn menyentuh kepala Lilis. Namun, segera dihadang oleh Shehan dengan menahan tangannya.
"Hentikan, Jesslyn!" seru Shehan menengahi.
Seketika tatapan berapi-api Jesslyn mengarah pada Shehan. Kepalan tangannya yang hendak menjangkau kepala Lilis tadi gemetar menahan emosi.
"Ini semua bukan salah Lilis!" jelas Shehan dengan tegas.
"Kalau bukan salah gadis sial itu, lalu salah siapa? Dia berbohong padaku! Bilang kalau tidak tahu tentang surat rekam medisku. Tidak tahunya dia tahu dan tanpa seizinku memberikan surat itu padamu!" bentak Jesslyn, amarahnya tak terkendali. Sekuat tenaga ia menarik tangannya yang dicengkeram oleh Shehan hingga terlepas.
Kelopak mata Lilis bergoyang takut. Belum pernah dia melihat orang semarah ini padanya.
"Kalau Lilis tidak memberitahuku, kau juga tidak akan memberitahuku."
"Karena aku mencintaimu, Shehan!"
Air mata Jesslyn tumpah ruah membanjiri pipi. Tak sanggup lagi ia menampung duka laranya. Duka bukan sebab kehilangan bayinya, melainkan karena takut akan berpisah jauh dari pria yang dicintainya. Serta-merta Jesslyn memeluk Shehan. Goncangan pelukannya sampai membuat tubuh Shehan cukup terlonjak.
"Hu! Hu! Hu! Jangan usir aku dari sini, Shehan! Aku masih ingin bersamamu. Aku ingin tetap tinggal di sini bersamamu!" Jesslyn menangis terisak-isak.
Tak sampai hati, Shehan mengusap punggung Jesslyn beberapa kali seraya menasihatinya. "Ini semua sudah terjadi, Jesslyn. Aku turut menyesal atas musibah yang menimpamu. Tetapi bagaimanapun juga, ini menjadi pertanda kalau kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama."
Jesslyn mendongak, terlihat wajahnya merah padam dan matanya sembap. "Ayo, kita lakukan lagi! Kita buat bayi kita lagi. Aku akan menjaganya kali ini. Aku berjanji, akan benar-benar menjaganya kali ini ... Hu! Hu! Hu!" rengek dan tangisan Jesslyn menjadi satu. Memelas belas kasihan Shehan.
Alis Lilis hampir bertaut, ikut merasa iba pada Jesslyn. Wanita itu sangat mencintai Shehan sampai rela melakukan apapun demi bisa bersama pria yang dipujanya.
"Jesslyn, keinginanmu ini adalah keegoisan semata. Kamu tahu aku sudah berkeluarga. Kamu bisa mendapatkan pria yang lebih baik lagi." Shehan menimpali.
"Aku tidak mau pria lain!" Jesslyn bersikeras, "Aku cuma mau kau, Shehan."
"Kau tidak bisa bersikap egois dan keras kepala seperti ini! Aku sudah punya istri dan anak, Jesslyn. Kau harus memahami itu." Shehan menarik usapan tangannya dari punggung Jesslyn.
"Kenapa kau selalu saja menyebutnya istrimu? Padahal dia cuma istri kontrakmu!" Jari telunjuk Jesslyn mengarah pada Lilis. Melihat todongan jari itu, Lilis jadi tegang lagi.
"Tapi aku tidak menganggapnya begitu!" jelas Shehan.
"Jadi kau menganggapnya apa?" Jesslyn masih tak percaya.
"Aku menganggapnya istriku yang sebenarnya."
"Kalau dia istrimu yang sebenarnya, kenapa kau membuat surat perjanjian dan hanya mengajaknya menikah kontrak?" Jesslyn menuntut kejujuran Shehan.
"Itu dulu, sebelum aku menyukainya."
"Lalu sekarang kau sudah menyukainya?" Nada suara Jesslyn melemah dan putus asa.
"Tidak, aku jatuh cinta padanya."
"Hah!" Lilis terkesiap bukan main sampai matanya membola menatap Shehan.
Hati Jesslyn remuk redam. Jiwanya terguncang hebat. Tubuhnya makin gemetaran. Bibir keringnya bergetar, tetapi tak mampu mengucapkan sepatah kata pun juga.
"Aku mencintai istriku, Jesslyn. Itu sebabnya kita tidak bisa bersama. Aku menyayangi keluargaku saat ini. Aku tidak ingin kehilangan mereka ataupun menggantikan mereka dengan kebahagiaan yang lain," aku Shehan dengan jujur. "Kumohon mengertilah!"
Setelah mendengar pengakuan Shehan, Jesslyn berjalan mundur beberapa langkah ke belakang. Sebelum akhirnya ambruk, terduduk di lantai.
"Jesslyn!"
"Nona Jesslyn!"
Pekikan Shehan dan Lilis meluncur beriringan. Bergegas keduanya mendekati Jesslyn yang sedang terpuruk. Wanita itu menunduk, menangis tersedu-sedu. Bulir-bulir air matanya berjatuhan di lantai bagai rinai hujan.
***
BERSAMBUNG...