
Usai mengalami musibah, Jesslyn agaknya mulai menata diri menjadi lebih baik. Ia pulang kembali ke rumah Shehan, meski berjalan tertatih-tatih. Memberikan kesan ramah pada semua orang, walaupun kondisinya masih lemah dan pucat.
"Nona Jesslyn! Nona kenapa?" Lilis-lah yang paling pertama menyadari kondisi Jesslyn yang terlihat sedang sakit. Ia memapah wanita itu ketika baru muncul dari ambang pintu utama rumah.
"Lilis ...," balas Jesslyn dengan lembut. "Aku sedang kurang enak badan. Dokter bilang aku mengalami anemia jadi mudah lelah. Dokter juga menyarankan aku agar banyak istirahat di rumah."
"Mari kubantu ke kamar, Nona!"
"Terima kasih, Lilis."
Lilis yang merasa prihatin, meski tidak tahu apa penyebab Jesslyn sakit, tetap rendah hati mau menolong wanita itu. Ia merangkul Jesslyn menuju kamar tamu. Shehan sendiri tidak ada di rumah, sudah berangkat bekerja sejak dua jam yang lalu. Nurbanu juga sudah pergi ke sekolah TK Bunga Matahari.
Setibanya di kamar, Lilis membaringkan Jesslyn di ranjang. Tak lupa membantunya melepaskan sepatu, lalu menaikan kedua kaki Jesslyn ke atas kasur agar nyaman.
"Beristirahatlah, Nona!"
"Terima kasih, Lilis."
"Apa Nona mau minum teh hangat?"
"Baiklah, mungkin itu dapat membuat tubuhku lebih segar."
"Kalau begitu Nona tunggulah di sini. Aku mau ke dapur membuat teh hangatnya."
"Tunggu sebentar, Lilis!"
Baru hendak berbalik badan, Lilis menoleh Jesslyn lagi.
"Kemarilah!" pinta Jesslyn.
Tak berpikiran buruk tentang perintah Jesslyn, Lilis menurut saja. Kembali ke dekat Jesslyn dan duduk di tepian ranjang ketika Jesslyn mempersilakannya.
"Duduklah sebentar di sini, Lilis!"
"Baiklah, Nona."
Kemudian Jesslyn melepaskan kait kalung yang melingkari lehernya. Kalung itu berbahan emas putih dan terdapat liontin berlian. Lilis yang berada di hadapan terus mengamati Jesslyn.
"Bisa tolong kamu simpankan kalung ini, Lilis?" Jesslyn menyodorkan kalung tadi.
Lilis melihatnya sesaat. "Kalung apa itu, Nona?"
"Ini adalah kalung warisan Ibuku. Ibu kandungku sudah meninggal dunia dan Ayahku sudah menikah lagi setelah tiga bulan kepergian Ibuku untuk selamanya."
"Aku turut berdukacita, Nona." Lilis yang polos langsung terenyuh mendengar cerita pilu Jesslyn. Apalagi binar mata Jesslyn berkaca-kaca saat menceritakannya. Lilis pun ikut merasa sedih.
"Ya, Lilis. Maaf kalau sikapku selama ini kurang berkenan di hatimu. Sejujurnya cuma Shehan yang aku miliki setelah Ibuku meninggal dunia. Ayahku tidak pernah peduli lagi padaku. Sibuk dengan istri barunya. Kalau aku sedih, aku akan melihat kalung ini agar merasa dekat dengan Ibuku."
Jesslyn kembali menunjukan kalung miliknya pada Lilis.
"Nona harus bersabar. Pasti di balik ini semua, Nona akan mendapatkan hari bahagia kelak."
"Tolong simpankan kalung ini, Lilis!" Jesslyn mengamit tangan Lilis, meletakan kalung itu di telapak tangannya.
Lilis yang bingung pun bertanya. "Kenapa Nona memberikannya padaku?"
"Aku masih sangat lemah bahkan sekadar berjalan menuju lemari. Tolong bantu aku menyimpannya di bagian paling bawah lipatan pakaian, Lilis!"
Sejenak Lilis memandangi kalung Jesslyn yang berada di atas telapak tangannya. "Kalung ini bagus sekali ya, Nona!" ungkap Lilis, menatap kagum.
"Ya, Lilis. Aku juga sangat menyayangi kalung itu. Karena hanya benda ini yang paling bisa mengingatkan aku pada Ibuku."
"Karena ini benda milik Nona yang paling berharga, akan kusimpan baik-baik di bagian paling bawah lipatan pakaian sesuai keinginan Nona."
"Terima kasih, Lilis."
Lilis beranjak bangkit, menyimpan kalung Jesslyn tadi. Sejak hari itu, hubungan Jesslyn dan Lilis kian membaik. Setiap pagi Lilis membawakan sarapan ke kamarnya. Membuatkan makanan bergizi agar Jesslyn cepat pulih, termasuk menawarkan bantuan bila Jesslyn membutuhkan pertolongan.
Namun, di suatu pagi, tiba-tiba Jesslyn membuat keributan dan panik semua orang.
"Di mana kalungku? Di mana kalungku?" ratap Jesslyn seraya mengobrak-abrik pakaiannya dalam lemari.
Mbok Tum yang ikut khawatir terus mengawasi di ambang pintu. Shehan dan Lilis yang juga mendengar kericuhan itu, akhirnya tiba di kamar tamu yang dihuni oleh Jesslyn. Barulah Jesslyn mulai mengadu pada Shehan, mencari perlindungan.
"Ada apa, Jesslyn? Kenapa pagi-pagi kau ribut sekali?" gerutu Shehan.
"Shehan!" Jesslyn berlari memeluk Shehan. "Kalungku hilang, Shehan? Itu adalah kalungku yang sangat berharga karena satu-satunya kenangan dari mendiang Ibuku yang kupunya."
"Kalungmu hilang?" Shehan mengernyit.
Sementara Mbok Tum dan Lilis saling bertukar pandang usai mendengar aduan Jesslyn.
"Nanti kau sendiri lupa meletakannya di mana. Apa sudah dicari ke semua tempat yang kamu singgahi?" Shehan tidak mau terburu-buru panik.
"Tidak Shehan! Tidak!" sangkal Jesslyn. "Aku ingat terakhir kali aku meletakannya di paling bawah tumpukan bajuku. Tolong bantu aku menemukannya, Shehan?"
Shehan menghela napas panjang. Lalu menoleh Mbok Tum yang masih betah berdiri di ambang pintu. "Mbok Tum, tolong bantu Jesslyn mencari kalungnya nanti."
"Baik, Tuan."
"Tidak Shehan, tidak perlu dicari lagi!"
Seruan Jesslyn sekonyong-konyong membuat orang-orang yang ada di sana bertambah bingung.
"Apa maksudmu? Bukannya kau tadi yang ribut kalau kalungmu hilang?" Shehan menyergah.
"Sebenarnya aku sudah tahu siapa yang mengambil kalungku, hanya saja aku mau orang itu berkata jujur sebelum aku mengatakannya."
Sontak Shehan, Lilis dan Mbok Tum semakin terkejut.
"Maksudmu di rumah ini ada pencuri, begitu?" Shehan menginterogasi.
"Ya, Shehan," jawab Jesslyn yakin.
"Tapi sebelumnya keadaan aman saja di rumah ini. Tidak pernah ada kasus kehilangan barang," bantah Shehan masih kurang percaya.
"Shehan, aku minta izinmu dulu untuk bertanya pada Lilis?"
"Lilis?"
"Aku?"
Pasangan suami istri tersebut serta-merta menyahut secara bersamaan.
"Ya, Shehan." Lantas Jesslyn dengan langkah mantap menghampiri Lilis. Lilis sendiri tampak gelisah ketika Jesslyn menyambanginya. Shehan dan Mbok Tum terus mengawasi kedua wanita itu dari posisi mereka masing-masing.
"Lilis, apa kamu ingat aku pernah menunjukkan kalung pemberian Ibuku padamu?"
"Ya, Nona. Baru dua hari yang lalu Nona menunjukkannya padaku."
"Kamu bilang kalung itu sangat indah, bukan?"
Bibir gemetar Lilis tersendat untuk menjawab. "Ya ... ya, Nona. Aku memang mengatakan itu."
Dengan lembut Jesslyn menggenggam tangan Lilis. "Lilis, kalau kau memang menginginkan kalung itu. Aku bisa memberikannya padamu."
"Tapi ... tapi aku tidak menginginkannya, Nona." Lilis membantah.
"Lilis, aku ikhlas kalau kamu memintanya secara jujur. Tapi bukan seperti ini caranya. Saat aku mandi diam-diam kamu mencuri kalung itu!"
"Apa? Aku mencuri kalung itu?" Mata Lilis membelalak.
Shehan segera mendekati keduanya untuk menengahi. "Tidak mungkin Lilis mencuri kalungmu, Jesslyn! Selama dia tinggal di rumah ini. Belum pernah ada barang yang hilang."
Jesslyn menoleh. "Shehan, kamu bisa bilang begitu karena tidak tahu siapa Lilis sebenarnya. Coba saja periksa lemari tempat dia menyimpan barang. Pasti ada kalung itu di sana!"
Shehan bergeming. Lilis segera memeluk lengan Shehan yang sudah terbalut setelan jas sebab pria itu awalnya memang akan berangkat bekerja.
"Tidak, Mas! Aku berani bersumpah kalau aku tidak pernah mencuri kalung itu! Memang aku tahu kalung yang Nona Jesslyn maksud dan aku akui aku memang mengaguminya. Tapi aku tidak mungkin mencuri kalung itu, Mas?"
"Semuanya mungkin saja terjadi, Lilis!" Jesslyn memprovokasi.
"Tidak, Nona! Aku benar-benar tidak mencuri kalung Nona!"
Dituduh sedemikian rupa, membuat mata Lilis mulai menganak sungai.
***
BERSAMBUNG...