
Ceklek!
Brak!
Derit pintu dibanting, memecah kesunyian kamar utama. Shehan membawa tubuh lelahnya duduk di tepi ranjang. Membenamkan wajahnya ke kedua belah telapak tangan. Sedangkan dua sikunya bertumpu pada masing-masing lutut.
Ia bergeming, frustasi. Merenungi kesalahan fatal yang telah terjadi tadi malam di antara dirinya dan Jesslyn. Wanita yang selama ini dianggapnya sebagai sahabat, teman suka maupun duka. Ternyata tega menjebaknya hanya demi sebuah keegoisan semata.
Nasi sudah menjadi bubur. Lantas, bagaimana hubungan Shehan dan Jesslyn di kemudian hari? Akankah masih bisa tetap sama seperti sediakala?
Shehan menyisir rambutnya ke belakang dengan jari seraya menekan kulit kepalanya, berharap rasa sakit kepalanya mereda. Namun, sia-sia karena penat itu tidak kunjung hilang. Malahan ia semakin tertekan.
"Akh" desisnya gusar, menarik tangannya keluar dari kumpulan rambut dengan kasar. Alur napas Shehan naik turun, tidak stabil. Rasanya ada bongkahan timah panas yang menggumpal di dalam rongga dada. Membuatnya sesak dan sulit bernapas.
Pusing memikirkan masalah itu, Shehan memilih untuk mandi. Menyalakan pancuran air dengan volume maksimal. Seketika air turun dengan derasnya bagaikan hujan. Membasahi sekujur tubuh Shehan dari atas kepala sampai ke telapak kaki.
**
Di luar kamar, Lilis datang sambil membawa nampan berisi secangkir teh hangat. Ia adalah gadis baik, perangainya pun terpuji. Meski dikecewakan, Lilis tetap menjalani tugasnya sebagai seorang istri yang patuh. Tahu Sang Suami sedang tidak enak hati, Lilis berniat menghangatkannya dengan teh manis.
Tok! Tok! Tok!
"Mas Shehan!"
Gadis itu mengetuk pintu beberapa kali sembari memanggil. Tidak mau masuk ke dalam kamar sebelum diberi izin.
Tok! Tok! Tok!
Pada ketukan kedua belum juga ada sahutan.
"Mas ... Mas Shehan!"
'Mas Shehan ke mana, ya? Tadi aku lihat masuk ke kamar? Apa sudah keluar lagi?' batin Lilis, bertanya.
"Ah, lebih baik kuperiksa ke dalam kamar saja!"
Ceklek!
Lilis membuka daun pintu. Mendapati ruangan kamar kosong. Hanya tampak kemeja Shehan saja yang teronggok di tepi tempat tidur. Belum sempat dimasukkan ke keranjang pakaian kotor.
Lilis pun masuk ke dalam. Sekejap ia menoleh ke arah pintu toilet tatkala mendengar suara rintik air yang jatuh di dalam sana. Senyum Lilis memuai. Ia berprasangka baik kemudian. "Oh, Mas Shehan sedang mandi rupanya."
Usai meletakan nampan berisi secangkir teh yang masih hangat di atas nakas, Lilis beranjak memungut kemeja Shehan dari tepi tempat tidur. Berniat memasukkannya ke dalam keranjang pakaian kotor.
Akan tetapi, samar-samar Lilis mencium aroma parfum yang berbeda dari kemeja itu. Aroma parfum Shehan dan satu lagi aroma parfum yang asing baginya. Lekas Lilis menempelkan kemeja itu ke hidungnya. Ada semerbak wangi vanilla yang menguar dari kemeja itu.
"Parfum siapa ini, ya? Wangi parfum Mas Shehan tidak seperti ini."
Lilis menjauhkan sedikit kemeja itu, masih memperhatikan dengan seksama. Di saat itu, tanpa sengaja Lilis menemukan segaris noda merah pada kerah kemeja Shehan. Sontak Lilis terperangah.
"Noda apa ini? Seperti lipstik."
Ujung ruas jari Lilis menggosok bagian itu perlahan dan nodanya pun menyebar ke bagian kain yang lain. Saat melihat bekas noda merah yang tertinggal di ujung ruas jarinya, barulah Lilis yakin kalau itu memang noda lipstik.
"Ini ... memang noda lipstik." Intonasi Lilis melemah. Sesuatu telah meleleh di dalam hatinya dan sesuatu itu membuatnya tidak nyaman.
'Apa jangan-jangan Mas Shehan bersama wanita lain tadi malam? Mas Shehan memang tidak pulang. Atau dia diam-diam punya kekasih lain?'
Di saat yang sama, Shehan baru saja keluar dari toilet dengan mengenakan handuk kimono khusus pria warna putih dan berbahan tebal. Shehan terkejut melihat Lilis sudah ada di dalam kamar sambil memegang kemejanya. Lilis yang menyadari kehadiran Shehan ikut menoleh. Keduanya saling bersemuka.
Lilis sendiri berubah bingung setelah menemukan bukti noda lipstik itu. Sekilas ia melihat kemeja yang masih ada di tangannya lalu beralih melihat Shehan yang kian mendekatinya.
"A--aku ... belum terlalu lama, Mas."
Shehan melirik kemejanya yang dipegang Lilis. "Kenapa kamu memegang kemejaku?" Cepat pria itu merampas.
Lilis tersentak melihat kemeja tadi dengan cepat sudah berpindah tangan. "A--aku tadi, mau menaruh kemeja itu di keranjang pakaian kotor, Mas."
Shehan yang masih kesal dengan masalahnya, tanpa sadar melampiaskan kekesalannya pada Lilis. Ia berubah jadi dingin dan ketus lagi.
"Biar aku saja yang menaruhnya!" Beranjak menuju keranjang pakaian kotor yang ada di dekat pintu masuk toilet.
"Mas!" panggil Lilis ketika Shehan sudah membelakanginya.
Sekonyong-konyong Shehan berhenti, tetapi tidak menoleh pada Lilis.
"Di kemeja itu, ada noda bekas lipstik warna merah." Lilis berterus-terang dengan apa yang dia temukan.
Selepas mendengar itu, Shehan jadi semakin kalut. Dahinya mengernyit pusing. Tetapi tidak dihiraukannya perkataan Lilis. Terus berjalan lalu mencemplungkan kemeja tadi ke dalam keranjang.
"Apa Mas bersama wanita lain tadi malam?" tanya Lilis lagi saat Shehan sudah kembali menghadapnya.
Shehan menoleh tajam Lilis sebentar, lagi-lagi tidak mau menggubris Lilis. Ia hendak melengos pergi ke ruang berpakaian.
"Jawab aku, Mas! Aku butuh jawaban. Kenapa Mas menghindar!"
Shehan menghela napas kasar. Ia masih diam. Selang semenit kemudian berbalik badan, menatap Lilis dengan intens. Dari seberang, raut Lilis terlihat sudah mendesak, meminta jawaban.
"Kalau aku bersama wanita lain atau tidak? Memangnya apa urusanmu? Kita hanya menikah kontrak, bukan menikah sungguh-sungguh. Kita berdua bebas menjalani kehidupan pribadi kita masing-masing."
Lilis membisu diberi jawaban demikian. Entah mengapa ia merasa sedih. Padahal benar juga perkataan Shehan, untuk apa dia mempertanyakan kalau statusnya hanya seorang istri kontrak dan tahun depan akan diceraikan pula.
"A--aku ...." Lilis menunduk, menyembunyikan wajah sendunya. "Tadi malam aku menunggu Mas sampai tengah malam. Kalau memang Mas tidak pulang, setidaknya Mas memberitahu agar aku tidak menunggu."
"Ya sudah. Lain kali jangan menungguku!"
Glek!
Saliva Lilis tertelan dalam di balik wajahnya yang sedang tertekuk. Matanya jadi berembun. Air mata sudah menggenang di pelupuk.
"Baik, Mas. Lain kali, aku tidak akan menunggu Mas lagi. Maaf, kalau tadi aku salah bertanya."
Lilis berbalik badan. Namun, sebentar ia berputar ke arah Shehan lagi. Shehan yang belum jadi pergi ke ruang berpakaian memperhatikannya.
"Tadi aku sudah membuatkan teh hangat untuk Mas. Aku letakan di atas nakas."
Shehan melirik nakas tersebut. Tampak olehnya secangkir teh masih berada di atas nampan terletak di sana.
"Ya, terima kasih."
"Aku pamit keluar dulu, Mas."
Shehan tidak menyahut. Sambil membawa rasa kecewa, Lilis berlalu pergi meninggalkan Shehan sendiri di dalam kamar. Sementara Shehan masih setia melihat kepergian Lilis. Sampai bayangan gadis itu menghilang di balik tikungan tembok.
***
BERSAMBUNG...