
Lilis dan Shehan sama-sama sedang melamun, merenungi nasib suram yang mereka alami. Lilis merenung sambil mengelap vas bunga di ruang tamu, membantu pekerjaan Mbok Tum atas kemauannya sendiri, meski wanita paruh baya itu telah menolak berkali-kali.
"Jangan, Non. Biar Mbok saja yang mengelap vas bunganya," ujar Mbok Tum tidak enak hati. Tangannya sudah akan meraih vas yang sedang dipegang Lilis.
Lilis memberikan senyumnya sebagai balasan. "Tidak apa-apa, Mbok. Aku bosan tidak melakukan pekerjaan apapun di rumah ini."
"Non Lilis kan istri Tuan. Pekerjaan rumah seperti ini biar Mbok saja yang kerjakan."
"Tidak apa-apa, Mbok. Aku sedang bosan, jadi mau menghibur diri."
Mbok Tum akhirnya menurut, tidak menentang keinginan Lilis lagi. Gadis itu memang sengaja bekerja keras sebagai upaya untuk menghilangkan perasaan tidak enak di hatinya.
Usai menemukan noda bekas lipstik di kerah kemeja Shehan dan laki-laki itu memang tidak pulang tadi malam, Lilis pun meyakini kalau Shehan memang memiliki wanita lain. Hanya saja sebagai istri kontrak, Lilis tidak berhak bertanya apalagi cemburu. Apalah daya seorang Lilis, dia hanya mampu bersabar seraya memendam kekecewaan di dalam hati.
Sementara Shehan dengan kedua jemari tangan saling bertaut menopang dagu, masih memikirkan perihal masalahnya. Bagaimana kalau nanti Jesslyn hamil? Apa yang harus dia lakukan bila itu sungguh terjadi?
Di satu sisi, Jesslyn terus menerus menelepon Shehan, dari rumah ataupun kantornya. Mengirim berpuluh-puluh pesan yang tidak satu pun dibalas Shehan. Ketika ponsel Shehan berdering dan terdapat nama Jesslyn di layar, Shehan hanya menyentuh tanda diam agar nada deringnya tidak mengganggu pendengarannya lagi.
Ting Ning! Ting Ning!
Lamunan Lilis buyar oleh bunyi bel yang ditekan dari luar. Ia terperanjat menoleh ke pintu utama.
Ting Ning! Ting Ning!
"Sebentar!" seru Lilis, meletakan kain lap dan vas bunga ke atas meja kemudian beranjak membukakan pintu model kupu-kupu tersebut.
Ceklek!
Dua orang pemuda mengenakan seragam kemeja warna merah yang dipadukan dengan celana panjang jeans hitam berdiri di depan Lilis.
"Selamat siang. Kami dari studio foto mau mengantar foto pernikahan Nyonya Lilis dan Tuan Shehan," kata seorang pekerja studio sambil menjaga posisi foto yang diletakkannya di atas lantai agar tetap tegak.
Lilis melihat foto berukuran cukup besar dan masih tertutup kertas pelindung sebentar. "Oh, ya. Silakan masuk!"
"Terima kasih, Nyonya."
Dua orang pekerja tadi masuk ke dalam rumah sembari membawa foto. "Omong-omong, mau diletakan di mana foto ini, Nyonya? Biar saya bantu memasangnya," imbuh pekerja itu sesudah celingukan melihat sekeliling ruang tamu rumah.
"Tunggu sebentar, ya. Saya tanyakan dulu pada suami saya," balas Lilis.
"Iya, Nyonya."
"Silakan duduk dulu sambil menunggu." Tangan Lilis mengulur pada sebuah sofa panjang di dekat mereka. Mempersilakan dengan ramah. Dua pekerja tadi saling bertukar pandang. Mereka merasa segan untuk duduk di sofa yang kelihatan mahal itu.
"Terima kasih, Nyonya. Tapi kami berdiri saja. Tidak apa-apa."
"Baiklah, tunggu sebentar, ya."
Lilis melepas senyum tipis kemudian beranjak menuju ruang kerja Shehan di rumah. Setibanya di sana, Lilis mengetuk pintu dua kali dan cepat mendapat tanggapan. Shehan menyuruhnya untuk masuk saja ke dalam.
"Mas, ada orang datang dari studio foto. Mengantar foto pernikahan kita. Dia tanya foto itu mau ditaruh di mana? Biar mereka bantu pasangkan." Lilis memberitahu dari depan meja Shehan.
"Suruh orang itu membawa fotonya ke sini saja," titah Shehan dari balik meja kerjanya.
"Apa foto itu mau dipajang di sini, Mas?" Lilis terkesiap, tidak biasanya Shehan luluh dengan hubungan mereka.
"Tidak."
"Aku hanya mau menyimpannya di sini."
"Oh ... baiklah, Mas." Suara Lilis pasrah. "Kalau begitu, aku suruh pekerja tadi membawa fotonya ke sini."
"Hhmm ...."
Setelah dehaman Shehan, Lilis menemui pekerja studio foto itu lagi. Mengatakan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Shehan tadi. Pekerja itu pun menurutinya.
Sebenarnya Lilis ingin melihat foto pernikahannya bersama Shehan ketika foto tersebut sudah berada di ruang kerja suaminya, tetapi bahkan Shehan sendiri tidak mengajaknya untuk membuka kertas pelindung foto bersama-sama.
Malah menyuruh Lilis keluar bersama dua orang pekerja studio foto tadi. Alhasil, Lilis pergi setelah pucuk matanya berhasil melihat sekilas foto pernikahan yang teronggok di lantai dekat rak buku yang ditanam di dinding.
Setelah kepergian Lilis dan pintu ruang kerja tertutup rapat, Shehan bangkit dari kursi. Menghampiri foto pernikahannya. Rupanya Shehan berniat membuka kertas pelindungnya sendiri. Sengaja tidak mau mengajak Lilis.
Robekan-robekan mulai terjadi sampai semua kertas pelindung tidak ada lagi yang membungkus foto itu. Terpampanglah foto Shehan bersama Lilis dengan mengenakan pakaian pengantin. Jas hitam dan gaun putih gading.
Di foto itu posisi Shehan berdiri tegak. Sementara Lilis duduk pada sebuah kursi apik seraya memeluk salah satu lengan Shehan yang berdiri di sampingnya. Keduanya sama-sama tersenyum, menunjukkan keharmonisan.
Shehan bersedekap, memandangi foto itu cukup lama. Secara bergantian bola matanya bergulir, dari gambar wajahnya lalu memperhatikan wajah Lilis. Gadis muda itu terlihat anggun dan cantik di dalam foto. Shehan sendiri menyadari hal itu.
Ia kemudian pergi ke kamarnya, melihat foto pernikahannya bersama Sarah yang masih tergantung di sana. Kembali Shehan menatap foto itu cukup lama. Selanjutnya apa yang Shehan lakukan?
Shehan memang tidak memajang foto pernikahannya dengan Lilis. Tidak di satu pun dinding rumahnya. Tetapi Shehan menurunkan foto pernikahannya bersama Sarah. Setelah empat tahun lebih, foto itu nyaman di tempatnya meskipun Shehan telah resmi bercerai dengan Sarah.
Kini Shehan berubah pikiran. Akhirnya ia menurunkan foto itu dan menyimpannya di dalam lemari. Bagian dinding atas headboard tempat tidur pun kosong melompong. Tidak ada lagi gambar Sarah terpampang di sana.
Di saat Shehan masih berada di dalam kamar, tiba-tiba Lilis masuk.
Ceklek!
"Eh, Mas ...." Terkejut. Dia tidak tahu kalau Shehan ternyata sedang berada di dalam kamar.
Shehan menoleh.
"Maaf Mas, aku tidak mengetuk pintu. Aku tidak tahu kalau Mas ada di dalam."
Shehan diam, tidak menyahut. Ia lebih tertarik melihat pakaian Lilis yang basah pada bagian dadanya. "Kenapa bajumu?"
"Oh, ini ...." Lilis melihat bajunya sendiri, "Tidak sengaja air minum yang kuminum tumpah. Jadi mengenai bajuku. Aku mau menggantinya."
"Gantilah!" Shehan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, berjalan menuju pintu keluar
Lilis pun berjalan hendak ke ruang berpakaian. Tanpa sengaja pandangannya menangkap pemandangan dinding kosong di atas headboard tempat tidur. Lilis menyadari ada sesuatu yang hilang di sana.
"Loh, Mas! Foto pernikahan yang ada di sana?" Lilis menunjuk dinding sembari menoleh Shehan.
Shehan refleks berhenti. "Aku sudah menurunkannya."
'Apa? Tuan Murad menurunkan foto pernikahannya bersama Mbak Sarah?' batin Lilis masih tidak percaya 'Kenapa tiba-tiba diturunkan? Padahal saat kami sudah menikah pun, Tuan Murad masih sayang dengan foto itu.'
Tidak menunggu jawaban dari Lilis, Shehan beranjak pergi keluar kamar.
***
BERSAMBUNG...