
Kebahagiaan menyelimuti Shehan siang ini. Senyum cerah terus menghiasi paras tampannya sedari tadi. Dapat menikmati momen makan siang bersama Sarah sudah seperti mendapatkan sebuah anugerah bagi Shehan.
Bahkan, Sarah pun dapat melihat ekspresi senang Shehan dengan jelas. Lantas di sela kegiatan makan mereka, ia coba menggoda mantan suaminya itu dengan candaan ringan. "Dari tadi kuperhatikan kamu senyum-senyum terus. Pasti karena sebentar lagi akan menikah, ya?" Perangai Sarah sedikit manja.
Sontak Shehan terperangah. "Ah! Tidak, Sarah." Buru-buru ia menyangkal.
"Jangan bohong padaku, Shehan. Kalau memang benar juga tidak apa-apa. Aku senang kamu punya pasangan baru sekarang. Jadi aku tidak terlalu merasa bersalah karena sudah meninggalkanmu sendirian."
"Sungguh bukan karena itu, Sarah."
Lagi-lagi Shehan membantah dugaan Sarah. Wanita itu dibuat benar-benar penasaran sekarang.
"Kalau bukan karena itu, jadi karena apa?"
Shehan bergeming dengan tatapan fokus ke arah mantan istrinya. Ia bukan hanya melihat dengan mata, tetapi juga dengan hati.
'Aku senang karena bisa bersamamu, Sarah.' Ungkapan jujur Shehan di relung kalbu yang paling dalam dan hanya Shehan saja yang dapat mendengarnya.
"Aku senang karena Nurbanu bisa melihat ibunya lagi." Itu adalah jawaban terbaik yang bisa Shehan katakan, daripada harus mengakui kerinduannya pada Sarah. Sedangkan Sarah sudah berstatus menjadi istri pria lain.
Mencuat raut sedih Sarah setelah ucapan Shehan tadi. "Ya, Shehan. Aku juga merasa bersalah pada Nurbanu. Ke depannya aku akan berusaha melonggarkan kesibukanku agar bisa lebih lama bersama dengan Nurbanu."
"Ya, itu lebih baik. Walaupun kita berdua telah berpisah, tapi aku tidak ingin Nurbanu kehilangan kasih sayang salah satu dari kita. Kita adalah orang tuanya. Jadi kitalah yang harus bertanggung jawab untuk menyenangkan Nurbanu."
Shehan memang sangat menyayangi putrinya dan selalu memprioritaskan Nurbanu dari apapun.
"Ya Shehan ... oh ya, ngomong-ngomong, bagaimana dengan rencana pernikahanmu. Aku ingin tahu siapa wanita beruntung itu." Kali ini Sarah to the point bertanya tentang hal yang paling membuatnya penasaran.
Sekelumit senyum Shehan mengembang, membalas mimik antusias Sarah. Dihelanya napas dalam dan perlahan. Shehan berusaha tenang menanggapi pertanyaan Sarah, tidak mau terburu-buru menjawabnya. "Bisakah kita membicarakannya saat sudah selesai makan?" pinta Shehan dengan sopan.
Sarah mencebik manja. Sedikit kesal karena Shehan menunda memberikan jawaban. Namun, ia juga tidak mau memaksa dan lebih memilih untuk bersabar. "Baiklah, Shehan. Terserah kamu saja."
Shehan mengangguk beberapa kali. Ia pun lega karena bayangan sosok Lilis tak jadi mengganggu waktu makan siang yang istimewa bersama Sarah.
**
Setengah jam berlalu, Sarah dengan caranya yang anggun menyeruput sedotan yang hampir seluruh pipanya tenggelam ke dalam jus stroberi. Ia sudah selesai menghabiskan makanannya dan kini sedang duduk manis seraya memandangi Shehan yang berusaha menghabiskan sisa makanannya.
Tak perlu menunggu lama, pada menit selanjutnya Shehan telah selesai menikmati santap siangnya. Pria itu mengambil segelas air putih lalu meneguknya sampai tinggal setengah gelas. Lalu diambilnya selembar tisu, menyeka area sekitar mulut agar bersih.
Kedua ujung bibir Shehan naik kini, mengukir senyum penuh arti yang tercipta hanya untuk Sarah. Pasangan mantan suami istri tersebut saling tatap-tatapan. Di hati Shehan, bunga-bunga setaman sudah merekah memenuhi perasaan suka citanya.
"Shehan ...," panggil Sarah dengan lembut.
"Ya, Sarah." Perlahan Shehan beringsut maju dari posisi duduknya semula. Ia rela melakukan itu agar dapat menikmati kecantikan Sarah dari jarak yang lebih dekat.
"Katakanlah, siapa calon istrimu. Dari tadi aku benar-benar penasaran!"
Sarah merengek-rengek seperti anak kecil. Di hadapannya, Shehan yang tadi berbunga-bunga tiba-tiba berubah kusut seribu. Ia bingung memberitahu Sarah kalau Lilis-lah calon istrinya itu.
Dalam benak Shehan, muncul bayangan sosok Lilis sekarang. Gadis itu tidak pernah memakai riasan wajah selain bedak tipis saja. Rambutnya yang panjang sampai sepunggung selalu dikepang satu di belakang. Sebagai pengikat simpulnya, Lilis cuma mengandalkan karet pita.
Apalagi Lilis juga selalu mengenakan pakaian sederhana. Bukan gaun mewah atau sejenisnya. Lilis sungguh terlihat kampungan bagi Shehan. Sedangkan Sarah yang saat ini berada di depannya, adalah wanita yang sangat modis.
"Shehan, kenapa melamun? Kamu tidak berniat memberitahuku lagi, ya? Padahal aku sudah menunggu dari tadi," omel Sarah meski dengan gelagat bergurau saja.
"Tidak Sarah. Bukan itu maksudku." Kening Shehan mengernyit.
"Kalau bukan begitu, ayo, katakanlah, Shehan! Siapa calon istrimu itu? Aku harus tahu karena dia akan menjadi ibu sambung untuk Nurbanu." Sarah mendesak lagi, sudah tak sabar.
'Aku malu karena dia jelek dan kampungan, Sarah,' batin Shehan, prihatin terhadap dirinya sendiri yang akan memperistri wanita yang jauh di bawah standarnya.
Sarah menuntut jawaban Shehan lewat sorot matanya. Shehan tak bisa berkelit lagi sekarang. Mau tidak mau pria itu harus mengatakan siapa calon istrinya pada Sarah.
"Wanita itu ...." Shehan jeda bagai tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Ayolah, Shehan! Jangan membuatku semakin penasaran." Raut sebal Sarah tak sungkan lagi ia tampilkan sebagai bentuk protes atas sikap Shehan yang bertele-tele sedari tadi.
"Wanita itu adalah ...."
Bibir Shehan kelu tak bisa bicara. Di satu sisi Sarah di seberang fokus mendengarkan.
"Wanita yang akan kunikahi adalah Lilis."
Serta-merta kedua mata Sarah membulat nyaris sebesar bola kaki.
"What! Lilis? Kamu bilang Lilis adalah calon istrimu?"
"Ya, Sarah." Shehan tertunduk malu.
"Apa kamu yakin dengan perkataamu barusan, Shehan? Kamu akan menikah dengan Lilis, baby sitter--anak kita?" Sarah masih menatap dengan sorot mata tak percaya.
Sambil duduk, perasaan Shehan campur aduk. Resah, gelisah, malu, semuanya menjadi satu. Ia sudah menduga kalau Sarah pasti tidak akan mempercayainya.
"Kenapa tiba-tiba kamu mau menikah dengan Lilis, Shehan? Bukannya gadis itu baru enam bulan bekerja sebagai pengasuh anak kita?"
"Ya, tapi aku sudah cukup lama mengenalnya." Shehan berusaha membela diri agar tidak kelihatan kalau dia sedang main-main.
"Maksudmu, kamu sudah dekat dengan gadis itu cukup lama?"
Shehan diam tak mampu menjawab. Pandangannya beralih ke tempat lain. Sengaja menghindari tatapan Sarah yang terus mengintimidasi.
"Shehan, jujur saja aku masih belum yakin. Kenapa bisa mendadak mau menikah dengan Lilis? Apa ada sesuatu di balik ini semua?"
Sikap tegas Shehan muncul menengahi suasana serius ini. "Tidak, sama sekali tidak."
"Haah ...." Embusan napas panjang Sarah menguar, meringankan pikirannya yang tadi buncah. "Jadi benar tidak ada sesuatu di baliknya?"
"Aku sudah menjawab pertanyaanmu yang ini, Sarah. Ya, aku memang akan menikah dengan Lilis dalam waktu dekat dan aku sudah memberitahumu. Tolong, hargai keputusanku."
'Aku tak menyangka selera Shehan pada wanita sangat berbeda dengan dulu. Apa karena aku meninggalkannya, dia berubah jadi penyuka wanita sederhana?' Sarah membatin selagi menyaksikan sikap tegas Shehan.
***
BERSAMBUNG...