
Sebuah uluran tangan yang sedang memegang saputangan tiba-tiba mengejutkan LiIis. Lilis mengangkat wajahnya setelah sebelumnya menunduk untuk waktu yang cukup lama. Bibir kering LiIis terasa kaku ketika akan memanggil nama pria yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Mas Nugie...."
"Pakailah saputangan ini, LiIis!" Nugie tahu LiIis menangis.
Buru-buru LiIis mengelap jejak air mata di pipinya, malu sudah ketahuan oleh Nugie.
"Tidak apa-apa! Pakai saja saputangan ini, Lilis! saran Nugie lagi.
Sebentar LiIis menoleh Nugie. Pria itu nampak tulus terlihat dari pancaran matanya. LiIis jadi segan bila harus menolak. Apalagi hubungan pertemanan mereka cukup dekat. Semenjak LiIis bertandang ke rumah Ibu Mutia dan berjumpa dengan Nugie untuk pertama kali di sana, LiIis pasti akan mengobrol akrab dengan Nugie jikalau mereka bertemu lagi di sekolah TK Bunga Matahari.
"Terima kasih, Mas." LiIis malu-malu mengambil saputangan yang Nugie sodorkan.
Nugie lega LiIis mau menerima saputangannya. Kemudian ia duduk di bangku halte--di sebelah LiIis. "Kenapa kamu menangis dan duduk di sini sendirian?" tanyanya selagi melihat LiIis menyeka wajah dengan saputangan yang dia berikan tadi.
"Ah, tidak apa-apa, Mas!" LiIis cengir. Sengaja membuat ekspresi tegar.
"Tidak apa-apa, apanya? Buktinya kamu menangis!" sangkal Nugie.
Lilis menoleh Nugie sekilas lalu melihat saputangan yang sedang dia pegang.
"Ah, ini ... sebenarnya tidak ada apa-apa, Mas. Aku cuma sedikit sedih saja." Suara LiIis melemah. Ia enggan mengadu tentang masalah rumah tangganya. Hal itu sama saja seperti membeberkan aibnya dan akan membuatnya malu sendiri. Untungnya Nugie dapat mengerti permasalahan Lilis meski gadis itu sama sekali tidak mengutarakannya.
"Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau cerita, Lis. Kalaupun kamu punya masalah dalam rumah tangga, sebaiknya kamu berkata jujur pada suamimu. Kamu harus bilang tentang apa yang kamu rasakan agar bisa mendapat solusi masalah yang tepat," ujar Nugie memberi saran.
Sejenak Lilis membisu. 'Apa benar yang dikatakan Mas Nugie barusan? Apa harus kukatakan saja perasaan dan keinginanku pada Mas Shehan?' batinnya.
"Aku yakin masalahmu pasti akan segera selesai dengan cara yang baik," imbuh Nugie lagi memberi semangat.
"Mungkin yang Mas katakan ada benarnya. Tetapi masalahku teramat sulit, Mas. Aku juga sungkan kalau harus menceritakan semuanya. Maaf ya, Mas."
Nugie menghela napas ringan, ia mengerti dengan pengakuan LiIis yang merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, LiIis. Tindakanmu cukup benar. Masalah rumah tangga adalah hal yang sensitif. Kalau kamu ingin berbagi cerita, kamu memang harus menceritakannya pada orang yang kamu percaya dan yang kamu yakini bisa memberikan saran yang dewasa."
"Iya, Mas. Tapi harus kuakui kalau saran Mas Nugie juga baik."
Nugie tersenyum tipis menanggapi.
"Oh, iya! Kok Mas tiba-tiba bisa ada di sini?" tanya Lilis, penasaran.
"Sebenarnya aku mau pulang ke rumah. Tidak sengaja malah melihat kamu di sini."
"Maaf ya, Mas. Jadi mengganggu perjalanan Mas pulang." Lilis mengernyit segan.
"Tidak apa-apa," sahut Nugie tenang. Ia lantas melihat arloji di pergelangan tangan kirinya. Waktu ternyata sudah menunjukkan saatnya untuk segera makan siang, "kamu mau ikut ke rumahku? Sebentar lagi jam makan siang. Nanti kita bisa memasak bersama!"
"Benar boleh ikut, Mas?" Lilis semringah.
"Ya, aku memang mau memasak di rumah. Kalau kamu ikut, sekalian aku mau minta diajari memasak sama kamu."
"Ah, Mas Nugie bisa saja. Kemampuanku pasti kalah dari Mas Nugie yang memang koki di restoran, milik sendiri lagi!"
Senyum Nugie kian lebar dipuji seperti itu. "Ayo, aku ajari kamu memasak!"
"Siap, Mas!"
Akhirnya keceriaan LiIis yang sempat redup, kini benderang lagi. Agaknya cara Nugie berhasil--ingin menghibur gadis itu. Lilis dan Nugie duduk di kabin depan mobil. Keduanya berbincang santai sepanjang perjalanan. Nugie juga menyambut Lilis dengan ramah saat mereka tiba di rumahnya.
"Nah, kita sudah sampai!" kata Nugie girang.
"Sudah sampai ya, Mas?" Lilis bertanya seraya celingukan.
"Sudah, turun, yuk!"
"Ayo!"
Pandangan Lilis mengedar ke sekeliling ketika ia baru saja turun dari mobil Nugie yang diparkir di pelataran. Nuansa hijau dan asri--itulah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana halaman rumah Nugie yang diisi dengan banyak ragam tumbuh-tumbuhan, tetapi semua tanaman itu ditata dengan rapi agar tidak kelihatan seperti sekadar semak.
Ceklek!
"Selamat datang, Lilis. Silakan masuk!" Nugie menahan tuas pintu kayu yang dicat warna putih agar tetap terbuka lebar.
"Terima kasih, Mas." Lilis kemudian masuk ke dalam ruang tamu rumah. Disusul oleh Nugie yang masuk belakangan.
Ceklek!
"Silakan duduk ya, Lis." Tangan Nugie mengulur ke sebuah sofa warna biru gelap nyaris seperti warna hitam. "Aku mau mengambilkan kamu minum. Oh ya, kamu mau minum apa?"
"Jus jeruk saja deh, Mas," sahut LiIis tak sungkan.
"Oke!" Nugie membentuk o dengan jarinya. "Tunggu sebentar, ya!"
"Hhmm ... ya, Mas."
Lilis duduk di sofa saat Nugie pergi menuju dapur. Lagi-lagi pandangannya mengedar ke sekeliling, mengamati rumah Nugie. Ukuran rumah tersebut terbilang pas untuk ditinggali seorang pria single. Tidak terlalu besar, tetapi juga tidak sempit.
Nugie pun mendekorasi rumahnya dengan mengusung tema minimalis. Tidak banyak perabotan yang diletakan dalam tiap ruangan sehingga memberikan kesan luas. Sisi minimalisnya semakin kontras dengan perpaduan cat dinding warna monokrom.
Saat mendapati sebuah rak hias yang ditempatkan Nugie di sudut ruang tamu, hati Lilis tergerak ingin melihat. Ia penasaran dengan banyaknya bingkai foto dari yang ukurannya kecil sampai yang berukuran sedang dipajang di sana. Lantas Lilis bangkit dari duduknya, beranjak menuju rak hias tersebut.
Senyum LiIis merekah lebar setelah melihat foto-foto yang membuatnya penasaran tadi. Agaknya Nugie gemar mengoleksi foto kanak-kanak dan mungkin saja itu adalah foto dirinya sendiri saat masih kecil.
"Lilis, ini minumannya!" Nugie yang sudah kembali dari dapur meletakan segelas jus jeruk di atas meja kaca.
"Ini foto Mas Nugie waktu kecil, ya?" sela LiIis.
"Kok tahu?" Nugie menghampiri.
"Duh, imutnya!" Lilis memandang kagum pada salah satu foto Nugie yang tampak sedang dibonceng anak perempuan lain naik sepeda.
"Perempuan ini pasti Bu Mutia?" imbuh LiIis seraya menunjuk foto anak perempuan di samping Nugie.
"Hahaha! Iya, itu Kakak. Aku suka foto ini karena di foto ini Kak Mutia baru saja kehilangan dua gigi depannya. Jadi saat tersenyum seperti ada jendela dalam mulutnya," papar Nugie, cengengesan sendiri.
"Ih, Mas Nugie jahil, deh! Sama Bu Mutia!" LiIis memicingkan mata meledek. Nugie semakin terpingkal.
"Hahaha! Itu sebabnya aku suka memajang foto kenangan saat masih anak-anak. Untuk mengingat hal lucu dan menghibur diri sendiri. Karena ketika kita dewasa, hal seperti ini jarang bahkan mungkin tidak akan terjadi lagi."
Lilis mengangguk beberapa kali. "Ya, Mas memang benar."
"Kamu mau makan apa, Lis? Hari ini aku akan memasak menu makanan yang kamu mau saja."
"Hhmm, kalau begitu ... aku mau apa, ya?" Manik LiIis berputar sembari berpikir.
"Makan nasi goreng saja yuk, Mas!"
"Nasi goreng?" Nugie mengernyit, "benar kamu mau nasi goreng? Sekarang cuaca panas di luar. Kamu tidak mau makan makanan yang sedikit basah, misalnya?"
Lilis menggeleng lemah beberapa kali. "Eum ... tidak mau, Mas. Entah kenapa lagi ingin nasi goreng."
"Oke deh, nanti aku buatkan makanan penutup yang basah untuk penyeimbangnya." Nugie menimpali.
Sontak Lilis kegirangan seperti anak kecil. "Yeay, Mas Nugie baik, deh!
Kedua sudut bibir Nugie naik. "Kamu mau ikut aku memasak?"
"Mau dong, Mas!" Cepat Lilis menjawab.
"Yuk, kita ke dapur!"
"Hhmm...."
Lilis mengekori Nugie berjalan di belakang. Sesampainya di dapur, Nugie mengeluarkan dua buah celemek untuknya dan juga LiIis. Tak lupa Nugie jugalah yang membantu Lilis memakai celemek itu.
"Sip, sudah pas!" ujar Nugie setelah berhasil mengikat simpul tali di belakang pinggang Lilis.
Lilis kemudian berbalik badan. "Terima kasih ya, Mas!"
Cling!
Nugie mengedipkan satu matanya dan itu terlihat manis sekali. Setidaknya bersama Nugie, LiIis kembali ceria hari ini.
***
BERSAMBUNG...