
Sebuah tanda centang dengan tinta warna hitam baru saja tercetak di tengah kotak yang menjadi pertanda tiap baris tulisan nama-nama kata benda.
"Baju tidur? Sudah. Obat anti muntah? Sudah. Alat make up? Sudah. Apalagi kira-kira yang belum, ya?" Lilis mengetuk dagu dengan poros pena beberapa kali. Manik matanya berputar seraya mengingat barang-barang yang harus dia bawa ke Turki. Tak berselang lama, pandangan Lilis bergulir ke bawah lagi, membaca satu-persatu catatan penting yang telah dia buat sejak tiga hari lalu.
"Ah, ya! Aku lupa saputangan Mas Shehan. Untung saja ingat!"
Lekas Lilis meletakan buku catatan dan penanya di atas meja yang berada di dalam kamar utama, lalu pergi ke ruang berpakaian. Tangan kanannya menarik salah satu laci yang ada di bawah sekat pemisah antara ruangan lemari khusus pakaian yang digantung dengan laci saputangan.
Diambil oleh Lilis beberapa saputangan Shehan, sekiranya ada lima belas lembar. Meski tujuan mereka ke Turki hanya selama seminggu saja. Namun, untuk berjaga-jaga bila saputangan Shehan yang lain basah atau kotor. Itulah yang dipikirkan Lilis makanya mau membawa lebih sebagai cadangan.
"Nah, sudah beres!" Lilis berceloteh senang usai menyimpan saputangan-saputangan tadi ke dalam koper berukuran cukup besar. Resleting dari koper itu pun sudah ditutup rapat. Tinggal menurunkannya dari atas kasur dan meletakannya di dekat lemari hias yang bersebelahan dengan pintu masuk kamar utama.
Dreeett....
Derit roda koper menguar ketika diseret.
Ceklek!
Shehan datang hendak memeriksa pekerjaan istrinya. "Sudah selesai beres-beresnya?" Bertanya dari balik daun pintu yang masih setengah tertutup. Tuas pintu pun masih Shehan pegang. Ia datang di saat yang tepat, tatkala Lilis sudah tuntas menyelesaikan tugasnya.
"Sudah, Mas," lapor Lilis.
"Ayo, ikut bersamaku!" ajak Shehan disertai gerakan kepala.
"Ke mana, Mas?"
"Membeli kue kering khas Indonesia untuk buah tangan."
"Ya, Mas."
Lilis menurut--menerima uluran tangan Shehan, berjalan seraya bergandengan keluar dari kamar utama menuju mobil yang terparkir di garasi.
Sepulangnya dari Banyuwangi, Shehan meminta Miranda--sekretarisnya untuk mengosongkan jadwal dan kegiatan pekerjaan yang bisa diundur waktunya sampai Minggu depan, demi bisa mengajak Lilis pergi ke Turki--negara yang berada di kawasan Eurasia. Besok adalah jadwal keberangkatan Lilis dan Shehan untuk melakukan perjalanan tersebut.
Nurbanu, pada awalnya Shehan mau mengajak putri semata wayangnya itu untuk ikut serta bersama mereka. Lilis juga tidak keberatan. Apalagi mereka telah meminta izin agar Nurbanu tidak masuk kelas selama seminggu pada kepala sekolah TK Bunga Matahari.
Namun, saat Shehan memberitahu Sarah akan pergi ke Turki dengan mengajak Lilis dan putri mereka, Nurbanu malah berubah pikiran. Tidak mau ikut ke Turki lantaran sudah pernah ke sana. Alhasil balita perempuan itu malah memilih untuk tinggal bersama Sarah dan Jody di Jakarta.
"Papa ... Banu mau sama Mama. Mau tinggal sama Mama, Pa! Banu rindu Mama...." Sambil merengek tiada henti, Nurbanu minta diantar ke rumah Sarah. Ia juga mengatakan kalau rindu dengan ibunya sejak terakhir kali bertemu ketika acara resepsi pernikahan Shehan dan Lilis digelar di Banyuwangi.
Lilis dan Shehan saling bertukar pandang. Tak sampai hati, Shehan mengizinkan putrinya untuk ikut bersama Sarah selagi dia dan Lilis pergi keluar negeri. Sarah yang kebetulan sedang tidak sibuk mau datang ke Bali untuk menjemput Nurbanu, sekalian mengecek kinerja butiknya yang ada di sini.
**
Tidak ada penerbangan langsung untuk rute dari bandar udara I Gusti Ngurah Rai Bali-Indonesia menuju bandar udara Esenboga, Ankara-Turki. Sebab itu, Shehan dan Lilis harus menempuh durasi penerbangan selama lima belas jam lewat tiga puluh menit dan harus transit.
Kendati demikian, setibanya di hotel bintang lima tempat mereka menginap pada sore hari menjelang malam, Lilis dibuat terkesima oleh pemandangan ibu kota Turki yang menakjubkan--Ankara, kota kelahiran suaminya. Dari balkon gedung bertingkat hotel, Lilis melemparkan pandangannya jauh ke depan. Gemerlap lampu-lampu yang menyala seperti taburan bintang di gelap malam, sungguh memukau.
"Bagusnya!" puji Lilis dengan pancaran mata berbinar.
Lilis menoleh. "Pasti sekarang Mas senang bisa berada di kota ini lagi."
Shehan turut bersemuka. "Ya, Sayang. Aku juga lebih bahagia karena bisa membawamu ke sini. Besok pagi baru kita akan pergi ke rumahku. Tapi cuma ada Mehrunissa di sana dan beberapa pelayan saja."
"Ya, Mas. Tidak apa-apa, aku mengerti. Tapi aku gugup, Mas." Secerah riang gembira Lilis berganti dengan gelisah.
"Gugup kenapa?" Shehan agak mengernyit.
"Karena aku tidak bisa bahasa Turki dan bahasa Inggris. Bagaimana nanti bila mau bicara dengan adik Mas?"
Shehan merasa lega karena ternyata hal sepele itu yang membuat istrinya panik. "Tidak apa-apa, Lilis. Ada aku yang akan menerjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Turki nanti. Lagipula Mehrunissa juga sangat sibuk mengurus bisnisnya. Dia tidak bisa berlama-lama menemani kita di rumah. Makanya aku mengajakmu tinggal di hotel saja supaya tidak kesepian. Kita bisa pergi berjalan-jalan keliling kota setelah itu."
"Ya, Mas." Senyum tipis Lilis mencuat lagi.
Tangan Shehan mendarat di kepala Lilis, mengusapnya beberapa kali. "Tidurlah sekarang! Pasti kamu lelah duduk terlalu lama di kabin pesawat."
"Ya, Mas. Tapi aku mau mandi air hangat dulu supaya segar. Tubuhku sangat lengket rasanya karena berkeringat," keluh Lilis seraya mengedikan kedua bahu.
"Apa aku boleh ikut?" tanya Shehan yang sengaja ingin mencandai istrinya.
"Ck!" Lilis mendesis malu, "tidak boleh. Kalau Mas mau mandi, nanti ya, setelah aku selesai mandi."
"Tapi aku...."
Cepat Lilis beranjak pergi dengan wajah tertekuk menahan malu, tidak mau menunggu Shehan menyelesaikan kalimatnya. Pasti pria itu akan memiliki beragam alasan untuk membenarkan permintaannya.
"Lilis! Lilis!" panggil Shehan cukup kencang.
Lilis yang sudah hampir tiba di dekat pintu toilet menoleh ke belakang, sebentar saja melihat Shehan untuk melempar senyum jenaka. Lalu masuk ke dalam toilet. Satu persatu pakaiannya dilepas dan dimasukan ke dalam keranjang penatu. Kali ini Lilis tidak kelimpungan lagi memutar tuas kran pancuran air untuk menghasilkan air hangat. Shehan sudah pernah mengajari Lilis saat mereka bersama-sama pergi ke Jakarta hendak mengunjungi kantor kedutaan besar Turki.
Suara ricuh air yang jatuh berisik, memenuhi pendengaran. Lilis menengadah, membiarkan guyuran air membasahi sekujur tubuh dari atas kepala hingga ujung kaki. Kedua tangan Lilis menyapu rambut yang terjuntai di wajah ke belakang kepala. Matanya lalu memejam cukup lama sambil memijat kulit kepala agar rileks.
"Akhh!" decak Lilis kaget ketika membuka mata malah mendapati Shehan sudah berdiri di hadapannya dengan tubuh polos tanpa sehelai benang. "Kapan Mas masuk? Aku tidak tahu."
Shehan bergeming tanpa ekspresi di bawah guyuran air. Rambut lurus melekat di sekitaran wajah. Aliran air mengaliri hidungnya yang mancung. Bibir lembapnya basah, sedikit terbuka--seksi sekali. Belum lagi tatapannya yang intens tak berkedip dan tak berpaling. Menjurus ke satu arah yaitu Lilis.
Lilis sendiri sudah buncah tidak karuan. Meski sudah pernah melakukan percintaan dengan suaminya, tetapi setiap kali Shehan mendekatinya seperti ini, maka Lilis akan merinding dan gemetaran.
Tatapan Lilis mengitari raut tegas Shehan. Sementara pria itu melangkah perlahan mengikis jarak di antara mereka. Saat tinggal beberapa sentimeter saja tersisa, dengan sigap Shehan memutar posisi Lilis jadi membelakanginya.
Lilis spontan melenguh. Tubuhnya dihimpit ke dinding, di bawah guyuran air. Ia memalingkan wajah ke samping agar bisa bernapas. Hitungan detik selanjutnya, Lilis memejamkan matanya erat. Kedua tangannya memegang dinding dan jarinya mencengkeram.
Bagaimana bisa dia bertahan dari siksaan kecupan-kecupan Shehan yang menghujani punggungnya. Geli, teramat sangat menggelitik. Bahkan, kedua tangan pria itu ikut berperan aktif, meremas dadanya lembut tanpa henti. Lilis menggigit bibirnya frustasi. Ia terjebak dalam belenggu hasrat pria itu berkali-kali.
***
BERSAMBUNG...