
Sebuah cermin di atas wastafel memantulkan bayangan wajah Shehan. Pria itu memanglah sedang berdiri di sana, memeriksa luka memar yang menghiasi sudut bibirnya. Ibu jari Shehan mengusap bagian itu sekejap.
'Perlu beberapa hari agar luka memar ini menghilang,' ujarnya pada diri sendiri. 'Sepertinya aku harus bekerja dari rumah saja setidaknya sampai warna biru memar ini pudar.'
Shehan beranjak mengganti pakaiannya usai memilih inisiatif demikian. Jas kerjanya ia ganti dengan sepotong kemeja warna hijau gelap yang dipadukan dengan celana panjang berbahan ringan warna krem muda.
Ia lalu duduk di ruang kerjanya, mengambil dan memeriksa beberapa dokumen pekerjaan yang tadinya tersusun di dalam lemari arsip di belakang kursi sembari menunggu Miranda--sekretarisnya mengantar dokumen dari kantor.
Sementara di dalam kamarnya, Lilis berjalan mondar-mandir dilanda bingung. Kepalan tangan kanannya tak henti mengetuk dagu selagi berpikir untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang diajukannya pada dirinya sendiri.
"Bagaimana ini? Apa aku temui saja Tuan Murad dan bertanya tentang kejadian di mall?" Dahi Lilis mengernyit bingung. "Ah ...."
Helaan napas panjang tercipta akibat emosi yang tidak stabil. Mendadak Lilis diam, berhenti mengetuk dagu. Manik matanya berputar seraya mempertimbangkan sesuatu. Sesuatu itu adalah keputusan yang akan dia ambil.
"Kalau tidak berani bertanya, aku akan penasaran terus. Sebaiknya kutanyakan saja pada Tuan Murad," celotehnya menemukan solusi.
Lilis mengangguk beberapa kali, memantapkan diri. Setelah yakin, gadis itu keluar kamar mencari Shehan. Hampir sekitar tujuh menit ia mengelilingi ruangan demi ruangan rumah. Namun, keberadaan sang majikan tak kunjung ia dapati.
Nyaris menyerah, untung saja Lilis berpapasan dengan Mbok Tum. Tidak mau melewatkan kesempatan, Lilis akhirnya bertanya keberadaan Shehan pada wanita paruh baya itu.
"Mbok, ada lihat Tuan Murad, tidak?"
"Tuan Murad ...." Mbok Tum mengingat sesaat. "Oh, tadi Mbok lihat Tuan masuk ke ruang kerjanya."
Sepasang mata Lilis berbinar seketika. "Terima kasih ya, Mbok."
Selepas menyaksikan ulasan senyum tipis mengembang di paras tua si asisten rumah tangga, Lilis bergegas pergi menuju ruang kerja majikannya.
Tok! Tok! Tok!
Shehan menoleh ke arah daun pintu yang sedang tertutup dari balik meja kerjanya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" Pada seruan ketukan kedua, pria Turki itu baru bersuara memberi jawaban.
Ceklek!
Kepala Lilis melongok ke dalam. "Permisi, Tuan!"
Shehan pikir yang mengetuk pintu adalah Mbok Tum untuk memberitahunya kalau Miranda sudah datang. Ternyata yang muncul adalah wajah baby sitter--putrinya.
"Ada apa, Lilis?"
"Maaf Tuan. Apa Tuan sedang sibuk? Ada yang mau aku bicarakan."
"Masuklah!" Shehan tidak menjelaskan situasinya, tetapi dia langsung memberi izin.
Lilis baru berani masuk ke dalam ruang kerja atasannya setelah diperbolehkan. Pelan ia menutup pintu itu kembali, lalu berdiri di hadapan Shehan dengan kedua tangan saling bertaut di depan rok.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" Shehan mengambil posisi duduk santai, bersemuka dengan Lilis.
Lilis tidak segera menjawab. Luka memar yang terlihat jelas mewarnai sudut bibir pria itu telah menarik perhatian Lilis, membuatnya memperhatikan cukup lama.
"Maaf Tuan, sebenarnya aku mau bertanya keadaan Mbak Tina? Karena waktu di mall tadi, Tuan bilang Mbak Tina sakit perut. Dan satu lagi, itu sudut bibir Tuan kenapa terluka?" Lilis menarik jari telunjuknya yang sempat menunjuk luka memar Shehan.
Shehan memalingkan pandangannya sejenak kemudian kembali bersitatap muka dengan Lilis. "Luka memar ini mantan pacarmu yang membuatnya!"
"Hah! Mas Hendra! Kok bisa, Tuan? Bagaimana kejadiannya?" Spontan Lilis terkesiap.
"Panjang ceritanya. Yang jelas, sudah terjadi kesalahpahaman di antara kami. Tapi masalah itu sudah jelas dan sudah beres sekarang," terang Shehan dengan sikap tenang.
"Lalu Mbak Tina bagaimana, Tuan? Apa sudah sembuh?"
"Sudah."
"Apa luka memar Tuan sudah diobati? Mau kuambilkan obat untuk Tuan?"
"Sudah kuobati sendiri."
Semua pertanyaan Lilis sudah dijawab dengan cepat dan singkat oleh Shehan. Kini tidak ada lagi alasan bagi Lilis untuk terus berada di ruang kerja atasannya. Tahu diri, Lilis pun pamit undur diri.
"Kalau begitu, aku permisi keluar, Tuan. Semoga Tuan lekas sembuh."
"Ya."
Lilis mengangguk singkat kemudian berbalik badan menuju pintu. Memang seperti itu hubungan Lilis dan Shehan. Tidak ada kedekatan yang berarti apalagi keakraban di antara mereka. Shehan hanya bicara dengan Lilis bila ada sesuatu yang ingin pria itu tanyakan saja.
Bila tidak ada, maka Shehan akan bersikap tak acuh dan dingin. Menyapa Lilis kalau gadis itu yang lebih dulu menegurnya. Meski begitu, kedua orang yang sama sekali tidak memiliki chemistry apapun akan melaksanakan pernikahan. Pastilah rumah tangga mereka akan berasa hambar. Sudah dapat disimpulkan dari sekarang.
**
Esok hari.
Shehan sudah bekerja dari rumah sejak kemarin siang. Pagi ini pun, semua dokumen pekerjaannya diantar ke rumahnya oleh Miranda. Bila pun ada rapat dengan rekan kerja, Shehan memilih menggunakan aplikasi saja.
Sampai hari menjelang siang, pria itu giat bekerja. Ketika waktu makan telah datang, barulah Shehan menghentikan kegiatannya. Hendak mengisi pasokan energi dengan makanan bergizi yang sudah disiapkan Mbok Tum di meja makan.
Lilis, gadis itu menghabiskan waktu dengan membantu pekerjaan Mbok Tum membereskan rumah, lantaran Nurbanu masih tinggal bersama Sarah sampai enam hari ke depan. Usai mencuci piring bekas memasak, Lilis beranjak ke kamarnya yang berada di koridor dekat ruang makan.
Kamar-kamar para asisten rumah tangga di rumah Shehan memang sengaja dibuat berdampingan di sana. Itu adalah keinginan Shehan sendiri yang ia sampaikan pada arsitek dan juga tergambar dalam desain denah rumah, ketika rumah dua lantai miliknya yang dilengkapi dengan taman serta kolam renang yang luas akan dibangun.
Satu jam setelah waktu makan siang, Shehan kedatangan dua orang tamu. Mereka adalah Pak Sebastian--pengacara Shehan dan Ibu I Gusti Eka Kertiani, wanita yang berprofesi sebagai notaris dan merupakan rekan kerja Pak Sebastian.
Rupanya kedatangan dua tamu itu adalah untuk membawakan surat perjanjian pranikah yang sebelumnya diminta oleh Shehan. Surat itu nantinya akan dibuat menjadi dua yang asli dan Lilis juga akan memilikinya.
Shehan pun menyambut dua tamu itu di ruang kerjanya. Ketiga orang tersebut duduk menempati dua buah sofa yang diletakan saling berhadapan. Sedangkan satu sofa lain berukuran satu orang yang berada di sisi tengah antara dua sofa panjang lainnya masih kosong.
"Selamat siang, Tuan. Saya datang bersama Ibu Eka untuk melanjutkan pembicaraan kita tempo hari mengenai surat perjanjian pranikah yang Tuan minta. Ibu Eka juga sudah membawa rancangan surat yang berisi permintaan dan keinginan Tuan, yang akan ditulis dalam surat perjanjian pranikah."
Shehan mengangguk beberapa kali. "Apa semua keinginan dan permintaanku sudah dicatat di surat rancangan itu?" tanyanya pada Pak Sebastian.
"Sudah, Tuan. Silakan Tuan baca dulu sebelum memberikan surat itu pada calon istri anda!" Pak Sebastian beralih pandang pada rekan kerjanya. "Ibu Eka, tolong tunjukan surat rancangan perjanjian pranikah itu pada Tuan Murad."
"Baiklah." Ibu Eka mengambil tas kantor miliknya dari lantai lalu menempatkannya di atas pangkuan. Ia merogoh ke dalam tas, lalu mengeluarkan sebuah map warna hijau muda dari sana.
"Ini surat rancangan itu, Tuan." Map berisi surat tadi disodorkan pada Shehan. "Silakan Tuan periksa lagi. Mungkin saja masih ada keinginan Tuan yang belum tercatat, akan saya masukan ke dalam daftar permintaan."
Shehan diam. Netranya bergerak turun, membaca satu persatu poin-poin yang ada di surat itu. "Tidak perlu," sahutnya kemudian. "Semua keinginanku sudah tertulis di rancangan surat ini. Akan kupanggil calon istriku agar dia bisa membaca dan menandatanganinya."
Shehan meraih gagang telepon dari atas nakas di sebelah sofa. Ia menyambungkan panggilan itu ke telepon rumahnya sendiri. Hanya selang beberapa detik, perangkat telepon yang berada di ruang tengah berdering.
"Halo ...." Lilis-lah yang menerima panggilan itu.
Kenal dengan suara yang menjawab, Shehan langsung bicara ke intinya. "Lilis, datanglah ke ruang kerjaku sekarang. Ada yang mau aku bicarakan denganmu."
"Baik Tuan." Lilis mengembalikan gagang telepon ke tempatnya semula. Bertolak ke ruang kerja Shehan melalui sisi kiri jalan di ruang tengah.
***
BERSAMBUNG...