Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 48 : Peringatan



Ketika sedang berbaring di sofa dalam kamar utama, Lilis diam-diam memerhatikan Shehan dari celah kecil selimut yang menutupi sekujur tubuhnya. Malam kian larut dan Shehan juga sudah berbaring di atas kasurnya yang nyaman.


'Tanya tidak ya, soal Nona Jesslyn?'


Dalam benak Lilis, ia ingin sekali menanyakan perihal Jesslyn yang tiba-tiba saja akan tinggal bersama mereka. Bukan bermaksud apa-apa, Lilis juga sadar diri kalau rumah yang dia tempati saat ini bukanlah miliknya.


Namun, sejak wanita berambut blonde itu datang, tak henti Lilis penasaran. Bila harus bertanya langsung pada Shehan, tentulah Lilis segan. Apalagi sepengatahuan Lilis, Jesslyn dan Shehan merupakan teman dekat. Bahkan sebelum kehadirannya di rumah itu.


'Ah, sudahlah. Lebih baik tidak usah bertanya. Nanti Tuan Murad pikir aku mau ikut campur kehidupan pribadinya lagi.'


Lantas Lilis memalingkan muka. Memendam rasa keingintahuannya sepertinya adalah yang terbaik. Daripada dia harus kehilangan citra baik dan terlihat posesif di mata Shehan, padahal statusnya cuma istri kontrak.


'Hhmm ... lebih baik tidur saja!'


Lilis pun coba memejamkan mata. Melenyapkan semua rasa penasaran dan menggantinya dengan pikiran tenang. Tidur gadis itu cukup nyenyak malam ini sampai menjelang subuh.


**


Pagi hari.


'Apa ada orang di luar?'


Shehan celingukan mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan waspada dari ambang pintu kamar utama. Tampak olehnya suasana sekitar ruangan rumah sangat sepi lantaran sekarang masih pukul 06.02 pagi.


'Tidak ada orang. Sekarang aku harus cepat, agar tidak ada yang melihat.'


Shehan beranjak mengendap-endap seperti maling, keluar dari kamar utama dan pergi menuju kamar tamu yang dihuni oleh Jesslyn. Padahal kamar tamu itu masih bagian dari rumahnya sendiri.


Ceklek!


Shehan cepat menutup pintu kamar lagi usai berhasil masuk ke dalam.


"Shehan!" Jesslyn yang baru bangun tidur dan akan hendak mandi terperangah sekaligus semringah. Pria yang dipujanya tahu-tahu muncul di hadapannya pagi ini. Lekas Jesslyn turun dari ranjang, berlari kecil ingin memeluk Shehan.


"Berhenti!" tegur Shehan diikuti gerakan tangan mengarah pada Jesslyn. Sontak Jesslyn menghentikan lari kecilnya lalu berdiri mematung dengan jarak yang hampir dekat di depan Shehan.


Gelagat semringah Jesslyn berubah jadi keheranan. "Ada apa? Bukannya kau datang pagi ini memang sengaja mau menemuiku? Aku cuma mau memberikan pelukan selamat pagi, itu saja, Shehan."


Shehan dengan wajah datarnya membalas. "Ya, aku memang sengaja datang pagi-pagi agar tidak ada yang tahu kalau aku ke kamarmu."


"Cih!" Jesslyn terkekeh pelan "Kenapa harus seperti itu? Kau bisa kapan saja menemuiku karena aku tinggal di rumahmu. Apa tidurmu nyenyak tadi malam?"


"Aku tidak mau membahas itu. Aku datang ke kamarmu karena mau memperingatkanmu. Tolong, jaga sikapmu di depan Nurbanu dan Lilis selama tinggal di rumah ini. Jangan melakukan hal yang bisa membuat mereka curiga."


Jesslyn mengernyit tidak senang, baru bangun tidur sudah diceramahi. "Loh, memangnya kenapa? Nurbanu tahu aku dekat denganmu dan Lilis juga tahu kalau aku sahabatmu."


"Aku memintamu untuk bersikap sewajarnya saja di depan mereka. Aku tidak mau anak dan istriku berasumsi lain kalau melihat kedekatan kita terus-menerus."


Tidak menjawab dengan kata-kata, Jesslyn lebih memilih bersedekap seraya memperlihatkan muka masam untuk menunjukkan rasa tidak sukanya sudah diperingatkan demikian oleh Shehan.


'Pagi-pagi sudah menasihati,' gerutu Jesslyn.


"Aku sudah memberimu izin tinggal, jadi kuharap kau bisa mengerti. Aku tidak mau ada masalah lain timbul selagi masalah kehamilanmu belum selesai."


"Jadi kapan kau akan bertanggung jawab atas anak ini?"


"Aku bisa putuskan setelah melakukan tes DNA."


"Tapi kau harus memberitahu istrimu dari sekarang kalau aku hamil."


"Tidak! Tidak boleh!" Shehan sontak menolak "Aku mau keluarga dan rumah tanggaku tetap harmonis. Istriku atau siapapun tidak ada yang boleh tahu. Mengerti?"


"Kehamilanku semakin lama akan membesar, Shehan? Jadi apa yang harus kukatakan bila ada yang bertanya siapa ayah dari anak ini?"


"Kau tidak perlu mengatakan apapun. Cukup diam saja. Kalau terdesak, kau bisa bilang mereka akan tahu saat waktunya tiba."


Jesslyn cemberut sebal. Sebentar Shehan melihatnya yang tidak kunjung bicara, menyahuti perkataannya.


"Kau terus diam dan kuanggap itu artinya kau sudah mengerti. Aku keluar sekarang." Pria berambut coklat itu kemudian pergi dari kamar Jesslyn.


Ceklek!


Usai pintu kembali tertutup rapat, Jesslyn pun merutuk kesal dalam hati.


"Istriku! Istriku!" Memperagakan gaya Shehan bicara. "Memangnya kenapa dengan istrimu? Dia juga cuma istri kontrak, bukan istri sungguhan. Kenapa kau terlalu membelanya? Harus menjaga perasaannya. Hah! Kau pikir aku akan diam saja menurutimu. Lihat nanti apa yang akan terjadi!"


Sementara di luar kamar Jesslyn, ada sosok Lilis yang tercengang saat melihat Shehan-Suaminya, baru saja keluar dari kamar wanita lain saat pagi-pagi buta pula. Apalagi gerak-gerik Shehan mengendap-endap, semakin mencurigakan.


'Itukan Mas Shehan! Kenapa dia tadi keluar dari kamar Nona Jesslyn? Apa yang dilakukannya dalam kamar itu sepagi ini?' batin Lilis, entah mengapa merasa risau.


Shehan tahu kalau Lilis sudah bangun. Ketika dia beranjak turun dari kasur, didapatinya sofa tempat biasa Lilis tidur sudah kosong. Tetapi Shehan tidak tahu di mana keberadaan Lilis. Ternyata gadis itu memergoki Shehan dari tikungan dinding yang mengarah ke dapur. Sejak menikah, setiap pagi Lilis memang membantu Mbok Tum untuk memasak menu sarapan.


'Ah, mungkin ada sesuatu yang Nona Jesslyn perlukan. Lagipula mereka kan cuma berteman.' Lilis meredam curiga, tidak mau berburuk sangka. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya yaitu membantu Mbok Tum.


**


Beberapa saat berlalu.


Tok! Tok! Tok!


"Nona Jesslyn! Nona?" panggil Lilis dari luar kamar tamu. Selang tiga detik selanjutnya, pintu pun dibuka oleh Jesslyn.


"Lilis?" Jesslyn terperangah.


"Selamat pagi, Nona."


"Pagi."


"Sarapan sudah siap terhidang, Mas Shehan juga Nurbanu sudah berkumpul di meja makan. Ayo, sarapan bersama kami, Nona!" ajak Lilis dengan ramah.


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku tadi belum memakai parfum."


Jesslyn masuk lagi ke dalam kamar, menyemprot parfum ke sekitar tubuhnya lalu ikut Lilis, pergi ke ruang makan.


Pagi ini penghuni meja makan bertambah satu orang. Yang biasanya hanya bertiga, Shehan, Lilis dan juga Nurbanu. Kehadiran Jesslyn di tengah-tengah mereka semakin meramaikan suasana.


"Pagi semua!" sapa Jesslyn, menunjukkan sikap girang.


"Pagi!" Shehan membalas pelan, Nurbanu-lah yang paling bersemangat.


"Pagi, Tante Jesslyn!"


Jesslyn menarik kursi, duduk berhadapan dengan Lilis. Sedangkan Shehan bersemayam di bagian lebar meja dan Nurbanu ada di sebelah Lilis.


"Ayo, semuanya mulai sarapan!" Sebagai tuan rumah, Shehan mengawali acara santap pagi.


Satu persatu dari mereka mengambil makanan yang tersaji di atas meja. Shehan meletakan dua buah sosis sapi ke piringnya. Lilis mengambil selembar roti panggang, mengolesinya dengan madu kemudian memberikannya untuk Nurbanu.


"Kalau kurang, bilang ya, Banu. Nanti Kak Lilis tambah lagi," ujar gadis itu pada anak asuhnya.


"Iya, Kak Lilis."


Shehan memotong sosisnya dan mulai makan. Jesslyn yang duduk di samping kirinya sesekali mencuri pandang. Ia ikut-ikutan mengambil selembar roti panggang juga dan mengolesinya dengan madu. Namun, bukan untuk dimakan sendiri, melainkan diberikan pada Shehan.


"Shehan, kenapa kau cuma makan sosis sapi? Itu tidak akan cukup memberimu energi. Ini roti panggang, sudah kuolesi dengan madu."


Perhatian semua orang di meja makan teralihkan pada Jesslyn yang menyodorkan sepiring makanan untuk Shehan.


"Iya, makan, Pa, roti panggangnya. Enak loh, Pa!" Nurbanu menimpali.


Saat Shehan menoleh Jesslyn, wanita itu tersenyum licik. Tidak mungkin Shehan menolak pemberiannya di depan Nurbanu. Ia tidak mau putrinya memiliki kesan buruk tentang dirinya. Akhirnya dengan terpaksa Shehan menerima piring sodoran Jesslyn.


"Terima kasih, Jesslyn."


"Sama-sama, Shehan." Jesslyn senang. 'Ini baru permulaan. Secepatnya aku akan menaklukanmu!'


Lilis turut merespon dengan tenang, belum melihat ada hal yang aneh. Akan tetapi, ia mulai berpikir tentang sesuatu ketika memperhatikan gelagat Jesslyn yang terus menerus memberi perhatian pada Shehan sampai di jam terakhir acara sarapan pagi.


Dimulai dengan selembar roti panggang, lalu menuangkan segelas jus jeruk hanya untuk Shehan. Mengajak pria itu bicara meski Shehan sendiri terlihat ogah-ogahan menjawabnya dan puncaknya ketika Jesslyn menyeka tiap ujung bibir Shehan dengan tisu. Gerakannya pun sangat lembut.


"Ada sisa remah roti di bibirmu," ujarnya membuat alasan masuk akal.


"Terima kasih, Jesslyn." Shehan kemudian melihat Lilis dan Nurbanu. Anak kecil itu tampak tidak peduli dengan apa yang terjadi di meja makan. Lilis juga terlihat baik-baik saja. Meski di dalam hati, gadis itu mulai curiga.


***


BERSAMBUNG...