
Tulisan "Ibu Sayang", tertera di layar ponsel Lilis saat ini. Ia memang hendak menelepon ibunya--Nining, setelah sebelumnya Shehan memberitahu Lilis kalau sebidang tanah di Banyuwangi telah pria itu beli.
Ddrrtt ... Ddrrtt ... Ddrrtt ....
Dering ketiga Nining menerima panggilan telepon Lilis dan mulai berbincang akrab dengan putrinya dari seberang.
"Halo, Lis. Bagaimana kabarmu dan suamimu, Nak?"
"Kami berdua baik, Bu. Kabar Ibu dan Doni bagaimana?"
"Ibu dan Doni juga sehat-sehat di sini."
"Syukurlah. Bu, ada yang mau Lilis sampaikan. Mas Shehan sudah membeli sebidang tanah di Banyuwangi. Orang suruhan Mas Shehan yang mengaturnya. Nanti siang kalau Ibu sempat, orang itu mau datang ke rumah kita. Mau mengajak Ibu dan Doni melihat lokasinya."
Nining senang mendengar kabar baik ini.
"Terima kasih banyak ya, Lis. Bilang juga sama suamimu, terima kasih banyak."
"Iya, Bu. Nanti Lilis sampaikan ucapan terima kasih Ibu sama Mas Shehan. Kira-kira sehabis makan siang, orang suruhan Mas Shehan itu mau datang. Ibu dan Doni jangan lupa siap-siap, ya."
"Iya, Lis. Kebetulan Doni juga tidak pergi kuliah siang nanti. Ada perubahan jadwal mata kuliah di kampusnya."
Di saat itu, Lilis yang sedang berada di TK Bunga Matahari melihat Nurbanu sudah keluar dari ruangan kelas belajarnya. Anak kecil itu berjalan di koridor sekolah seraya bergandengan tangan dengan Sofia--teman sekelasnya. Di belakang kedua bocah tadi, tampak Ibu Mutia berjalan mengiringi.
"Baiklah, Bu. Sudah dulu teleponnya, ya. Nurbanu sudah pulang dan sudah keluar dari ruangan kelasnya."
"Iya, Lis. Hati-hati di jalan nanti. Ibu titip salam buat suamimu."
"Iya, Bu. Pak Maman yang mengantar kami. Ibu jaga kesehatan. Lilis tutup sekarang teleponnya."
"Iya, Lis."
Tut ... Tut ... Tut ....
Usai menyimpan kembali ponsel ke dalam tas selempang yang Lilis pakai, gadis itu beranjak menghampiri Nurbanu yang sudah dekat jaraknya.
"Kak Lilis!" Sekonyong-konyong Nurbanu berlari, memeluk Lilis.
Ibu Mutia yang menggandeng tangan anaknya ikut tersenyum di belakang. Lilis membalas senyum itu seraya mengangguk singkat.
"Bagaimana di sekolah tadi? Pelajarannya sulit, tidak?" tanya Lilis kepada anak asuhnya.
"Tidak kok, Kak Lilis. Gampang-gampang. Kak Lilis, kita ke rumah Sofia, yuk! Sofia punya boneka Barbie baru." Nurbanu merengek khas anak kecil.
Lilis saling bertukar pandangan ramah dengan Ibu Mutia.
"Tadi Sofia, juga bilang begitu. Mau mengajak Nurbanu main bersama katanya. Ayo, Lilis! Main ke rumah saya. Kita pergi naik mobil saya saja." Ibu Mutia menimpali.
"Ayolah, Kak Lilis!" rengek Nurbanu lagi.
"Baiklah, Bu. Tapi saya kabari suami saya dulu, ya."
"Silakan."
Lilis merogoh dan mengambil ponselnya lagi dari dalam tas. Dengan cepat ia mengetik sebuah pesan singkat untuk Shehan.
(Lilis : Siang, Mas. Nurbanu hari ini mengajak ke rumah Ibu Mutia. Mau main dengan Sofia. Kami pergi ke sana naik mobil Ibu Mutia.)
Lilis kembali menyimpan ponselnya. Tak lupa ia mengatakan pada Pak Maman untuk pulang lebih dulu. Barulah ia bersama Ibu Mutia, Sofia dan juga Nurbanu bertolak pergi.
Di tengah jalan, Shehan baru membalas pesan dari Lilis. Mungkin pria itu sedang sibuk bekerja tadi. (Shehan : Ya, tidak apa-apa. Awasi mereka bermain dan jangan pulang terlalu sore.)
Usai membaca pesan itu, Lilis kemudian membalas. (Lilis : Iya Mas.)
**
Empat gelas jus jeruk di atas nampan sedang dibawa oleh Ibu Mutia ke ruang tengah. Ruangan itu memang diperuntukkan untuk bersantai. Apalagi posisinya bersebelahan dengan sebuah taman kecil dan kolam renang.
Satu persatu gelas diletakan di atas meja yang terbuat dari rotan. Berikut dua piring porselen berisi potongan-potongan kue dan tiga buah toples berisi makanan ringan lainnya.
"Silakan dicicipi, Lilis!"
"Terima kasih, Bu."
Kedua wanita itu beramah-tamah.
"Saya tinggal ke dapur dulu, ya. Mau mengembalikan nampan."
"Iya, Bu."
"Banu! Sofia! Ayo, minum dulu jusnya!" Lilis menawarkan sembari menyodorkan dua gelas minuman pada masing-masing anak yang disebutkan namanya tadi. Sontak para bocah itu kegirangan.
"Yeay! Asyik!"
Lekas Nurbanu dan Sofia menandaskan jus mereka sampai tinggal setengah. Lalu melanjutkan permainan yang sempat tertunda. Tak berselang lama, Ibu Mutia datang lagi dan duduk di samping Lilis.
"Nurbanu susah makan tidak, kalau di rumah?" tanya Ibu Mutia, mengawali perbincangan seputar obrolan kaum ibu-ibu.
"Sesekali sulit, Bu. Maunya makan sosis goreng, nugget goreng, bakso goreng. Itu-itu saja. Tapi saya siasati menghidangkan sayur dan makanan lainnya dengan bentuk karakter di piring. Akhirnya mau makan juga setelah melihat menu makanannya cantik."
"Sofia juga begitu. Susah makan sayur. Maunya makan permen, es kirim, cokelat. Sampai kadang giginya sakit. Baru berhenti makan."
"Namanya juga anak-anak ya, Bu. Hahaha!"
Lantas kedua wanita itu menertawai guyonan mereka. Celotehan-celotehan riang anak kecil sedang bermain turut melatari suasana yang tentram ini.
"Oh, iya. Kata Nurbanu, Lilis sudah menikah dengan papanya, ya?"
Diajukan pertanyaan demikian, tetiba Lilis merasa malu. Pipinya pun merah merona.
"Itu ... iya, Bu. Kami baru saja menikah."
"Wah, selamat ya!"
"Terima kasih, Bu."
"Saya kenal juga dengan Sarah. Ibu kandungnya Nurbanu. Orangnya ramah. Papanya Nurbanu juga baik. Tetapi kalau sudah tidak berjodoh, mau bilang apa, ya. Tugas kita cuma menjalani saja dan berharap yang terbaik."
"Iya, Bu. Saya sampai sekarang juga masih baik komunikasinya dengan Mbak Sarah."
Ting Ning! Ting Ning!
Percakapan yang sedang asyik itu terjeda lantaran suara bel pintu tiba-tiba terdengar.
Ting Ning! Ting Ning!
"Mungkin itu adik saya. Tadi katanya dia mau datang. Sebentar ya, Lis."
"Iya, Bu. Tidak apa-apa."
Ibu Mutia bangkit, membukakan pintu dan melihat siapa yang datang. Ternyata benar dugaan wanita itu kalau adik laki-lakinya-lah yang datang.
"Eh, Nugie! Masuk, yuk!"
"Ini Kak untuk Sofia." Pemuda berparas manis dengan lesung pipi ketika tersenyum itu menyodorkan buah tangan yang dia bawa.
"Terima kasih, ya." Ibu Mutia menerima pemberian adiknya. "Kenapa repot-repot, sih?"
"Tidak, kok. Tadi kebetulan pas sedang jalan ke sini, ada toko kue makaron baru buka. Jadi singgah sebentar, mau coba beli."
"Oh, begitu. Yuk, masuk!"
Nugie masuk ke dalam ruang tamu setelah dipersilakan, lantas mendengar suara Lilis, Nurbanu dan Sofia sedang bermain.
"Ada tamu ya, Kak. Siapa yang datang?" tanya pemuda itu selagi berjalan beriringan dengan kakak perempuannya.
"Oh, itu ... Nurbanu sama Mamanya datang berkunjung."
Nugie sempat melongok ke ruang tengah dan seketika terkejut saat melihat Lilis.
"Itu siapa?"
"Itu Mamanya Nurbanu."
"Hah? Mamanya Nurbanu. Muda amat!"
"Ssstt ... jangan keras-keras!" Segera Ibu Mutia memberi kode diam. "Itu Mama sambungnya. Bukan Mama kandungnya."
"Oh, Papa Nurbanu nikah lagi?"
"Iya, kan sudah lumayan lama cerai sama istri pertamanya."
Nugie pun manggut-manggut mengerti.
***
BERSAMBUNG...