
Sebuah kotak persegi empat berukuran cukup besar dibawa Lilis menuju kamar Mbok Tum. Tidaklah polos, kotak itu sudah dibungkus rapi dengan kertas kado dan disematkan sebuah pita pula. Jadi tampak lebih menawan. Mbok Tum sedang memasukkan beberapa helai pakaiannya ke dalam tas jinjing ketika Lilis datang pagi ini. Wanita yang selalu menyanggul rambutnya itu terperangah melihat kotak yang Lilis bawa.
"Apa itu, Non?"
"Mbok, ini ada sedikit hadiah dariku dan Mas Shehan untuk keponakan Mbok Tum yang menikah itu. Tolong diterima, ya." Lilis menyodorkan kotak tadi seusai duduk di tepi ranjang--bersebelahan dengan Mbok Tum.
"Kenapa repot-repot sih, Non Lilis?" Mbok Tum masih enggan menerimanya karena segan.
Lilis mengamit tangan Mbok Tum lalu menyerahkan kotak tersebut. "Tidak apa-apa, Mbok. Cuma hadiah sederhana saja. Tolong diterima ya, Mbok."
Melihat raut wajah Lilis yang tersenyum, Mbok Tum lebih segan lagi kalau menolak ketulusan gadis itu untuk yang kedua kali.
"Baiklah, Non. Terima kasih banyak ya, dan tolong sampaikan juga sama Tuan, terima kasih banyak sudah mengizinkan Mbok cuti dan memberi hadiah ini."
"Ya, Mbok. Nanti kusampaikan pada Mas Shehan. Hati-hati di jalan ya, Mbok."
"Iya, Non."
Selesai membereskan pakaian serta barang-barang yang akan dibawa, Mbok Tum beranjak meninggalkan rumah kediaman Shehan Murad didampingi oleh Lilis sampai ke depan teras utama. Sempat Lilis meminta Pak Maman untuk mengantar Mbok Tum, tetapi ditolak sebab Mbok Tum mengatakan akan singgah ke rumah saudaranya yang lain sebelum datang ke tempat acara resepsi keponakannya.
Rumah besar itu kini terasa sepi. Cuma ada Lilis seorang diri bila Shehan sedang bekerja dan Nurbanu belajar di sekolah TK Bunga Matahari. Untung saja Mbok Tum hanya cuti selama tiga hari. Hari Senin, beliau akan kembali lagi ke rumah ini dan sekarang masih hari Jumat. Itu artinya masih tersisa dua hari lagi sebelum kepulangan Mbok Tum.
**
Minggu.
Aroma wangi pandan menguar, mengelilingi area dapur. Lilis sedang mengaduk potongan-potongan kecil labu kuning yang diolahnya menjadi kolak. Sebagai pelengkap, Lilis menambahkan potongan pisang ke dalam makanan berkuah dan manis tersebut. Keasyikan mengaduk, Lilis tidak menyadari kalau Shehan datang ke dapur mengunjunginya.
"Apa yang kamu masak?"
Lilis terperanjat mendengar pertanyaan Shehan yang tiba-tiba sudah berdiri tepat di belakangnya seraya melingkarkan tangan ke perutnya--sedang melongok ke arah panci berisikan kolak pula.
"Mas ini seperti hantu! Tidak tahu kapan datangnya, tiba-tiba muncul di sini!" gurau Lilis.
"Kamu terlalu asyik memasak sampai tidak tahu kalau suamimu datang."
Cup....
Kecupan mesra mendarat di pipi Lilis. Sontak Lilis tersenyum lebar. "Mas...," panggilnya lembut.
"Apa yang kamu masak itu?" tanya Shehan lagi, masih penasaran.
"Oh ini...." Lilis mengalihkan perhatiannya pada panci, "ini namanya kolak, Mas. Mas belum pernah makan, ya?"
Shehan menggeleng beberapa kali.
"Nanti kalau sudah matang, Mas coba, ya. Pasti Mas ketagihan!" ujar Lilis, yakin.
"Tidak mau!" Lekas dibalas sinis oleh Shehan.
Lilis menoleh tercengang. "Kenapa? Ini enak loh, Mas!"
"Ck! Penampilannya tidak menyelerakan. Kamu saja yang habiskan nanti," cibir Shehan.
"Mas belum coba, sih!" Lilis bersikeras.
"Tidak mau...." Shehan pergi meninggalkan dapur, entah menuju ruangan mana.
Lilis mendesis seraya menggeleng beberapa kali melihat kepergian suaminya. Padahal kolak yang dia buat hari ini akan dipersembahkan khusus untuk Shehan, tetapi Shehan malah menolak untuk memakannya tanpa mencicipinya dulu. Alhasil setelah kolak selesai dimasak dan sudah menjadi dingin suhunya, Lilis menyimpan kolak itu di dalam lemari pendingin agar tidak cepat basi dan jadi lebih nikmat bila dimakan saat dingin--menurut pendapat Lilis.
Tiga jam kemudian.
Nurbanu muncul dari kamarnya dengan rambut dikepang dua pada sisi kiri dan kanan kepala. Pita berhiaskan aksesoris cherry juga menyempurnakan kepangan anak kecil itu. Ia memakai pakaian santai serta tas selempang khas anak perempuan yang disampirkan melintang di depan dada. Sambil digandeng tangan kanannya oleh Lilis, pasangan ibu dan anak sambung itu hendak mendatangi Shehan yang sedang asyik menonton berita di televisi.
"Mas...," panggil Lilis dari samping sofa--berdiri bersama dengan Nurbanu.
Shehan menoleh--mengamati anak dan istrinya dari atas sampai bawah. Keduanya kompak memakai pakaian yang tidak biasa.
Nurbanu melepaskan gandengan tangan Lilis, menghampiri ayahnya di sofa.
"Papa! Banu mau beli buku kotak-kotak yang ada gambar Mickey Mouse-nya." Anak kecil itu merengek manja. Rengekannya mengundang senyum semringah Lilis.
"Buku kotak-kotak yang ada gambar Mickey Mouse-nya?" Shehan mengernyit, tidak yakin buku itu ada, "memangnya ada buku itu?"
Lilis ikut nimbrung mendekati keduanya. "Masih mau kami cari dulu di toko buku, Mas. Mungkin saja ada. Makanya mau minta izin Mas dulu, kami mau keluar sebentar."
Shehan mengangguk beberapa kali. "Ya, sudah. Jangan pulang lama-lama, ya!"
"Iya, Mas. Mas ada titip sesuatu dari luar? Biar nanti sekalian kami belikan."
"Hhmm ... tidak ada."
"Baiklah, kami berangkat sekarang ya, Mas."
"Ya, hati-hati di jalan."
Lilis mengangguk. "Ayo, Banu!" Tangannya mengulur dan cepat disambut oleh Nurbanu.
Shehan melanjutkan lagi kegiatan menonton berita di televisi setelah Lilis beranjak meninggalkan ruang tengah bersama putrinya. Bayangan mereka pun sudah hilang di balik tikungan tembok. Waktu sudah menunjukan pukul 16.32 sore saat ini, jam tea time juga sudah lewat, tetapi Shehan belum makan camilan apapun. Duduk diam di depan televisi membuat perutnya merasa lapar.
Lantas Shehan pergi ke dapur. Mencari-cari sesuatu yang bisa dia makan. Saat membuka kulkas, tak sengaja Shehan melihat wadah bulat berwarna bening dan terbuat dari kaca berada di dalam salah satu rak. Iseng, Shehan membuka tutup wadah tersebut. Isinya ternyata kolak labu kuning buatan Lilis tadi. Awalnya Shehan enggan memakannya. Namun, ketika mencium aroma wangi pandan yang menggugah selera, Shehan jadi berminat untuk mencicipinya.
Ia pun mengambil mangkuk dan juga sendok. Mengisi mangkuk tersebut dengan secentong kuah kolak tanpa ada isinya. Shehan kemudian mencicipi. Rasa manisnya pas, kuahnya tidak terlalu kental, tetapi juga tidak encer. Ditambah aroma pandan yang harum
Beberapa kali Shehan menyesap kuah kolak itu. Rasanya benar-benar nikmat. Ketagihan, Shehan mengingkari kata-katanya tadi. Ia mengambil kuah kolak berserta isinya dalam porsi yang banyak. Membawa mangkuk yang telah penuh ke ruang tengah. Hendak makan kolak seraya menonton televisi lagi.
Satu suapan, dua suapan dan tiga suapan. Rupanya Shehan menyukai kolak labu kuning buatan Lilis. Asyik makan sambil menonton televisi, sampai-sampai Shehan tidak tahu kalau Lilis datang lagi ke rumah.
"Loh, Mas. Katanya tidak mau makan kolak."
Brusstt....
"Uhuuk!" Sekonyong-konyong kuah kolak dan labu kuning yang sedang Shehan kunyah muncrat dari mulut saking kagetnya. Shehan meletakan mangkuk yang sedari tadi dipegangnya ke atas meja. Memukul-mukul dada sambil masih terbatuk dan tersedak. "Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Lilis segera pergi ke dapur mengambilkan segelas air putih, lalu memberikannya pada Shehan. "Minum dulu, Mas!"
"Uhuuk! Uhuuk! Uhuuk!" Shehan meraih gelas pemberian Lilis. Meneguk airnya sampai tandas.
Glek! Glek! Glek!
Lilis mengusap-usap punggung Shehan, berniat membantu.
"Kenapa kamu mendadak pulang? Katanya mau ke toko buku!" omel Shehan. Diletakannya gelas yang telah kosong di atas meja dekat mangkuk kolak.
"Dompetku ketinggalan, Mas. Makanya aku pulang lagi mau mengambil dompet."
"Kamu ceroboh sekali! Nurbanu di mana sekarang?"
"Iya Mas, maaf. Banu menunggu di mobil. Tidak mau turun katanya. Tapi Mas kok makan kolaknya? Katanya tidak mau makan?" Lilis mencondongkan tubuhnya ke arah Shehan, mencandai suaminya.
"Aku tersedak gara-gara makan kolak itu." Shehan membela diri.
Lilis melirik mangkuk di atas meja yang nampak tersisa setengah kolak saja dari batas bekas kuah kolak yang semula tinggi dan menempel di dinding bagian dalam mangkuk.
"Pasti Mas suka, kan ... kolaknya? Mengaku saja, deh!" Lilis memicingkan mata--tambah menggoda.
Shehan berpaling lantaran malu. Sudah terlanjur ketahuan makan kolak buatan Lilis yang awalnya dia pastikan kalau tidak akan menyentuhnya.
***
BERSAMBUNG...