Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 17 : Mawar Bourbon



"Jangan perlakukan aku semanis ini. Karena aku bisa jatuh cinta nanti." ~Lilis Ekawati.


**


Usai keluar dari butik, ke manakah pria warga negara Turki itu mengajak Lilis pergi?


Pandangan Lilis meredup. Kelopaknya sayu melukis sendu. Sesayu perasaannya yang menjadi kelabu. Ia senang atas perhatian yang Shehan berikan. Namun, tak dapat dipungkiri kalau rasa senang itulah yang menjadi musabab ketegaran Lilis berubah melankolis.


'Lepaskan tanganku, Tuan Murad. Jangan terlalu lama menggenggamnya, aku takut bisa jatuh cinta nanti.'


Sejak keluar dari butik sampai detik ini, Shehan masih menggenggam tangan Lilis. Tak sedikit pun ia melepaskannya bahkan walau sekadar merenggang. Pandangan Lilis menunduk, hendak memastikan lagi dan ternyata Shehan masih membelenggu tangan gadis itu dengan genggaman tangannya.


Pria itu menoleh ke belakang. Sorot matanya menemukan Lilis tengah membisu selagi mengikutinya berjalan. Ia kemudian menyirami kebisuan Lilis dengan keteduhan wajahnya. Senyumnya pun ikut membias pelangi. Indah sekali!


'Jangan pandangi aku dengan tatapan tersenyum, Tuan Murad. Aku takut akan jatuh cinta nanti.'


Setibanya di toko kosmetik. Shehan memperlakukan Lilis bak seorang ratu. Gadis itu disuruh duduk di kursi yang diperuntukan untuk tamu. Lilis yang sudah terhipnotis sisi romantis pria itu, bagai tak punya kendali atas jiwa raganya lagi.


Ia menurut saja pada apa yang Shehan katakan dan perintahkan. Sementara Lilis duduk diam sambil mengawasi kegiatan Shehan, Shehan sendiri sibuk memilih lipstik dengan berbagai jenis merek dan varian warna.


Bila sudah menemukan yang dirasanya cocok, Shehan akan menyandingkan lipstik itu di sebelah wajah Lilis, ingin melihat apakah sudah sesuai dengan karakter wajah Lilis. Bukan cuma sekali, tetapi sudah lima belas kali Shehan melakukan hal serupa.


Sampai akhirnya Shehan menemukan lipstik warna rose pink. Ia rasa warna itulah yang paling cocok untuk menggambarkan diri Lilis yang masih muda belia. Ingin mengetahui dugaannya benar atau tidak, Shehan tidak membayangkan lagi bila warna itu disematkan ke bibir Lilis. Melainkan ia langsung memakaikannya.


Diraihnya dagu Lilis, lalu mengolesi bibir gadis itu dengan lipstik warna rose pink tadi. Secara perlahan Shehan melakukannya agar tidak merubah bentuk garis bibir Lilis. Lilis pun terpaku seolah waktu berhenti. Ia tidak bisa membantah apalagi menolak. Hanya pasrah dengan apapun yang Shehan perbuat padanya hari ini.


'Jangan warnai bibirku dengan lipstik yang berasal dari tangan halusmu, Tuan Murad. Aku takut tenggelam ke dalam cinta nanti.'


Shehan tidak tahu kalau dia bukan hanya mewarnai bibir Lilis, tetapi perhatiannya juga mewarnai kanvas sanubari gadis itu.


"Kamu suka warnanya?"


Shehan membimbing Lilis agar ikut melihat ke cermin yang berada di depan mereka. Dari pantulan bayangan Lilis di cermin, Lilis memang dapat melihat kalau aura mukanya tidak pucat seperti sebelumnya, berkat lipstik warna rose pink itu.


Terlebih, Shehan pandai memilih warna. Merah muda seperti kuncup bunga mawar bourbon yang akan merekah. Sangat pas mewakili karakter Lilis sebagai gadis polos nan lugu yang baru beranjak dewasa.


'Apa boleh aku mengatakan aku cantik setelah memakai lipstik ini?'


"Suka, Tuan. Warnanya lembut."


Lilis senang. Manik hitamnya bergerak sedikit ke atas, melihat bayangan Shehan yang lebih tinggi di dalam cermin. Shehan tampak ikut senang, kemudian memberitahu pramuniaga kalau dia akan membeli lipstik itu.


**


Di luar toko kosmetik, ada pasangan Tina dan Hendra yang baru keluar dari toko pakaian. Toko itu masih berada di kawasan mall juga. Hendra menenteng sebuah kantong belanja berukuran cukup besar. Di dalam kantong tersebut terdapat tiga helai gaun. Ia berjalan menyusul Tina yang berada agak jauh di depan.


Bukan tanpa alasan Tina meninggalkan suaminya sejak dari pintu utama toko pakaian. Wanita itu marah karena sang suami membelikannya gaun murah sebagai ganti gaun mambang kuning yang tidak jadi dibeli.


"Tin, tunggu Mas, Tin!"


"Tin, kenapa sih kamu begini?" Hendra memelas seraya menggapai tangan Tina.


"Ih ... lepaskan aku, Mas!" sergah Tina, menepis tangan suaminya. Sontak keduanya menjadi tontonan gratis pengunjung mall yang berada di sekitar mereka.


Hendra mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sudah merah air mukanya akibat malu digaduhi Tina. Jakunnya bergoyang sebentar mengiringi jatuhnya saliva ke dalam perut. Dahi pria itu mengernyit di mimik wajah yang serius.


"Mas sudah belikan tiga gaun untuk kamu, Tin! Harusnya kamu bersyukur. Bukannya malah marah seperti ini," jelas Hendra, menasihati istrinya. Namun sayang, nasihat Hendra malah dianggap angin lalu oleh Tina.


"Mas bilang mau membelikan gaun yang lebih bagus. Tidak tahunya gaun yang seperti itu." Tina menunjuk kantong belanja yang dipegang Hendra. "Kalau cuma gaun seperti itu, tidak perlu jauh-jauh ke Bali kita membelinya. Di Banyuwangi juga banyak!"


Istri Hendra tidak peduli pada orang-orang yang melihatnya. Dia bersedekap, memalingkan wajah cemberutnya dari Hendra. Tina memanglah keras kepala dan Hendra juga mengetahui sifat istrinya.


Tidak ingin menjadi pusat perhatian lagi, Hendra mencoba untuk mengalah. Ia kembali memegang pundak Tina, tetapi ditepis lagi oleh wanita itu. Tak putus asa, Hendra mendekati Tina dari belakang lalu bicara pelan-pelan.


"Tin, nanti bulan depan Mas belikan gaun lagi, ya. Terserah kamu mau pilih yang mana. Nanti Mas belikan."


Tina sedikit luluh. "Tidak mau bulan depan, Mas. Kelamaan," rengeknya.


"Tin, kamu harus mengerti, dong. Gaji Mas bulan ini kan sudah terpakai semua untuk tambahan biaya kita bulan madu ke Bali. Biaya menginap di hotel bintang lima. Biaya makan kita selama di sini. Biaya jalan-jalan ke sana kemari. Biaya buat beli oleh-oleh. Makanya Mas bilang bulan depan. Mas janji, pasti Mas belikan kok."


Napas Tina menghela panjang. Emosinya yang sempat tersulut akhirnya redam. Ia pun tidak mau memperpanjang masalah itu lagi. "Janji ya, Mas?"


Tina memberikan jari kelingkingnya. Serta-merta Hendra mengikat jari kelingking Tina dengan miliknya.


"Iya, Mas janji." Senyum lega Hendra terbit usai berhasil menebas sikap keras kepala Tina. "Kamu lapar, tidak?"


Lantaran sudah berbaikan, Tina tak ragu lagi bergelendotan manja di lengan Hendra. "Iya, Mas. Aku lapar."


"Sekarang mau makan apa?"


"Eum ...." Iris mata Tina berputar sembari berpikir. "Makan steik saja yuk, Mas."


"Ayo!"


Pergi ke restoran steik adalah rencana Hendra dan Tina selanjutnya. Sekitar lima belas menit mengitari lantai tiga mall yang dihuni banyak tempat makan. Dari mulai restoran sultan sampai kios mini ala pedagang kaki lima ada di sana.


Satu dari sekian banyak tempat makan tersebut, tampak sebuah restoran steik yang dikunjungi banyak orang. Tina pun berniat mengajak suaminya makan di sana.


"Mas Hendra, kita makan di sana, yuk!" Tina menunjuk restoran steik tersebut. "Pengunjungnya ramai, pasti makanannya enak."


"Ayo! Yuk, kita ke sana!"


Sambil berpegangan tangan, pasangan suami istri itu masuk ke dalam restoran. Tak dinyana, tanpa sepengetahuan mereka, Lilis dan Shehan juga berada di restoran itu, sedang menunggu pesanan makanan mereka datang.


***


BERSAMBUNG...