
"Hiks! Hiks! Hiks!"
Selagi menunduk dan menangis, Jesslyn berkali-kali menyeka air matanya. Meski usahanya tidak membuahkan hasil apapun dan linangan kesedihan itu tetap saja mengalir di pipi. Bagaimana bisa berhenti secepat kilat tangisnya itu, bila tubuh dan jiwanya serasa luluh lantak, retak seribu.
"Nona Jesslyn," panggil Lilis dari samping dan ikut duduk di lantai menemani Jesslyn. Ia mengkhawatirkan wanita itu. Lilis tahu bagaimana rasanya orang patah hati sebab dia sudah pernah mengalaminya sendiri.
"Tabahkanlah hatimu, Jesslyn! Tolong terimalah semua ini dengan lapang dada. Aku tidak pernah punya maksud untuk menyakitimu." Shehan yang berada di antara mereka, mengangkat tangan kanannya. Berniat mengusap punggung Jesslyn yang gemetaran akibat sesenggukan. Sisi kemanusiaannya turut prihatin melihat Jesslyn terpuruk sedemikian rupa.
Akan tetapi semua jerih payah Lilis dan Shehan untuk menghibur Jesslyn, tidak disambut baik. Malahan Jesslyn meneriaki keduanya cukup kencang. Tangannya pun ikut meronta.
"Jangan sentuh aku! Jangan sentuh aku!"
Sklera mata berikut ujung hidung Jesslyn telah memerah. Matanya sembap dan gembung. Dengan raut sedih itu, Jesslyn menatap Shehan lekat lalu meratap pilu.
"Ke--napa ... sulit sekali mendapatkan hatimu? Ke--napa ... sesulit ini?" Ucapan yang meluncur dari bibir bergetar Jesslyn bak senandung yang menyayat hati.
"Aku mohon maafkan aku, Jesslyn. Cinta adalah sesuatu yang tidak bisa dipaksa. Ia datang sesuai keinginannya sendiri dan pergi sesuka hati. Cinta jugalah yang memilih ke mana ia akan berlabuh. Maaf jika perasaanku tidak berlabuh di dermaga hatimu. Maaf jika hatiku tidak memilihmu. Aku berharap agar hidupmu bahagia setelah ini dan dapat menemukan hati yang layak untuk kau singgahi."
Shehan tidak ingin berkata kasar, yang bisa menyebabkan hati Jesslyn tambah terluka parah. Namun, kenyataan pahit yang Jesslyn hadapi menjadi cikal bakal belati tertancap dalam dan menikam jantungnya. Itu sungguh menyesakkan. Jesslyn nyaris tidak bisa bernapas.
"A--ku ... membencimu, Shehan Murad! Aku membencimu!!" Teriakan Jesslyn mengakhiri keributan yang terjadi. Wanita yang sedang patah arang itu bangkit, tergopoh-gopoh beranjak pergi usai mengungkapkan kekecewaannya yang paling dalam.
"Jesslyn! Jesslyn!" seru Shehan ikut bangkit, dilihatnya pucuk gaun tidur Jesslyn terseret di lantai dan menghilang di balik tikungan tembok dengan cepat. Tangannya hendak menggapai, tetapi bayangan Jesslyn pun sudah raib, tak berbekas lagi.
"Sudah, Mas." Lilis menahan tangan Shehan. Seketika Shehan menoleh Lilis yang telah berdiri di sampingnya dengan sorot mata bertanya. Lilis menggeleng beberapa kali sebagai jawaban.
"Biarkan Nona Jesslyn sendiri dulu, Mas. Beri dia ruang dan waktu untuk menenangkan diri. Bila kita menjelaskan apapun padanya tetap tidak akan diterima, karena hatinya sedang tidak stabil saat ini."
Shehan menatap dalam Lilis yang kini menjelma menjadi sosok dewasa. Agaknya istrinya itu sudah bisa mengimbangi dirinya dalam hal menyikapi masalah. Lantas Shehan menghela napasnya panjang. Sesak yang membebani rongga dadanya sedikit berkurang setelah itu.
Ia mengangguk lemah beberapa kali, menyetujui saran Lilis. "Kamu benar, Lilis. Kita harus memberikannya waktu untuk menenangkan diri." Satu tangan Shehan mendarat di pundak Lilis.
"Ya, Mas. Kita juga perlu menenangkan diri," imbuh Lilis dengan lembut. "Mengistirahatkan sejenak pikiran dan perasaan kita yang lelah akibat musibah yang sempat terjadi."
Shehan tidak berkata apa-apa, cukup mengangguk lemah sekali lagi. "Ayo, kita kembali ke kamar dan beristirahat!"
"Iya, Mas."
Shehan dan Lilis sama-sama meninggalkan ruang kerja yang menjadi tempat pertikaian. Shehan berjalan di depan, sedangkan Lilis berjarak beberapa langkah di belakangnya.
Setibanya di kamar utama, Shehan duduk di tepi ranjang. Kedua sikunya bertumpu pada lutut yang cukup terbuka. Ia membenamkan wajahnya dalam kedua belah telapak tangan lalu menyeret tangannya itu untuk menyusur rambut ke belakang. Kedua tangan tadi kemudian dihempaskan ke udara cukup kuat.
Lilis memperhatikan dari sofa yang dia duduki. Cemas jelas menguar dari gelagat Shehan. Dengan inisiatif sendiri, Lilis pun mendatangi suaminya.
"Mas," panggil Lilis tatkala sudah berdiri di hadapan Shehan.
Shehan melihat Lilis, tetapi tidak mengatakan apapun.
"Mau kubuatkan teh hangat?"
"Tunggu sebentar ya, Mas. Aku ke dapur membuatkan teh dulu."
"Hhmm ...."
Dehaman Shehan mengizinkan Lilis dan ia pun segera berlalu.
Selang sepuluh menit, Lilis kembali seraya membawa nampan berisi secangkir teh hangat di atasnya. Asap tipis dari teh itu menari di atas permukaan cangkir.
"Ini tehnya, Mas. Silakan diminum!" Lilis menyodorkan piring tatakan berisi cangkir teh dan segera berpindah tangan.
"Terima kasih." Shehan tidak melihat Lilis, lebih tertarik menghayati air teh di dalam cangkir. Dua kali mengembus tehnya lalu menyeruput perlahan-lahan.
Lilis yang masih berdiri di dekat Shehan, mengamati sembari memeluk nampan di depan diafragmanya. Memang meski menjadi penghuni kamar utama, tidak pernah sekalipun Lilis membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang luas itu. Jangankan berbaring, untuk sekadar duduk di tepian ranjangnya saja, Lilis tidak berani. Hanya sofa di dekat pintu menuju balkon yang menjadi tempat peristirahatan Lilis.
Selagi menyeruput teh, Shehan melirik Lilis dari balik bibir cangkir. "Apa yang kamu lakukan di situ? Aku tidak bisa minum teh kalau kamu terus berdiri dan memperhatikanku seperti security," ujarnya usai menarik diri dari kegiatan minum teh.
"Ah ... aku ...." Lilis kikuk. "Aku mau ke dapur dulu ya, Mas."
"Untuk apa ke dapur?"
Sudah satu langkah kaki Lilis menapak ke depan, tetapi harus berputar badan lagi dan bersemuka dengan Shehan. "Mau mengembalikan nampan ini, Mas."
Ditunjukan Lilis benda persegi empat itu sebentar. Sekilas Shehan melihatnya. Pandangannya lalu beralih pada cangkir teh yang dia pegang dengan tangan kanannya.
"Nanti saja mengembalikan nampan itu ke dapur. Letakan saja di atas nakas dan duduklah di sampingku!" Diseruput Shehan lagi teh yang mulai dingin.
Seketika Lilis terkesiap mendengar titah Shehan menyuruhnya duduk di tepi ranjang. Selama menjadi istrinya, belum pernah Shehan mengatakan itu dan baru kali ini terjadi.
"A--aku ... duduk di situ, Mas?"
Surai mata Shehan naik. "Ya, duduklah di sini! Temani aku!" pintanya disertai gerakan kepala yang mengarah pada sisi kosong di sebelahnya.
Lilis bergeming gugup. Menyadari pesan tersirat yang tersembunyi di dalam tatapan Shehan.
**
Di sisi lain, suara isakan yang terbata sayup terdengar dari balik pintu kamar tamu. Ternyata di dalam bilik itu, Jesslyn meringkuk di lantai dan bersandar pada daun pintu. Merenungi nasib cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
'Apa yang harus kulakukan sekarang? Semua yang kulakukan tidak ada gunanya. Tidak pantas lagi aku berada di sini. Untuk menyelamatkan harga diriku yang terakhir, aku harus pergi dari tempat ini.'
Jesslyn bangkit, melangkah terhuyung-huyung menuju nakas di sebelah tempat tidur. Di sanalah ponselnya tergeletak. Sekejap Jesslyn meraih ponsel itu. Membuka aplikasi galeri foto untuk mencari foto surat pernikahan Lilis dan Shehan. Ibu jari Jesslyn menggulir layar beberapa kali. Akhirnya foto yang dicari dia temukan ada di sudut kanan tengah sisi ponsel.
"Harus kuapakan foto ini? Apakah kuberitahu saja Ibu Lilis kalau putrinya dan Shehan hanya menikah kontrak?"
***
BERSAMBUNG...