
Dengan perasaan gugup, Lilis menurut. Duduk di tepi ranjang--di sebelah Shehan, setelah sebelumnya meletakan nampan terlebih dahulu di atas nakas, sesuai perkataan Shehan juga. Sorot mata Lilis tak lepas memandangi suaminya.
Sementara Shehan belum menggubris Lilis yang sudah duduk di sampingnya. Seluruh fokus Shehan saat ini hanya tertuju pada permukaan air teh di dalam cangkir yang nampak riaknya. Kedua bahunya bergerak naik turun secara teratur mengikuti ritme napas yang sudah stabil.
Shehan lalu menyeruput teh beberapa kali. Hidung mancungnya jelas terlihat ketika posisi cangkir sedikit dijauhkan. Lalu tersembunyi lagi saat teh kembali disesap. Dalam keadaan genting sekalipun, paras rupawan Shehan tidak luntur sama sekali. Sejatinya dia memang terlahir tampan.
Slupt ....
Sedikit bunyi pelan terdengar menjadi tanda sesapan terakhir serta penutup kegiatan minum teh Shehan malam ini. Ia menyodorkan cangkir yang telah kosong berikut piring tatakannya pada Lilis tanpa bicara apa-apa. Lilis pun menerimanya. Bunyi dentingan saat barang pecah belah tersebut berpindah tangan, mendominasi kebisuan di antara mereka. Tampak dasar cangkir ketika seluruh isinya sudah tandas. Kemudian diletakan Lilis cangkir itu ke nampan yang ada di atas nakas.
Lilis menoleh suaminya yang sampai detik ini masih tidak melihatnya sama sekali. Posisi Shehan duduk diam dengan tangan bertaut dan kedua sikunya bertumpu di lutut. Pandangannya ke depan.
'Mas Shehan sudah selesai minum teh, ini saatnya aku juga harus pergi ke dapur karena kesempatanku duduk di tepi ranjang ini sudah berakhir,' gumam Lilis.
Ia hendak bangkit, tetapi mendadak tidak jadi karena Shehan dengan sigap ternyata meraih tangannya. Lilis refleks menoleh pada tangannya sekilas. Bersemuka dengan Shehan kemudian.
"Mau ke mana?" tanya Shehan bernada halus.
Akibat intonasi halus itu, Lilis malah jadi grogi. Apalagi Shehan intens menatapnya tanpa berkedip barang sebentar. Ia pun menjawab dengan terbata-bata. "A--aku ... aku ... mau ke dapur dulu, Mas. Mau mengembalikan nampan ini." Jari telunjuk Lilis mengarah ke benda persegi empat di atas nakas.
Pucuk mata Shehan sedikit saja melirik ke sana. "Kenapa kamu perhatian sekali dengan nampan itu? Aku juga butuh kamu perhatikan," balasnya menuntut.
Glek!
Lilis menelan saliva. Maniknya berputar mengitari Shehan. Berdebar-debar. Tak hanya itu, ia juga menemukan pancaran mata Shehan yang menyiratkan rasa haus akan belaian kasih sayang ketika menatapnya. Mungkin Shehan memang rindu dengan sesuatu yang bisa menghangatkan kebekuan di hatinya.
"Mas---"
"Aku menganggapmu istriku yang sebenarnya, Lilis," sela Shehan, tidak menunggu Lilis menyempurnakan kalimatnya. Beringsut mendekatkan duduk ke arah Lilis. "Bagaimana denganmu? Apa kamu juga menganggapku begitu?"
Dag! Dig! Dug! Dag! Dig! Dug!
Getaran asmara memerintahkan jantung Lilis berdegup lebih kencang. Ia diam seribu bahasa. Bingung harus menjawab apa.
"Lilis ...." Shehan mengamit tangan Lilis dan menggenggamnya erat. "Maukah kamu menjadi istriku yang sebenarnya?"
Tes ....
Bagai setetes air telah membasahi relung kalbu Lilis. Rasanya teduh sekali. Tubuh dan segenap perhatian Lilis terpatri pada satu arah, yaitu pria yang baru saja mengutarakan isi hatinya--Shehan.
"Apa Mas ... sungguh-sungguh mengatakan itu?"
"Ya, aku sungguh-sungguh. Aku tidak bergurau tentang isi hatiku."
Lilis membalas tatapan Shehan yang dalam dengan reaksi yang sama. "Aku---"
Shehan menarik satu tangannya, menangkup pipi Lilis. Sengaja mengunci pandangan mereka berdua. "Lilis, bersediakah kamu menjadi istriku yang sebenarnya?"
Lilis bergeming mendengarkan.
"Bila kamu bersedia, aku baru bisa yakin untuk mengembangkan perasaan cintaku lebih dalam padamu. Kamu tahu aku pernah terluka dan gagal dalam membina rumah tangga. Aku tidak ingin hal yang sama terulang. Maka dari itu, aku butuh kepastianmu untuk membalas perasaanku."
Batin Lilis tersentuh mendengarnya. Maniknya mulai berembun dibalut nuansa haru biru yang terjadi antara dirinya dan suaminya. Akan tetapi, masih ada hal yang membebani benak Lilis. Membuatnya tak bisa leluasa begitu saja menerima perasaan Shehan.
"Tapi ... bagaimana dengan surat perjanjian pernikahan kontrak kita, Mas? Awalnya kita menikah karena itu."
"Lilis, kalau kamu bersedia menjadi istriku yang sebenarnya, aku akan menghapus surat itu. Agar tidak ada lagi masalah di kemudian hari."
"Maaf, Mas. Tapi aku masih bingung dengan perasaanku sendiri." Lilis bangkit, berdiri membelakangi Shehan.
"Kenapa kamu bingung?" Shehan ikut bangkit dan berdiri di belakang Lilis. "Tanyakan pada hatimu, bagaimana perasaanmu padaku?" Diambilnya sekumpulan rambut Lilis yang tergerai lalu diciumnya perlahan-lahan.
Sementara tangan Shehan yang lain, bersanggah pada pundak yang kemudian turun merayapi lengan Lilis. Sampai pada punggung tangan, Shehan membelitkan jarinya ke sela-sela jari Lilis. Menggenggam erat. Bertaut tanpa celah. Kehangatan lantas hadir di sana.
Lilis memejamkan mata, berpaling sedikit ketika merasakan sentuhan itu.
Seerrr ....
Darahnya mendidih, turun seiring debaran cinta yang kian bertambah menguasai diri.
"Aku---" Lilis berputar badan, ingin menghadap Shehan. Sekumpulan rambutnya sontak terlepas melewati sela-sela jemari tangan suaminya. Tangan yang telah kosong itu malahan menangkup pipi Lilis lagi. Ibu jarinya pun dengan lembut mengelus perlahan-lahan pipi Lilis yang merona.
"Mas---"
Cupp ....
Segera kecupan menyapa bibir lembap yang tampak manis---menggairahkan itu.
"Hah!" Helaan napas Lilis berembus dari mulut. Ia mulai gemetaran.
"Jadilah istriku yang sebenarnya, Lilis. Dan aku akan menjadi suamimu yang sebenarnya. Mari bersama-sama kita coba. Saling mengenal lebih jauh satu sama lain dan membangun rumah tangga kita yang baru."
Lilis mulai pasrah menerima pinangan Shehan. "Apa Mas benar-benar menyukaiku?"
"Itu kemarin dan sekarang, aku jatuh cinta padamu."
"Itu kemarin dan sekarang, lalu esok hari bagaimana?"
"Esok hari dan seterusnya, aku akan mencintaimu."
"Mas tidak ragu dengan perasaan Mas?"
"Tidak, Lilis. Tapi kuharap kamu juga membalas perasaanku karena aku tidak ingin mengalami rasa sakit yang sama seperti dulu."
"Jadi ...."
"Maukah kamu menjadi istriku yang sebenarnya?"
Lilis diam sejenak menahan kumpulan embun di pelupuknya yang mulai menjelma menjadi anak sungai. Dalam hitungan detik, ia tak mampu lagi membendung, anak sungai pun mengalir di pipi.
"Mas ... aku ... aku bersedia." Lilis menangis, mengungkapkan jawaban yang terbit dari lubuk hati yang paling dalam.
Shehan menyeka lembut deraian air mata Lilis. "Jangan menangis, sekarang saatnya kamu bahagia."
"Terima kasih sudah menerimaku apa adanya, Mas."
Shehan mendekatkan wajahnya ke kening Lilis. Mengecup mesra sang istri dengan status baru untuk pertama kalinya. Status baru yang hanya mereka berdua saja yang tahu. Usai menjalani dan berhasil melewati beberapa rintangan. Tak surut perasaan keduanya, malahan cobaan itu membuka mata hati Shehan dan membuatnya menyadari perasaannya yang sesungguhnya.
***
BERSAMBUNG...