Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 81 : Benang Takdir



"Jadi bagaimana rencanamu selanjutnya, Sarah?" tanya Shehan ketika acara makan pagi seluruh anggota keluarga sudah selesai tetapi mereka masih duduk dan menghuni meja makan.


Sarah menghela napasnya panjang sebelum menjawab pertanyaan Shehan. "Aku sudah putuskan akan menjual rumah ini dan kembali ke Bali, Shehan."


Sontak ungkapan Sarah mengundang reaksi keterkejutan orang-orang yang mendengarnya.


"Tapi ini adalah rumah peninggalan Jody. Ada banyak kenanganmu bersamanya di sini. Kamu tidak harus menjual rumah ini. Cara lain kamu bisa mengontrakannya kalau kamu tidak mau tinggal di sini lagi," saran Shehan.


"Memang benar apa yang kamu katakan, Shehan. Tapi setelah kepergian Jody, aku sama sekali tidak memiliki keinginan untuk tinggal di Jakarta lagi. Aku pindah ke kota ini karena ingin mengikuti suamiku. Setelah suamiku tidak ada, rumah ini hanya akan menjadi album kenangan yang menyimpan kepahitan setiap kali aku melihat seluruh ruangan dan isinya," pungkas Sarah, tidak ingin keputusannya didikte lagi.


"Baiklah bila itu sudah menjadi keputusanmu. Beritahu aku kalau butuh pertolongan, aku akan membantumu," timpal Shehan mengakhiri argumennya.


"Ya, Shehan." Sarah tersenyum tipis kemudian. Keduanya saling memandang satu sama lain.


Lilis yang berada di seberang mereka menatap sendu pada Sarah dan Shehan yang sepertinya masih menyimpan kerinduan di dalam diri mereka masing-masing. Jarum jam seolah berhenti, membawa Lilis pada waktu empat tahun lalu di mana Sarah dan Shehan masih saling mencintai. Mereka menatap dengan sorot mata kagum yang sama seperti yang terjadi saat ini. Perlahan, Lilis menundukan wajah. Tidak ingin orang lain mengetahui perasaan kecewanya.


"Sarah, maaf tidak bisa menemanimu lebih lama. Aku, Nurbanu dan juga LiIis harus pulang ke Bali hari ini."


Perkataan Shehan menyentak LiIis dari lamunan, memaksanya harus kembali melihat kedua orang itu lagi.


"Ya, Shehan tidak apa-apa. Aku mengerti karena pekerjaanmu tidak bisa ditinggal lebih lama lagi. Nurbanu juga harus masuk sekolah. Terima kasih sudah mau datang ke sini dan menghiburku." Kemudian Sarah menyeret pandangannya pada Lilis, "Lilis, terima kasih juga kamu bersedia datang ke sini."


Bibir kering LiIis yang sedari tadi diam jadi terasa kaku saat akan bicara. "Ya ... ya, Mbak Sarah." Ia malah jadi terlihat kikuk dan sikapnya itu membuat Shehan memperhatikannya.


**


Shehan menutup pintu kamar tamu yang sejak tiga hari lalu dia tinggali bersama LiIis. Sedangkan Nurbanu tidur di kamar tamu yang lain. Lilis menoleh lesu Shehan yang sedang beranjak menghampirinya.


"Apa semua pakaian kita sudah selesai dibenahi?" tanya Shehan sambil berjalan menuju tepi ranjang--ke tempat Lilis berada.


"Sudah, Mas," balas LiIis pelan, kurang bersemangat. Hendak diturunkannya koper dari atas tempat tidur. Namun, Shehan cepat melarang.


"Biar aku saja, LiIis!"


Lagi-lagi LiIis diam, enggan menjawab. Ia membiarkan Shehan melakukan pekerjaan itu--menurunkan koper dari atas tempat tidur ke lantai. Begitu koper sudah diturunkan, tanpa berkata apa-apa Lilis beranjak pergi ingin meninggalkan kamar.


"Kamu mau ke mana?" tanya Shehan.


"Mau melihat Nurbanu, Mas," sahut Lilis, masih tanpa melihat.


Shehan menyadari ada perubahan yang terjadi dari sikap LiIis. Untuk lebih meyakinkan dugaannya, Shehan sengaja memancing gelagat LiIis dengan menyuruhnya melakukan sesuatu.


"Lilis, bisa tolong ambilkan aku air? Aku haus."


"Ya, Mas," kata Lilis. Meski tidak membantah tetapi dia masih tidak mau melihat Shehan.


'Dia menghindari tatapanku,' gumam Shehan menyadari sesuatu.


Sap....


Baru akan berbalik badan, tiba-tiba Shehan meraih tangan Lilis dengan cepat. Menariknya agar jarak mereka menjadi lebih dekat.


"Akh...." Lilis berdecak terkesiap.


Wajah mereka saling bertemu di ambang batas jarak yang cukup dekat. Barulah LiIis melihat Shehan sebab sudah tidak punya kesempatan untuk menghindar lagi.


"Lepaskan aku, Mas! Aku mau ke dapur mengambilkan air yang Mas minta."


Bukannya menjawab, Shehan malah semakin mengikis jarak di antara mereka. Tatapannya fokus tertuju pada satu arah yakni bibir LiIis. Shehan ingin menyapa kelembapan itu dengan bibirnya.


Dag! Dig! Dug!


Seketika Lilis berdebar. Setiap kali bila Shehan melakukan ini, LiIis pasti akan gugup dan berdebar. Tetapi saat jarak mereka sudah teramat dekat, hal yang tidak terduga terjadi. LiIis dengan berani membuang muka, tidak mau dicium Shehan.


Deg!


Shehan refleks terhenyak, menyadari dia telah ditolak.


'Dia menolak aku menciumnya.'


Sesaat Shehan bergeming--kikuk. Namun, tetap tidak dilepaskannya Lilis meski gadis itu meronta, menarik-narik tangannya.


"Lepaskan aku, Mas! Aku mau ke dapur mengambilkan air untuk Mas." LiIis bergerak gerilya ingin kabur.


'Kamu pikir dengan menolakku, aku akan melepaskanmu? Sama sekali tidak!'


"Mas---"


"Sebenarnya aku tidak mau minum," aku Shehan.


Kedua tangan LiIis yang sedari tadi berupaya ingin melepaskan diri mendadak berhenti. Dadanya membusung kesal. Shehan benar-benar mempermainkannya saat ini.


"Yang kuinginkan adalah kamu, bukan air seperti yang kukatakan tadi." Shehan melanjutkan perkataannya.


Lilis diam saja, bahkan menunduk tidak mau melihat Shehan.


"Kenapa kamu menghindariku? Apa kamu marah padaku?" tanya Shehan dengan jarak yang dekat dengan LiIis.


LiIis tetap diam tidak mau bicara apalagi melihat.


"LiIis, lihat aku!" titah Shehan.


Entah mengapa LiIis berani tidak mentaati perintah suaminya. Dia bak batu, jadi keras kepala. Tetap tidak mau melihat Shehan meski pria itu sudah mengatakan perintahnya dengan tegas.


"Apa kamu cemburu melihatku bersama Sarah?" Kali ini Shehan bertanya langsung ke intinya.


Sontak Lilis terperanjat langsung menoleh. Maniknya mengitari Shehan yang sedang membidiknya dengan intens.


"Jawab aku! Apa kamu cemburu melihatku bersama Sarah?" cetus Shehan lagi.


"Aku tidak mau membahas tentang ini, Mas." Jawaban Lilis sama sekali tidak mewakili isi hatinya.


"Lalu kenapa tiba-tiba kamu tak acuh padaku?"


"Aku...." LiIis menundukan pandangan, "aku cuma kelelahan, Mas."


"Kamu tak acuh karena kamu kelelahan?" sergah Shehan tidak percaya dengan alasan Lilis. Tanpa sadar cengkeramannya di lengan Lilis mengendur.


Tahu ada kesempatan emas, LiIis tidak menyia-nyiakannya. Buru-buru bangkit dari pangkuan Shehan.


"Jangan pergi, Lilis!" Satu tangan Shehan berusaha menggapai. Namun, Lilis menepisnya.


"Aku ... mau melihat Nurbanu, Mas," pungkas Lilis. Dia membenarkan pakaiannya sebelum meninggalkan Shehan sendiri di dalam kamar.


Ceklek!


Shehan terpaku melihat pintu ditutup rapat. LiIis ternyata sungguh meninggalkannya.


**


Seminggu kemudian.


Sorot mata hampa LiIis menguar dari caranya melihat ke area sekitar rumah. Ia lemas--kurang bergairah setelah kembali dari rumah sakit untuk mengambil hasil pemeriksaan kesehatannya. Jejak kakinya terhuyung menapaki potongan keramik-keramik lantai. Nyaris tidak mampu menopang tubuhnya agar berdiri tegak.


Dan yang lebih menyayat hati adalah ketika melewati salah satu ruangan yang terdapat sebuah piano di sana. Dari kejauhan LiIis melihat Shehan dan Sarah serta Nurbanu yang duduk di tengah-tengah mereka sedang asyik tertawa ria seraya memainkan tuts piano.


"Hahaha...."


"Ayo, tekan tuts yang ini ya, Banu!" ujar Sarah.


"Ya, Ma. Sekarang Papa dan Mama sama-sama main piano, ya!"


Tidak ingin mengganggu kerukunan keluarga yang sempat retak, Lilis memilih mengalah. Mengalihkan pandangan sayunya ke lain arah. Lantas berjalan keluar rumah kediaman investor asing--Shehan Murad.


"Non LiIis, Non mau ke mana?" Pak Maman bertanya tatkala melihat LiIis berjalan seorang diri melewati pos keamanan.


Lilis tidak dapat mendengar suara Pak Maman. Ia hanya dapat melihat gerakan bibir pria paruh baya itu saja. Tanpa tahu apa yang dikatakan oleh Pak Maman, Lilis menjawab seadanya.


"Aku mau berjalan-jalan sebentar, Pak."


Segaris senyum Lilis berikan pada Pak Maman. Pak Maman sendiri masih mengawasi Lilis sampai keluar dari gerbang utama rumah.


Lilis sendirian mengayunkan langkah lemahnya di trotoar jalan. Satu titik darahnya menetes lalu jatuh ke baju, meresap dengan cepat ke dalam serat kain. Namun, Lilis tetap tenang meski tangannya gemetar saat akan menutup hidungnya yang mimisan. Agaknya Lilis sudah menerima takdir dan menerima mimisan ini sebagai teman perjalanan hidupnya.


'Benang takdir, haruskah aku memutus ikatanku dengan kehidupan ini?' lirih LiIis seraya menyeka darah yang masih keluar.


***


BERSAMBUNG....