Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 18 : Empat Wajah



Tina dan Hendra kebingungan setibanya mereka di dalam restoran steik. Saking banyaknya pengunjung yang datang, hampir tak menyisakan meja kosong untuk mereka berdua. Pasangan pengantin baru itu sama-sama mengedarkan pandangan mencari tempat yang masih tersedia.


"Penuh Mas, di mana kita bisa duduk, nih?" keluh Tina bernada putus asa usai celingukan.


Hendra sedikit melangkah maju ke depan. Sorot matanya mengelilingi seisi ruangan dengan lebih jeli. Usahanya pun membuahkan hasil. Tanpa sengaja ia menemukan Lilis dan juga Shehan sedang duduk di sebuah meja bundar. Meja tersebut diisi empat buah kursi tamu. Namun, hanya dua saja yang terpakai. Otomatis masih tersisa dua kursi yang masih kosong.


"Tin, di sana ada Lilis sama tunangannya. Di meja mereka masih ada kursi kosong. Yuk, kita bergabung dengan mereka saja!" ajak Hendra sekembalinya ia ke posisi Tina.


"Ya sudah. Yuk, Mas!" Tina menebar senyum ceria lantas menggandeng tangan suaminya lagi. Keduanya beranjak menuju meja yang dihuni oleh Lilis dan Shehan.


Selang semenit, Tina dan Hendra tiba di lokasi tujuan. Shehan terperanjat dua orang yang tadi dia temui di butik, kini muncul lagi di hadapannya.


"Halo, kita bertemu lagi," sapa Hendra beramah-tamah.


"Ya, kita bertemu lagi," sahut Shehan tak kalah ramah.


Lilis yang duduk membelakangi kedua tamu tak diundang itu lantas menoleh ke belakang. "Eh, Mas Hendra ... Mbak Tina!" Ia terkesiap.


"Apa boleh kami duduk di sini? Meja yang lain sudah penuh," pinta Hendra kemudian.


"Ya, silakan duduk! Kursi di meja kami memang tersisa dua yang masih kosong." Shehan menjawab disertai gerakan tangan mempersilakan.


"Terima kasih." Tina semringah, bergegas ia mengambil posisi duduk di samping Shehan. Sedangkan Hendra duduk di dekat Lilis lalu meletakan kantong belanja yang sedari tadi ia pegang di lantai dekat kaki kursi.


'Hhmm ... wangi sekali parfum tunangan Lilis,' kagum Tina seketika menghirup aroma harum yang berasal dari tubuh Shehan. Wanita itu perlahan menoleh ke samping. Diam-diam ia meneliti wajah Shehan dari dekat.


"Maaf ya, kami mengganggu," ujar Hendra berbasa-basi. Di saat sang suami sibuk bercengkerama, sang istri juga sibuk mengagumi ketampanan pria Turki itu.


'Sudah wangi, ganteng, kaya lagi! Lilis beruntung sekali bisa mendapatkan laki-laki seperti dia,' celetuk Tina dalam hati.


"Ah, tidak apa-apa! Kami juga dari tadi tidak ada mengobrol serius. Kalau tambah orang jadi ramai. Tidak membosankan." Shehan menimpali ucapan Hendra.


"Iya Mas Hendra, Mbak Tina. Kami senang bertemu Mas dan Mbak di sini lagi," sambung Lilis.


"Permisi!"


Percakapan keempatnya dipotong oleh sapaan seorang pramusaji yang datang membawa makanan pesanan Lilis dan Shehan. Pramusaji yang berpakaian rapi serta memakai dasi kupu-kupu hitam itu meletakan dua piring berisi steik lengkap dengan garnish-nya ke atas meja dengan hati-hati. Tak ketinggalan segelas jus pelangi dan jus jeruk milik Shehan.


"Kami juga mau memesan," kata Hendra saat melihat pramusaji tadi telah menyelesaikan tugasnya.


"Baik, tolong tunggu sebentar. Akan saya bawakan buku menu ke sini," balas pramusaji lalu mengangguk singkat sebelum pergi seraya membawa kembali nampan yang telah kosong.


"Lilis, Tuan, silakan makan duluan. Jangan sungkan dengan kami." Hendra mempersilakan.


"Panggil saja aku Shehan. Namaku adalah Shehan."


'Oh, namanya Shehan,' gumam Tina.


Kedua pria di meja bundar itu bersitatap muka.


"Oh ... ya. Baiklah Shehan."


Tak lama pramusaji tadi datang lagi membawakan buku menu untuk Hendra dan Tina. "Ini buku menunya. Silakan, dipesan!"


Detik selanjutnya buku menu tersebut sudah berpindah tangan pada Hendra dan Tina. Sedangkan si pramusaji masih berdiri di sisi meja untuk mencatat pesanan makanan.


"Mas Hendra, Mbak Tina, maaf kami makan duluan, ya!" Lilis yang merasa segan meminta izin lagi.


"Ya, silakan Lilis. Kami juga lagi memilih menu." Kali ini Tina yang bersuara.


Lilis tersenyum tipis, kemudian mulai berusaha memotong steik daging sapi miliknya. Lantaran tidak pernah makan menggunakan pisau potong makanan, Lilis kesulitan tatkala harus memegang garpu dan pisau secara bersamaan.


Di sela kegiatan Lilis, terdengar desas-desus Hendra dan Tina yang bingung memilih makanan.


"Kamu pesan apa, Sayang?" tanya Hendra dari seberang sehabis menyortir pilihan menu yang ditulis menurun ke bawah di buku.


Tina dari balik buku menu yang menutupi wajahnya menjawab, "Aku mau pesan steik daging sapi saja, Mas." Ia lalu beralih tanya pada Shehan yang sedang memotong steik miliknya dengan gaya yang anggun. "Enak tidak daging steiknya, Shehan?"


Shehan menoleh. "Ya, rasanya enak," jawabnya datar.


"Kalau begitu kami pesan steik daging sapi juga, dua ya," pinta Hendra pada pramusaji.


Pramusaji restoran sigap mencatat. "Minumnya apa?" tanyanya lagi.


"Kamu mau minum apa, Sayang?" Hendra melihat istrinya.


Tina melihat jus jeruk Shehan sekilas. Lantas teringin juga ia meminum jus yang sama. "Jus jeruk, Mas."


"Mas juga sama saja kalau begitu. Jus jeruk dua, ya!" beritahu Hendra pada pramusaji.


"Ada lagi tambahannya?"


"Tidak, itu saja."


"Baiklah, mohon ditunggu. Sebentar lagi pesanan diantar."


Hendra mengangguk pelan sebagai jawaban. Pramusaji itu pun pergi selesai mencatat semua pesanan. Kini perhatian Hendra menangkap istrinya yang kedapatan mencuri pandang pada Shehan.


'Mau apa Si Tina itu? Suaminya di sini, tapi malah sibuk melihat tunangan orang lain,' gerutu Hendra sedikit cemburu. Ia menyipitkan mata, mengawasi gerak-gerik Shehan dan Tina secara bergantian.


'Dari tadi dia tidak selesai-selesai memotong satu steik saja. Hah, memalukan! Bagaimana nanti kalau ada acara makan bersama di kantor. Bisa-bisa semua karyawan menggosipkan aku gara-gara Lilis!' Shehan sendiri juga mengeluh melihat Lilis yang masih berupaya memotong daging dengan benar.


'Ini kenapa sih? Daging ini susah sekali mau dipotong. Alot sekali. Sampai sakit tanganku menekannya. Tuan Murad juga sudah geram melihatku dari tadi tidak selesai-selesai.'


Tiba-tiba,


"Lilis, ini dagingnya. Sudah kupotongkan untukmu." Shehan yang sudah tidak sabar lagi, berdalih memberikan piring daging miliknya.


Lilis terkejut. "Terima kasih, Tu ... Akh!" Gadis itu malah berdecak sakit. Rupanya di bawah kolong meja, Shehan memijak kaki Lilis sampai ia kesakitan.


'Kamu sudah lupa lagi! Mau memanggilku "Tuan" biar ketahuan sama mantan pacarmu!' omel Shehan lewat sorot matanya.


Perlahan Lilis menggeser kakinya dari pijakan Shehan. 'Dasar Tuan Murad. Kejam sekali memijak kakiku kuat-kuat. Huh!'


Lilis memutar otak agar sandiwaranya bersama Shehan terlihat nyata. "Terima kasih, Sayang."


Deg!


Sontak Shehan terkejut bukan main dipanggil "Sayang" oleh Lilis. Cukup lama ia bengong, menatap Lilis yang nekad memanggilnya dengan sebutan mesra lebih dulu.


Lilis mengambil piring steik yang disodorkan Shehan sambil senyum-senyum sendiri. Shehan memalingkan muka masam lantaran malu dipanggil "Sayang".


Tina bersungut-sungut menyaksikan tingkah lucu pasangan yang sedang bersandiwara.


'Apa bagusnya Si Lilis itu? Kok bisa dia mendapat tunangan kaya? Kalau soal muka, cantikan aku. Kulit, masih lebih putih aku. Pekerjaan, bagusan aku. Apa yang dilihat tunangannya kok mau sama Lilis? Kalau tahu dia bakal dapat tunangan kaya. Mendingan kutikung saja tunangannya sekarang. Dari pada nyerobot Si Hendra.'


'Shehan dipanggil Sayang malah buang muka. Atau jangan-jangan dia menyesal sudah bertunangan dengan Lilis setelah melihat Tina. Tidak mau bersikap romantis karena ada Tina. Tahu saja dia Tina lebih cantik dari Lilis.' Hendra malah berburuk sangka.


***


BERSAMBUNG...