Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 67 : Jamuan Tengah Malam



Resmi mengikrarkan janji suci sebagai pasangan suami istri yang sejati, Shehan memegang kedua lengan Lilis. Membimbingnya ke dalam pelukan.


"Peluklah aku! Aku adalah suamimu yang sebenarnya sekarang. Jangan ragu untuk memberitahuku apapun yang terjadi padamu dan apapun yang kamu rasakan. Baik itu sedih ataupun bahagia, aku berhak tahu karena aku adalah penanggung jawabmu," ujarnya menegaskan, tetapi dengan intonasi yang halus.


Kelopak mata Lilis bergoyang, kembali terharu. Lilis merasa yakin kalau dia tidak salah memilih suami. Kemudian memberanikan diri memeluk Shehan. "Mas Shehan ...."


Lilis menghamburkan diri. Sementara Shehan yang telah merentangkan kedua tangannya langsung menyambut sang istri. Keduanya sama-sama saling melingkarkan tangan ke punggung dan pinggang pasangannya. Menyatu dalam perasaan sukacita tiada tara. Lilis menyandarkan kepalanya di dada berbidang Shehan. Tak kalah aktif, Shehan turut membelai-belai kepala Lilis penuh kasih sayang. Di antara mereka kini tercipta hubungan harmonis yang nyata.


'Mas Shehan hangat sekali!' gumam Lilis, tersenyum tipis seraya menggosok wajahnya dalam dada Shehan yang terbalut kemeja biru gelap. Puas merasakan dekapan tubuh suaminya, perlahan Lilis mendongak, ingin menatap sosok hangat itu. Seketika sepasang netra coklat muda langsung menangkapnya. "Mas, apakah aku bermimpi?"


Kedua sudut bibir Shehan tersungging, mengguratkan senyum simetris. "Tidak Sayang, kamu tidak bermimpi dan ini semua nyata."


"Tolong bimbing aku agar bisa menjadi istri yang baik."


"Tentu aku akan membimbingmu dan akan kumulai dari sekarang."


"Pertama-tama apa yang harus kulakukan, Mas?"


Shehan menangkup pipi Lilis, mengelus-elusnya lembut. "Tugas pertama yang harus kamu lakukan adalah ... menunaikan kewajibanmu sebagai istriku."


Deg!


Tetiba Lilis makin berdebar. "Malam ini, Mas?"


"Ya, Sayang. Malam ini." Tangan Shehan yang tadi mengelus pipi, bergerak lambat memagut dagu lalu membelai seduktif bibir Lilis dengan ibu jari. "Jangan tidur di sofa lagi! Tidurlah di ranjang bersamaku."


Lilis diam sejenak.


"Baiklah, Mas. Aku akan menuruti perkataan Mas tapi sebelumnya, aku mau mengganti pakaianku dulu."


Shehan melihat Lilis masih mengenakan pakaian rumah, belum menggantinya dengan gaun tidur.


Cupp ....


Sekali lagi mengecup kening Lilis, seolah tak ingin hilang dari pandangan istrinya itu barang sebentar.


"Ya, Sayang."


Lilis tambah merasa senang mendapat perhatian Shehan. "Tunggu sebentar ya, Mas!"


Shehan mengangguk pelan. Raut wajahnya kini teduh bila menatap Lilis. Berbeda sekali dengan dulu--datar dan dingin.


Lilis beranjak menuju ruang berpakaian. Membuka lemari kemudian mencari-cari gaun tidur di antara sejumlah gaun yang tergantung di gantungan pakaian. Satu-persatu Lilis menyortir pakaian yang sekiranya pas untuk dikenakan malam ini. Malam istimewa sebab kali pertama ia harus menunaikan kewajibannya.


Selang tiga menit, Lilis menemukan gaun tidur yang tepat. Sebuah lingerie warna burgundi. Bahannya cukup transparan dengan tali gaun model spaghetti. Terdapat pula gaun lapisan lingerie dengan warna yang sama, tetapi tidak transparan berbahan satin.


Lilis melepas pakaiannya. Berganti dengan mengenakan lingerie terlebih dahulu lalu memakai gaun pelapisnya. Ia menyemprotkan parfum ke beberapa titik nadi. Usai semua persiapan telah Lilis lakukan, ia kembali menatap bayangannya di cermin cukup lama.


Rasanya aura Lilis terlalu pucat setelah ia sempat menangis tadi. Lilis pun sedikit memoles wajahnya dengan riasan. Menepuk-nepuk spons bedak ke pipi. Memberi perona bibir dengan lipstik warna nude yang cerah. Tak lupa menyisir rambut agar lebih rapi. Lima menit berikutnya, Lilis siap menyambut Shehan.


'Lilis, jadilah wanita dewasa malam ini!'


Ia berjalan menuju kamar utama dengan hati gugup tidak karuan. Sejak keluar dari pintu ruang berpakaian, Shehan yang sedang duduk bersandar di headboard tempat tidur terus memandanginya lekat. Sementara Lilis tidak berani membalas tatapan intens pria itu.


Setibanya di tepi tempat tidur, barulah Lilis berani bersemuka dengan Shehan seraya memanggilnya suaminya dengan lembut. "Mas ...."


Rona wajah Shehan berseri-seri turun dari ranjang. Ia berdiri tepat di depan Lilis. Keduanya bersitatap muka, saling mengagumi. Shehan dengan sorot mata memuja. Sedangkan Lilis lebih kalem.


"Kamu cantik sekali!"


Pujian itu terbit, refleks Lilis tersenyum simpul membalas pujian suaminya. Shehan memagut dagu Lilis, mendongakan ke arahnya. Lantas mulai mendekati istrinya. Seiring jarak yang kian terkikis, batin Lilis tambah buncah.


Sekali Shehan menatap dalam Lilis ketika jarak mereka hanya tersisa satu sentimeter saja. Selanjutnya seluruh ambisi Shehan mengarah pada bibir Lilis.


Cup....


Satu kecupan pembuka. Lilis pun terpejam. Shehan memberi jarak bibir Lilis lagi. Detik selanjutnya kembali mengecup kelembapan itu dengan kecupan-kecupan halus. Lilis menghayati tiap sentuhan yang membelenggu dirinya. Angannya mulai melanglang buana mengitari alam asmara.


Kecupan-kecupan yang mulanya halus, perlahan berubah semakin sensual. Shehan mengikat bibir mereka dengan ciuman yang lebih dalam tanpa jeda. Meski awalnya gugup, Lilis akhirnya terpancing, nalurinya membalas tautan bibir yang Shehan berikan. Sepasang suami istri tersebut saling merengkuh pasangannya erat. Menjalari lekuk-lekuk tubuh dengan belaian memikat.


Satu tangan Shehan menelusup masuk ke dalam lapisan gaun. Meremas lengan Lilis sesekali. Lapisan gaun itu kemudian dilepaskan dan luruh ke lantai. Terpampanglah tubuh ranum Lilis yang terbalut lingerie transparan warna burgundi.


Shehan menatap kagum pemandangan indah diri Lilis. Hasrat dewasanya tergoda. Ingin menjamah, mencicipi hidangan utama yang tersaji di depan mata. Lilis bak kuncup bunga yang baru saja mekar. Bukankah keindahan itu adalah sesuatu yang sulit ditolak?


Satu tangan Shehan melingkari pinggang Lilis, sedangkan satu tangan lain memegang tengkuk--naik ke atas perlahan-lahan lalu menelusup ke sela-sela rambut. Lilis menggeliat pelan saat rambutnya diremas. Mulutnya terbuka mengembuskan udara. Lewat remasan itu, Shehan mendongakan Lilis. Menarik tubuh sang istri masuk ke dalam pelukan tak bercelah.


Melodi napas tersengal-sengal melatari suasana bergairah di kamar utama. Kedua pundak Lilis naik turun, terbakar api gelora yang disulut oleh Shehan. Tangan pria itu meninggalkan pinggang Lilis, pergi ke area wajah untuk membelai bibir Lilis yang terbuka dengan sensual. Jari tengahnya masuk ke dalam mulut, menyentuh lingual yang menghuni di dalam.


Lilis memegang pergelangan tangan Shehan, menyesap jari Shehan yang masuk ke dalam mulutnya. Shehan senang dengan balasan manis yang Lilis berikan untuknya. Ia menarik jarinya keluar dari mulut Lilis, menyesap jarinya sendiri, ingin merasakan saliva Lilis yang tertinggal di sana.


"Kamu sudah siap?"


Lilis mengangguk pasrah. "Ya, Mas."


Tak mau membuang waktu lagi, Shehan meraup Lilis ke dalam gendongannya. Serta-merta Lilis mengalungkan tangannya ke leher Shehan agar tidak jatuh. Pria itu membawa istrinya naik ke atas ranjang, dengan hati-hati membaringkannya di sana. Ketika tubuh Lilis sudah terbaring dengan sempurna, Shehan beranjak naik ke atasnya.


***


BERSAMBUNG...