Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 8 : Awal Mula Tragedi



Dalam bingungnya, Lilis berjalan mondar-mandir di depan ruang kerja Shehan. Ia sempat melihat majikannya masuk ke dalam ruangan itu lima belas menit yang lalu. Lantas Lilis ingin menemui Shehan untuk mengatakan tentang pengunduran dirinya.


Namun, jangankan bicara kalau ia mau mengundurkan diri. Untuk mengetuk pintu ruangan itu saja, Lilis sudah gemetaran. Dahinya sampai mengernyit saking gugupnya. Setiap kali kepalan tangan Lilis akan menjangkau daun pintu, mendadak ditariknya lagi.


Lilis mengurungkan niatnya seraya menunggu keberanian muncul di dalam hati. Kendatipun begitu, keberanian itu tak kunjung muncul hingga sekarang. Alhasil dia hanya berjalan mondar-mandir di sana seperti orang linglung.


'Ayolah Lilis! Masa' buka pintu saja takut sih!' Batin Lilis mengomeli dirinya sendiri.


Selang tiga detik kemudian, tiba-tiba kejadian tak terduga malah terjadi. Shehan yang memang berada di dalam ruang kerjanya seketika membuka pintu.


Ceklek!


"Haah!"


"Lilis!"


Keduanya sama-sama terkesiap. Shehan terkejut saat melihat Lilis langsung muncul di hadapannya. Sedangkan Lilis juga terperangah ternyata majikannya sudah lebih dulu membuka pintu sebelum ia mengetuknya.


'Aduh, ketahuan! Tuan Murad sudah memergoki aku ada di sini!' Surai mata Lilis bergoyang gelisah.


'Kenapa Lilis ada di sini? Bukannya sejak kemarin dia selalu menghindariku.' Tatapan Shehan menginterogasi.


"Ada apa, Lilis? Kenapa malam-malam begini ada di sini?"


Jarum jam memang sudah menunjukan pukul 21.34 WITA. Tak salah jika Shehan bertanya demikian.


"I--itu Tuan ...." Lilis tak berani bicara.


Ceklek!


Shehan melangkah keluar sembari menarik tuas pintu agar tertutup rapat. Ia kini berdiri tepat di depan Lilis. "Nurbanu sudah tidur?"


Lilis mengangguk singkat. "Sudah, Tuan."


"Lalu kenapa kamu ke sini?" tanya Shehan. Mimiknya yang serius membuat Lilis semakin takut.


"I--itu, Tuan. I--itu ...."


"Itu apa? Apa yang ingin kamu katakan?"


Lilis celingukan ke kiri dan ke kanan. Ingin memastikan kalau tidak ada orang lain selain dia dan Shehan di sana. "Eum ... aku mau ... mengundurkan diri, Tuan." Lekas Lilis menunduk usai berhasil mengatakan isi hatinya. Kini jemarinya saling beradu tak tenang.


Shehan otomatis terkejut mendengar penuturan Lilis. Ia tak menyangka kalau Lilis akan memilih mengundurkan diri untuk menghindarinya setelah masalah waktu itu. "Kenapa kamu mau mengundurkan diri? Apa karena masalah itu?"


Sesaat Lilis bungkam. "Tidak, Tuan. Aku ingin pulang kampung saja. Ingin tinggal bersama Ibu selama beberapa hari."


Terpaksa Lilis berbohong agar tidak menyinggung perasaan Shehan. Meski pria itu telah menyakiti hati Lilis, tetapi ia senantiasa tidak berniat membalasnya. Lilis berupaya mengikhlaskan hal buruk yang telah terjadi dan tidak ingin menaruh dendam.


Helaan napas Shehan yang berat terdengar jelas di gendang telinga Lilis. Gadis itu tahu majikannya pasti sedang berpikir keras. Namun, Lilis tetap menunduk tidak berani mengangkat kepala untuk melihat ekspresi Shehan. "Kita bicara di dalam saja. Ikut aku sekarang!"


Shehan membuka pintu ruangan kerjanya lagi. Lilis pun ikut masuk ke dalam. Keduanya saling berhadapan di balik pintu yang telah kembali tertutup rapat. Shehan duduk di kursi kerjanya, sedangkan Lilis berdiri di depan meja.


'Kenapa dia kekanakan sekali! Ada masalah sedikit langsung mau berhenti kerja.'


Tatapan Shehan tak sedikit pun beralih dari Lilis.


'Lilis, kamu pasti bisa!'


Lilis sendiri mati-matian mengumpulkan segenap keberaniannya lagi, agar bisa berbicara tegas pada majikannya.


"Jadi kamu sudah yakin mau mengundurkan diri?"


Rongga dada Lilis tampak penuh dengan udara. Perlahan busungan itu mengempis, seiring dengan embusan napas yang meluncur keluar dari mulut. Gadis itu mengangkat kepala, pura-pura tegar padahal sedang gemetar.


"Iya, Tuan."


"Kenapa kamu mau mengundurkan diri?"


"Aku ... ingin menemui Ibuku di kampung, Tuan."


"Kalau cuma beberapa hari, kamu bisa minta cuti."


Lilis membasahi bibirnya yang kering selagi menunduk, merenungi perkataan Shehan. Agaknya Lilis menyadari kalau Shehan sudah tahu dia sedang berbohong.


"Maaf, Tuan. Aku tidak tahu kapan kembali lagi ke sini. Makanya kuputuskan untuk mengundurkan diri saja."


"Apa kamu sudah mendapat pekerjaan baru di sana?"


"Kalau begitu, kamu cuti saja. Setelah itu kamu bekerja lagi di sini."


"Tidak bisa, Tuan."


"Kenapa tidak bisa?"


"Itu karena ...." Lilis menunduk lagi.


Kebimbangan gadis itu semakin menguatkan keyakinan Shehan kalau Lilis ingin mengundurkan diri lantaran masalah tempo hari dengannya.


"Lilis, jujur saja! Kamu mau mengundurkan diri karena masalah rencana pernikahan kita yang batal, kan?"


Lilis pun tetap bungkam. Pandangannya masih menunduk, samar tak jelas ke arah mana. Ia cemas karena Shehan sudah mengetahui alasan sebenarnya dia ingin mengundurkan diri.


"Kalau kamu diam, berarti tebakanku benar. Lilis, kamu tidak bisa mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan." Intonasi Shehan menekan, mempertegas ucapannya.


Sekonyong-konyong Lilis jadi berani mengambil sikap dan membalas perkataan Shehan dengan jawaban yang jujur.


"Maaf kalau aku sudah berbohong sebelumnya, tapi aku merasa tidak enak hati bekerja di sini terus setelah masalah waktu itu, Tuan. Aku tahu tidak boleh mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Aku sudah mencoba tapi tetap tidak enak hati."


"Aku tahu aku bersalah, Lilis. Tapi aku juga mau menebus kesalahanku. Kamu yang tidak mau menerimanya."


"Aku tidak mau terhutang budi karena Tuan sudah membuatkan rumah untukku."


"Kamu tidak terhutang budi, biar perasaan tidak enakku juga hilang. Aku juga merasa tidak enak hati setelah waktu itu."


"Kalau Tuan mau perasaan tidak enak kita sama-sama hilang, kembalikan saja seperti kesepakatan semula. Dengan begitu kita impas. Tidak ada yang saling terhutang budi."


Iris coklat muda Shehan menatap dalam Lilis yang kini menjelma menjadi perempuan tegas. Tidak mencla-mencle seperti tadi.


"Apa kamu serius, Lilis? Kamu tahu aku menikahimu hanya untuk menjadi penjamin izin tinggalku di Indonesia?"


"Ya, Tuan. Aku serius. Tuan juga tahu aku menyetujui pernikahan itu karena aku mau sebuah rumah untuk tempat tinggal Ibuku."


"Kamu bersedia kupermainkan?"


"Kita sama-sama mempermainkan."


"Bagaimana dengan Ibumu? Beliau tidak mau kita bercerai. Sedangkan perjanjian kita hanya setahun pernikahan."


"Aku pernah membaca buku. Di sana tertulis kita hidup hanya untuk hari ini. Karena yang kemarin sudah berlalu dan hari esok belum terjadi. Lakukanlah yang terbaik hari ini sebagai penyelamat untuk hari esok."


"Kamu tidak akan menyesal kalau nantinya akan menjadi janda?"


"Apa yang kita tabur, itu juga yang akan kita tuai. Jadi aku tidak akan menyesal karena aku sudah tahu kalau kita hanya menikah kontrak. Biarlah aku berkorban, asal Ibuku bisa hidup nyaman di masa tuanya."


Lilis mengembuskan napas panjang. Ia benar-benar yakin pada keputusannya kali ini. Tekadnya sudah bulat demi membahagiakan sang ibu.


Shehan bangkit dari duduknya. Berjalan menghampiri Lilis tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis itu barang sedetik saja. Saat jarak mereka berdua telah dekat, diraihnya tangan Lilis dan digenggam dengan erat.


"Tu--Tuan ...."


Sontak mata Lilis melebar. Berusaha menarik tangannya yang sedang digenggam Shehan.


Dag! Dig! Dug!


Hati gadis itu berdebar-debar tidak karuan. Maniknya bergerak gugup mengitari paras Shehan. Dari jarak yang dekat seperti ini, jelas terlihat ketampanan pria itu memang sebuah mahakarya indah sang pencipta.


"Jangan ditarik. Biarkanlah begini. Untuk ke depannya, mungkin kita akan sering berpegangan tangan. Hanya kita berdua yang tahu kalau ini hanya sebuah kontrak pernikahan. Tapi orang lain berpikir kita adalah pasangan suami-istri sesungguhnya."


Kehangatan telapak tangan Shehan segera berpindah ke dalam diri Lilis. Bibir gadis itu bergetar hendak menjawab. "Ya ... Tuan."


"Jangan mengundurkan diri karena sebentar lagi kita akan menikah."


Segaris senyum Shehan terbit di bibirnya yang basah kemerahan. Lengkungannya sempurna bagai bulan sabit di malam yang cerah. Cukup lama senyum itu dibiarkan bersinar hanya untuk Lilis.


'Senyumnya manis sekali!'


Lilis terpana sampai tak bisa mengedipkan mata.


***


BERSAMBUNG...