Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 62 : Membantah Tudingan



Secentong nasi goreng sedang ditaruh Lilis di atas piring Nurbanu. Sedangkan Shehan sudah terlebih dulu disiapkan menu sarapan paginya oleh Lilis juga. Di tengah suasana tenang nan damai pagi ini, diam-diam Jesslyn mengawasi satu-persatu orang yang hadir di ruang makan dari balik kursinya.


Ia sendiri lebih memilih memakan salad sayuran saja sebagai penambah energi. Tidak mau memakan nasi karena takut gemuk meskipun nasi goreng itu berbahan dasar beras merah. Usai kegiatan Lilis selesai, Shehan sebagai kepala rumah mengajak semua anggota penghuni meja makan untuk mulai menyantap makanannya masing-masing.


"Silakan mulai makan!"


Lilis mengangguk singkat. Nurbanu-lah yang bersuara.


"Ya, Papa!" balasnya bersemangat dan refleks mendapatkan senyum bersahaja dari orang tuanya.


Beberapa detik selanjutnya, peralatan makan seperti garpu dan sendok sudah terdengar saling beradu di atas piring.


'Sepertinya bukan Lilis orang yang menemukan dokumen milikku. Kalau dia orangnya, pasti dia sudah heboh bukan kepalang,' terka Jesslyn selepas memperhatikan Lilis dan Shehan seraya mengunyah makanannya.


'Sepertinya Shehan juga belum tahu tentang dokumen itu, karena dia masih bisa memakan sarapan paginya dengan tenang. Tapi aku tidak boleh lengah, tetap harus menginterograsi Lilis nanti!' Jesslyn menunduk lagi.


Ketika itu, Mbok Tum datang membawakan seberkas koran yang terkadang Shehan baca sesudah selesai sarapan dan bila memiliki waktu luang lebih banyak.


Tak sengaja, Mbok Tum dan Jesslyn saling bertukar lirikan. Namun, Mbok Tum lantas membuat Jesslyn curiga lantaran wanita paruh baya itu menunjukan gelagat aneh dari sorot matanya yang buru-buru menghindari Jesslyn setelah membidiknya dengan fokus.


'Ada apa dengan Mbok Tum? Kenapa dia diam-diam memperhatikanku? Atau jangan-jangan?' Alis Jesslyn bertaut 'Mbok Tum-lah yang sudah menemukan dokumen itu!'


Dag! Dig! Dug!


Batin Jesslyn cemas bukan kepalang. Ingin sekali dia pergi meninggalkan meja makan detik ini juga dan langsung mencegat Mbok Tum yang beranjak ke dapur lagi. Lantas, cara apa yang harus Jesslyn lakukan agar bisa menginterogasi wanita paruh baya itu?


**


Tiga puluh menit berlalu.


Jesslyn berdiri di dekat jendela, memandangi Lilis yang sedang mengantar Nurbanu menuju bus TK yang sudah menunggunya di samping trotoar jalan raya. Sementara Shehan sudah berangkat bekerja lebih dulu sejak lima menit yang lalu.


"Bagus! Sekarang saatnya aku menginterogasi Mbok Tum!"


Jesslyn mantap pergi mengunjungi kamar Mbok Tum. Tidak ada siapa-siapa di dalam rumah saat ini sebab Lilis belum kembali.


Tok! Tok! Tok!


Mbok Tum sedang melipat beberapa helai pakaiannya di tepian ranjang ketika suara ketukan di pintu menyentak konsentrasinya.


"Apa itu Non Lilis, ya?" gerutu Mbok Tum seraya menoleh pintu "Sebentar, ya!" serunya kemudian.


Ceklek!


"Non Jesslyn!" Sepasang mata Mbok Tum agak membulat, terkesiap saat tahu kalau Jesslyn-lah yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.


Tidak menunggu si empunya kamar menyuruh masuk, Jesslyn menerobos pintu yang baru setengah terbuka dan masuk ke dalam.


Ceklek!


Pintu ditutup rapat oleh Jesslyn lagi. Dia berdiri membelakangi daun pintu, menghadap Mbok Tum. Sengaja Jesslyn memasang mimik sedih di depan Mbok Tum.


"Mbok, tolong bantu aku, Mbok!" mohon Jesslyn sambil memegang erat tangan Mbok Tum agar aktingnya terlihat lebih meyakinkan.


"Tolong apa ya, Non?" Dengan mengernyit dan melihat pegangan tangan Jesslyn sekilas, Mbok Tum bertanya.


"Aku kehilangan dokumen penting milikku tadi malam. Sepertinya aku berbuat hal ceroboh dan membuang dokumen yang salah!" ungkap Jesslyn panik.


Mbok Tum bergeming menatap Jesslyn. "Maaf, Non. Tapi dokumen apa, ya? Saya tidak mengerti dengan kata-kata Non Jesslyn barusan."


Kepala Jesslyn sedikit menunduk dan condong ke arah lawan bicaranya. "Mbok lihat tidak, ada sebuah map warna merah muda di dalam tong sampah saat membuang sampah pagi ini?"


Mbok Tum diam lagi, tetapi menggeleng beberapa kali kemudian. "Tidak, Non. Saya tidak melihat ada dokumen di dalam tong sampah."


'Kenapa bisa begini? Seharusnya ada seseorang yang telah menemukan dokumen itu.'


"Maaf, Non Jesslyn. Tapi Mbok memang tidak melihat dokumen apa-apa di dalam tong sampah."


'Kalau bukan Mbok Tum, pasti Lilis yang menemukannya. Huh! Percuma saja aku membuang waktuku datang ke sini.'


"Baiklah Mbok, tapi benar Mbok tidak melihat ada dokumen di dalam tong sampah?" tanya Jesslyn lagi sekadar ingin meyakinkan dirinya.


Mbok Tum menggeleng pelan. "Benar Non."


"Ya sudah, maaf mengganggu Mbok Tum."


"Iya, Non."


Jesslyn membias wajah kecewa, keluar dari ruangan Mbok Tum. Cukup lama wanita paruh baya itu mencermati daun pintu yang kembali tertutup rapat setelah Jesslyn berlalu.


"Huft!" Segelintir napas lega Mbok Tum menguar lega sembari menunduk dalam. Mbok Tum teringat kalau pagi ini sudah melakukan hal yang sangat tidak biasa dia lakukan.


Semenjak menemukan dokumen milik Jesslyn tadi malam, ia tidak bisa tidur sampai hampir menjelang pagi. Terus uring-uringan menebak sebenarnya dokumen apa itu. Tetapi sama sekali tidak berani membukanya. Bahkan, sekadar mengeluarkannya dari plastik bening yang membungkus keseluruhan map merah muda itu.


Tatkala jam alarm yang terletak di atas nakas samping kasur berdering, Mbok Tum pergi ke dapur seperti biasanya untuk membantu Lilis memasak makanan. Di saat itulah ia baru berani memberikan dokumen yang dia temukan tadi malam pada Lilis.


"Non Lilis, ini dokumen milik Non Jesslyn. Tadi malam tidak sengaja Mbok melihat Non Jesslyn membuang dokumen ini ke tong sampah, tapi sembunyi-sembunyi. Mbok jadi curiga, takut kalau Non Jesslyn akan menuduh Non Lilis lagi menghilangkan dokumen ini. Mungkin saja sebenarnya ini dokumen milik Tuan."


Lilis yang berdiri berhadapan dengan Mbok Tum di kamar asisten rumah tangga menerima dokumen yang Mbok Tum sodorkan padanya.


"Sebenarnya dokumen apa ini, Mbok?" Lilis juga penasaran.


"Entahlah, Non. Mbok juga tidak tahu karena takut membukanya."


"Baiklah, akan kusimpan dokumen ini, Mbok."


"Iya, Non."


Ingatan Mbok Tum perihal kejadian tadi pagi berakhir. Kini giliran Jesslyn yang masih kalang kabut mencari keberadaan dokumen miliknya. Ia menanti Lilis yang sudah nampak batang hidungnya muncul dari pintu utama rumah, habis mengantar Nurbanu.


"Lilis!" seru Jesslyn, tak sabar menghampiri. "Aku ingin bicara empat mata denganmu!"


Lilis menoleh, mengentikan langkah. "Mau bicara apa, Nona?"


Jesslyn mengedarkan pandangan ke sekeliling, tahu tidak ada orang selain mereka berdua, Jesslyn berani menghardik Lilis. "Tidak usah berpura-pura, Lilis! Aku tahu kamu menyimpan dokumen milikku. Cepat, berikan dokumen itu padaku!"


"Dokumen apa maksud Nona?" Lilis mengernyit.


"Alah, tidak usah berlagak lugu!" bentak Jesslyn "Aku tahu kamu yang mengambil dokumenku dari dalam tong sampah. Pasti sekarang kamu sedang menyembunyikannya. Cepat, berikan padaku!"


"Dengan bukti apa Nona menuduhku? Aku benar-benar tidak tahu dokumen apa yang Nona maksud!"


"Dasar Pencuri! Aku tahu kamu pasti menyembunyikannya di kamar utama. Ayo, kita ke sana dan cari dokumen milikku!"


"Nona mau kita ke kamar utama? Kalau begitu aku harus menelepon Mas Shehan dulu agar Mas Shehan memberi izin."


Jesslyn menjengit. "Apa maksudmu memberitahu Shehan?"


"Mas Shehan Suamiku dan itu adalah kamar pribadi kami. Aku harus meminta izin Mas Shehan dulu kalau mau mengajak Nona masuk ke dalam. Apalagi Nona tadi menyebutku pencuri tanpa ada bukti."


"Oh, jadi sekarang kamu mau berlindung di belakang Shehan!" Jesslyn melotot.


"Aku cuma mau mematuhi perintah Suamiku. Kalau mau membawa orang lain masuk ke dalam kamar pribadi harus meminta izin dulu kalau Mas Shehan tidak ada di rumah."


Jesslyn bersungut-sungut. 'Tadi pagi Shehan masih baik-baik saja. Berarti dia memang belum tahu tentang dokumen itu. Aku akan datang lagi ke rumah dan mencarinya sendiri di kamar utama saat Lilis pergi menjemput Nurbanu di sekolah TK. Awas, kamu Lilis! Lihat saja nanti.'


***


BERSAMBUNG...