
Pak Sebastian terperanjat sampai menoleh dua kali saat melihat Jesslyn sedang duduk di sofa ruang tamu rumah kliennya. Kecantikan wanita itulah yang menarik perhatian Pak Sebastian. Shehan juga melihat Jesslyn. Mereka saling melempar senyum tipis.
"Tuan, saya pamit sekarang," ujar Pak Sebastian di teras rumah.
"Ya, Pak."
Pria yang berprofesi sebagai pengacara itu kemudian berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman depan, bersebelahan dengan mobil Jesslyn. Shehan menunggu sejenak, sampai mobil Pak Sebastian keluar melalui gerbang utama rumahnya, barulah pria bermanik coklat muda itu masuk ke dalam.
"Jesslyn ...," sapanya girang.
"Shehan ...." Jesslyn bangkit, tak sungkan ia menghambur diri, memeluk Shehan. "Senang bisa melihatmu lagi."
Shehan turut melingkarkan tangannya di punggung Jesslyn. Sebentar keduanya berpelukan.
"Kapan kau sampai? Kenapa tidak memberitahuku kalau mau pulang ke Indonesia?" tanya Shehan selepas berpelukan.
Jesslyn mengedikan kedua bahu. "Baru kemarin malam. Awalnya aku datang ke kantormu hari ini, mau memberi kejutan. Tapi Miranda bilang kau bekerja dari rumah selama beberapa hari."
Kedua alis Shehan naik sekejap. "Ya, itu benar."
"Kenapa sudut bibirmu? Seperti memar?" Rupanya bekas luka akibat pukulan Hendra waktu itu terlihat juga oleh Jesslyn. Ibu jari Jesslyn hendak menggapainya, tetapi ditepis dengan halus oleh Shehan.
"Ah, ini tidak apa-apa. Hanya bekas luka kecil karena salah mencukur," kilah Shehan.
"Salah mencukur?" Tentu Jesslyn tak bodoh. Ia mengernyit, kurang meyakini ucapan Shehan. Namun, Shehan mengalihkan topik pembicaraan mereka saat melihat tas-tas kantong yang Jesslyn bawa, tergeletak di atas sofa.
"Tas kantong apa itu?"
"Oh, ini ...." Jesslyn berputar badan, meraih tas-tas kantong itu. "Ada sedikit buah tangan untukmu dan Nurbanu."
Jesslyn menyerahkan tas-tas kantong tadi pada Shehan. Sempat Shehan melihat ke dalam isi tas.
"Kenapa repot-repot membelinya?"
"Kenapa harus sungkan? Seperti dengan orang lain saja!" Jesslyn mencebik manja. Lantas keduanya saling tertawa ringan setelah itu.
Jesslyn adalah rekan bisnis sekaligus sahabat Shehan. Mereka sudah berhubungan cukup lama selama ini. Sebelum Jesslyn pergi ke Amerika Serikat tepatnya kota New York enam bulan yang lalu, wanita itu sering berkunjung ke rumah Shehan. Bahkan sesekali mengajak Nurbanu bermain bersamanya.
"Kau mau minum apa?"
"Ah, nanti saja! Aku masih belum haus."
Shehan mengangguk pelan beberapa kali. "Silakan duduk lagi, kalau begitu."
"Bagaimana kalau kita berbincang di taman saja? Sekalian mencari udara segar," ajak Jesslyn yang segera dikabulkan oleh Shehan.
"Baiklah. Ayo, kita ke taman!"
Tas-tas kantong belanja tadi ditaruh Shehan ke atas meja. Ia dan Jesslyn bersama-sama berjalan menuju pekarangan hijau rumah. Sambil berjalan, tak hentinya Jesslyn bicara. Sesekali keduanya juga melepas tawa ceria saat Jesslyn menceritakan guyonan-guyonan ringan.
Brum! Brum! Brum!
Di tempat lain, Lilis sedang membantu Mbok Tum membersihkan ruang tengah dengan alat penghisap debu. Ia fokus mengerjakan tugasnya, hingga secara tak sengaja Lilis melihat Shehan bersama wanita lain dari balik dinding kaca ruang tengah. Sontak kebersamaan kedua orang tersebut menarik perhatian Lilis.
'Itu siapa, ya? Kok aku belum pernah melihatnya?' gumam Lilis.
Mesin alat penghisap debu tadi Lilis matikan. Gadis itu diam seraya memperhatikan lekat-lekat keluar sana. Tampak oleh Lilis, Shehan akrab mengobrol dengan wanita cantik itu. Tidak hanya cantik, bentuk tubuhnya juga molek. Pakaiannya anggun berwarna fuschia cerah, membuat penampilan tamu Shehan semakin berkilau.
"Hhmm ...." Lilis menghela napas ringan lalu melanjutkan pekerjaannya lagi. Tidak mau terlalu memikirkan kedekatan Shehan dengan wanita itu. Terlebih di dalam surat kontrak perjanjian pernikahan yang telah Lilis tanda tangani, disebutkan kalau tidak boleh mencampuri urusan yang tidak berkaitan dengan pernikahan kontrak mereka.
**
"Apa? Kau akan menikah?" seru Jesslyn tak percaya usai Shehan memberitahu rencana pernikahannya.
"Ya, Jesslyn." Shehan terlihat lebih tenang ketimbang tamunya itu.
"Ke--kenapa terburu-buru? Kenapa kau baru bilang sekarang?" Jesslyn mencecar Shehan dengan berbagai pertanyaan. Keterkejutan tampak jelas di wajahnya.
"Maaf, aku baru bilang sekarang."
"Apakah aku bukan sahabatmu?"
"Justru karena kau sahabatku, makanya aku mengundangmu untuk datang ke acara pernikahanku nanti. Resepsinya tidak diadakan besar-besaran, sederhana saja dan cuma mengundang orang-orang terdekat saja."
"Siapa calon istrimu itu? Apa aku mengenalnya?"
"Tidak, kau belum mengenalnya. Tapi segera kau akan tahu."
"Haah ...." Jesslyn mengembus napas pendek "Baru sebentar aku meninggalkanmu, kau sudah berpaling pada wanita lain!"
Alis Shehan bertaut. "Hahaha ...." Kemudian terpingkal karena berpikir itu adalah salah satu candaan Jesslyn. Namun, Shehan tidak tahu kalau sebenarnya memang ada segumpal kekecewaan bersarang di relung wanita itu.
"Sarah tahu kau akan menikah?"
"Ya, dia sudah kuberitahu."
"Jadi apa pendapatnya? Apa dia setuju?"
Shehan tidak menjawab, melainkan mengangguk beberapa kali sebagai balasannya. Ia dan Jesslyn berjalan santai mengitari taman kecil yang berada di sekitar kolam renang.
"Lalu bagaimana dengan Nurbanu?"
"Kebetulan putriku juga menyukai wanita itu, kurasa tidak akan sulit nantinya jika dia melihat kami bersama."
Jesslyn melipat bibirnya sejenak sembari mengangguk beberapa kali.
**
Ddrrtt ... Ddrrtt ... Ddrrtt ....
Ddrrtt ... Ddrrtt ... Ddrrtt ....
Nada dering panggilan yang belum dijawab menggema di gendang telinga Shehan. Sebuah ponsel menempel di telinga kirinya. Sambil duduk di kursi ruang kerja, Shehan menelepon Sarah, yang dia tahu masih berada di Bali sedang menikmati liburan bersama Nurbanu.
Ddrrtt ... Ddrrtt ... Ddrrtt ....
Pada dering ketiga, barulah panggilan telepon dari Shehan ada jawabannya.
"Halo...," sapa Sarah dari seberang.
"Sarah, apa kau sibuk?"
"Tidak Shehan, aku baru selesai mengantar buah melon untuk Nurbanu dan Jody. Mereka sedang asyik bermain di kolam renang. Katakan saja, ada apa?"
"Hhmm ... Sarah, tolong tanyakan pada Nurbanu. Aku mau pergi ke Jakarta lusa nanti, apa dia mau ikut?"
"Ke Jakarta? Untuk apa?"
"Mau mengurus masalah pernikahanku."
"Oh ... kau akan pergi bersama Lilis?"
"Ya."
"Lebih baik kalian pergi berdua saja. Biar Nurbanu bersamaku dulu di sini. Sebentar lagi aku dan Jody juga akan kembali ke Jakarta. Setelah itu, aku tidak bisa bermain dengan Nurbanu lagi. Lagipula Nurbanu masih harus pergi ke sekolah lusa."
Shehan memaklumi permintaan mantan istrinya. "Baiklah, aku titip Nurbanu selagi tidak bisa menjaganya."
"Nurbanu juga anakku, aku pasti akan menjaganya."
"Baiklah, sampaikan salamku pada Jody."
"Ya, Shehan. Hati-hati di jalan lusa nanti."
"Hhmm ... terima kasih. Aku tutup teleponnya sekarang."
"Ya, Shehan."
Tut ... Tut ... Tut ....
Shehan mengamati layar ponsel yang masih terang. Namun, fokusnya buyar tatkala terdengar suara ketukan di pintu.
Tok! Tok! Tok!
Shehan menoleh. "Masuk!" sahutnya seraya menyimpan ponselnya lagi ke dalam saku celana.
Ceklek!
Lilis melongok dari luar.
"Permisi ,Tuan. Aku mau mengantar kopi."
"Letakan di atas meja dekat sofa!"
"Ya, Tuan."
Lilis berjalan masuk ke dalam ruang kerja Shehan sambil membawa nampan berisi secangkir kopi. Asap kopi Itu masih mengepul di atasnya.
Shehan dari balik meja kerjanya, mengawasi Lilis sejak gadis itu masuk lalu meletakan kopi panas pesanannya ke atas meja dengan hati-hati. Selesai tugasnya, Lilis membawa nampan itu lagi.
"Permisi, Tuan."
Gadis itu hendak keluar, tetapi panggilan Shehan mencegahnya.
"Lilis, tunggu dulu!"
"Ada yang lain, yang Tuan perlukan?" tanya Lilis dari jarak yang agak jauh lantaran ia masih berada di dekat meja sofa.
"Bersiap-siaplah! Lusa kita akan pergi ke Jakarta."
Lilis meneleng bingung. " Ke Jakarta? Untuk apa, Tuan?"
"Untuk mengurus masalah pernikahan kita di kantor kedutaan besar Turki."
"Baik, Tuan."
"Kamu bisa keluar sekarang."
"Aku permisi dulu!"
"Hhmm ...."
Shehan mengamati sosok Lilis yang beranjak keluar sampai hilang usai daun pintu kembali tertutup rapat.
***
BERSAMBUNG...