
Kilas balik lima jam yang lalu.
Foto surat perjanjian pernikahan kontrak milik Shehan dan Lilis yang terpampang di layar ponsel Jesslyn tampak samar jika dilihat oleh wanita blasteran itu, sebab mata Jesslyn yang sedang melihat berembun--menyisakan genangan air di pelupuk. Sekali sapuan Jesslyn lakukan pada masing-masing pucuk matanya agar genangan itu hilang. Barulah setelah itu pengelihatan Jesslyn menjadi terang lagi.
Sempat berniat akan membeberkan bukti surat perjanjian itu pada Nining--ibu Lilis di Banyuwangi, akan tetapi Jesslyn malah beralih ke sebuah meja dan duduk tekun di sana. Ia mengambil selembar kertas dari dalam tas kantor miliknya, lalu mulai menulis sesuatu untuk Shehan. Sesuatu itu adalah ungkapan lubuk hatinya yang paling dalam.
Ketika hari menjelang pagi, Jesslyn yang sudah siap mengemasi barang-barangnya ke dalam koper, meninggalkan kediaman Shehan Murad tanpa berpamitan pada siapa pun. Tidak ada yang tahu jam berapa persisnya Jesslyn pergi.
Kembali ke masa sekarang.
Saat Shehan ingin berbicara dengan Jesslyn lagi pagi ini, kamar tamu yang pernah ditinggali oleh wanita itu telah kosong. Yang tertinggal hanya sepucuk surat dan tergeletak di atas meja rias. Usai membaca surat itu, Shehan menghela napas dalam. Masih dilihatnya kertas yang berada di tangan kanannya dengan perasaan sedikit menyesal.
Ceklek!
Tiba-tiba pintu kamar tamu terbuka, derit tuasnya spontan membuyarkan lamunan Shehan. Ia lantas menoleh ke asal suara. Ditemukannya Lilis sedang masuk ke dalam ruangan kamar, menyambanginya. Sorot mata Shehan terus memperhatikan dari seberang.
"Mas...," panggil Lilis saat jarak mereka sudah dekat. Sebentar Lilis melihat surat yang dipegang oleh Shehan.
Sebelum istrinya bertanya lebih dulu, Shehan berinisiatif menjelaskan surat itu. "Ini adalah surat yang ditinggalkan Jesslyn," terangnya seraya menunjukan.
Lilis menoleh lagi surat itu cukup lama. "Ke mana Nona Jesslyn, Mas?"
Busungan dada Shehan mengempis perlahan. "Dia sudah pergi dari rumah ini. Tidak tahu jam berapa dia pergi, tapi sebelum pergi dia menulis surat ini dulu."
Shehan memberikan surat milik Jesslyn yang tadi dibacanya pada Lilis. Lilis pun mengambilnya kemudian membaca surat itu juga dengan seksama. Sedih dan iba hati Lilis setelah membaca surat itu. Namun, rasa patah hati yang Jesslyn alami memang tidak bisa terelak lagi. Sebab dia mencintai pria yang tidak mencintainya. Dari tulisan itu pun, agaknya Jesslyn sudah ikhlas menerima nasibnya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Mas?" tanya Lilis seraya mengembalikan surat milik Jesslyn pada Shehan. Dalam hitungan detik surat itu segera berpindah tangan.
Shehan mengelus kepala istrinya mesra dengan tangan yang lain. "Apa yang telah terjadi adalah bagian dari skenario Tuhan, Lilis. Kita sudah membuktikan kalau kita mampu melewati ujian ini. Dan sekarang yang harus kita lakukan adalah memulai semuanya dari awal dan dengan niat yang baik."
"Ya, Mas." Lilis mengangguk, "pendapat Mas memang benar."
Shehan menimpali, turut mengangguk beberapa kali. "Kamu sudah selesai menyiapkan menu sarapan?"
"Sudah, Mas. Ayo, kita makan!" ajak Lilis ramah.
"Ayo!"
Shehan meletakan surat Jesslyn ke atas meja lagi. Lalu menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar tamu menuju ruang makan. Lilis yang berjalan di samping Shehan seraya dituntun tangannya, tak henti-hentinya tersenyum. Mensyukuri betapa bahagia hidupnya saat ini dan akan selalu dia kenang sepanjang hidupnya.
Sementara di rumah pribadi Jesslyn, ia melihat lagi foto surat perjanjian pernikahan kontrak milik Shehan dan Lilis yang ternyata masih tersimpan di aplikasi galeri foto ponselnya. Sejenak ia menarik napas dalam lalu mengembusnya perlahan. Rongga dadanya menjadi lega setelah itu. Meski awalnya berat hati, akhirnya Jesslyn memilih untuk menghapus foto tersebut.
Setelah foto surat kontrak terhapus, layar ponsel Jesslyn otomatis bergulir pada foto sebelumnya. Tanpa sengaja malah menunjukan foto Shehan pula. Foto itu diambil ketika mereka masih akrab sebagai seorang teman setahun yang lalu dan terdapat Jesslyn juga di foto itu.
'Selamat tinggal, Shehan Murad. Aku tidak tahu kapan luka hatiku bisa sembuh. Tapi bila kau bahagia meski bersama orang lain, mungkin itu akan menjadi obat paling mujarab untukku. Selamat tinggal, kau dan kenanganmu.'
Jesslyn menghapus foto tersebut lalu meletakan kembali ponselnya di atas nakas.
**
Sebulan kemudian.
"Belajar yang rajin ya, Banu!"
"Ya, Kak Lilis!"
Lilis dan Nurbanu saling melambaikan tangan beberapa kali sebelum bus TK Bunga Matahari melaju--memasuki badan jalan. Lilis, wajahnya ceria pagi ini. Kembali masuk ke dalam rumah dengan gelagat gembira juga. Belum mencapai pintu utama, tampak Shehan muncul dari dalam rumah. Buru-buru Lilis mempercepat langkahnya.
"Mas, sudah mau berangkat?" tanya Lilis dari jarak yang masih cukup jauh.
Shehan diam melihatnya, menunggu jarak mereka berdekatan baru menjawab. "Ya, sudah hampir setengah delapan sekarang."
Lilis mengamit tangan kanan suaminya, meletakan keningnya di punggung tangan Shehan sebagai salam perpisahan. "Hati-hati di jalan ya, Mas," imbuhnya mengakhiri.
Cup....
Sebuah kecupan hangat mendarat di sana.
"Aku berangkat kerja dulu. Kalau kamu bosan di rumah, pergi saja ke mal dan beli pakaian untukmu. Jangan lupa belikan untuk Ibu dan Doni juga."
"Ya, Mas. Jadi kapan kira-kira kita bisa pergi ke Banyuwangi? Mas sudah putuskan jadwalnya?" tanya Lilis lagi. Beberapa hari lalu ia mendapat kabar dari ibunya--Nining, kalau rumah yang dibangun Shehan atas namanya telah selesai proses pengisian perabotannya.
"Ya, Lilis. Kupikir Minggu depan saja kita ke Banyuwangi supaya Nurbanu bisa ikut bersama kita juga."
"Ya, Mas."
"Ya sudah, aku berangkat sekarang, ya!"
"Eum ... ya, Mas."
"Ehem! Cium untukku mana?" Shehan menuntut.
"Oh, ya ... lupa! Hihihi!" Lilis cengengesan.
"Sudah berapa lama kamu menjadi istriku, Nyonya Murad? Kenapa masih lupa juga?" Shehan tambah merajuk.
Lekas Lilis memeluk lengan suaminya. Bergelayutan di sana dengan manja. "Ck! Jangan marah dong, Mas! Maaf ya, banyak yang kupikirkan."
"Jadi aku nomor urut ke berapa yang kamu pikirkan?"
"Eum ... berapa, ya?" Mata Lilis berputar sambil berpikir, "tentu saja nomor satu!"
Cup....
Lilis berjinjit agar dapat mencium pipi suaminya. Barulah senyum Shehan mengembang setelah itu.
"Terima kasih, Sayang." Lagi, Shehan mengusap kepala Lilis mesra. Kemudian beranjak masuk ke dalam mobil.
Tak ketinggalan Lilis melambaikan tangan pada Shehan saat kaca jendela mobil di kabin depan masih terbuka. Betah menunggu sampai kendaraan roda empat yang dihuni suaminya melewati gerbang utama rumah lalu menghilang dari pandangan.
Beberapa saat kemudian.
"Mbok mau cuti kerja tiga hari?" Lilis sedikit terperangah ketika Mbok Tum mengutarakan niatnya. Kedua wanita itu tengah berbincang di dapur selagi Lilis mengolah adonan kue kering.
"Iya, Non. Mbok mau datang ke pesta pernikahan keponakan--Mbok di kampung," balas Mbok Tum yang turut membantu pekerjaan Lilis.
"Ya, sudah. Nanti kusampaikan sama Mas Shehan ya, Mbok."
"Terima kasih ya, Non."
"Sama-sama, Mbok. Oh, ya. Keponakannya Mbok Tum yang menikah itu pihak mempelai laki-laki atau perempuan, Mbok?"
"Kebetulan keponakan Mbok laki-laki, Non Lilis. Dia bekerja di kantor Pertamina. Tahunya dapat jodoh kawan satu kantornya itu loh, Non."
"Wah, bagus sekali! Memang rahasia jodoh tidak ada yang tahu ya, Mbok. Terkadang orang yang tidak kita sangka dan dekat dengan kita. Itulah yang menjadi jodoh kita."
"Iya, Non. Sama seperti Non Lilis dan Tuan."
Lilis tersipu malu dicandai oleh Mbok Tum.
***
BERSAMBUNG...