Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 40 : Jepit Rambut



Langkah lambat Jesslyn berhasil membawa wanita itu duduk di kursi pimpinan ruangan kantornya. Wajahnya pucat, tidak membias gairah sama sekali. Diletakkannya tas kantor sembarangan di lantai dekat kaki meja. Pandangannya menjurus ke depan, tetapi buyar. Tidak fokus ke satu arah sebab Jesslyn memang tengah melamun.


Sedih berbalut luka, mungkin itulah yang ia rasakan atas jawaban cintanya. Bersabar selama ini, nyatanya tidak membuahkan hasil apapun. Penantian panjang Jesslyn berakhir sia-sia karena pria yang dicintainya, secara jujur telah menolak cintanya.


Nyaris air matanya tumpah membasahi pipi. Akan tetapi Jesslyn masih berusaha tegar. Sampai tiba-tiba dia teringat telah menyimpan sesuatu di aplikasi galeri foto di ponselnya dan sesuatu itu adalah surat rahasia milik Shehan.


'Oh, ya. Aku belum memeriksa surat tadi. Sebenarnya surat apa itu?'


Jesslyn bergegas mengambil tasnya lagi lalu meletakkannya ke atas pangkuan. Merogoh ke dalam hendak mencari ponsel dan hanya selang beberapa detik, gawai pintar itu berhasil dia temukan. Lekas Jesslyn memeriksanya.


Manik matanya bergulir dari atas ke bawah. Membaca semua tulisan yang ada di sana dengan teliti. Betapa terkejutnya Jesslyn setelah tahu kalau Shehan menikahi Lilis hanya untuk sebuah kontrak kerjasama dan dalam kurun waktu setahun saja. Itu lantaran Shehan memilih Lilis sebagai penjamin sponsor izin tinggalnya di Indonesia.


"Benarkah yang kubaca ini?" Sepasang mata Jesslyn membulat.


Tidak ingin salah mengira, Jesslyn lalu membaca untuk yang kedua kali. Hasilnya masih saja sama seperti semula. Apalagi Jesslyn semakin yakin kalau surat itu benar karena terdapat tanda tangan Shehan dan Lilis di atas materai. Bahkan, Pak Sebastian--pengacara Shehan ikut menandatangani surat tersebut sebagai saksi.


"Tidak salah lagi. Surat ini pasti benar. Berarti pernikahan Shehan dan Lilis hanya pernikahan kontrak saja. Itu artinya Shehan tidak mencintai Lilis. Dia hanya memanfaatkan gadis polos itu."


Alih-alih menyalahkan, Jesslyn justru membenarkan perbuatan Shehan. Sorot matanya berbinar terang bagai mendapat lampu hijau untuk solusi masalahnya.


"Berarti aku masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati Shehan lagi. Ya, aku yakin ini tepat. Dunia pun mendukungku dengan menunjukanku surat itu."


Jesslyn sedikit menengadah, mengukir segaris senyum bahagia di bibirnya.


**


Malam hari.


'Aku mencintaimu, Shehan Murad.'


Ingatan tentang pengakuan cinta Jesslyn terngiang-ngiang dalam benak Shehan. Padahal sudah sejak tadi siang wanita itu mengatakannya. Namun, rasanya masih dapat terdengar jelas sampai sekarang.


Shehan diam, duduk melamun di kursi ruang kerja di rumahnya. Satu tangannya bertumpu pada permukaan meja, sedangkan satu tangan yang lain menggoyang-goyang pena yang terselip di antara jari.


Cukup lama Shehan bungkam. Membisu dalam lamunan. Sampai suara ketukan di pintu menyadarkan Shehan kembali.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi, Mas. Aku bawakan kopi panas untuk Mas." Suara lembut yang meluncur dari bibir Lilis terdengar dari balik pintu yang masih tertutup.


"Masuklah!" sahut Shehan kemudian.


Dengan tangan kiri Lilis menarik tuas pintu karena tangan kanannya sedang membawa nampan berisi segelas kopi panas. Gadis itu beranjak masuk. Shehan dari balik meja kerjanya terus mengawasi. Memperhatikan Lilis dari atas kepala sampai ujung kaki.


Sejak menikah dan menyandang status sebagai Nyonya Murad, Lilis memang berubah drastis. Bila dahulu ia memakai pakaian seadanya, kini ia selalu tampil modis mengenakan pakaian-pakaian yang Shehan belikan untuknya.


Dan malam ini, Lilis membalut tubuh ranumnya dengan sehelai gaun putih yang agak tipis dan sedikit menerawang pada bagian dada dan paha. Gaun itu berdesain sederhana, tetapi memiliki kesan anggun, berkelas dan cukup sensual.


Ditambah rambut Lilis yang tergerai. Riasan natural turut ia sematkan pada wajah sebagai pemanis aura jelitanya. Dari sekian banyak keterangan di atas, dapat disimpulkan kalau Lilis pasti anggun dan cantik dalam pandangan Shehan malam ini.


"Ini kopinya, Mas," ujar Lilis setelah tiba di hadapan suaminya.


"Letakan saja di atas meja! Kalau sudah agak hangat, baru aku meminumnya."


"Iya, Mas."


Lilis menuruti perintah suaminya. Meletakan segelas kopi panas yang dia bawa di pinggir meja agar tidak mengenai dokumen pekerjaan Shehan.


"Ada lagi yang Mas butuhkan?"


"Tidak."


"Kalau begitu, aku pamit keluar, Mas."


Hendak berangkat menuju pintu keluar, di saat itu Shehan memanggilnya.


"Lilis ...."


"Aku cuma mau memberitahumu kalau aku sudah menyuruh orang untuk mencari lokasi tanah yang bagus di Banyuwangi. Yang dekat dengan kota dan tidak terlalu jauh dari tempat kuliah Doni. Sekarang sedang dalam tahap negosiasi dengan beberapa pemilik tanah. Kalau sudah ada yang disetujui, secepatnya akan kubangan rumah untukmu."


Lilis semringah setelah mendengar kabar gembira itu. Senyum lebarnya terbit kemudian.


"Terima kasih ya, Mas. Sudah mau membantuku."


"Hhmm ...." Shehan berdeham seraya mengangguk singkat.


"Mas, ada lagi yang mau Mas katakan?"


Shehan diam, mengamati Lilis sesaat. "Ya, ada."


"Apa itu, Mas?"


Tangan kanan Shehan menarik laci paling atas meja kerjanya, mengeluarkan sesuatu dari sana. Dari posisinya berdiri, Lilis dapat mengetahui kalau yang Shehan keluarkan adalah sebuah benda berbentuk kotak yang terbuat dari kayu. Kayu itu diukir dengan indah dan dicat mengkilap pula, tetapi masih mempertahankan warna aslinya. Sorot mata Lilis tidak berpaling dari benda itu.


Shehan melihat kotak itu sejenak. "Ini untukmu." Lalu menyodorkannya pada Lilis.


"U--untukku?" Seketika Lilis terkesiap.


"Ya, ini untukmu. Ambilah!"


Perlahan Lilis mengulurkan tangannya karena masih ragu dengan tindakan Shehan. Namun, akhirnya benda itu berpindah tangan juga. Lilis membolak-balik sisi atas serta bawahnya.


"Apa ini, Mas?" Dahinya mengernyit.


"Hadiah untukmu."


"Ha--diah untukku?"


"Ya, hadiah pernikahan yang kuberikan secara pribadi untukmu."


Lilis kembali melihat kotak kayu yang berada di tangannya. 'Tuan Murad memberiku hadiah? Tidak biasanya Tuan Murad begini.'


"Kamu bisa membukanya kalau sudah di kamar nanti."


"Ya, Mas. Sebelumnya terima kasih untuk hadiahnya. Aku jadi segan karena tidak ada memberi apa-apa."


"Tidak apa-apa. Kamu adalah istriku. Sudah tugas seorang suami yang harus memberi hadiah untuk istrinya."


Lilis sontak takjub mendengar ucapan Shehan barusan. Bila biasanya pria itu akan berbicara ketus, tetapi malam ini sungguh luar biasa. Bukan hanya berintonasi halus, tetapi rangkaian kalimat yang Shehan katakan juga meneduhkan hati.


'Tuan Murad, kenapa jadi baik begini? Apa dia kerasukan hantu lagi? Eh, salah! Apa dia kerasukan malaikat malam ini?'


"Sekali lagi, terima kasih ya, Mas."


Lilis tersenyum manis, meskipun berwajah datar, setidaknya Shehan membalas senyuman Lilis dengan kelembutan sorot matanya.


"Aku pamit keluar ya, Mas?"


"Hhmm ...."


Dan apa hadiah yang Shehan berikan untuk Lilis?


Sehabis mengembalikan nampan ke dapur, Lilis bergegas masuk ke kamar. Di sanalah ia baru berani membuka hadiah dari Shehan. Lilis pun dibuat terkesima usai melihat isinya. Sebuah jepit rambut dengan taburan permata. Pantulan cahaya lampu dari langit-langit kamar semakin memperindah jepit rambut itu. Tampak berkilau nan memukau.


'Terima kasih, Tuan Murad. Hadiah ini bagus sekali. Sebagai balasannya, aku juga akan menyiapkan hadiah untuk Tuan nanti.'


Lilis menatap kagum pada jepit rambut yang masih dipegangnya.


***


BERSAMBUNG...