
Buah tangan yang tadi dibawa oleh Nugie sudah disuguhkan ke piring porselen oleh Ibu Mutia. Selagi akan kembali ke ruang tengah, Ibu Mutia mengajak serta adik laki-lakinya ikut bersamanya. Nugie pun tidak menolak lantaran dia mau bertemu dengan Sofia.
Lilis dan dua bocah yang berada di ruang tengah menoleh Nugie, ketika pemuda itu berjalan berdampingan dengan Ibu Mutia. Sofia-lah yang paling senang tentunya. Bergegas ia berlari memeluk sang paman.
"Om Nugie!"
"Sofia!" Nugie menggendong keponakannya tinggi. Sontak Sofia tambah kegirangan. Tertawa renyah saat Nugie mengangkatnya tinggi untuk yang kedua kali.
"Hahaha ...."
Tak lupa sebuah kecupan sayang Nugie sematkan di pipi anak kecil itu. "Bagaimana sekolahnya tadi? Pelajarannya sulit, tidak?"
"Tidak kok, Om. Hari ini paling senang pelajaran menggambar."
"Sofia gambar apa?"
"Menggambar wortel."
"Wortel warnanya apa?"
"Oranye!"
"Pintar!"
Nugie menurunkan Sofia perlahan, lantas menoleh Nurbanu yang betah duduk di posisinya semula seraya memegang boneka Barbie. "Selamat siang, Om."
"Siang, Banu. Lagi asyik main, ya?"
"Iya, Om."
"Tadi Banu menggambar apa di sekolah?"
"Menggambar apel, Om. Om mau ikut main juga, tidak?"
"Mau dong!"
Nugie bersama Sofia menghampiri Nurbanu. Pemuda itu tak segan duduk di atas lantai yang hanya beralaskan karpet bulu saja. Meluangkan waktunya sebentar demi menemani kedua bocah perempuan itu bermain. Sempat ia dan Lilis saling bersemuka. Namun, karena belum mengenal, keduanya hanya saling melempar senyum tipis sekilas.
"Lis, kenalkan! Ini adik laki-laki saya. Nugie namanya," terang Ibu Mutia usai menghidangkan piring makanan yang barusan ia bawa. Wanita itu kemudian kembali duduk di sebelah Lilis.
Nugie dan Lilis bersitatap muka lagi lalu saling berjabat tangan.
"Lilis," ucap Lilis dengan tuturnya yang lembut.
"Nugie." Pemuda itu tersenyum dan senyumnya manis sekali. Selesai itu, Nugie tak sungkan bercengkerama dengan Lilis. "Sudah lama di sini, ya?"
"Belum kok Mas Nugie, baru sekitar lima belas menit."
"Iya, Gie. Tadi Sofia yang minta mengajak Nurbanu main ke rumah karena ada boneka Barbie yang baru dibelikan Papanya kemarin," timpal Ibu Mutia.
"Oh ...." Nugie meng'ohkan sembari mengangguk singkat tanda mengerti.
Ketiganya terlibat perbincangan ringan cukup lama sampai tak terasa waktu yang mereka habiskan sudah menunjukkan waktu makan siang.
"Wah, sudah waktunya makan siang. Ayo, semuanya kita makan sama-sama!" ajak Ibu Mutia.
"Ayo, Lis. Jangan sungkan!" imbuh Nugie.
"Baiklah kalau begitu." Lilis segan harus menolak, akhirnya memilih untuk mengiyakan. "Bu, saya bantu menyiapkan makanannya, ya."
"Tidak usah, Lis. Duduk saja di sini!" Ibu Mutia merasa sungkan.
"Ah, tidak apa-apa, Bu. Saya senang melakukannya."
Lilis memang ringan tangan, tak heran jika banyak orang menyukainya. Ibu Mutia pun merasa tidak enak bila harus menolak lagi.
"Baiklah, Lis. Yuk, kita ke dapur!"
"Ayo, Bu!"
Lilis beranjak pergi mengikuti Ibu Mutia ke dapur. Turut membantu menghidangkan menu makanan yang cukup berat di atas meja makan. Sementara Nugie tetap tinggal di ruang tengah untuk menemani Sofia dan Nurbanu bermain. Setelah semua siap disajikan, semua orang tadi menikmati acara santap siang dengan tenang.
**
Karena Nugie juga mau kembali ke restoran miliknya selepas makan siang, Ibu Mutia menyuruh pemuda itu sekalian mengantar Lilis dan juga Nurbanu pulang ke rumah mereka. Lambaian tangan Ibu Mutia dan Sofia mengiringi kepergian mobil Nugie yang melaju dari pekarangan rumah menuju jalan raya. Hingga akhirnya keluar dari pintu gerbang utama dan bergabung dengan kendaraan roda empat lainnya di badan jalan.
Sekali Lilis menoleh Nurbanu yang duduk di kabin belakang mobil sembari memandangi pemandangan sekitar jalan raya yang tampak dari kaca jendela. Lilis tersenyum tipis, merasa beruntung memiliki anak asuh baik budi seperti Nurbanu.
"Banu, capek tidak?"
Nurbanu merengek. "Iya, Kak. Banu mengantuk."
"Nanti sampai di rumah, tidur siang, ya! Kita sebentar lagi sampai, kok." Lilis menghibur.
"Iya, Kak." Banu serta-merta menjawab girang, senang saat tahu akan segera tiba di rumahnya.
Nugie yang sedang menyetir mobil menyimak percakapan mereka.
"Omong-omong kamu asli penduduk sini ya, Lis?" tanya pemuda itu sudah mulai akrab dengan Lilis.
"Tidak, Mas. Sebelumnya aku tinggal di Banyuwangi karena kota asalku dari sana. Tapi sudah hampir satu tahun merantau ke Bali," jawab Lilis, seadanya.
"Terus ketemu jodoh, sekarang menetap di sini?"
"Iya, Mas." Lilis merona, malu.
"Eum ... 22 tahun. Mas sendiri berapa?"
"Aku 25 tahun."
"Pasti sudah pacar!" Lilis bercanda.
"Belum, Lis." Nugie menggeleng beberapa kali. "Sibuk dengan pekerjaan mengurus restoran."
Rasanya hampir tidak mungkin pemuda semanis Nugie tidak punya pacar. Apalagi di usianya yang terbilang produktif, tetapi Lilis tidak mau berpikir terlalu jauh. Menerima saja jawaban pemuda itu.
"Wah, Mas panutan sekali! Di usia muda sudah bergelut bisnis dan mengelola restoran sendiri. Omong-omong, itu restoran apa, Mas?"
"Restoran seafood. Sekali-kali datang ya, ke restoranku! Ajak Banu dan suamimu juga," imbuh Nugie lagi.
"Iya, Mas. Restoran Mas ada di mana?"
"Di Canggu. Nama restorannya Delicious Seafood."
"Nanti kapan-kapan aku mampir."
Lilis dan Nugie saling melempar senyum.
**
Beberapa saat berlalu. Lilis berdiri berhadapan dengan Nugie di samping badan mobil setibanya mereka di pelataran rumah. Sedangkan Nurbanu sudah masuk ke dalam rumah terlebih dahulu saat Mbok Tum menjemputnya.
"Terima kasih ya, Mas. Sudah mengantar kami sampai rumah. Yuk, Mas. Masuk dulu ke dalam!"
Nugie melihat rumah yang dimaksud oleh Lilis sekilas. "Iya Lis, terima kasih. Lain kali aku mampir, soalnya harus segera ke restoran."
Lilis pun mengerti. "Hati-hati di jalan ya, Mas."
"Hhmm...." Berdeham serta mengangguk singkat. "Aku pamit pergi sekarang, ya!"
"Iya, Mas."
Nugie masuk lagi ke dalam mobilnya kemudian mengendalikan mobil itu berputar arah sebelum melaju ke jalan raya. Lilis masih setia menunggu di pelataran sampai mobil Nugie menghilang dari pandangan.
Tak dinyana, Shehan yang juga pulang ke rumah siang ini karena ada dokumen yang ingin dia ambil dari ruangan kerjanya, melihat kebersamaan Lilis dan Nugie dari jendela ruang tamu sejak tadi. Begitu Lilis masuk ke dalam rumah, Shehan langsung menghadangnya dengan pertanyaan intimidasi.
"Siapa tadi?"
"Eh, Mas. Kok di sini? Bukannya Mas bekerja di kantor?" Lilis terkejut saat tahu ternyata Shehan ada di rumah.
"Aku pulang karena ada dokumen yang mau kuambil."
"Begitu ...."
"Siapa yang mengantarmu tadi?"
"Oh ... laki-laki itu namanya Nugie, Mas," terang Lilis dengan tenang.
"Katamu tadi pergi ke rumah Ibu Mutia, kenapa saat pulang malah diantar laki-laki?" Shehan menginterogasi seperti seorang polisi.
"Nugie itu adik Ibu Mutia, Mas. Dia juga mau pergi ke restorannya. Jadi sekalian disuruh mengantarku dan Nurbanu sama Ibu Mutia."
"Kalian sudah saling kenal sebelumnya?"
"Belum, Mas. Baru kali ini ketemu."
"Baru ketemu, sudah langsung akrab?"
"Ngobrol biasa saja kok, Mas."
"Ngobrol biasa, ngobrol apa saja?"
Lilis merasa heran menanggapi sikap Shehan yang mendadak posesif seperti ini.
"Tadi aku suruh singgah dulu ke rumah. Tapi Mas Nugie-nya tidak mau karena mau mengurus restorannya."
"Kamu menyuruhnya masuk ke rumah?"
"Iya, Mas."
"Lain kali minta izinku dulu kalau mau mengajak laki-laki lain masuk ke rumah ini."
"Hah!" Lilis terperanjat. Bukannya pria itu juga tidak meminta izinnya saat membawa perempuan lain tinggal di rumah. Namun, Lilis memanglah wanita penurut seperti tebakan Shehan. Dia tidak mungkin membantah perkataan suaminya. "Baiklah, Mas. Lain kali aku permisi dulu."
"Ya."
"Mas sudah makan siang? Mau kusiapkan?"
"Sudah, sebelum ke sini aku makan siang. Sekarang mau pergi ke kantor lagi."
"Hati-hati di jalan ya, Mas."
Lilis berjalan membuntuti Shehan di belakang. Mengantar kepergian suaminya yang hendak bertolak lagi ke kantor.
***
BERSAMBUNG...