
Untuk yang ketiga kalinya, Shehan melihat arloji berantai emas yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Jarum halus arloji itu sudah menunjukan pukul 07.46 pagi. Sudah hampir sepuluh menit lamanya, ia menunggu Lilis di teras rumah. Namun, gadis itu sampai sekarang belum juga muncul.
'Ke mana dia? Bisa terlambat kalau begini,' keluh Shehan dengan raut sedikit kesal.
Baru saja ia merutuki Lilis di dalam hati, gadis itu kemudian datang, tergopoh-gopoh menyeret koper. Lilis sendiri juga panik sebab tahu dia terlambat. Shehan terus mengawasi sampai Lilis berhasil mensejajarkan posisi mereka lalu meminta maaf.
"Maaf, Tuan. Aku lama karena tadi mencari-cari dompetku, hilang entah ke mana. Tidak ada di tempat biasa aku menyimpannya."
"Jadi sekarang sudah ketemu?"
"Sudah, Tuan. Rupanya terselip di bawah bantal."
'Sudah lambat, lihatlah penampilannya. Masih saja kampungan! Padahal aku sudah membelikan pakaian dan alat make up untuknya.'
Shehan mengomentari cara berbusana Lilis yang sama sekali tidak indah dipandang matanya. Sebuah kaos warna kuning terang dengan gambar monyet sedang makan pisang, dipadukan dengan rok kembang panjang sampai semata kaki. Apalagi gadis itu hanya memakai bedak tipis serta rambut dikepang satu di belakang.
'Kalau aku membawanya begini untuk bertemu Tuan Serkan Cayoglu, pasti dia akan meledekku di dalam hati. Gadis Turki banyak yang cantik, kenapa memilih dia untuk dijadikan istri. Tidak bisa! Aku harus memermak Lilis setibanya kami di Jakarta nanti.'
"Apa kamu membawa gaun yang sudah kubelikan?"
"Gaun?" Lilis bingung. "Oh, yang kita beli di mall waktu itu ya, Tuan. Tidak kubawa, Tuan."
"Kenapa tidak dibawa?" Shehan bertambah kesal.
"Tapi Tuan bilang pakai pakaian itu kalau kita sudah menikah nanti. Makanya kutinggal di lemari. Apa mau dibawa juga, Tuan? Biar aku ambil dulu."
Lilis sudah hendak bertolak, tetapi Shehan mencegahnya.
"Tidak usah! Kita akan terlambat. Nanti kubelikan lagi saja di Jakarta. Ayo, masuk ke mobil! Kita harus berangkat ke bandara sekarang."
"Iya, Tuan."
Lilis menyeret kopernya menuju garasi mobil yang terletak di samping teras rumah. Sementara koper milik Shehan sudah lebih dulu dimasukan ke dalam bagasi.
Pak Maman yang menyetir pagi ini. Pria paruh baya itu juga yang membantu Lilis memasukan kopernya ke dalam bagasi mobil di belakang. Setelah tuntas, Pak Maman kembali duduk di bangku kemudi.
Lilis melihat sekilas majikannya yang sudah bersemayam di kabin belakang mobil, akan tetapi ia ragu untuk masuk ke kabin yang sama dengan Shehan. Akhirnya Lilis memilih duduk di bangku sebelah Pak Maman saja.
"Jalan, Pak!" titah Shehan usai Lilis masuk.
"Baik, Tuan."
Pak Maman menyalakan mesin mobil, mengemudikan setirnya ke arah gerbang utama rumah yang otomatis terbuka ketika mobil Shehan sudah terkena sistem sensor.
Laju mobil bergerak dengan kecepatan sedang menuju bandar udara I Gusti Ngurah Rai. Setibanya mereka, Pak Maman turut membantu Shehan membawa kopernya sampai ke tempat untuk melakukan check in. Sedangkan Lilis menyeret kopernya sendiri.
Tak berselang lama dari Denpasar, Shehan dan Lilis bertolak ke Jakarta dengan menggunakan pesawat. Satu jam lebih lima puluh menit kemudian, keduanya tiba. Pihak hotel yang telah Shehan sewa untuk tempat tinggal mereka selama di Jakarta, menjemput kedatangan mereka.
**
Lilis celingukan ke sekeliling kamar hotel yang dia rasa bagus serta nyaman. Jujur saja, ini adalah kali pertama gadis itu menginap di hotel bintang lima. Apalagi kamarnya menginap berada di lantai 33. Dari ketinggian itu, Lilis dapat melihat pemandangan kota Jakarta yang luas dan padat penduduk.
"Wah, senangnya! Jadi ini ibukota Indonesia!" ujar Lilis, sedikit norak ketika melempar pandangannya jauh ke depan. Menyoroti tiap sudut kota Jakarta dengan binar mata senang.
Ddrrtt ... Ddrrtt ... Ddrrtt ....
Di saat itu, ponsel Lilis yang berada di atas nakas berdering. Segera Lilis meraih benda canggih itu lalu menempelkannya ke telinga kanan.
"Halo, Tuan." Ternyata yang menelepon adalah Shehan. Meski berbeda ruangan, tetapi kamar pria itu berada tepat di sebelah kamar Lilis.
"Cepat mandi! Kita harus pergi ke mall setelah itu ke salon. Jam 13.00 siang, aku sudah membuat janji untuk bertemu duta besar Turki."
"Iya Tuan. Tuan, aku pa---"
Tut ... Tut ... Tut ....
"Kai baju apa ...."
Belum sempat Lilis menyempurnakan kalimat, Shehan sudah menutup panggilan teleponnya. Lilis lemas melihat ke layar ponsel yang masih menyala.
"Huh, Tuan Murad ini. Buru-buru sekali! Padahal aku belum siap bicara. Nanti kalau aku pakai baju salah, dia marah lagi," celetuk Lilis kemudian mencebik.
Ketika cahaya ponsel telah padam, Lilis meletakan gawai itu ke atas nakas lagi lalu membuka kopernya yang masih teronggok di dekat tepian ranjang. Memilih baju yang akan dia kenakan, setelah itu pergi ke toilet.
Lilis kelimpungan melihat kamar mandi hotel yang didesain semodern mungkin. Memang kamar mandi di rumah Shehan juga bagus, tetapi tidak disediakan bathtub di dalam toilet asisten rumah tangga. Sedangkan di hotel, Lilis bingung harus mandi di mana. Di bathtub-kah? Atau di pancuran air yang memang sudah disediakan untuk berbilas.
"Ah, di pancuran air saja, lah. Lebih praktis," saran Lilis pada dirinya sendiri.
Sesampainya di ruang berbilas, Lilis bingung lagi menarik tuas yang mana agar airnya keluar dari pancuran. Sementara pancuran air itu berada di atas kepala tertanam di dinding.
'Duh, Lilis! Kamu kok ya, sepolos ini, toh! Mau mandi saja kebingungan!'
Lilis mengeluh tentang dirinya yang tidak tahu apa-apa. Bahkan, sekadar untuk mandi di hotel. Tidak ingin membuang waktu dengan mengotak-atik tuas kran air, Lilis memutuskan untuk menelepon Shehan dan minta petunjuk majikannya. Pasti Shehan lebih tahu dari Lilis, secara pria itu juga memiliki hotel di Bali.
Ddrrtt ... Ddrrtt ... Ddrrtt ....
Pada dering panggilan ketiga, Shehan menjawab teleponnya.
"Halo Lilis, ada apa? Kamu sudah siap mandi?" tanya Shehan langsung ke intinya.
"Belum, Tuan."
"Hah! Belum?" Shehan terkesiap, terdengar kesal dari nada bicaranya yang meninggi.
"Ini Tuan, aku tidak tahu kran yang mana untuk menyalakan pancuran air," terang Lilis sedikit gugup, takut Shehan marah.
"Astaga!" Shehan mengetuk keningnya beberapa kali di kamarnya. Tidak habis pikir dengan kepolosan Lilis. "Baiklah, tunggu aku! Sekarang juga aku ke sana."
"Iya, Tuan."
Tut ... Tut ... Tut ....
Panggilan telepon itu berakhir. Seraya menggenggam ponsel, Lilis menunggu kedatangan Shehan.
Ting Ning! Ting Ning!
Suara bel ditekan dari luar. Lekas Lilis meletakan ponselnya di atas nakas lagi. Bergegas pergi untuk membukakan pintu.
Ceklek!
"Silakan, ma---"
Belum sempat Lilis selesai bicara, Shehan sudah menyelonong masuk ke dalam kamar. Gadis itu menghela napas pendek dan menutup pintu kembali. Ia berjalan mengikuti Shehan ke toilet. Setibanya mereka, Shehan masuk ke ruang berbilas kemudian memberitahu Lilis tuas mana yang harus Lilis putar.
"Kalau kamu putar ke kanan, airnya dingin. Tapi kalau kamu putar ke kiri, airnya panas. Kalau kamu letakan ditengah, air yang keluar hangat."
"Oh ... begitu!" Lilis manggut-manggut, sembari masih memperhatikan. "Jadi kalau mau mematikan kran airnya, putar ke mana, Tuan?"
"Kamu geser saja tuasnya ke atas. Nanti kran airnya akan mati. Mengerti?"
"Iya, Tuan. Sudah mengerti."
"Sekarang kamu masuk ke sini dan coba putar tuasnya!"
"Iya, Tuan."
Lilis pun masuk ke dalam ruang berbilas, sementara Shehan keluar. Menemani di depan ambang pintu.
"Sekarang putar tuas ke kanan, biar air dinginnya keluar," suruh Shehan.
"Baik, Tuan."
Lilis menurut, mengikuti petunjuk Shehan untuk memutar tuas kran air ke kanan. Akan tetapi, ia terlalu kencang memutar hingga tuas mencapai batas maksimal. Alhasil, air langsung mengguyur dengan derasnya dari pancuran.
"Aakhh...." Lilis berteriak terkejut. Sekonyong-konyong ia lari, keluar dari ruang berbilas ketika tersiram guyuran air.
Buk!
Nahas, Lilis malah terpeleset dan menabrak Shehan yang berada di depannya. Gadis itu jatuh tersungkur di atas tubuh Shehan. Sedangkan Shehan berada di bawah tertimpa tubuh Lilis. Sialnya lagi, bibir mereka saling bertemu dan menempel. Sontak mata Lilis dan Shehan sama-sama membulat. Kaget bukan kepalang.
***
BERSAMBUNG...