Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 86 : Saputangan Shehan



"Mas ... kembalilah pada Mbak Sarah, Mas," suara Lilis bergetar ketika mengatakan itu. Kelopak matanya bergoyang menahan kesedihan dan air matanya tak henti berderai.


Shehan yang berada di hadapannya bergeming--memandangi Lilis dengan raut tercengang. Tidak menyangka kalau Lilis akan mengatakan hal demikian sebagai balasan untuk pertanyaannya.


'Apakah Lilis sudah hilang kewarasannya?' pikir Shehan.


Cengkeraman Shehan di lengan Lilis perlahan merenggang. Jatuh lemas di atas pangkuan. Masih Shehan menatap istrinya dengan sorot mata tak percaya.


"Kembalilah pada Mbak Sarah, Mas!" Lilis terisak.


"Apa ... apa maksudmu, Lilis?" Shehan mengernyit bingung.


"Mas pasti bisa mendengar kata-kataku dengan jelas," balas LiIis seraya menyeka air mata.


"Apa kamu pikir aku sedang bercanda atau marahku ini kamu anggap lelucon? Aku bertanya hal lain? Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Sarah!"


"Tidak, Mas. Aku tidak menganggap Mas bercanda dan yang kukatakan juga benar. Kembalilah pada Mbak Sarah, Mas! Aku mohon, kembalilah pada Mbak Sarah!" lirih LiIis.


Manik coklat muda Shehan mengitari Lilis yang tampak memang bersungguh-sungguh. Lantas menghela napas panjang--mendadak dada Shehan menjadi sesak.


"Kenapa kamu menyuruhku untuk kembali pada Sarah, Lilis? Apa jangan-jangan kamu memang memiliki hubungan spesial dengan Nugie? Jadi kamu menyuruhku rujuk dengan Sarah agar kamu bisa melanjutkan hubunganmu bersama Nugie!"


"Tidak, Mas. Bukan karena itu!" Lilis menggeleng beberapa kali.


"Lalu kenapa kamu berubah aneh menjadi seperti ini? Sejak kita kembali dari Jakarta, kamu sudah bersikap tak acuh padaku, mengabaikanku. Kalau kamu cemburu atas sikapku pada Sarah, seharusnya kamu berterus terang. Aku tidak akan mengulangi hal yang sama dan aku minta maaf untuk itu, LiIis."


Kasihan juga LiIis pada Shehan yang sedang mengiba padanya, tetapi Lilis mempunyai alasan kuat kenapa dia bertindak seperti ini.


"Bukan karena itu, Mas?"


"Jadi karena apa, Lilis? Katakan apa yang kamu rasakan dan inginkan! Aku bingung dengan sikapmu yang tidak jelas ini," keluh Shehan.


"Pokoknya aku mau Mas kembali pada Mbak Sarah!"


Lilis bersikeras tanpa mau menjelaskan cikal bakal alasannya. Tentu saja Shehan semakin tidak mengerti menghadapi sikap Lilis. Dan lagi, Lilis masih menggenggam saputangan milik Nugie padahal benda itu adalah penyebab Shehan cemburu.


"Lilis, dengar aku!" Shehan memegang kedua pundak Lilis. Wajahnya condong agar dapat melihat Lilis dari jarak yang lebih dekat. Lilis pun senantiasa menatap suaminya intens, "apa kamu sudah bosan denganku sehingga kamu bersikap seperti ini? Apa aku adalah suami yang membosankan untukmu? Atau kamu memang sudah menemukan kebahagiaan bersama pria lain?"


Shehan yang malang! Dia meratap--memandang istrinya. Tanpa tahu apa kesalahannya, Lilis memberi ultimatum yang tak kalah menghancurkan dari keputusan Sarah dulu. Kedua wanita itu sama-sama ingin meninggalkannya dan menyuruhnya pergi.


Di satu sisi, LiIis tetap berkeras hati tidak mau memberi alasan yang tepat atas tindakannya--menyuruh Shehan untuk kembali pada Sarah.


"Kamu bahkan terus memegang saputangan itu? Cintakah kamu pada pria itu?" Bahkan Shehan sampai memelas.


Batin Lilis terenyuh, tetapi ia tidak boleh menunjukan kelemahannya.


"Berikan itu padaku!" Tangan Shehan mengulur ke arah LiIis.


Pelan-pelan Lilis membuka kepalan tangannya lalu memberikan saputangan milik Nugie pada Shehan. Tanpa menunggu LiIis meletakan saputangan itu ke atas telapak tangannya, Shehan sudah lebih dulu merampasnya. Membuang saputangan itu sembarangan arah ke dasbor mobil. Kemudian merogoh saku celananya dan mengambil saputangan miliknya sendiri.


"Kamu adalah istriku. Pakailah saputanganku, bukan saputangan milik orang lain."


"Kita lanjutkan perbincangan kita besok. Kita tidak akan menemukan solusi jika terus bicara dengan kondisi hati serta pikiran yang keruh. Tolong kamu pahami apa yang akan kamu katakan padaku, sebelum kamu mengutarakannya besok."


Dengan raut sedih Shehan turun dari mobil. Tinggallah Lilis seorang diri masih menghuni kabin depan. Dibukanya kepalan tangan--ingin melihat saputangan milik Shehan sekali lagi.


"Maafkan aku, Mas! Aku terpaksa dan harus melakukan ini. Akan ada banyak kebahagiaan yang kuselamatkan jika aku mengorbankan diriku."


Satu titik air mata LiIis jatuh ke atas permukaan saputangan Shehan yang berwarna biru tua. Titik air mata itu segera menyerap ke serat kain dengan cepat hingga menimbulkan bercak menghitam pada kainnya. Sekali--Lilis menghirup dalam-dalam aroma saputangan itu. Harum, sangat harum. Keharuman tubuh Shehan menempel di sana dan membuat Lilis rindu pada sosok suaminya.


Namun, Lilis harus rela menahan diri karena ia merasa waktunya tidak banyak lagi sementara masih ada banyak tugas yang mesti Lilis kerjakan, yakni membuat Sarah dan Shehan bersatu kembali.


**


Di dalam kamar usai mengganti pakaian dengan baju tidur, Lilis sempat menoleh Shehan yang tampak sudah tidur pulas dengan posisi miring ke samping mengarah pada nakas. Sebagian tubuhnya tertutup selimut. Kemudian Lilis beranjak naik ke tempat tidur, ikut menyelimuti sebagian tubuhnya dengan selimut yang sama. Lalu Lilis miring ke samping--membelakangi Shehan. Ada jarak yang terbentang di antara mereka.


Lilis pikir Shehan sudah tidur, ternyata permasalahan dengan LiIis tadi juga membuat Shehan tidak bisa segera tidur--masih gundah gulana. Shehan pun secara sadar mengetahui gerakan-gerakan yang LiIis lakukan saat naik ke atas ranjang.


Sekali Shehan menoleh LiIis. Hanya punggungnya saja yang Shehan temukan sebab posisi Lilis membelakanginya. Shehan kemudian mengubah posisi tidurnya jadi miring--menghadap Lilis. Teramat ingin ia melihat istrinya meski hanya punggungnya saja, tetapi tidak apa-apa. Yang terpenting itu adalah bagian dari Lilis.


Lilis sendiri juga belum tidur. Dia tahu Shehan sudah mengubah arah tidur dan sedang memperhatikannya saat ini. Namun, Lilis tidak berniat menoleh. Ia memejamkan mata pura-pura tidur. Mengabaikan Shehan sampai tak terasa pagi menjelang.


Beberapa saat berlalu.


Seperti biasa, Lilis membantu Shehan berpakaian sebelum berangkat bekerja. Ini adalah tugas wajibnya semenjak ia menikah dan menjadi istri Shehan. Di sela Lilis merangkai dasi, Shehan memanfaatkan situasi untuk berbicara lagi dengan Lilis.


"Lilis...," panggil Shehan dengan lembut.


Lilis menoleh sekilas lalu kembali fokus pada gerakan tangannya.


"Apa kamu sungguh-sungguh dengan perkataanmu tadi malam? Tidak bisakah kamu mengubahnya?"


Shehan menanti jawaban Lilis dengan perasaan cemas. Tetapi Lilis masih juga bergeming tidak mau membalas. Shehan mengalah, kembali mendominasi percakapan.


"Lilis, kalau kamu berpikir aku masih mencintai Sarah, itu salah. Aku memang mencintainya tetapi di waktu yang berbeda."


Lilis masih keras kepala dengan sikap diamnya. Bahkan sama sekali tidak mau melihat Shehan. Sibuk membenarkan jas yang Shehan pakai. Lantas Shehan menangkup pipi Lilis--mendongakkannya agar pandangan mereka bertemu. Segera keduanya saling bersitatap muka. Di saat itu Shehan tidak menyia-nyiakan waktu. Ia mengutarakan perasaannya yang paling dalam.


"Sekarang aku mencintaimu, Lilis."


Shehan jeda sejenak, memberi rentang waktu agar Lilis dapat memahami ucapannya seraya mengusap lembut pipi Lilis dengan ibu jari.


"Aku membutuhkanmu, Lilis. Aku ingin kamu yang berada di sisiku."


Lilis diam--menghayati pengakuan Shehan. Selama ini Lilis juga ragu atas perasaan Shehan padanya. Tetapi sekarang LiIis tidak ragu lagi. Lalu apa yang harus Lilis lakukan untuk membalas pengakuan suaminya.


Dengan sorot mata sayu, Lilis memilih pergi meninggalkan Shehan begitu saja di ruang berpakaian tanpa menjawab sepatah kata pun. Ini sama persis seperti sikap Shehan padanya di awal mereka menikah dulu dan kini Shehan mengerti bagaimana rasanya diabaikan.


***


BERSAMBUNG...