Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 32 : Malam Pengantin



Tidak enak untuk menolak, atas permintaan Nining, Shehan akan menginap di rumah mertuanya setelah acara resepsi pernikahannya bersama Lilis selesai. Di rumah itu, sebuah kamar yang dulunya adalah kamar Lilis, telah dihiasi dan dipersiapkan sedemikian rupa bagusnya, untuk menyambut malam pengantin baru bagi Shehan dan Lilis.


Masih mengenakan pakaian pengantin, Shehan dan Lilis sama-sama diam, duduk di tepi ranjang dengan posisi saling bertolak belakang. Lilis dalam keadaan gelisah. Begitupun Shehan yang tampak kurang nyaman berada dalam satu ruangan dengan Lilis meski gadis itu sudah resmi menjadi istrinya.


Keadaan canggung itu didasari atas rasa tidak terbiasa. Shehan terbiasa dengan status Lilis yang adalah pengasuh putrinya--Nurbanu. Sementara Lilis juga terbiasa dengan status Shehan yang merupakan majikannya. Namun, keduanya mesti beradaptasi lantaran Lilis dan Shehan telah menikah dan telah menjadi pasangan suami istri.


Shehan menoleh ke belakang. Didapatinya punggung Lilis serta kepala yang masih terbalut sehelai kerudung. Lilis sendiri sama sekali tidak berani menoleh, kata "Malam Pengantin" saja sudah menjadi momok tersendiri baginya. Bingung memikirkan harus berbuat apa di malam itu sebab statusnya hanya istri kontrak.


"Lilis ...," panggil Shehan dari posisinya semula.


Surai mata Lilis melirik menuju pucuk. Belum berani menoleh langsung ke belakang. Sebentar dia bungkam, lima detik selanjutnya baru menyahut panggilan Shehan.


"Ya ... Tuan."


"Tidurlah di tempat tidur. Aku akan tidur di bawah saja."


Percakapan mereka terjadi ketika Nining sudah tidur di kamar yang lain. Sedangkan Doni--Adik Lilis terpaksa tidur di ruang tamu. Sebab sejak Lilis pergi merantau, Doni--lah yang menempati kamar itu.


Lilis melihat ke bawah sehabis Shehan mengatakan akan tidur di sana. Cuma petakan keramik berbentuk kotak-kotak saja yang ada di sana. Tidak ada karpet ataupun alas sejenisnya. Apa mungkin Shehan bisa tidur di lantai padahal selama ini dia tidur di kasur yang mewah, empuk dan luas.


"Tuan, biar aku saja yang tidur di situ. Tuan, tidurlah di kasur," saran Lilis dari seberang.


"Tidak Lilis." Shehan bangkit, mengambil selembar selimut yang terlipat di tengah kasur. Berdiri menghadap Lilis. "Kamu saja yang tidur di kasur, biar aku memakai alas ini dan tidur di bawah."


Lilis kemudian bangkit, bersemuka dengan suaminya. Dilihatnya selembar selimut yang Shehan tunjukan. "Biar aku saja, Tuan." Mendekati Shehan. "Aku sudah terbiasa tidur di bawah."


Hendak diambil oleh Lilis selimut itu, tetapi Shehan mencegahnya.


"Kamu mungkin terbiasa, tapi kamu adalah perempuan terlebih sudah menjadi istriku sekarang. Biar aku saja yang mengalah dan tidur di bawah." Shehan memberi pengertian.


Namun, Lilis tetap merasa tidak enak hati. "Tapi Tuan ...."


"Lilis ...," sela Shehan. "Kewajiban pertama seorang istri adalah menuruti suami jika itu adalah hal yang baik."


Dinasihati demikian, Lilis tidak bisa berkutik lagi selain menurut. Ia menundukkan pandangan dan membalas dengan lembut. "Baik, Tuan."


"Sekarang tidurlah!"


"Tapi ...." Gadis itu menengadah menjangkau Shehan yang lebih tinggi darinya. "Aku mau ganti baju dulu, Tuan."


Shehan sempat kikuk, lalu mengangguk singkat. "Baiklah, aku akan keluar dulu."


"Tidak usah, Tuan. Aku ganti baju di kamar mandi saja." Lilis beranjak mengambil dua potong pakaiannya yang sopan dan nyaman dari lemari, lalu keluar kamar sembari memeluk pakaiannya.


Shehan membentang selimut yang sedari tadi dia pegang ke lantai. Membenarkan bentuknya agar rapi dan tidak kusut. Setelah itu diambilnya sebuah bantal dari kasur, meletakan bantal itu di atas bentangan selimut yang telah berubah menjadi alas tidurnya.


Lilis kembali tatkala Shehan sudah bersiap akan tidur. Ia mengamati pakaian Shehan yang masih bersetelan jas pernikahan mereka. "Tuan, tidak ganti baju?"


Shehan melihat dirinya sendiri. "Aku akan pakai baju ini saja." Kemudian melepas dasi dan bagian terluar jasnya. Berikutnya rompi, hanya menyisakan kemeja putih lengan panjang serta celana panjang warna hitam.


"Sini, Tuan. Biar aku taruh di gantungan." Tangan Lilis terulur.


"Hhmm ...." Shehan memberikannya.


Jas, rompi juga dasi Shehan, Lilis letakan di gantungan plastik lalu menyangkutkannya di kait daun pintu. Selesai, Lilis menuju kasur sedangkan Shehan juga bersiap-siap hendak membaringkan tubuhnya di bawah.


Saat keduanya telah berada di posisi masing-masing, baik Shehan maupun Lilis tak kunjung bisa tidur. Berkali-kali ganti posisi, tetap saja keduanya belum bisa memejamkan mata. Lilis canggung karena ini adalah kali pertama berada satu kamar dengan seorang pria. Shehan tidak bisa tidur sebab kepanasan. Maklum saja, di kamar itu tidak ada kipas angin apalagi air conditioner.


Alhasil Shehan membuka dua kancing kemejanya yang paling atas, mengibaskan tangannya ke udara agar memperoleh angin segar. Lilis pelan-pelan bangkit, duduk di atas ranjang, ingin memeriksa kondisi Shehan.


"Tuan, kepanasan?" tanyanya ketika tahu Shehan sedang mengibas-ngibaskan tangan.


Alis Lilis bertaut cemas. "Maaf ya, Tuan. Tidak ada kipas angin."


Shehan berpaling, hanya bisa pasrah. Di saat itu, pandangan Lilis tetiba menyoroti tumpukan kado dari para tamu undangan yang disusun bertingkat di sudut kamar. Salah satu kotak kado terlihat cukup besar. Lilis kemudian turun, pergi ke arah sana. Shehan menoleh lalu mengawasi tindakan Lilis.


Lilis mengangkat kotak kado itu, mengguncangnya beberapa kali.


"Duk ... Duk ... Duk!"


Bunyi guncangan itu padat, kotak itu juga cukup berat. Tak membuang waktu, lantas Lilis membuka kertas kadonya. Selang tiga menit, dugaan gadis itu terjawab. Benar saja perkiraan Lilis, isi kotak kado itu adalah sebuah kipas angin.


"Tuan, ini ada kipas angin!" Lilis semringah menunjukannya pada Shehan.


Shehan yang sejak tadi memperhatikan, ikut senang. "Ya sudah. Cepat nyalakan! Aku sudah kepanasan dari tadi."


"Baik, Tuan."


Senyum lebar Lilis terus mengembang kala gadis itu membawa kipas angin meja yang dia temukan ke dekat colokan listrik. Usai menyalakannya, angin semilir langsung menerpa, menggoyangkan pelan tirai kamar.


Shehan menghela napas lega, selepas mendapat angin segar. Lalu membaringkan tubuhnya lagi dengan nyaman. "Lis, tolong naikkan lagi volumenya agar lebih kencang."


"Ya, Tuan."


Ctak!


Lilis menekan tombol kedua, seketika angin berembus lebih kencang.


Wus ... Wus ... Wus ....


Lilis bangkit, menghampiri Shehan. "Tuan, sudah bisa tidur sekarang?"


"Ya, Lilis. Terima kasih. Kamu juga tidurlah sekarang."


"Eum ... baik, Tuan."


Sudah menapakkan tiga langkah menuju kasur saat Shehan memanggilnya lagi.


"Lilis!"


Lilis berhenti, menoleh dari posisinya. "Ya, Tuan."


"Aku, suamimu sekarang. Lebih baik kamu pikirkan juga panggilan yang bagus untukku, agar tidak memanggilku Tuan lagi. Orang lain bisa curiga nanti."


'Selesai masalah satu, datang lagi masalah lain,' gumam Lilis.


"Ya, Tuan."


Lilis naik ke tempat tidur. Melipat dan menyelipkan satu tangannya ke bawah bantal. Ia berbaring miring, memikirkan nama panggilan yang tepat untuk Shehan.


***


BERSAMBUNG...


Note. Air conditioner : AC


Menurut Readers Tercinta, panggilan Lilis ke Shehan, yang cocok apa, ya? Tulis di komentar, ya!


^_^