Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 70 : Tergoda



Baru saja secangkir kopi panas diletakan Lilis di atas meja kerja Shehan pada sisi kiri dekat dua tumpuk dokumen yang tertutup sampulnya. Hanya mereka berdua saja yang masih bergentayangan di rumah besar itu. Sementara para penghuni lain--Mbok Tum dan Nurbanu sudah terlelap dalam tidurnya.


"Silakan diminum, Mas." Suara lembut Lilis mengundang tatapan teduh suaminya.


"Terima kasih."


Senyum tipis Shehan mengakhiri percakapan singkat mereka. Tidak langsung menyesap kopi yang masih terdapat kepulan asap di atasnya, Shehan kembali fokus pada berkas pekerjaan di atas meja. Tangan kanannya yang memegang pena sesekali terlihat bergerak di atas permukaan kertas. Menunjuk-nunjuk ke arah tabel ataupun barisan kalimat. Sedangkan pandangannya meneliti tulisan-tulisan yang cukup banyak di dalam tabel tersebut.


Sesaat kemudian fokus Shehan buyar karena keberadaan Lilis yang tidak kunjung pergi dari ruang kerjanya. Shehan menoleh dan gadis itu ternyata juga sedang memperhatikannya seraya memeluk nampan di depan diafragma.


"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Shehan--mengangkat tangan untuk melihat petunjuk waktu dari arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sekarang sudah jam setengah sebelas malam. Tidurlah lebih dulu! Aku akan menyusul nanti."


"Mas ... sebenarnya, ada yang ingin kukatakan?" Lilis buka suara.


"Apa itu?" tanya Shehan datar.


"Soal Mbok Tum, Mas. Mbok Tum bilang mau izin cuti selama tiga hari karena mau menghadiri pesta pernikahan keponakannya di kampung."


"Kapan Mbok Tum mengatakannya?"


"Tadi siang, Mas. Saat membantuku membuat camilan kue kering."


Shehan diam sebentar lalu mengangguk lemah sekali. "Baiklah, katakan pada Mbok Tum kalau aku mengizinkannya."


"Ya, Mas. Ada lagi kira-kira yang Mas perlukan?" ujar Lilis sebelum meninggalkan ruangan kerja Shehan.


Shehan coba mengingat. "Ah, ya! Tolong ambilkan buku dari rak atas itu, Lilis!" Jari telunjuknya mengarah pada rak buku yang lebih mirip perpustakaan pribadi dan tertanam di tembok tepat di belakang kursi kerjanya.


Pandangan Lilis mengedar ke sana. "Buku apa yang Mas butuhkan?"


"Buku arsip yang sampulnya warna merah tua."


"Baik, Mas. Tunggu sebentar, ya. Akan aku ambilkan!" Lilis dengan senang hati membantu suaminya.


Sebelum pergi menuju rak buku di belakang kursi kerja Shehan, terlebih dahulu Lilis meletakan nampan--yang sedari tadi dia pegang di atas meja dekat sofa. Letak meja dekat sofa itu posisinya berhadapan dengan meja kerja Shehan.


Setelahnya Lilis kembali lagi, langsung menuju rak buku. Ia pun kepayahan menggapai buku yang diminta oleh Shehan tadi meski telah berjinjit. Berkali-kali Lilis berupaya menjangkaunya, tetapi urung berhasil lantaran tubuh Lilis kurang tinggi. Alhasil gaun malam yang dia kenakan malah terangkat-angkat menyingkap pa-ha. Shehan sampai menoleh dua kali--terkesima.


Sorot mata Shehan mulai liar menjelajahi seluruh tubuh Lilis sampai atas kepala. Tak lama, senyum simetrisnya terukir seraya memijat pelan dagu tatkala menyadari nalurinya telah berfantasi. Shehan memalingkan muka dari pemandangan indah itu. Tidak ingin bertindak lebih jauh karena pekerjaannya masih banyak. Namun, celotehan Lilis berikutnya malah memaksa Shehan untuk kembali melihat.


"Mas, susah sekali mengambilnya?" keluh Lilis, masih berusaha menggapai buku dari rak yang tinggi.


Shehan bangkit dari duduknya--mendekati Lilis. Dengan gampang ia mengambil buku arsip yang dia maksud tadi. Hal itu wajar karena Shehan memang berpostur tinggi.


"Aku berdiri sebentar sudah bisa mengambilnya," kelakar Shehan.


"Mas kan lebih tinggi!" Lilis berjinjit di dekat suaminya dan hanya mencapai batas telinga bawah Shehan saja. "Makanya cepat dapat." Mencebik untuk membalas kelakar Shehan.


Shehan tersenyum mengejek. Sementara Lilis merespon dengan menyambar buku arsip yang dipegang oleh Shehan. Hendak meletakan buku itu di atas meja kerja. Saat Lilis berbalik badan--posisinya membelakangi Shehan, tiba-tiba ia terkesiap.


Suara resleting yang ditarik terdengar nyaring menghampiri gendang telinga. Refleks Lilis berputar badan lagi menghadap suaminya dengan raut terperangah. Seketika itu pula Shehan meraih bagian gaun yang masih tersanggah di kedua pundak Lilis. Menurunkannya dengan cepat, tahu-tahu gaun malam itu sudah luruh ke lantai. Mempertontonkan kain-kain pelindung yang menutupi bagian sen-sitif.


"Ma---"


Ucapan Lilis terhenti kala Shehan membelai bibirnya seduktif.


"Temani aku malam ini!" pinta Shehan tegas, tidak mau dibantah.


Baru saja Shehan mengatakan itu, sepasang mata Lilis langsung membola, merasakan kait kain penutup dadanya dibuka dengan cekatan. Kemudian kain itu dilempar Shehan ke sembarang arah. Sesuatu yang menjulang segera tersembul ke depan. Lilis membisu dan gemetaran. Sementara Shehan menikmati be-lahan dada Lilis yang dia telusuri dengan punggung jarinya. Merayap perlahan-lahan turun ke bawah. Sorot matanya bahkan intens tak mau berpaling.


Lilis sedikit menganga. Lenguhannya menguar pelan lalu menggigit bibir bawahnya cukup kuat untuk menahan sensasi luar biasa dari remasan tangan suaminya pada salah satu bagian dadanya.


"Jangan gigit bibirmu, Sayang! Kamu bisa terluka nanti."


Lilis tidak membalas perkataan suaminya. Kelopak matanya bergoyang menatap Shehan yang dengan tenang mengintimidasinya saat ini. Pandangan Lilis terus mengawasi gerak-gerik Shehan yang mencoba mendekatinya.


Cup....


Sebuah kecupan mendarat di dekat puncak. Sontak kedua bahu Lilis naik turun merasakan sapaan bibir lembap itu. Pori-pori kulitnya membesar--merinding setengah mati.


Cup....


Kembali, kecupan kedua menyerang. Shehan mengendus aroma kulit istrinya yang beraroma wangi parfum vanilla. Lalu melahap salah satu puncak kembar di sana. Kali ini lenguhan Lilis terang-terangan meluncur dari bibirnya yang bergetar. Teramat ge-li merajai sekujur tubuh. Shehan memejamkan mata. Menghayati citarasa yang dia dapatkan. Direngkuhnya tubuh Lilis ke dalam pelukan. Erat, menempel sangat rapat.


Naluri keduanya membubung tinggi. Lilis berjalan lambat ke belakang--terdorong tubuh Shehan yang mengungkungnya. Pa-ha belakangnya bertabrakan dengan tepi meja kerja, membuat Lilis terhimpit, semakin tertekan.


Menyadari keberadaan meja sudah dekat dengan mereka, Shehan tak ragu melucuti kain pelindung terakhir milik Lilis. Yang tersisa kini hanyalah seonggok tubuh ranum tanpa busana. Shehan menyaksikan itu penuh kagum. Lilis yang menjadi objek penelitian bagai tawanan yang sudah pasrah tidak bisa melepaskan diri lagi.


Shehan mendudukkan istrinya ke atas meja, membuka kedua kaki Lilis lebih lebar. Sedangkan dia sendiri berdiri di antara kedua kaki yang terbuka lebar itu. Lilis gugup, tangannya merayapi meja mencari pegangan. Tanpa sengaja menyenggol cangkir kopi yang dia bawa tadi hingga jatuh ke lantai.


Prang!


Bunyi gaduh menguar. Shehan dan Lilis kompak melihat tumpahan air yang berserakan di lantai.


"Mas ... kopinya?"


"Tidak apa-apa, kamu lebih ampuh, membuatku tidak bisa tidur dibandingkan kopi itu."


Slupt....


Suara kepala ikat pinggang yang ditarik dari penyangganya menyusul selang beberapa detik. Lilis melihat gugup Shehan yang sedang menggulung ikat pinggangnya. Yang terjadi kemudian, Lilis memegang kedua lengan suaminya yang mengungkung pada sisi kiri dan kanan sembari mengerang. Menahan hentakan yang bertubi-tubi menerjang dirinya. Mulutnya bungkam tak bisa bersuara, sebab dikunci dengan tautan bibir yang dalam.


Semakin terdorong ke belakang, Lilis melingkarkan tangannya ke punggung dan pinggang suaminya untuk bertahan. Bersama-sama memejamkan mata, melanglang buana--menembus cakrawala.


***


BERSAMBUNG...