Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 6 : Patah Hati



Lilis membisu dengan pandangan mulai berkaca-kaca. Bibirnya bergetar. Sekujur tubuh gemetar. Ia masih memandangi Shehan dalam diam sembari menahan kecamuk yang saat ini merongrong, menggerogoti hati.


Di hadapannya, Shehan sedang menarik napas dalam, sedalam tatapannya pada Lilis. Perlahan, embusan terlepas bebas dari hidungnya yang mancung. Sesak di dadanya pun berkurang. Sesak yang telah ia rasakan selama seminggu ini. Bahkan, membuatnya kesulitan bernapas.


Usai pertemuan dengan Nining di Banyuwangi, Shehan terus memikirkan tentang rencananya yang hanya ingin menikah kontrak dengan Lilis. Lilis sendiri juga menyetujui rencana itu. Namun, melihat perawakan Nining yang sudah tua renta. Ia jadi tak tega menikahi Lilis hanya untuk menceraikannya setahun kemudian.


"Maaf, aku tidak bisa menikah denganmu, Lilis."


Shehan tahu ucapannya telah menyakiti gadis polos itu. Akan tetapi, ia harus melakukannya. Shehan punya alasan kenapa tiba-tiba memutuskan untuk mengubah rencana.


"Tu--Tuan ... a--apa yang Tuan katakan barusan, itu benar?" Lilis akhirnya buka suara dengan tergagap-gagap. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Shehan. Lantas ingin meyakini dirinya sendiri sekali lagi.


Beberapa detik lamanya Shehan masih bungkam. Bukan jawaban yang ia berikan pada gadis itu, melainkan hanya sorot mata kasihan. Sekonyong-konyong Shehan bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Lilis yang sedang terpuruk. "Ya, Lilis. Yang kukatakan barusan benar. Aku memang tidak bisa menikahimu."


Manik sendu Lilis bergerak mengikuti langkah Shehan yang kian dekat dengannya. "Kenapa Tuan setega ini? Tega sekali mempermainkan aku dan Ibuku. Bukan aku yang pertama kali mengajak Tuan menikah. Tapi Tuan-lah yang memulainya!"


Tangan Lilis tambah gemetar saat menyeka air mata yang telah mengumpul di ujung mata. Berkali-kali ia menelan saliva untuk membasahi kerongkongan yang bagai tercekik oleh omongan getir Shehan.


"Aku tahu kamu pasti terkejut dan sekarang kamu pasti merasa terluka. Tapi terluka sekarang itu lebih baik daripada terluka belakangan, Lilis."


Shehan yang telah mencapai posisi Lilis memegang satu pundak gadis itu. Lalu mengusapnya beberapa kali, bermaksud menenangkan.


"Menerima ajakan Tuan untuk menikah kontrak, aku tahu aku pasti akan terluka nantinya. Aku pun sudah siap terluka, Tuan. Tapi cara Tuan yang seperti ini seolah-olah menghinaku."


Lilis yang terlanjur patah hati, segera menepis usapan tangan Shehan. Air mata pun ikut berlinang membanjiri pipinya yang pucat pasi. Tak mau dilihat oleh orang yang telah menyakitinya, buru-buru ia memalingkan muka ke arah jendela yang berada di sisi kanan ruangan. Di sanalah gadis lugu itu menangis pilu. Suara isakannya memenuhi ruang kerja Shehan yang sebelumnya hening.


'Kenapa aku bisa masuk ke dalam lubang kesalahan yang sama. Pertama dipermainkan oleh Hendra. Dan sekarang dipermainkan oleh Tuan Murad. Apa aku segampang itu sehingga mudah dipermainkan oleh laki-laki? Apa aku terlalu mudah memberi kepercayaan pada orang lain?' lirih Lilis dalam hati.


Shehan tidak tersinggung karena Lilis telah menepis tangannya tadi. Ia merasa pantas menerima tepisan itu. Bahkan, perbuatannya lebih keji dari tindakan Lilis. Gadis yang terluka itu pasti sangat tidak ingin melihatnya sekarang.


"Lilis akan kuberitahu alasan kenapa tiba-tiba aku membatalkan niat untuk menikahimu."


Sejenak Shehan menjeda laju bicaranya. Ia menenangkan diri agar tidak salah berucap yang bisa membuat Lilis lebih sakit hati lagi.


"Alasan itu karena ... aku tidak sampai hati mempermainkanmu lagi. Aku tidak bisa mengabulkan keinginan Ibumu. Jujur saja, tidak ada cinta di antara kita berdua. Setelah kupikirkan matang-matang, lebih baik aku mengakhiri rencana pernikahan ini sekarang juga," sambung pria itu lagi.


Sklera mata Lilis sudah memerah berikut ujung hidungnya ketika ia menoleh Shehan. Tangisnya sesenggukan. Tak mampu ia menghentikan derasnya air mata yang terus mengalir di pipi.


"Kalau Tuan ... ma--u mengakhiri rencana pernikahan ini, kenapa ti--dak dari sebelumnya? Sebelum kita pergi .... untuk bertemu Ibuku di Banyuwangi. Sekarang ... Tuan bukan hanya mempermainkan aku, tapi juga Ibuku."


Lilis terbata-bata sampai ucapannya terdengar tidak jelas. Meskipun begitu, Shehan mengerti apa yang gadis itu katakan.


"Ya, Lilis. Aku tahu aku bersalah. Itu sebabnya aku mau mengakhiri kesalahan ini. Lagipula kita memang tidak saling mencintai."


"Masalahnya bukan karena kita tidak saling mencintai. Tapi apa yang harus kukatakan pada Ibuku sekarang? Apa kukatakan saja kalau Tuan sebenarnya hanya mengajakku menikah kontrak?"


"Jangan! Jangan katakan itu Lilis?" sergah Shehan.


"Apa Tuan takut?" Melontarkan pertanyaan yang lantang, Lilis sudah tidak memperdulikan posisinya lagi sebagai asisten rumah tangga di rumah itu. Ia hanya ingin meminta penjelasan yang masuk akal dari Shehan.


"Apa yang Tuan pikirkan?"


"Kamu bisa saja memberitahu Ibumu tentang rencana pernikahan kontrak itu kalau kamu mau. Tapi Ibumu akan sangat terluka nantinya."


"Kalau hanya kubilang Tuan sudah mengakhiri rencana pernikahan ini, Ibuku juga pasti akan terluka, Tuan." Lilis memelas sedih. Ia semakin tak berdaya tatkala mengingat ibunya. Bak tertampar di pipi, itulah yang akan dirasakan sang ibu nanti.


"Lilis!" panggil Shehan seraya menatap intens. "Aku minta maaf karena telah ceroboh. Tidak berpikir jauh tentang akibat yang bisa timbul di kemudian hari. Tapi aku tetap akan membuatkanmu rumah di kampungmu."


Lilis terperanjat mendengarnya. Shehan telah memutuskan hubungan mereka, tetapi kenapa pria itu masih mau membuatkannya rumah?


"Kenapa Tuan?"


"Untuk menebus kesalahanku, aku tetap akan membuatkanmu rumah."


"Apa Tuan kasihan dengan keadaan kami yang miskin? Kami memang miskin tapi kami bukan pengemis! Maaf, aku tidak mau menerimanya."


Lilis tegas menolaknya. Namun, agaknya gadis itu sudah salah paham dengan maksud Shehan. Lekas Shehan menyangkal dengan gerakan tangan.


"Bukan Lilis, maksudku bukan begitu. Aku ikhlas membantumu untuk membuatkan rumah."


"Tuan mau membantuku karena Tuan tahu kami keluarga yang kurang mampu. Maaf Tuan, aku tidak bisa menerimanya. Kalaupun Ibuku tahu pasti Ibu juga tidak akan mau menerimanya."


"Lilis, maafkan aku karena terburu-buru membuat rencana yang ceroboh. Aku mengajakmu menikah kontrak hanya untuk kepentinganku sendiri. Tapi kecerobohanku sudah melibatkan Ibumu. Aku sangat menyesal. Sebagai penebusnya, aku tetap akan membuatkanmu rumah. Aku ikhlas membantumu, Lilis."


"Terima kasih sudah berniat membantu, tapi maaf. Aku tidak bisa menerimanya. Ibu pasti akan bertanya darimana uang yang kudapat untuk membuat rumah."


"Katakan saja kalau aku yang memberikannya."


"Itu sama saja Tuan menganggap aku pengemis! Tuan mempermainkan aku dan karena Tuan memiliki uang, dengan gampangnya Tuan ingin menghapus kesalahan Tuan dengan uang."


Shehan memalingkan muka lalu memijat pelipisnya. Ia bingung menghadapi sikap keras kepala Lilis. "Tapi bukan itu maksudku!"


"Maaf kalau aku bicara lantang, tapi berpikirlah matang-matang sebelum Tuan mengambil keputusan yang bisa membuat orang lain terluka."


Lilis berpaling pergi, segera Shehan mencegahnya dengan menahan tangan gadis itu.


"Jangan pergi! Aku masih ingin bicara denganmu."


Lilis menoleh. "Maaf Tuan, tapi sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan."


Ia pun berlalu pergi keluar dari ruangan kerja Shehan sambil membawa duka laranya.


***


BERSAMBUNG...


Bagaimana nasib Lilis nantinya?