Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 28 : Cleopatra



Lilis berdebar-debar ketika merasakan sesuatu tengah menempel di bibirnya dan sesuatu itu adalah bibir Shehan, yang saat ini berada di bawahnya. Shehan sendiri juga terkejut bukan main. Sudah dua tahun menjadi duda, baru kali ini dia merasakan kelembutan itu lagi.


Lilis dan Shehan sama-sama membisu dan saling mengamati satu sama lain. Waktu bagai terhenti, mempersilakan Lilis dan Shehan untuk saling menikmati momen kehangatan yang tiba-tiba hadir di antara mereka. Jarak keduanya yang belum pernah sedekat ini sebelumnya, membuat Shehan juga merasa sedikit gugup.


Namun, saat sadar bahwa tanpa sengaja telah mencium bibir majikannya, sekonyong-konyong Lilis bangkit. Begitu pula Shehan yang langsung berubah ke mode sok keren. Lekas ia mencengkeram kedua lengan Lilis, menyingkirkan gadis itu dari tubuhnya.


"Apa-apaan kau, ini!" gerutunya, kesal.


Lilis terduduk di samping Shehan dengan baju yang basah. Buru-buru ia berdiri lalu meminta maaf sambil membungkuk dalam. "Maafkan aku, Tu--Tuan ... aku tidak sengaja. Tolong maafkan aku!" Keningnya mengernyit panik. Ucapannya juga tergagap, Lilis buncah setengah mati.


Shehan pun turut bangkit, menyeka kemejanya yang basah dengan punggung jari. Tak lepas lirikan tajamnya dari Lilis. "Mandilah sana! Aku juga mau ganti baju karena bajuku sudah basah."


Sambil cemberut, Shehan melengos keluar dari kamar Lilis. Lilis mengetuk-ngetuk dahi seraya merutuki diri sendiri. 'Ya ampun, Lilis. Kamu kok ceroboh sekali, sih! Lihat tuh! Tuan Murad jadi marah lagi!'


Ceklek!


Brak!


Terdengar suara tuas ditarik cukup kencang. Lilis melongok cemas ke sana, tampak olehnya pintu sudah tertutup rapat. Yang tertinggal hanya beberapa tetesan air yang menitik di lantai marmer kamar hotel, searah jejak tapak sepatu Shehan tadi.


"Fiuh ...." Barulah gadis itu dapat mengembus napas lega usai kepergian Shehan. Ia meletakan telapak tangannya di dada, merasakan rongganya sudah jadi lebih plong.


Di kamarnya, Shehan mengelus sudut bibirnya pelan-pelan. 'Sakit sekali sariawanku ini gara-gara Lilis!' desis Shehan gusar.


Rupanya, akibat pukulan Hendra waktu itu, bukan hanya membuat sudut bibir Shehan pecah, tetapi bagian dalamnya juga jadi sariawan. Kecerobohan Lilis membuat sariawan itu berdenyut-denyut sekarang. Oh, Shehan yang malang!


**


Nyaris setengah jam kemudian, Lilis yang sudah selesai mandi serta berpakaian menekan bel kamar Shehan, sembari menunggu pria itu di depan pintu kamar.


Ting Ning! Ting Ning!


Ceklek!


Shehan yang juga telah berganti pakaian keluar kamarnya. Ia melihat Lilis cukup lama, lalu beranjak jalan lebih dulu menyusuri koridor sambil geleng-geleng kepala pelan. Sudah pasti alasan ia menggeleng adalah karena penampilan Lilis yang masih tidak indah dipandang matanya.


Lilis pun mengikuti Shehan di belakang dengan jarak yang agak jauh. Melihat punggung Shehan bergoyang seirama dengan gerak langkah pria itu, Lilis malah memuji di dalam hati.


'Dada Tuan Murad berbidang sekali!"


Mungkin akibat tabrakan bibir yang tidak di sengaja tadi, gadis yang biasanya berpikiran polos itu sedikit mengkhayal hal yang seduktif. Diam-diam senyumnya mengembang tipis.


Sebelum pergi ke kantor kedutaan besar Turki, Shehan membawa Lilis ke sebuah pusat perbelanjaan termewah yang ada di kota Jakarta. Ia yakin akan ada banyak butik berkelas bertebaran di sana. Jadi waktu mereka tidak akan banyak terbuang hanya untuk mencari gaun yang bagus untuk Lilis.


Dan tebakan pria itu benar adanya. Baru melewati pintu masuk utama, di sisi sebelah kanan area mall, Shehan sudah menemukan sebuah butik yang memajang gaun bagus pada maneken di etelase toko.


Ia mengayunkan langkahnya ke arah sana. Memilih sebentar gaun-gaun yang dipajang di rak. Selang sepuluh menit, sebuah gaun warna putih dengan desain apik, Shehan pilih untuk diberikan pada Lilis. Tak ketinggalan sepasang sepatu berwarna senada.


"Coba ini!" Menyodorkan.


"Baik, Tuan." Lilis menerimanya lalu membawa gaun dan sepatu tersebut ke kamar pas. Lima menit berada di dalam, Lilis keluar lagi dengan balutan gaun putih dan sepatu yang sudah terpasang sempurna di tubuhnya.


Satu tangan Shehan bersedekap, sedangkan satu tangan yang lain memagut dagu. Matanya fokus menilai seberapa pantas gaun dan sepatu itu dipakai oleh Lilis.


"Baik, Tuan." Pramuniaga itu menunggu Lilis melepas gaunnya di depan pintu kamar pas.


Selesai masalah transaksi gaun, tujuan mereka selanjutnya adalah ke salon.


"Tolong dandani gadis ini!"


"Ya, Tuan."


"Oh, satu lagi! Tolong tema riasannya natural saja."


"Baik, Tuan."


Lilis menurut saja saat kapster salon dan penata rias membawanya duduk di salah satu kursi yang berbaris. Ia fokus memperhatikan para pekerja salon itu mempercantik dirinya dari cermin yang ada di depan muka. Ada yang bertugas menata rambut, ada juga yang bertugas merias wajahnya.


Bayangan Shehan juga nampak di cermin itu. Ia sedang mengotak-atik ponselnya kemudian keluar sebentar untuk menerima panggilan telepon. Meski berada di luar kota, nyatanya Shehan masih tetap mengawasi kinerja hotelnya via gawai.


Hampir memakan waktu empat puluh lima menit, Lilis siap didandani rambut dan wajahnya. Shehan pun menyuruh gadis itu untuk memakai gaun dan sepatu putih yang mereka beli tadi. Sepuluh menit sesudahnya, Lilis keluar dengan tampilan yang menakjubkan.


Rambut hitamnya yang biasa dikepang satu di belakang kini dibiarkan tergerai bebas. Bagian bawahnya pun dibuat ikal bergelombang. Alisnya terlihat lebih tebal dan rapi. Pipinya bersemu merah merona. Sementara bibirnya dipoles dengan warna merah muda yang lembut.


Cantik?


Tentu saja Lilis cantik. Ia masih belia, baru berumur 22 tahun. Apalagi wajahnya belum pernah ternodai dengan unsur kimia yang terkandung dalam bahan pembuatan riasan wajah.


Shehan yang tadi sibuk dengan ponselnya, sampai dua kali menoleh pada gadis itu. Tolehan pertama sekilas, tolehan kedua ia tertegun. Tidak berkedip barang sebentar. Siapa sangka itik buruk rupa itu kini menjelma menjadi angsa.


Ya, Lilis berubah bak Cleopatra, sang ratu Mesir.


"Ehem ... Ehem!" deham Shehan dan berpaling.


Namun, Lilis salah mengartikan dehaman Shehan. Ia pikir Shehan tidak suka dengan penampilannya meski sudah dipermak sedemikian rupa. Dengan wajah kusut Lilis menghampiri pria itu.


"Kurang bagus ya, Tuan?" tanyanya murung.


Bukan Shehan namanya kalau dia secara jujur mengakui kekagumannya serta kecantikan Lilis di depan gadis itu. "Kamu ini lama sekali, malah bengong di situ!"


Padahal Shehan-lah yang bengong tadi lantaran saking terpukau dengan perubahan Lilis.


"Maaf, Tuan." Apalah daya Lilis yang hanya berstatus sebagai baby sitter-putri Shehan, ia cuma bisa menunduk seraya meminta maaf ketika disalahkan.


"Kita harus pergi lagi ke kantor kedutaan. Ayo, berangkat sekarang!"


"Baik, Tuan."


Shehan berjalan lebih dulu meninggalkan salon usai membayar biaya perawatan Lilis di kasir.


***


BERSAMBUNG...