
Larut dalam pikiran untuk menemukan panggilan Shehan dengan nama yang baru, tak sengaja Lilis malah ketiduran. Wajar, karena ia juga kelelahan. Menjalani prosesi pernikahan sepanjang hari ini. Menyambut serta melayani para tamu undangan yang hadir. Bahkan kalau bisa bicara, bibir Lilis pasti akan berteriak karena tak henti tersenyum.
Sedangkan Shehan di bawah sana, terus-menerus bergerak gelisah. Berkali-kali dia sudah ganti posisi tidur, tetapi tetap saja tidak nyaman. Hal itu lantaran Shehan berbaring di atas lantai keramik yang keras, bukan di atas kasur yang empuk. Alhasil Shehan terus terjaga. Tidak bisa terlelap barang sedetik saja.
'Uh! Aku tidak bisa tidur!' celotehnya sebal seraya bangkit dan duduk.
Wajahnya kusut, punggungnya membungkuk. Pria itu bergeming kesal. Sudah lelah menjalani prosesi pernikahan, kini tidak bisa beristirahat pula. Sungguh menyiksa bagi Shehan.
Cukup lama Shehan diam dalam duduknya, lantas sekonyong-konyong bangkit, mengintip Lilis yang sudah melanglang buana di alam mimpi. Gadis itu tampak lelap dan nyaman tidur di kasur meski kasur itu hanyalah tilam yang diisi dengan kapuk. Sementara di sisi kiri Lilis, kasur tersebut kosong tidak berpenghuni. Shehan melihatnya cukup lama dan malah tergoda.
Glek!
Sampai menelan saliva, saking teringinnya dia ikut berbaring di tempat empuk itu. Pasti tidur di sana tidak akan membuat badannya sakit seperti sekarang ini. Namun, bagaimana dengan Lilis, apa gadis itu akan setuju bila seranjang berdua dengannya.
Awalnya Shehan sempat ragu, memutuskan untuk berbaring di atas lantai lagi. Cukup lama dia bertahan, sampai setengah jam berikutnya. Kemudian Shehan bangkit karena sudah tidak sanggup lagi dan menyatakan kekalahannya.
'Aku tidak sanggup lagi tidur di sini lebih lama. Badanku sakit semua. Lebih baik tidur di kasur saja, di samping Lilis. Besok pagi sebelum Lilis bangun, aku harus sudah bangun duluan supaya dia tidak tahu kalau aku juga tidur di situ,' batin Shehan merancang siasat.
Shehan membawa bantalnya naik ke tempat tidur, pelan-pelan agar Lilis tidak terbangun. Lalu membaringkan tubuh lelahnya dengan nyaman.
'Ah, menyenangkan sekali tidur di sini!' ujarnya dengan senyum yang lebar.
Sekilas dilihatnya punggung Lilis, gadis itu tidak terganggu sama sekali dan masih terlelap.
'Baguslah! Kalau begini aku bisa tidur sekarang.'
Shehan melipat kedua tangan, mengunakan telapak tangannya sebagai alas kepala. Mulai memejamkan mata hendak tidur. Baru sesaat ia terpejam, masalah lainnya timbul yakni kepanasan. Shehan kepanasan lagi karena arah embusan kipas angin tidak mengenai tubuhnya.
Dengan sorot mata sayu, Shehan melirik kipas angin yang posisinya jauh darinya. Bukan salah kipas angin itu juga sebab ukuran tiangnya memang tidak tinggi. Shehan turun lagi dari kasur, ingin mendekatkan posisi kipas angin itu ke tempat tidur, tetapi malah kabel colokan listriknya yang tidak sampai.
Didongakan Shehan kepala kipas angin itu ke atas, hanya sebagian kecil angin yang menerpa atas kasur. Lantas Shehan mencari meja. Ingin meletakan kipas angin itu di sana agar lebih tinggi dan sejajar dengan kasur. Sialnya, tidak ada meja di kamar Lilis, selain sebuah lemari usang yang menjadi perabotan.
"Ck!" Shehan berdecak kecewa. Baru saja dia nyaman tidur di atas kasur, malah sekarang kipas angin yang bermasalah.
Ia berkacak pinggang memperhatikan sekeliling. Dadanya membusung penuh udara, lalu mengempis perlahan mengikuti helaan napas yang panjang. Jadi langkah apa yang akan Shehan lakukan?
Pria itu nekad membuka semua kancing bajunya. Melepaskan kemeja putih lengan panjang dari tubuh. Lalu menggantungnya di kait, dekat jas dan rompi yang Lilis taruh di daun pintu.
Shehan benar-benar bertelanjang dada naik ke kasur, tidur di sebelah Lilis. Setelah itu, barulah dia bisa tertidur juga.
**
Pagi hari.
"Aaakh ...," teriak Lilis cukup kencang tatkala menemukan Shehan sedang tidur di sebelahnya dan tidak memakai baju pula. Kedua telapak tangan Lilis menutup mulutnya yang menganga. Mata Lilis membulat. Terkejut bukan kepalang.
Saking kencangnya teriakan gadis itu, Shehan sampai terbangun juga. Cepat dia membungkam mulut Lilis dengan satu telapak tangannya. Tubuh Shehan pun ikut ambruk menimpa tubuh Lilis.
Di luar kamar, Nining yang sedang memasak untuk sarapan pagi juga bisa mendengar teriakan Lilis. Wanita paruh baya itu terkesiap, tetapi kemudian senyum-senyum sendiri sambil melanjutkan adukan spatula di atas kuali.
Di dalam kamar, Lilis berdebar bukan main. Tubuhnya kaku tidak bisa bergerak ditimpa oleh tubuh Shehan. Baru kali ini dia melihat majikannya bertelanjang dada. Akibatnya, sampai detik ini pun mata Lilis masih membulat lebar.
"Jangan berteriak! Tenang saja! Aku tidak berbuat apa-apa denganmu. Mengerti!" tegas Shehan.
Lilis mengangguk beberapa kali. Shehan melepaskan bungkaman tangannya dari mulut Lilis setelah itu. Saat tahu tubuhnya sedang menempel di atas tubuh Lilis tanpa celah, Shehan terkesiap. Buru-buru ia bangkit dan duduk.
"Maafkan aku! Aku tidak sengaja." Shehan memalingkan muka. Mungkin dia malu.
Lilis beranjak bangkit, duduk di samping Shehan. "Kenapa Tuan tidur di sini? Dan ...." Jeda sebentar untuk memperhatikan kondisi Shehan yang bertelanjang dada. "Kenapa Tuan tidak memakai baju?"
Shehan menoleh. "Tadi malam aku tidak bisa tidur di bawah. Tubuhku sakit semua. Makanya aku pindah tidur di sini."
"Tapi kalau pindah tidur di sini, kenapa Tuan tidak pakai baju?" Lilis mengernyit bingung.
"Aku kepanasan." Shehan menunjuk kipas angin meja yang terletak di lantai sejak tadi malam. "Angin kipas itu tidak sampai ke sini. Mau kutaruh di atas meja supaya lebih tinggi, tapi tidak ada meja. Ya sudah, aku buka baju saja agar bisa tidur."
Kedua ujung bibir Lilis berkedut, detik selanjutnya terbit senyum simpul di sana. Shehan menautkan alis, melihat gelagat Lilis yang sedang menertawakan dirinya.
"Kenapa kamu tertawa?" tanyanya serius.
"Tuan, sih! Aku kan sudah bilang tadi malam kalau Tuan tidur di kasur saja. Biar aku yang tidur di lantai. Tapi Tuan tidak mau. Tetap memilih tidur di lantai. Tuh, kan. Badan Tuan jadi sakit."
Sesaat Shehan memperhatikan wajah ceria Lilis. Ia pun menyadari meski natural, tetapi Lilis tetap cantik walaupun tidak memakai riasan. Shehan membuang muka kemudian.
"Tuan, ini sudah pagi. Mau aku dulu atau Tuan dulu yang mandi? Maaf ya, Tuan. Kamar mandi di sini cuma ada satu. Jadi harus bergantian kalau mau mandi."
"Ya, sudah. Kamu yang mandi duluan. Aku nanti saja setelah kamu selesai."
"Baik, Tuan."
"Sudah dapat panggilan baru untukku? Ingat ya, di depan Ibumu nanti, jangan lagi memanggilku Tuan."
"Iya Loh, Tuan. Nanti aku pikirkan lagi waktu mandi. Sekarang aku mau ke kamar mandi dulu."
"Hhmm ...."
Shehan berdeham sambil mengangguk singkat. Sorot matanya masih mengawasi Lilis yang beranjak turun dari kasur lalu mengambil selembar handuk dari lemari. Ditentengnya handuk itu, kemudian pergi ke kamar mandi yang letaknya berada di dekat dapur.
Nyaris lima belas menit Lilis menghabiskan waktu untuk membersihkan diri. Gadis itu membalut tubuhnya dengan handuk dari atas dada sampai ke bawah lutut. Belum berpakaian karena Lilis masih mau menyikat gigi.
Lilis menghampiri sebuah kotak yang dipaku di dinding kamar mandi. Di dalam kotak itulah, sikat gigi beserta odolnya disimpan. Pada bagian luar daun pintu kotak tersebut, terdapat kaca yang ditempel. Biasanya, Lilis akan menyikat gigi seraya melihat gerakannya di kaca.
Namun, pagi ini yang Lilis lihat berbeda. Bukan gerakan menyikat gigi, melainkan setetes darah yang keluar dari salah satu lubang hidungnya. Tangan Lilis menyeka darah itu, tetapi darah masih saja keluar. Lilis mimisan dan sudah sering terjadi sejak dua tahun belakangan.
***
BERSAMBUNG...