Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 39 : Aku Mencintaimu



Dari posisinya, Jesslyn dengan senyum mengembang tipis tengah fokus memperhatikan Shehan yang sibuk memesan makanan. Pria itu bicara dengan antusias. Bahkan ketika selesai memesan, Shehan tersenyum lebar pada pramusaji.


Manik mata Jesslyn bergerak ke pucuk sekilas, melihat kepergian pramusaji yang tadi melayani mereka. "Kamu terlihat bersemangat sekali. Apa aura pengantin baru memang secerah ini?" candanya melempar guyonan pada Shehan kemudian.


"Hahaha!" Sontak disambut tawa renyah oleh Shehan. "Tidak juga, aku hanya sedang sedikit bergembira."


"Sedikit gembira?" Jesslyn meneleng, penasaran. "Pasti Istri barumu yang menjadi alasan gembiramu ini, kan?"


Shehan terperanjat, ingin menyangkal tebakan Jesslyn barusan, tetapi dia juga tidak bisa mengingkari. "Omong-omong, kenapa kau tidak menikah juga, Jesslyn? Apa yang kau pikirkan hingga saat ini masih melajang?"


Pertanyaan Shehan membuat Jesslyn diam seribu bahasa. Ia bergeming sembari masih menatap Shehan intens. "Aku berpikir cara yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku pada orang yang ingin kunikahi."


Gelagat bercanda Shehan perlahan memudar. Ia tidak mau lagi mencandai sahabatnya karena Jesslyn sudah merubah suasana topik pembicaraan mereka jadi serius. "Kau adalah wanita sukses. Punya karier yang bagus dan latar belakangmu juga baik. Aku yakin tidak akan ada pria yang bisa menolakmu."


"Ck!" decak Jesslyn terhibur, lalu berpaling sejenak. "Benarkah? Tidak akan ada pria yang bisa menolakku?"


"Tentu saja."


Jesslyn melihat Shehan intens untuk yang kedua kalinya. Timbul hasrat ingin mengatakan sesuatu pada pria yang duduk di hadapannya itu. Namun, waktunya menjadi kurang pas ketika pramusaji datang lagi ke meja mereka, untuk mengantarkan makanan. Satu persatu piring hidangan diletakkan di atas meja. Juga dua gelas yang berisi dua jenis minuman berbeda.


"Silakan dinikmati hidangannya!" kata pramusaji itu kemudian dengan ramah. Ia pergi lagi setelah mendapat balasan anggukkan singkat dari Jesslyn dan juga Shehan.


"Ayo, kita makan siang!" ajak Shehan, mengambil peralatan makan.


"Hhmm ...." Jesslyn mengiyakan lewat dehamannya. Lalu turut mengambil peralatan makan miliknya juga.


Agaknya, sesuatu yang ingin Jesslyn ungkapkan harus ditahannya dulu. Setidaknya sampai acara makan siangnya bersama Shehan selesai.


**


Hampir empat puluh menit kemudian.


Selembar tisu Shehan seka ke masing-masing ujung bibirnya untuk membersihkan sisa makanan yang menempel di sana dan Jesslyn melihat kegiatan pria itu dengan tatapan memuja meski yang dilakukan Shehan hanyalah hal sepele.


"Apa siang ini kau punya kegiatan mendesak, Jesslyn? Kalau ya, kita bisa pulang sekarang." Shehan menyarankan.


"Ya, Shehan. Ada hal mendesak yang harus kulakukan, tetapi tidak di kantorku. Melainkan di sini."


"Di sini?" Shehan mengernyit "Apa itu?"


"Aku ingin melanjutkan obrolan yang tadi sempat kita bicarakan."


"Obrolan tentang apa itu?"


"Tentang tidak akan ada pria yang menolakku."


"Oh, ya."


"Apa itu juga termasuk kau, Shehan?"


"Aku?" Shehan terkesiap.


"Ya, kau. Apa kau juga tidak akan menolakku?"


Shehan masih belum mengerti dengan maksud perkataan Jesslyn. "Maaf, Jesslyn. Aku masih tidak mengerti."


"Aku tahu kau memang kurang peka pada perasaan wanita. Itulah sebabnya aku rela pulang jauh-jauh dari Amerika demi untuk mengatakan hal ini. Tapi sayang, ternyata aku terlambat."


Jesslyn yang tidak mau menunggu lagi, lantas menggamit tangan Shehan. Mengusap punggungnya dengan ibu jari. Shehan diam sambil mengawasi gerakan Jesslyn.


"Apa kau juga tidak akan menolakku, Shehan. Kalau kukatakan orang yang ingin kunikahi adalah kau."


Seketika Shehan membeku. Dia memang sudah menebaknya tadi, tetapi saat mendengar Jesslyn akhirnya mengatakan secara jujur, membuat Shehan kikuk. Bukan karena wanita itu menyatakan cinta, tetapi karena Jesslyn adalah sahabatnya. Yang Shehan pikir hubungan mereka hanya sebatas teman dekat, tidak lebih dari itu.


"Tapi kau tahu aku sudah menikah, Jesslyn."


"Itulah sebabnya aku bilang aku terlambat. Sejujurnya, baru saja tiba di Indonesia, aku sudah langsung menemuimu waktu itu. Tapi di saat itu kau juga bilang kalau akan segera menikah. Dengan berat hati, terpaksa kupendam lagi perasaan ini."


Shehan menarik tangannya dari genggaman Jesslyn perlahan-lahan. Tidak ingin menyinggung perasaan wanita itu. Namun, Jesslyn yang merasakan ada pergeseran lekas menahannya.


"Aku mencintaimu, Shehan Murad."


Shehan langsung bergeming, meresapi ungkapan Jesslyn barusan. Kedua sahabat itu saling diam dengan perasaan campur aduk mereka masing-masing. Terkejut? Sudah pasti Shehan merasakan hal itu. Sementara Jesslyn penasaran dengan reaksi Shehan setelah ini. Setelah dia mengatakan perasaan cinta yang sudah dipendamnya selama ini.


"Maaf, Jesslyn." Kali ini Shehan benar-benar menarik tangannya hingga terlepas. "Aku sudah menikah dan pernikahanku yang kedua baru saja terjadi."


"Bukankah kau sendiri yang bilang kalau tidak mungkin ada pria yang menolakku?" sahut Jesslyn dengan raut sedih.


"Kupikir selama ini, hubungan kita hanya sebatas teman saja. Tidak lebih dari itu."


"Karena kau tidak pernah peka pada semua perhatian yang kuberikan untukmu dan juga Nurbanu, Shehan. Aku tahu alasan Sarah menceraikanmu karena hal ini juga menjadi salah satu faktornya. Tetapi aku berbeda dengan Sarah, Shehan. Percayalah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu ataupun berpaling pada pria lain."


Shehan menarik napas dalam, ingin merileksasikan rongga dadanya yang bagai terasa penuh oleh atmosfer tegang di antara dirinya dan Jesslyn.


"Tidak perlu membahas soal Sarah lagi."


"Ya, Shehan. Awalnya aku juga tidak mau membahas tentang dia. Mari kita bahas tentang kau dan aku saja."


"Jesslyn ... aku adalah seorang suami sekarang. Dan aku sudah punya seorang istri sekarang."


"Bagaimana perasaanmu padaku selama ini? Apa kau sama sekali tidak mengharapkan hal lebih dari sekadar menjadi temanku?"


Shehan menatap dalam Jesslyn yang sedang menatapnya dengan sorot terluka. Rasanya tak tega jika harus menyakiti hati wanita cantik itu lagi.


"Kupikir kau dan aku sama. Kita sama-sama orang yang sulit dekat dengan orang lain. Tetapi bila sudah menemukan orang yang tepat, maka orang itu akan selalu menjadi bayangan diri kita sendiri."


"Bahkan kau tahu itu, Shehan."


"Tetapi ... maafkan aku, Jesslyn. Aku sungguh hanya menganggapmu sebagai seorang teman. Sahabatku. Tidak pernah lebih dari itu."


Katupan bibir Jesslyn bergetar seperti menahan tangis. "Setidaknya kau sudah tahu perasaanku padamu, Shehan."


Shehan gantian menggamit tangan Jesslyn dan mengusap punggungnya dengan ibu jari. "Jesslyn, aku tahu kau memiliki kepribadian yang mengagumkan. Lebih tepat jika kau bersanding dengan pria yang mengagumkan juga. Terima kasih atas perasaanmu selama ini. Atas perhatianmu padaku dan Nurbanu. Kuharap dan aku yakin, kau pasti akan mendapatkan pasangan yang bisa menerima cintamu dan juga mencintaimu."


"Terima kasih sudah menghiburku, tetapi aku sedang terluka saat ini." Jesslyn membalas genggaman tangan Shehan. "Kumohon biarkan aku melakukannya sebentar. Sebentar saja. Agar dahaga hatiku ini sedikit tersirami."


Shehan tidak menjawab ya, tetapi juga tidak menarik tangannya dari genggaman erat Jesslyn. Dia mengikhlaskan hal itu bila bisa mengobati duka lara Jesslyn meski hanya sesaat.


***


BERSAMBUNG...