Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 57 : Penolakan Lilis



"Ketika bibir kita saling bertemu, kelembutannya menggetarkan hatiku. Kehangatannya menentramkan kalbu." ~Lilis Ekawati.


**


Diam-diam, Lilis menyukai cara Shehan menciumnya. Saat bibir mereka saling bertemu, menimbulkan sensasi hangat yang bercampur dengan hasrat sensual. Ditambah lagi, tangan Shehan yang berada di tengkuk Lilis, perlahan merayap, menelusup ke dalam sela-sela rambut. Lalu meremasnya dengan lembut. Perbuatan pria itu sungguh memikat.


Namun, Lilis sadar sebuah fakta menyakitkan. Statusnya hanya seorang istri kontrak. Ia tidak boleh membiarkan perasaannya hanyut apalagi sampai terjerumus menyukai pria yang sedang menciumnya saat ini.


Binar mata Lilis berembun. Genangan air berkumpul dengan cepat memenuhi pelupuk mata lalu satu tetes bulir kesedihan mengalir, melintasi pipinya. Lilis tidak dapat memungkiri perasaan menyenangkan sekaligus menyiksa yang datangnya bersamaan.


Usai mereguk manisnya bibir Lilis, Shehan menyudahi ciuman mereka. Perlahan-lahan meninggalkan bibir Lilis. Lantas mendapati istrinya sedang menangis. Shehan bergeming, menghayati Lilis. Maniknya mengitari kelopak mata Lilis yang bergoyang dan sedang menatapnya dengan sorot terluka.


"Kenapa kamu menangis?" Intonasi Shehan halus lalu menyeka jejak air mata di pipi Lilis dengan lembut.


Bibir gemetar Lilis mulai bergerak. "Ja--ngan ... menciumku lagi, Mas," lirihnya pedih.


"Kenapa?" Shehan mengernyit bingung.


"Aku ... takut jatuh cinta nanti."


Shehan tenang menanggapi Lilis seraya menghela napas panjang dengan teratur. Dipegangnya kepala belakang Lilis lalu didekatkan ke arahnya.


Cup ....


Sebuah kecupan di kening Lilis tercipta. Seketika itu pula Lilis membisu, ada sebuah tanda tanya besar tersirat dalam sorot matanya.


"Jangan takut jatuh cinta padaku." Shehan merenggangkan pelukannya, beralih menangkup wajah Lilis dengan satu tangan. "Karena aku juga menyukaimu." Ia kini tak ragu lagi mengungkapkan perasaannya.


Jesslyn yang sudah tidak tahan melihat pasangan yang sedang kasmaran di dalam kamar utama tersebut, memunguti barang-barangnya yang tadi berjatuhan di lantai. Membawa dirinya yang terluka masuk lagi ke dalam mobil. Barang-barang yang tadi dia bawa dilemparnya dengan kasar ke kabin belakang. Barulah ia mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, pergi ke suatu tempat.


Buk!


Jesslyn memukul setir mobil saking kesalnya. Air matanya tak henti mengalir sepanjang perjalanan.


Meninggalkan kisah Jesslyn, kembali lagi pada pasangan suami istri yang masih berada di dalam kamar utama. Usai mendengar pengakuan Shehan, sekarang gantian Lilis-lah yang mengernyit bingung.


'Mas Shehan menyukaiku?'


"Ta--tapi ... Nona Jesslyn?"


"Kamulah yang aku sukai, Lilis. Bukan dia." Shehan menunjukkan sikap serius.


"Tapi ... Nona Jesslyn sedang hamil."


Busungan dada Shehan perlahan mengempis, mengikuti beban berat yang berusaha ia keluarkan dari rongga dadanya.


"Lilis, sebelumnya aku ingin menyampaikan permohonan maafku padamu."


Keduanya saling diam sejenak. Sama-sama mempersiapkan diri untuk saling mengutarakan isi hati.


"Sudah lama aku ingin menjelaskan padamu dan kurasa sekarang adalah waktu yang tepat."


Lilis masih diam, mendengarkan dengan seksama.


"Sebenarnya di hari kamu mengajakku makan malam, aku sudah berniat memenuhi permintaanmu. Tetapi hari itu Jesslyn memintaku datang karena dia kesepian di hari ulang tahunnya. Sebagai sahabat, aku pun datang. Aku hanya ingin menghiburnya."


"Tapi Mas tidak pulang ke rumah malam itu," kenang Lilis.


"Ya, Lilis. Maafkan aku. Itu semua berlangsung begitu cepat tanpa aku sadari sesuatu di antara kami telah terjadi."


"Mas sadar saat Mas tidur dengannya?"


"Aku begitu karena dia telah mencampurkan sesuatu ke dalam minumanku."


"Kenapa Mas bisa diperalat olehnya?"


"Karena dulu aku mempercayainya. Aku tidak menyangka dia memanfaatkan kepercayaanku."


"Jadi sekarang?"


"Tapi Nona Jesslyn sudah terlanjur hamil, bagaimanapun juga dia mengandung anak Mas dan Mas tetap harus bertanggung jawab."


Shehan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Lilis kemudian meninggalkan suaminya setelah mengatakan sesuatu dengan tegas. Bahkan, dia sendiri tidak menyangka bisa bertindak sedewasa ini.


**


'Aku bahkan sampai menggunakan siasat agar Shehan mau bersamaku. Tapi Lilis, apa hebatnya si Lilis itu! Dia tidak mau, tapi Shehan terus memaksa menciumnya!'


Jesslyn yang sedang patah hati duduk di salah satu kursi di depan meja bartender. Meminum banyak vodka dan mabuk-mabukan di sana. Dia benar-benar patah arang. Sudah bersusah payah mau mendapatkan Shehan, agaknya semua upayanya sia-sia.


Sudah tak terhitung banyaknya Vodka yang dia minum. Jesslyn juga lupa kalau dia sedang mengandung. Yang ada di benaknya saat ini hanya ingin melampiaskan segala kegundahan hatinya.


Esok pagi.


Bentangan selimut yang kusut menjadi tempat pelabuhan terakhir Jesslyn. Wanita itu terbaring lelap sehabis mabuk-mabukan semalam suntuk. Tidak pulang ke rumah Shehan, melainkan pulang ke rumah pribadinya sendiri. Sesaat setelahnya, Jesslyn mengerjap beberapa kali. Ia terbangun sebab merasakan sakit dan nyeri pada perutnya.


"Aakh ...." Jesslyn merintih selagi matanya hendak terbuka dengan sempurna. Keningnya mengernyit, raut mukanya meringis. Keningnya pun berkeringat dingin.


Tangan lemahnya merayapi bagian perutnya yang masih dalam posisi telungkup. Lantas Jesslyn berbalik badan menjadi telentang. Betapa terkejutnya wanita itu ketika melihat pakaian yang ia kenakan sudah berlumuran darah. Rembesan darah itu juga sampai meresap di sprei.


"Hah! Aku kenapa?" Jesslyn tercengang panik memandangi kondisinya.


"Aakh ... sakit!" rintih Jesslyn lagi menahan nyeri di perut.


Curiga ada yang tidak beres, Jesslyn pergi ke rumah sakit seorang diri pagi itu juga. Dia langsung dibawa ke unit gawat darurat untuk mendapatkan penanganan serius.


Beberapa saat kemudian.


Seorang dokter ditemani perawat tengah berdiri di samping tempat tidur Jesslyn dirawat. Dengan berat hati dokter tersebut menjelaskan apa yang telah terjadi.


"Nyonya, di mana suami, Nyonya?"


Malu karena hamil sebelum menikah, Jesslyn terpaksa berbohong. "Suami saya sedang berada di luar kota, Dokter. Bagaimana dengan kondisi saya, Dokter?"


"Maaf Nyonya, apa Nyonya sering minum minuman beralkohol?"


Tadinya Jesslyn enggan menjawab. "Hanya sesekali, Dokter."


"Nyonya, betapa buruknya pengaruh minuman beralkohol bagi wanita hamil seperti Nyonya. Akibatnya kehamilan Nyonya menjadi taruhannya."


"Maksud Dokter?" Jesslyn khawatir.


"Maaf, Nyonya. Nyonya mengalami keguguran."


"Apa! Saya keguguran?" Jesslyn menganga tak percaya.


"Ya, Nyonya. Tetapi karena usia kehamilan Nyonya belum mencapai sepuluh Minggu. Jadi tidak perlu dilakukan tindakan kuretase. Janin yang tertinggal di dalam rahim akan keluar secara alami dalam waktu satu atau dua Minggu. Kami juga akan memberikan obat-obatan untuk membantu prosesnya, Nyonya."


'Bagaimana ini? Shehan pasti akan langsung mengusirku kalau tahu aku sudah tidak hamil.'


"Benarkah saya keguguran, Dokter?" Jesslyn bertanya sekali lagi, ingin meyakinkan dirinya sendiri.


"Benar, Nyonya. Kami sudah melakukan pemeriksaan fisik dan juga USG. Dari hasil pemeriksaan memang benar Nyonya mengalami keguguran. Perbanyaklah istirahat, Nyonya. Konsumsi obat pereda nyeri dan hindari berhubungan seksual. Agar kondisi kesehatan Nyonya bisa cepat membaik."


Jesslyn menunduk, mengangguk lemah beberapa kali. "Ya, Dokter."


"Kalau begitu, saya permisi keluar sekarang, Nyonya. Agar Nyonya bisa beristirahat. Bila Nyonya butuh sesuatu, silakan hubungi perawat."


"Terima kasih, Dokter."


Selepas kepergian Dokter dan perawat dari kamar Jesslyn, tinggallah Jesslyn seorang diri merenungi nasib buruknya.


'Bagaimana ini? Bagaimana caraku agar bisa tetap tinggal di rumah Shehan? Shehan tidak boleh tahu kalau aku keguguran.' Jesslyn membatin sedih.


***


BERSAMBUNG...