Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 78 : Kematian Jody Abraham



Sebelum kembali ke Tanah air, Lilis dan Shehan menyempatkan diri untuk membeli buah tangan khas Turki. Shehan sebagai suami sekaligus warga negara Turki, begitu setia memandu serta menyarankan apa saja yang bisa Lilis beli sebagai oleh-oleh.


"Belilah teh Turki yang banyak, Sayang! Supaya Ibumu bisa puas menikmatinya dan bisa dibagikan pada saudara yang lain juga."


"Iya, Mas," jawab Lilis dengan gembira. Ia memasukkan banyak kotak-kotak teh Turki ke dalam troli belanja yang Shehan bawa. Selain teh, mereka juga membeli beberapa jenis olahan buah kering dan makanan khas Turki lainnya seperti turkish delight--berjenis makanan penutup serta marzipan--pasta almond.


Ada juga permen kastanye--permen yang terbuat dari chestnut. Diambil dari sekitar Gunung Uludag, lalu direbus dalam sirup gula, safranbolu lokum--saffron unik dengan rasa berbeda karena adanya tambahan pistachio dan kelapa. Tak lupa beberapa barang yang memang diperuntukkan sebagai oleh-oleh salah satunya adalah sutra foulards, tembikar iznik dan lampu kaca mosaik.


"Hah! Sudah cukup, Mas!" Lilis terkesiap melihat banyaknya benda-benda khas Turki yang dia beli, nyaris menggunung. Untung saja Shehan baik hati, tidak menyalahkan istrinya saat keasyikan membeli berbagai macam barang ini dan itu.


"Yakin sudah selesai? Kalau kamu masih mau, kita bisa membeli yang lain."


"Tidak, Mas!" Lilis menolak sambil menggeleng beberapa kali. Sudah pusing sendiri melihat isi troli belanja mereka, "sudah cukup, Mas. Tidak usah beli lagi."


Shehan hanya tersenyum anggun. "Ya, sudah. Ayo, kita ke kasir!"


"Ya, Mas."


Shehan mendorong troli belanja diikuti Lilis yang merangkul lengannya di samping.


**


Sekembalinya dari bulan madu di Turki, Lilis menyempatkan diri untuk berkunjung ke Banyuwangi dengan mengajak serta Nurbanu--yang sudah mereka jemput di Jakarta, setelah dua hari sejak kepulangan Lilis dan Shehan ke Tanah Air. LiIis ingin memberikan oleh-oleh khas Turki yang sudah dia beli secara langsung untuk ibu dan adiknya.


Kedua orang terdekat Lilis itu tentu senang meski mereka tidak ikut pergi berlibur. Setidaknya, melihat kebahagiaan yang terpancar dari aura Lilis sudah bisa membuat Nining dan Doni ikut bahagia.


"Bu, ini sedikit oleh-oleh dariku dan Mas Shehan." LiIis menyerahkan bingkisan berisi buah tangan khas Turki kepada Nining di ruang tamu rumah. Doni--adik Lilis juga ada di sana, duduk bersebelahan dengan Nining.


"Wah, Lis, apa ini?" Nining antusias menerima bingkisan dari Lilis.


"Teh Turki dan makanan ringan, Bu. Mas Shehan ingin supaya Ibu bisa mencicipi teh dari negaranya."


"Terima kasih banyak ya, Lis. Tolong sampaikan juga pada Suamimu, terima kasih banyak untuk oleh-olehnya. Semoga rezeki kalian berdua semakin dilancarkan ya, Nak."


"Iya, Bu. Oh ya, teh Turki itu ada banyak. Jadi Ibu bisa membaginya juga dengan saudara yang lain dan tetangga baru di sini."


Di tengah percakapan yang sedang berlangsung, tiba-tiba muncul suara panggilan dari luar. Tepatnya di depan toko kelontong milik Nining yang dibangun atas permintaan Shehan dan terletak di dekat pintu pagar rumah.


"Bu Nining, beli, Bu!"


Para penghuni ruang tamu spontan menoleh ke sumber suara.


"Don, ada yang beli, Don!" Nining menepuk lengan anaknya beberapa kali. "Layani dulu, ya!"


"Iya, Bu." Doni--adik Lilis bangkit, meninggalkan ruang tamu rumah untuk melayani pembeli. Kemudian terdengar sayup-sayup pembicaraan mereka. "Mau beli apa, Bu Leni?"


"Minyak goreng ya, Don."


"Iya, Bu."


"Tolong kasih yang dua liter, ya. Masih mahal harga minyak ya, Don?"


"Tidak, Bu. Sudah turun. Sudah ada berita pemberitahuannya dari pemerintah di TV."


"Oh, baguslah! Kalau begitu, sekalian sama beli sabun mandi tiga ya, Don."


"Iya, Bu."


"Ma, beli jajan, Ma! Ma, beli jajan, Ma!"


"Iya, tunggu sebentar ya. Nanti kalau ada sisa uang kembalian, Mama belikan jajan!"


"Sekarang dong, Ma!"


"Tunggu sebentar, Nak. Nanti uangnya tidak cukup!"


Doni senyum-senyum sendiri. Memang keberuntungan berpihak pada si anak sebab uang kembalian Bu Leni ternyata cukup banyak.


"Ini Bu kembaliannya."


Setelah menghitung uang tersebut, Bu Leni akhirnya mengizinkan anaknya untuk membeli jajan. "Ya, sudah. Kamu mau beli jajan apa, Nak?"


"Permen coklat, Ma. Sama es krim."


Bu Leni pun menuruti permintaan anaknya dengan membeli permen dan dua buah es krim. "Nanti es krimnya kasih satu sama Kakak, ya! Jangan rebutan!"


"Iya, Ma."


Selesai melayani pembeli, Doni bergabung ke ruang tamu lagi. Ikut menyimak pembicaraan kakak dan ibunya.


"Iya, Lis. Kamu sama Nurbanu menginap saja, Lis. Besok baru pulang ke Bali," ajak Nining. Tetapi ditolak secara halus oleh Lilis.


"Lilis juga maunya seperti itu, Bu. Tapi kasihan Mas Shehan kalau LiIis di sini. Nurbanu juga harus masuk TK lagi besok, sudah lumayan lama tidak ke sekolah."


Nining menoleh anak sambung Lilis. Nurbanu sendiri asyik bermain ponsel, tidak mau memperdulikan perbincangan orang dewasa.


"Iya juga sih, Lis. Ya sudah, lain kali sempatkan waktu untuk menginap ya, kalau datang lagi ke sini."


"Iya, Bu."


Pukul 14.00 siang, Lilis dan Nurbanu sudah berangkat lagi, pulang ke Bali dengan menggunakan mobil yang dikemudikan oleh Pak Maman. Shehan memang tidak bisa ikut karena sibuk mengurus pekerjaan kantor yang sempat tertunda.


Namun sayang, kebahagiaan Lilis tidak berlangsung lama. Sekembalinya dari Banyuwangi, Lilis kembali mendapati dirinya mimisan. Bukan hanya sekadar mimisan, persendian Lilis juga ikut terasa nyeri.


Awalnya Lilis pikir hal ini lumrah terjadi karena dia baru saja menghabiskan hari yang cukup melelahkan di Turki. Hingga mimisan itu terjadi selama tiga hari berturut-turut, Lilis mulai bimbang dengan dugaannya.


"Sebenarnya aku kenapa? Seringkali mimisan ini terjadi," keluh Lilis pada dirinya sendiri. Dibuangnya tisu berlumur darah yang baru saja dia gunakan untuk menyeka mimisannya ke dalam kloset. Takut kalau Shehan melihatnya jika Lilis membuang tisu tersebut di tong sampah toilet.


'Apa lebih baik aku pergi ke dokter saja untuk memeriksakan kesehatanku?' Lilis melihat arloji yang melingkari pergelangan tangan kirinya, 'sekarang masih jam sembilan pagi. Masih sempat ke rumah sakit sebelum menjemput Nurbanu di sekolah TK.'


kali ini LiIis bertekad dan tidak ragu lagi. Namun sebelum itu, Lilis menunggu mimisannya reda selama beberapa saat, baru bertolak ke rumah sakit dengan diantar oleh Pak Maman.


Malam hari.


Berita mengejutkan tiba-tiba muncul di layar televisi ketika seluruh anggota keluarga Shehan tengah duduk di ruang tengah selepas makan malam.


'Selamat malam, Pemirsa. Sekilas info kembali hadir di sela-sela aktivitas Anda, bersama saya Tania Novika Sari yang akan memberikan berita-berita terbaru dan teraktual seputar dalam dan luar negeri.'


'Telah terjadi sebuah kecelakaan lalu lintas di Jalan Raya Cilincing, Kali Baru, Jakarta Utara tepatnya sore ini, pukul 17.45 Waktu Indonesia Barat. Menurut informasi yang kami dapat dari hasil penyelidikan oleh pihak kepolisian di tempat kejadian perkara, kecelakaan lalu lintas tersebut telah menelan korban jiwa sebanyak dua orang yang satu di antaranya adalah seorang penyanyi terkenal ibu kota bernama Jody Abraham. Sementara tiga lainnya mengalami luka-luka.'


***


BERSAMBUNG...