
Sudah seminggu semenjak kedatangan Sarah ke rumah Shehan dan Sarah belum datang lagi hingga kini. Sejak itu pula LiIis selalu mendapati anak sambungnya--Nurbanu terlihat lemas kurang bersemangat. Pulang dari sekolah TK pun, Nurbanu tidak bergairah seperti biasanya. Ia jarang bicara sampai-sampai guru TK-nya--Bu Sekar mengeluhkan sikap Nurbanu yang seperti ini pada Lilis.
"Bu Lilis, saya perhatikan selama seminggu ini Nurbanu terlihat berbeda dari biasanya."
"Berbeda bagaimana, Bu Guru Sekar?"
Kedua wanita itu bercakap-cakap di ruang konseling seusai jam pelajaran. Bu Sekar menjelaskan kalau di kelas, Nurbanu sekarang adalah murid yang paling lama selesai mengerjakan tugas. Padahal sebelumnya Nurbanu termasuk murid yang aktif. Dia juga jarang bergaul dengan teman-temannya di jam istirahat. Lebih memilih menghabiskan waktu sendirian di dalam kelas seraya menggambar sesuatu.
"Begitu ya, Bu?"
"Ya, Bu LiIis. Saya kira Nurbanu jadi lebih pemurung. Pernah saya tanyakan perihal tersebut pada Nurbanu, tetapi Nurbanu diam saja dan menggeleng beberapa kali. Maaf Bu LiIis, saya mau bertanya. Apa di rumah sedang ada masalah yang membuat Nurbanu jadi seperti ini?"
Lilis menghela napas panjang. Ia ingat kejadian tiga hari lalu. Saat itu seperti biasa Lilis menceritakan dongeng pada Nurbanu sebelum anak sambungnya tidur. Kebiasaan ini sudah ada sejak LiIis masih menjadi baby sitter--Nurbanu.
Selesai menceritakan dongeng dan sudah Nurbanu terlelap, LiIis bangkit dari tepi ranjang, hendak meletakan buku dongeng yang telah dibacanya tadi ke rak buku di dekat rak hias yang penuh dengan beragam bentuk boneka.
Saat menyelipkan buku dongeng tersebut ke antara buku-buku yang lain, tak sengaja LiIis menjatuhkan satu buku gambar yang terselip tidak teratur.
"Eh, ada buku yang jatuh!"
Senyum tipis LiIis masih terukir kala mengambil buku gambar tersebut. Iseng--LiIis pun membuka buku, ingin melihat gambar yang telah Nurbanu buat. Selanjutnya LiIis terpaku dan membeku. Mengetahui ada banyak gambar sebuah keluarga utuh yang Nurbanu buat. Bahkan, di tiap-tiap gambar, Nurbanu menulis nama dari masing-masing anggota keluarganya.
'Papa--Nurbanu--Mama.'
Sama sekali tidak ada nama LiIis di sana. Ia pun sadar kalau posisinya sebagai ibu sambung tidak akan pernah bisa menggantikan posisi seorang ibu kandung.
'Nurbanu merindukan keutuhan keluarganya seperti dulu,' batin Lilis, pilu.
**
Ceklek!
Derit pintu menguar pelan ketika tuasnya ditarik perlahan oleh LiIis pagi ini. Seperti biasa ia masuk ke dalam kamar Nurbanu hendak membangunkan dan menyiapkan anak kecil itu agar berangkat ke sekolah TK Bunga Matahari.
"Nurbanu! Bangun, Sayang!" Lilis duduk di tepi ranjang. Menggoyang lembut lengan anak sambungnya, "Nurbanu, bangun! Sudah waktunya pergi ke sekolah."
Tangan LiIis yang tadi menggoyang lengan beralih memegang kening. Di saat kulit mereka bersentuhan, seketika itu pula Lilis terkesiap--merasakan suhu tubuh Nurbanu lebih tinggi dari biasanya.
"Nurbanu! Nurbanu!"
Beberapa kali LiIis memanggil, tetapi Nurbanu terus diam. Sontak hal itu membuat Lilis semakin panik.
"Nurbanu! Nurbanu!"
Lilis memanggil lebih kencang kali ini dan agaknya membuahkan hasil. Nurbanu mengerjap lemah seraya meringis.
"Kak Li--lis...," panggilnya pelan. Wajahnya tampak kesakitan
"Nurbanu kenapa, Sayang?"
Lagi--Lilis memegang kening Nurbanu dengan punggung tangannya. Ingin memastikan apa yang terjadi. Benar saja dugaan LiIis kalau anak sambungnya sakit. Suhu tubuhnya tinggi. Hawa panas dari tubuh Nurbanu bisa segera LiIis rasakan, tersalur ke punggung tangannya.
"Banu sakit, ya? Kenapa tiba-tiba jadi begini, Sayang?" Lilis cemas, "Kak Lilis panggil Papa dulu, ya!"
"Kak Li--lis...." Panggilan Nurbanu menghentikan langkah LiIis yang baru beranjak bangkit dari tepi tempat tidur, lantas menoleh lagi.
"Ya, Banu?"
"Banu ha--us, Kak," ringis Nurbanu. Tangannya berusaha menggapai Lilis.
"Haus, ya? Tunggu sebentar, Kak Lilis ambilkan air." Segera LiIis mengambil segelas air yang terletak di atas nakas lalu memberikannya pada Nurbanu. "Ayo, minum Banu!"
Lilis membantu Nurbanu duduk. Memegang gelas seraya menyuapi air ke mulutnya. Nurbanu perlahan meneguk air hingga beberapa kali untuk membasahi dahaganya. Setelah selesai, Lilis kembali meletakan gelas di atas nakas dan membaringkan Nurbanu.
"Nurbanu tunggu sebentar, ya! Kak LiIis panggil Papa dulu."
Nurbanu diam malahan memejamkan mata. Tidak acuh dengan perkataan LiIis. Lilis buru-buru beranjak pergi ke kamar utama. Menjumpai Shehan yang sedang berpakaian.
"Mas...." Lilis tergopoh-gopoh berjalan dari ambang pintu ke ruang berpakaian.
Shehan menoleh sekilas lalu kembali fokus menautkan kancing pergelangan tangan kemeja kerjanya. "Kamu sudah menyiapkan Nurbanu?"
"Itu yang mau kusampaikan, Mas," sahut Lilis saat jarak keduanya sudah dekat, "Nurbanu sakit. Sepertinya demam karena suhu tubuhnya tinggi."
"Demam?" Sekonyong-konyong Shehan terkesiap.
"Ya, Mas." Lilis masih mengernyit panik.
"Kamu sudah mengecek suhu tubuhnya?"
"Sudah, Mas."
"Aku akan telepon Dokter Made sekarang."
"Ya, Lilis."
Shehan mengambil gawainya yang tergeletak di atas meja rias. Sementara LiIis pergi lagi ke kamar Nurbanu. Diperiksanya suhu tubuh Nurbanu, kali ini dengan menggunakan termometer yang tersedia di lemari obat. Hasilnya justru membuat Lilis tambah cemas.
"Banu, Sayang." Lilis mengusap-usap kepala Nurbanu untuk memberi kenyamanan, "kasih tahu Kak LiIis kalau Banu perlu sesuatu, ya."
Nurbanu diam saja seraya masih memejamkan mata. Di satu sisi, Shehan menunda jadwalnya berangkat bekerja untuk menunggu Dokter Made--dokter keluarga datang. Untung saja Dokter Made cepat tanggap dan sedang tidak melayani pasien lain jadi bisa segera bertandang ke rumah Shehan.
"Selamat pagi, Dokter Made," sapa Shehan di teras utama rumah.
"Selamat pagi, Tuan Shehan. Siapa yang sakit?"
"Putri saya, Dokter."
"Oh, Nurbanu, ya?"
"Ya, Dokter. Silakan masuk!"
Dokter Made mengangguk singkat kemudian masuk ke dalam rumah. Ia mengikuti Shehan berjalan beriringan menuju kamar Nurbanu. Lilis senantiasa masih di sana, menjaga anak sambungnya.
Dokter Made lekas memeriksa kondisi kesehatan Nurbanu dengan menggunakan stetoskop. Menempelkan alat kedokteran itu di beberapa bagian tubuh. Pria yang bernama asli I Made Budi Sartika mengangguk beberapa kali setelah menyimpulkan sakit yang diderita Nurbanu.
"Bagaimana hasilnya, Dokter?" Shehan bertanya. Lilis yang berdiri di samping suaminya ikut khawatir, menunggu jawaban dokter tersebut.
"Nurbanu mengalami demam dan dehidrasi. Tubuhnya kekurangan cairan. Apa selama beberapa waktu ini pola makan Nurbanu tidak teratur?"
Shehan ingat terakhir kali Sarah datang, Nurbanu meminta Sarah agar tinggal bersama mereka lagi. Namun, penolakan Sarah telah membuat Nurbanu kecewa dan sedih. Sejak malam itu, Nurbanu merajuk, mulai tidak mau makan. Mesti dibujuk bahkan dipaksa, barulah Nurbanu mau makan.
"Ya, Dokter. Akhir-akhir ini Nurbanu memang sulit disuruh makan," jawab Shehan.
"Sekarang saya berikan obat untuk Nurbanu, tetapi tolong diperhatikan dan dijaga pola makannya agar menjadi teratur. Perbanyak juga asupan cairan karena penyebab Nurbanu demam berawal dari panas dalam."
"Baik, Dokter."
Dokter Made menyimpan kembali stetoskop miliknya ke dalam tas. Tak ketinggalan memberikan obat-obatan yang diperlukan. Selesai bertugas, Dokter Made pamit pergi. Shehan mengantarnya sampai ke teras utama rumah. Sedangkan Lilis pergi ke dapur, menyiapkan makanan untuk Nurbanu.
Beberapa saat kemudian.
"Lilis, tolong jaga Nurbanu. Aku akan menghubungi Sarah juga agar bisa bergantian denganmu menjaga Nurbanu."
"Ya, Mas. Aku pasti akan menjaga Nurbanu dengan baik."
"Terima kasih sebelumnya, LiIis."
Lilis mengangguk singkat. "Ya, Mas."
Dua kali Shehan mengusap pundak Lilis, sebagai salam perpisahan. Pria Turki itu beranjak meninggalkan kamar Nurbanu, akan bertolak ke kantornya untuk bekerja.
Selagi Sarah belum datang, Lilis dengan telaten menyuapi Nurbanu makan bubur. Meski awalnya Nurbanu menolak, LiIis dengan sabar membujuk anak sambungnya agar mau makan.
"Ayo, makan Nurbanu! Kak Lilis sudah buatkan bubur yang enak untuk Banu."
"Tidak mau, Kak Lilis. Mulut Banu rasanya pahit!" Nurbanu menutup mulutnya dengan kedua tangan sembari menggeleng beberapa kali.
"Banu harus makan supaya cepat sembuh. Kalau sudah sembuh, kita pergi jalan-jalan sama Mama Sarah. Banu mau ikut, tidak?"
"Jalan-jalan sama Mama Sarah?"
"Ya, Banu."
"Sama Papa juga?"
Lilis menghela napas dalam. "Ya, Papa dan Mama Sarah nanti juga ikut."
Usaha LiIis untuk membujuk anak sambungnya berhasil. Nurbanu terlihat lebih bersemangat dan akhirnya mau makan.
"Yeay! Mau, Kak Lilis. Banu mau makan."
"Sekarang buka mulutnya, ya! Akh...."
"Aakhh...."
Nurbanu patuh--membuka mulutnya. LiIis menyuapi sedikit demi sedikit bubur yang telah dia buat. Meniupnya beberapa kali ketika masih tampak asap menguar dari atas bubur yang telah disendok.
'Cepatlah sembuh, Nurbanu. Sebentar lagi, kamu akan menemukan kebahagiaanmu.' Lilis membatin--menutupi haru biru perasaannya sendiri dengan sikap tegar yang dipaksakan agar terlihat kuat di depan orang lain.
***
BERSAMBUNG...