Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 54 : Siasat



Satu sudut bibir Jesslyn terangkat naik, lalu mengembang membentuk seulas senyum sempurna. Di bola matanya terbias cahaya ponsel yang sedang menyala. Jesslyn melihat sebuah foto dan foto itu telah membuat suasana hatinya menjadi senang.


"Kau memang sudah merobek surat itu, Shehan. Tapi aku masih punya bukti lainnya."


Ternyata Jesslyn masih menyimpan foto surat perjanjian pernikahan antara Shehan dan Lilis, yang pernah dia lihat terpampang di atas meja kerja Shehan tempo hari. Dengan masih adanya foto surat tersebut serta memanfaatkan Nurbanu, Jesslyn tak putus asa mencari kesempatan agar dekat dengan Shehan lagi.


Esok paginya, seraya mengajak Nurbanu masuk ke dalam ruang berpakaian yang ada di kamar utama, Jesslyn memainkan peran dalam drama yang dibuatnya sendiri.


"Papa ...."


Shehan seketika terkesiap melihat putrinya digandeng oleh Jesslyn. Ia melihat Jesslyn sekilas lalu memeluk Nurbanu yang sedang memeluknya.


"Banu, kenapa ke sini?"


Jesslyn yang berada di antara mereka tersenyum lebar.


"Diajak Tante Jesslyn, Papa."


Surai mata Shehan melirik tajam ke pucuk. "Kenapa kau membawanya ke sini?"


Jesslyn menghampiri, tak segan ia membenarkan simpul dasi Shehan yang belum terbentuk dengan benar. "Aku hanya ingin mengajaknya untuk melihatmu pagi ini."


"Lepaskan aku! Aku tidak butuh perhatianmu!" Shehan berkata pelan nyaris berbisik sambil berusaha menjauhkan tangan Jesslyn.


"Ada Nurbanu di sini, apa kau mau menunjukkan sikap kasarmu di depan putrimu?" Jesslyn menyeringai.


"Jadi kau sengaja memanfaatkan Nurbanu?" Shehan mengernyit tidak senang.


"Tidak Shehan, jangan terlalu berburuk sangka."


Di saat itu Lilis tiba-tiba masuk ke dalam ruang berpakaian yang sama.


"Eh ... Nona Jesslyn! Mas!" Ia terkesiap mendapati wanita berambut blonde itu sedang merangkai dasi Shehan. Ditemani oleh Nurbanu pula.


Shehan juga terkejut melihat kehadiran Lilis, tetapi tidak bisa mengusir Jesslyn karena tidak ingin terlihat kasar di depan putri semata wayangnya.


"Pagi Lilis!" Jesslyn berbasa-basi.


"Kak Lilis!" Nurbanu berlari kecil, melingkarkan tangannya ke pinggang Lilis.


Dengan lembut, Lilis membelai kepala Nurbanu. "Banu, ayo, kita sarapan! Sebentar lagi Bus TK-nya datang."


"Eum ...." Nurbanu mengangguk sekali. "Ayo, Kak!"


Lilis melirik Jesslyn yang masih betah memberi perhatian pada suaminya. Lalu mengalihkan pandangannya pada Shehan sendiri. "Mas, menu sarapannya sudah selesai dihidangkan."


"Ya, pergilah ke ruang makan lebih dulu. Ajak Nurbanu juga. Nanti aku akan menyusul," jawab Shehan.


Air muka Lilis sedikit murung ketika harus melihat suaminya masih berduaan dengan Jesslyn. "Baiklah, Mas," balasnya pelan.


Lilis memilih mengalah. Sembari mengajak Nurbanu, ia pergi dari ruang berpakaian menuju ruang makan. Jesslyn tentu gembira merasa menjadi pemenang. Namun, tak lama senyum gembira itu dibiarkan terus mengembang oleh Shehan. Saat Lilis dan Nurbanu sudah tidak kelihatan batang hidungnya, Shehan dengan tegas menyingkirkan tangan Jesslyn darinya.


"Lepaskan aku!"


"Shehan!" Sontak Jesslyn merutuk sebal.


"Kuingatkan kau! Jangan lakukan ini lagi! Apalagi memanfaatkan Nurbanu untuk mendekatiku."


"Jadi apa yang harus kulakukan agar hubungan kita membaik seperti sediakala?" Jesslyn mengiba.


"Cukup diam dan jaga jarak dariku."


Shehan bergegas meninggalkan Jesslyn sendirian di ruang berpakaian. Jesslyn pun bersungut-sungut melihat punggung Shehan menghilang di balik tikungan tembok. Sementara Lilis yang sudah tiba di ruang makan dan sedang menyuapi Nurbanu, malah berpikiran aneh tentang kedekatan Shehan dan Jesslyn tadi.


'Mas Shehan bilang Nona Jesslyn bukan kekasihnya. Tapi dia mau saja diperhatikan wanita itu. Sedangkan denganku dulu, Mas Shehan tidak mau aku membantunya berpakaian,' gerutu Lilis selagi melamun.


**


Malam hari.


Mbok Tum datang menghampiri Lilis yang sedang mengaduk teh hangat di dapur. Ia menyodorkan sebuah kartu undangan warna emas kemudian.


"Non Lilis, tadi siang waktu Non pergi menjemput Non Nurbanu di sekolah TK, ada orang datang mengantar kartu undangan ini. Katanya ini buat Non Lilis, tapi Mbok lupa memberitahu. Baru teringat kartu undangan itu pas Mbok lihat masih ada di atas meja hias."


Lilis mengambil kartu undangan itu dan melihatnya sebentar. "Siapa yang mengantar ke sini, Mbok?"


"Satu laki-laki dan satu perempuan. Yang perempuan bilang, katanya dia teman Non Lilis."


"Temanku?"


"Iya, Non."


Untuk menjawab rasa penasarannya, Lilis lekas membuka kartu undangan pernikahan tersebut. Terdapat dua baris nama yang ditulis dengan tinta hitam di sana.


'Desi Widyasari dan Anton Hermansyah.'


"Oh, iya. Perempuan ini memang temanku di Banyuwangi, Mbok. Dia merantau juga ke Bali." Lilis membenarkan perkataan Mbok Tum usai membaca nama calon mempelai pengantin perempuan.


"Maaf ya, Non. Baru kasih tahu sekarang. Mbok cepat lupa."


"Oh, iya Non. Itu tehnya mau untuk siapa?"


Lilis menoleh secangkir teh yang tadi diaduknya. "Ini untuk Mas Shehan."


"Mau Mbok yang mengantarkannya ke ruang kerja Tuan, Non?"


"Tidak usah, Mbok. Biar aku saja. Sekalian mau memberitahu Mas Shehan kartu undangan ini juga."


"Baiklah, Non."


Lilis kemudian pergi sambil membawa nampan berisi secangkir teh hangat serta kartu undangan. Niat Lilis ingin meminta Shehan untuk menemaninya datang ke pesta pernikahan temannya. Akan tetapi, Shehan yang sudah tidak enak hati malah mengusirnya.


Tok! Tok! Tok!


"Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan! Jangan ganggu aku! Aku sibuk bekerja!"


Lilis tertegun bingung melihati daun pintu ruangan kerja Shehan yang tertutup rapat. 'Mas Shehan kenapa? Aku bahkan belum memanggilnya tapi dia sudah mengusirku.'


Dengan membawa nampan berisi secangkir teh yang masih penuh, Lilis bertolak ke dapur lagi dengan perasaan kecewa.


Kilas balik sepuluh menit yang lalu.


Jesslyn lagi-lagi sambil membawa serta Nurbanu, mendatangi Shehan di ruang kerjanya. Bukan hanya sekadar mendatangi, Jesslyn ternyata sudah membawakan minuman hangat lebih dulu.


"Selamat malam, Shehan."


"Selamat malam, Papa."


Jesslyn menyelonong masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu. Shehan seketika menautkan alisnya dan hanya membalas sapaan ala kadarnya.


"Malam!"


"Shehan, aku bawakan kopi untukmu. Supaya tidak mengantuk," imbuh Jesslyn.


"Kenapa Nurbanu juga ke sini?"


Jesslyn bertukar pandang dengan anak kecil itu sebentar. "Nurbanu bilang dia ingin bertemu denganmu."


"Taruh kopinya di atas meja!"


Jesslyn meletakan secangkir kopi yang dia bawa di atas meja kerja Shehan. "Ini sudah tidak terlalu panas. Kau bisa langsung meminumnya, Shehan."


Dada Shehan membusung lalu mengempis dengan cepat. Dia menahan dongkol dalam dada, untuk menjaga wibawa di depan putrinya.


"Nurbanu, keluarlah dulu! Papa mau bicara dengan Tante Jesslyn sebentar."


"Ya, Papa."


Nurbanu menjauh dari Jesslyn, keluar dari ruang kerja Shehan, menuruti perintah ayahnya. Ketika sudah tinggal berdua dengan Jesslyn, Shehan bangkit dari duduknya, menghampiri serta menghardik wanita itu.


"Kau terlalu licik, Jesslyn! Kau menggunakan anakku untuk memuluskan rencanamu!"


"Licik apanya? Kau bahkan tidak berterima kasih padaku!"


"Aku tidak menyuruhmu membawakan minuman untukku!"


"Aku memang sengaja memberikan perhatian padamu."


"Tapi kau sudah keterlaluan dengan melibatkan Nurbanu!"


"Kalau tidak begitu, kau akan terus menolakku! Semua yang kulakukan pasti salah di matamu. Aku akan segera menikah denganmu, Shehan. Jadi mulailah kembali akur denganku."


"Menikah denganmu? Apa kau bermimpi?"


"Tidak, setelah anak ini lahir, aku akan minta pertanggungjawabanmu untuk menikahiku."


"Kita masih belum tahu siapa ayah dari anak itu."


"Kalau terbukti bayi yang ada di dalam kandunganku adalah anakmu, bukannya kau harus bertanggung jawab?"


Shehan membuang muka kesalnya dari Jesslyn. Jesslyn berdecak ringan untuk meredam suasana tegang di antara mereka.


"Jangan lagi menghindar, Shehan. Aku tahu seorang pengecut bukanlah tipe sifatmu. Aku yakin saat kau tahu kalau anak ini adalah anakmu, kau pasti akan menikahi aku."


Jesslyn mengusap lengan Shehan, menyeringai padanya.


"Singkirkan tanganmu! Keluar dari sini sekarang juga. Aku mau bekerja!"


"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Jangan lupa minum kopinya, ya!"


Jesslyn keluar dari ruangan kerja Shehan setelah melempar senyum genit. Hal itu semakin membuat Shehan hilang perasaan padanya. Dan malangnya, ketika Lilis datang selepas kepergian Jesslyn, Shehan berpikir kalau Jesslyn-lah yang datang hendak menggangunya lagi.


***


BERSAMBUNG...