Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 85 : Saputangan Nugie



Muka Shehan kusut saat tiba di depan pintu rumah Nugie yang masih tertutup rapat.


Ting Ning! Ting Ning!


Beberapa kali bunyi bel ditekan menghasilkan suara yang tidak sabar. Shehan menunggu, diam dan cemburu. Apa yang dipikirkan seorang Lilis Ekawati hingga tidur di rumah pria lain dan sejak siang tidak ada kabar--pikir Shehan. Sekalinya berkabar, malah hal yang kurang mengenakan yang Shehan dengar.


Nugie dari dalam rumah sedikit terburu-buru. Ia tahu bunyi bel sudah agak cukup lama ditekan--sekitar lima menit yang lalu dan pastinya seseorang sedang menunggu upayanya untuk membuka pintu dari balik potongan kayu berbentuk persegi panjang tersebut.


Ceklek!


Sepasang mata Nugie langsung disuguhi raut ketat Shehan usai pintu dibuka.


"Masuklah!" kata Nugie seraya menggerakan kepalanya mengarah ke dalam rumah.


Shehan diam dan wajahnya masih kusut saat menjejakkan langkah pertamanya memasuki area ruang tamu rumah Nugie. Satu lirikan yang kemudian berubah menjadi tolehan tak percaya--mengarah pada seonggok tubuh LiIis yang nampak nyaman terbaring--tidur di sofa.


'Cih! Bisa-bisanya dia enak-enakan tidur di rumah pria lain padahal sudah memiliki suami!'


"Maaf, aku tidak bisa mengantarnya pulang dan menyuruhmu ke sini."


Celotehan Shehan di dalam hati terpotong perkataan Nugie yang kini berdiri sedikit di belakang Shehan. Shehan meliriknya sekilas dan sekarang kedua pria itu sedang memperhatikan Lilis.


Shehan tidak berniat membalas perkataan Nugie ataupun sekadar berbasa-basi dengannya. Ia langsung menghampiri Lilis, hendak meraup gadis itu ke dalam gendongan. Namun, di saat yang bersamaan, gerakan usaha Shehan membangunkan Lilis dan membuatnya tersadar.


"Mas Shehan...." Betapa terkesiap Lilis dengan mata membola. Lekas Lilis bangkit dari tidurnya. Duduk sebentar di sofa bekas ia tiduri tadi hanya untuk membenarkan pakaiannya.


Shehan berdiri tegak--berkacak pinggang. Melihat istrinya dengan sorot mata menahan kesal. "Karena kamu sudah bangun, aku tidak perlu menggendongmu lagi. Ayo, pulang!"


LiIis yang sudah selesai membenarkan pakaiannya menyahut, "Iya, Mas." Bangkit--berdiri, mengikuti Shehan berjalan di belakang.


Saat Shehan melintasi Nugie, ia masih tidak mau bicara pada pria yang dianggap sebagai rivalnya dan telah membuatnya cemburu. Namun, untuk menghargai si empunya rumah, Shehan mengangguk singkat sebagai bahasa tubuh berpamitan.


Nugie membalas anggukan Shehan dengan mengangguk kecil sekali.


"Mas Nugie, terima kasih untuk nasi gorengnya, ya, dan maaf kalau aku merepotkan."


Nugie hanya tersenyum membalas ungkapan terima kasih LiIis yang diucapkan gadis itu dengan mimik wajah tulus. Ia ingin menjaga perasaan Shehan--yang sedang menoleh istrinya dengan ekspresi cemburu--agar tidak semakin curiga dengan kedekatan mereka.


Lilis mengangguk singkat, kembali menyusul Shehan yang sedang menunggunya. Ia terperangah ketika posisinya sudah menjangkau Shehan dan sedikit menengadah. Didapatinya alis Shehan tampak berkerut hampir bertaut.


'Wajah Mas Shehan sangar sekali! Siap-siap pasti aku akan diomelinya nanti!'


Lilis cepat tanggap akan arti tatapan kurang menyenangkan yang ditujukan padanya. Pasangan suami istri itu lantas melanjutkan langkah mereka yang tertunda. Kali ini benar-benar pergi dari kediaman Nugie Mahardika.


**


"Kenapa kamu bisa tidur di rumah pria itu, hah! Dari siang aku menghubungimu, tapi kamu abaikan. Sudah berkali-kali aku mengirim pesan, tapi tidak kamu baca. Sejak kapan kamu bersama pria itu, hah! Apa sejak siang? Hanya demi nasi goreng, kamu bahkan melupakan suamimu dan malah tidur di rumah pria lain!"


Lilis diberondong berbagai macam pertanyaan yang terkesan menyudutkannya dan menggiring opini kalau LiIis hanyalah wanita gampangan.


"Aku tidak sengaja bertemu Mas Nugie, Mas!"


"Tidak sengaja apanya?" bantah Shehan seraya masih mengemudi mobil dengan hati-hati, "kamu keluar rumah sejak siang dan pergi begitu saja. Tidak minta izinku dulu. Kenapa kamu tidak bilang kalau mau keluar? Karena mau bertemu Si Nugie itu, kan!"


"Jadi seperti apa? Jelas-jelas kamu tidur di rumah pria itu dan sebelum pulang kamu mengatakan terima kasih untuk nasi gorengnya. Apa kamu tidak malu? Sudah punya suami tapi malah ketahuan bersama pria lain dan tidur di rumahnya! Apa memang sifat aslimu seperti ini dan aku baru tahu sekarang!" Shehan lanjut mengomeli.


Meski Shehan tidak secara langsung menyebut LiIis sebagai wanita rendahan, tetapi secara tersirat perkataan pria itu sudah menjurus ke arah sana dan hal itu membuat hati LiIis terluka. Dengan cepat mata LiIis menganak sungai lalu dalam hitungan detik anak sungai itu mengalir deras melintasi pipi.


Shehan menoleh sinis saat tahu LiIis menangis.


"Kenapa kamu menangis? Sudah jelas kamu bersalah! Kenapa malah menangis!" Bukan membujuk, Shehan masih menyalahkan Lilis.


Lilis menyeka air matanya dengan gerakan tangan kesal. Kemudian berpaling ke arah kaca jendela mobil yang terletak di samping dekat pintu. Tidak mau melihat Shehan lagi. Sudah sangat jengkel pada pria itu.


"Hiks ... hiks ... hiks...."


Beberapa saat keduanya saling diam. Hanya suara isak tangis dan sesengukan Lilis saja mendominasi atmosfer hening dalam kabin.


Saat akan memasuki area pelataran rumah, hujan pun turun dengan deras. Shehan melajukan kemudi setir menuju garasi dan membiarkan mereka tetap berada di dalam kabin. Ditolehnya LiIis yang masih menangis selepas mematikan mesin mobil.


"Kemarilah! Jelaskan padaku dan jangan menangis lagi," ujar Shehan sudah mulai surut amarahnya. Ia bahkan hendak memegang wajah LiIis. Tetapi Lilis menepis tangan Shehan.


"Jangan sentuh aku!" cetusnya kesal lalu berpaling. Masih tidak mau melihat Shehan.


"Oh, sekarang kamu tidak mau kusentuh!" Shehan mengangguk beberapa kali.


Lilis melirik sedikit. Tolehan kedua ia terkejut. Sekonyong-konyong Shehan menangkup kedua pipinya, akan menciumnya.


"Mmpphh...." Lekas LiIis menutup mulut sementara tangan yang lain mendorong-dorong tubuh Shehan agar menjauh.


Di tengah upaya gencarnya untuk mencumbu LiIis, tak sengaja Shehan melihat ada sebuah benda yang terselip di dalam kepalan Lilis. Sontak Shehan menghentikan aksinya, beralih memperhatikan benda yang Lilis pegang.


"Apa itu?" Pandangan Shehan fokus.


Lilis sadar kalau yang Shehan maksud adalah selembar saputangan yang sedang dia pegang, lantas membuka kepalan tangannya.


"Itu saputangan, kan?" Shehan terperangah, "saputangan siapa? Apa saputangan milik pria itu?"


Sorot mata Shehan naik--mengintimidasi LiIis. Lilis kembali mengepal tangannya setelah yakin Shehan bertambah marah ada barang milik Nugie bersamanya.


"Hah! Bahkan saputangan pria itu pun ada padamu dan kamu pegang terus dari tadi! Sebenarnya apa hubungan kalian!" Emosi Shehan kian membludak.


Namun, LiIis bergeming dan berpaling. Ia tidak mau menjelaskan kalau saputangan itu diberikan Nugie tatkala Nugie menemukannya sedang menangis di halte bis. Sikap diam LiIis rupanya malah memperparah keadaan. Shehan memutar paksa posisi Lilis jadi menghadapnya.


"Akh!" Lilis mengerang--merasakan sakit pada kedua lengannya yang tengah dicengkeram Shehan.


"Katakan padaku! Apa hubunganmu dengan Nugie? Cepat katakan!"


Lilis gemetar melihat gelagat Shehan yang seperti akan menelannya hidup-hidup. Lilis belum pernah mendapati Shehan semarah dan seseram ini.


***


BERSAMBUNG...