
Sambil meringkuk di atas kasur single bed, Lilis masih menangis tersedu-sedu. Bulir-bulir kesedihan itu tanpa seizinnya terus membasahi wajahnya yang sembap. Sudah berkali-kali ia seka, tetapi tetap meleleh juga.
"Jangan menangis, Lilis! Jangan menangis, Lilis! Kamu adalah gadis kuat. Kamu tegar! Kamu pasti bisa menghadapi masalah ini. Kamu harus bangkit."
Gadis itu menghibur diri sendiri. Namun sayang, betapa pun kerasnya usaha Lilis, tetap tak terhibur. Begitu dalam luka di hatinya, tersayat oleh perbuatan Shehan. Bukan karena mereka tidak saling mencintai, tetapi cara Shehan yang keliru telah meluluhlantakan jiwa Lilis sampai terasa ngilu ke urat nadi.
'Dulu Hendra mempermainkan aku karena aku gadis miskin. Dia lebih memilih Tina yang berasal dari keluarga kaya. Dan sekarang Tuan Murad juga mempermainkan aku. Apa karena aku gadis miskin jadi orang lain bisa berbuat seenaknya? Apa yang harus kukatakan pada Ibu sekarang? Kasihan Ibu! Menjadi janda dan hidup serba kekurangan bukanlah keinginannya.'
Sangat banyak pertanyaan bergelayutan di otak Lilis. Batinnya mencari-cari jawaban atas nasib buruk yang menimpa dirinya. Sudah berlarut-larut Lilis berpikir, tetapi urung mendapatkan hasil.
Sedangkan di kamarnya, Shehan juga belum bisa tidur. Pria itu duduk di tepian ranjang seraya termenung. Shehan tahu ia salah dan dia pun merasa bersalah. Namun nahas, nasi sudah menjadi bubur. Lilis sudah sangat terluka. Gadis itu merasa terhina. Apapun yang akan Shehan lakukan untuk menebus kesalahannya pasti tetap akan salah di mata Lilis.
Lantas, apa yang harus Shehan lakukan sekarang?
Kalau pria itu memecat Lilis dan menganggap kesalahannya tidak pernah terjadi, sungguh itu adalah perbuatan seorang pecundang. Shehan pun tidak akan melakukan hal itu karena bertentangan dengan kepribadiannya. Ia ingin bertanggung jawab, tetapi Lilis menolak dibuatkan rumah.
**
Keesokan hari.
Lambaian tangan Lilis serta-merta mengiringi laju bus TK yang beranjak pergi menjauh dari hadapannya. Yang tersisa hanya bekas landasan ban bus itu saja. Lilis baru saja mengantar Nurbanu berangkat ke sekolah TK. Seiring penampakan bus yang sudah menghilang, seirama dengan senyum Lilis yang telah memudar.
Gadis itu hanya tersenyum tatkala melayani anak majikannya tadi dan sekarang, alasan Lilis dapat tersenyum telah pergi. Dihelanya napas panjang dengan tatapan kosong ke depan. Sedikit wajahnya tertekuk lalu berbalik badan, hendak masuk ke dalam rumah.
Perasaan Lilis masih uring-uringan. Kakinya bagai berat untuk melangkah. Sejak kejadian tadi malam, rumah Shehan Murad serasa tidak senyaman dulu bagi Lilis. Seperti saat pertama kali dia bekerja di rumah itu tepatnya enam yang bulan lalu.
Ada rasa canggung mengganjal di hatinya. Apalagi bila bertemu Shehan. Lilis bingung mesti bersikap bagaimana. Sialnya lagi, saat Lilis baru saja akan menapakan kakinya di teras rumah, Shehan tiba-tiba muncul dari ambang pintu utama. Sudah bersetelan rapi, terbalut jas warna abu tua.
"Tu--an Murad...," panggil Lilis refleks. Mendadak matanya membola.
Glek!
Saliva Lilis tertelan. Perlahan wajahnya menunduk. Oh, betapa kikuknya Lilis! Sampai tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Meski bergeming, Shehan juga melihat Lilis. Keduanya mematung sesaat, seolah buncah dengan perasaan mereka masing-masing. Lama saling berdiam diri, akhirnya Shehan mengalah dan bicara lebih dulu.
"Selamat pagi, Lilis."
"Pa--pagi, Tuan," jawab Lilis terbata. Tak berani mengangkat muka.
"Tadi malam aku belum selesai bicara. Masih ada yang ingin kukatakan padamu."
"Maaf, Tuan. Aku mau membantu Mbok Tum membereskan rumah. Permisi!"
"Tapi ... Lilis!" seru Shehan melihat kepergian Lilis. "Haah ...." Helaan napas kasarnya mengudara. Ia pun memalingkan muka, tak berniat mengejar gadis itu.
'Ini memang kesalahanku. Akan kupikirkan lagi cara untuk menyelesaikannya,' gumam Shehan dalam hati usai ditinggal Lilis di teras rumah. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda, menuju garasi mobil yang berada di samping teras rumah.
Usai berhasil menghindari Shehan, Lilis buru-buru masuk ke dalam kamar.
Ceklek!
'Maaf Tuan Murad. Aku belum sanggup bertatap muka dengan Tuan.' Lilis membatin dalam kegelisahannya.
Beberapa jam berlalu.
Sama seperti kejadian pagi ini. Lilis masih juga menghindari Shehan ketika ia, Nurbanu dan majikannya berada di ruang makan yang sama. Sambil melakoni kegiatan santap malam, sesekali Shehan melirik ke arah Lilis.
'Aku mau melihat reaksimu kalau pandangan kita bertemu. Apa kau masih tidak mau melihatku?'
Dalam hati Shehan berceloteh pada dirinya sendiri. Dan ketika tanpa sengaja Lilis menangkap sorot mata Shehan yang tengah membidiknya, bergegas gadis itu memalingkan wajah. Pura-pura sibuk menyuapi Nurbanu.
'Tuan Murad mencari-cari kesempatan terus.' Lilis membasahi bibirnya yang nyaris kering terus bermain kucing-kucingan bersama Shehan.
'Benar dugaanku. Dia masih tidak mau melihatku. Jangan lupa aku masih majikanmu.'
Shehan menarik pandangannya dari Lilis usai membatin. Kali ini pria itu berprinsip tidak akan mau melihat Lilis lagi selama waktu makan masih berlangsung. Shehan menancapkan garpu ke atas potongan sosis sapi, lalu memasukannya ke dalam mulut. Ia mengunyah dengan tenang meski suasana hatinya dilanda kesal.
**
Lusa pun tiba.
'Aku tidak bisa begini terus. Tidak boleh menghindar lagi. Aku dan Tuan Murad setiap saat pasti akan bertemu karena kami tinggal satu atap. Ini adalah rumahnya. Kalau memang aku tidak sanggup bekerja lagi di sini, lebih baik mengundurkan diri saja.'
Lilis membatin selagi mencuci piring. Tiba-tiba,
Prang!
"Hah!"
Gadis itu terkesiap. Mangkuk melamin yang sedang ia pegang jatuh ke dalam bak cuci piring. Suara gaduhnya spontan mengalihkan perhatian Mbok Tum yang tadi fokus memasak menu makan siang.
"Ada apa toh, Lis? Dari kemarin Mbok perhatikan kamu melamun terus," tanya wanita paruh baya itu lalu mengaduk masakan dengan spatula di dalam kuali.
Lilis menoleh gugup. "Maaf ya, Mbok. Aku tidak fokus bekerja." Bergegas diambilnya mangkuk yang jatuh tadi lalu dicuci kembali.
"Memangnya kamu kenapa? Baru putus dari pacar, ya?" Mbok Tum malah menggoda. Sorot mata genitnya menyergap Lilis.
Senyum pelik Lilis mencuat dari bibirnya yang berwarna merah muda. "Ah, tidak kok, Mbok. Mungkin aku kurang tidur saja. Belakangan ini susah tidur malam."
"Mandi air hangat sebelum tidur, Lis. Supaya bisa cepat tidur." Mbok Tum memberi saran selagi memindahkan hasil masakannya ke dalam mangkuk porselen berukuran besar.
"Ya, Mbok. Mungkin nanti malam akan aku coba kalau tidak bisa tidur lagi."
Bicara tentang nanti malam, mendadak terbesit sebuah ide di benak Lilis. Tetiba ia memiliki solusi untuk mengatasi masalahnya dengan Shehan.
'Aku akan bicara pada Tuan Murad nanti malam. Sudah kuputuskan aku akan mengundurkan diri. Mungkin cara ini adalah yang terbaik.'
***
BERSAMBUNG...