Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 20 : Salah Paham



Kepala Shehan sedikit melongok, mencoba ingin melihat ke dalam toliet wanita. Koridor yang sepi dan sesekali suara orang muntah-lah yang Shehan temukan. Tak pelak, pria itu memang mengkhawatirkan keadaan Tina yang berada di dalam sana sambil berjuang menahan sakit perut.


Itulah yang Shehan yakini. Tanpa sepengetahuan pria itu, Tina yang memang berada di sana sedang melakukan intrik berpura-pura muntah.


"Huek ... huek ... huek ...."


Saat melihat pantulan bayangannya sendiri di cermin, Tina menertawai dirinya yang sungguh lihai berakting bak bintang film.


'Hahaha! Kamu lebih pantas menjadi aktris sinetron saja, Tina. Ketimbang jadi perawat. Sinetron yang kamu bintangi pasti akan laris manis kalau kamu yang memerankannya,' puji Tina pada diri sendiri. Satu sudut bibirnya naik mengguratkan kelicikan.


Sedangkan Lilis yang masih berada di restoran tengah pusing tujuh keliling. Cemas memikirkan keadaan Tina, juga tak mampu membayar biaya tagihan untuk empat orang yang terbilang lumayan mahal.


'Duh! Bagaimana ini? Aku tidak punya uang mau membayar semua tagihannya. Tuan Murad juga masih di toilet menemani Tina. Mas Hendra sudah pergi duluan. Bagaimana ini?' racau otak Lilis di balik kernyitan yang memenuhi keningnya.


"Maaf, Mas. Saya telepon majikan saya dulu, ya. Supaya ke sini untuk bayar tagihan ini," terang Lilis meminta pengertian si pramusaji.


Untungnya lelaki muda itu memakluminya. "Silakan, Nona. Tapi Nona tetap harus ada di sini sampai majikan Nona itu datang."


"Iya, Mas. Aku di sini saja kok. Tidak kabur ke mana-mana. Tunggu sebentar, ya. Aku telepon dulu majikanku."


Lilis mengeluarkan ponsel dari dalam tas belanja lalu mendekatkan benda elektronik itu ke telinga. Ia resah, diam sambil mendengarkan nada dering panggilan yang terngiang dalam telinga.


Ddrrtt ... Ddrrtt ... Ddrrtt ....


Ddrrtt ... Ddrrtt ... Ddrrtt ....


Shehan yang masih dalam posisi sedang menunggu Tina di dekat pintu masuk toliet meraih ponselnya dari dalam saku jas bagian dalam. Cukup terkejut saat mengetahui kalau si penelepon ternyata adalah Lilis.


'Lilis? Kenapa dia meneleponku? Padahal sudah kubilang agar datang ke sini segera,' celoteh Shehan seraya menatap ke layar gawai.


Tak dibiarkannya ponsel itu berdering lebih lama lagi, Shehan menggeser tanda hijau yang terletak di sisi kiri bawah layar hendak menerima telepon dari Lilis.


"Halo, Lilis. Kenapa meneleponku? Bukannya aku tadi sudah menyuruhmu datang ke toliet bersama Hendra!" omel Shehan panjang lebar.


"Anu Tuan. Itu ... aku tidak bisa ke toilet karena dicegah pramusaji. Katanya kalau mau keluar, harus bayar dulu total tagihan pesanan meja kita. Uangku tidak cukup untuk membayarnya, Tuan."


Shehan baru teringat. "Ya sudah. Nanti aku ke sana menemuimu. Hendra di mana? Sudah kamu beritahu?"


"Sudah, Tuan. Mas Hendra sudah pergi duluan ke sana."


"Baguslah. Tunggu aku di sana, Lilis. Nanti aku saja yang membayar tagihan pesanan makanan kita."


"Ya, Tuan."


"Tina bagaimana, Tuan? Masih sakit perut?"


Dari arah belakang, Tina baru saja keluar dari toilet dengan gelagat orang sakit yang dibuat-buat. Diperhatikannya Shehan yang kelihatan punggungnya saja. 'Itu Shehan. Sedang telepon dengan siapa dia?'


"Entahlah, Tina masih di toilet." Sekonyong-konyong Shehan menoleh ke pintu toilet. Tampak Tina berjalan sempoyongan keluar dari sana. "Itu Tina. Dia sudah kembali. Sudah dulu teleponnya, Lilis. Aku mau memeriksa keadaan Tina."


"Baik, Tuan."


Tut ... Tut ... Tut ....


Tanpa menunggu Lilis, Shehan mengakhiri percakapannya di telepon. Bergegas menyambangi posisi Tina sembari memasukan lagi ponselnya ke dalam saku bagian dalam jas. Saat jarak keduanya sudah dekat, Shehan memang sempat membidik dada Tina yang tampak jelas dari balik pakaiannya yang basah.


Hal itu wajar sebab dia pria normal. Terlebih lagi ia yang sudah berstatus duda sejak dua tahun lamanya tidak pernah lagi merasakan belaian dan kehangatan seorang wanita di ranjang. Akan tetapi, Shehan dapat mengendalikan perasaan emosional jiwa laki-lakinya yang haus akan kasih sayang.


"Kamu sudah lebih baik, Tina? Bagaimana sakit perutmu?"


'Shehan kelihatannya sangat khawatir dengan keadaanku.' Tina kesenangan dalam hati. 'Baguslah, kalau begini aku jadi punya lebih banyak kesempatan untuk mendekatinya.'


"Sudah agak mendingan, Shehan. Tapi aku merasa lemas, terlalu banyak isi perutku yang keluar tadi. Rasanya kalau jalan mau jatuh. Pandanganku juga kabur." Berlagak lemah di depan Shehan seraya memijat pelan pelipisnya.


"Sini! Lingkarkan tanganmu di pundakku. Biar aku bantu kamu berjalan."


Shehan yang terjebak ke dalam permainan drama Tina dengan sukarela mengikhlaskan tangan Tina bergelayutan di pundaknya.


'Wah, senangnya!'


Shehan terkesiap spontan menoleh. "Untuk apa?"


"Tidak apa-apa. Cuma ingin mengobrol saja sesekali."


"Oh, kamu bisa mengobrol dengan Lilis. Kalian sama-sama perempuan pasti lebih cocok," tolak Shehan secara halus agar tidak membuat Tina tersinggung.


"Kalau mengobrol sama kamu langsung tidak boleh, ya?" goda Tina menyeringai genit.


"Bukan begitu. Kamu sudah punya suami dan aku sudah punya tunangan. Tidak enak dengan mereka nanti."


Tina mulai cemberut. "Kita berdua kan cuma mengobrol saja. Kenapa harus tidak enak? Sebenarnya aku dan Mas Hendra kurang cocok jadi pasangan."


"Kalau kurang cocok kenapa menikah?"


"Terpaksa karena dijodohkan orang tua." Wanita itu sampai berbohong demi memuluskan niatnya dan mendapatkan apa yang dia mau.


"Tapi kalian kan sudah menikah. Jalani saja dulu. Mungkin saja belakang hari bisa saling mencintai," saran Shehan. "Lagipula Hendra sepertinya menyukai kamu dan perhatian juga."


"Orang lain mungkin berpikir begitu. Tapi aku yang menjalaninya merasa tidak enak. Kamu sendiri kenapa memilih Lilis, sih? Masih banyak perempuan yang lebih cantik dari dia."


Shehan menghela napas. Masih sabar ia menghadapi pertanyaan bertubi-tubi dari Tina. "Ya, memang masih banyak wanita yang lebih cantik."


"Salah satunya aku. Kenapa kita tidak berhubungan saja di belakang mereka. Sepertinya kita berdua cocok." Akhirnya Tina berani mengutarakan maksud hatinya yang sebenarnya.


Tatapan Shehan mengarah intens pada wanita itu. Tak habis pikir kalau Tina ternyata merencanakan hal gila dan mau melibatkan dirinya. Tina sendiri merasa tak bersalah dan malah semakin berani memeluk perut Shehan.


"Lepaskan aku!" tepis Shehan menyingkirkan pelukan Tina dengan kasar.


"Akh!" decak Tina terkejut. Ia menganga, tak percaya kalau Shehan baru saja menolaknya. Tina pikir Shehan tidak akan melakukan itu karena dia merasa kalau dirinya cantik. Pasti Shehan akan terpikat dengan kecantikannya. Namun, kenyataannya di luar ekspektasi.


"Kamu tidak seharusnya begini. Walaupun kamu tidak mencintai Hendra, setidaknya kamu menghargai suamimu dan bicara baik-baik dengannya. Bukannya malah menikam dari belakang."


Sisi cerewet Shehan meledak. Ia tahu bagaimana rasanya dikhianati sebab Sarah-mantan istrinya dulu juga melakukan hal itu padanya.


"Shehan, aku lebih cantik dari Lilis. Kamu pasti tahu itu dan aku sudah berkata jujur lebih dulu padamu. Kalau kamu menolakku, itu artinya kamu bersikap munafik!"


"Aku tahu kamu cantik, tetapi Lilis punya hati yang lebih bersih dan cantik."


Tina semakin sebal dibandingkan dengan Lilis malahan kalah saing pula. Sekonyong-konyong ia memeluk Shehan lagi seraya menempelkan dadanya yang terlihat tadi ke tubuh Shehan.


"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" Shehan berusaha menjauhkan Tina, tetapi semakin dijauhkan semakin erat pelukan Tina.


"Jangan bohong padaku, Shehan. Aku bahkan bisa lebih baik dari Lilis tentang urusan ranjang. Kita bisa mencobanya dulu dan aku yakin, setelah itu kamu pasti akan lebih memilihku."


"Jangan bertingkah gila, Tina! Lepaskan aku atau aku akan berbuat kasar padamu. Tidak peduli walaupun kamu adalah perempuan."


Tina tidak menggubris dan malah mau menjamah bibir Shehan. Belum sempat bibir mereka bertabrakan, Shehan sudah lebih dulu menghempas Tina hingga tubuh wanita itu tercampak membentur dinding koridor.


Buk!


"Akh!" Mengerang sakit dan sialnya di saat itu Hendra datang.


"Apa yang kalian lakukan!" teriaknya murka.


Sontak pandangan Tina dan Shehan langsung mengarah pada Hendra. Tina yang jatuh terduduk di lantai sempat melirik Shehan yang tampak terkejut melihat kemunculan Hendra. Mau menyelamatkan diri, Tina berpura-pura kesakitan dan menangis di depan Hendra agar dibela.


"Akh! Aduh! Hu! Hu! Hu!"


"Shehan apa yang kamu lakukan pada istriku?" Hendra yang hanya tahu kalau Shehan telah mendorong istrinya ke dinding, tanpa aba-aba mengepalkan tangan lalu melayangkan pukulan tinjunya.


Buk!


***


BERSAMBUNG...