Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 34 : Mas Shehan



Selama mimisan yang Lilis alami tidak menimbulkan rasa sakit di tubuhnya, ia tidak akan memeriksakan diri ke dokter dan berpikir kalau hal itu akan pulih dengan sendirinya.


Lantas gadis itu menekan salah satu lubang hidung yang mengeluarkan darah dan mendongak. Berniat untuk menghentikan pendarahan yang terjadi. Biasanya hal itu berhasil dan kali ini pun setelah beberapa saat, mimisan Lilis akhirnya berhasil berhenti.


Satu jam kemudian.


Lilis duduk tenang di tepi ranjang sembari menunggu Shehan yang sedang merapikan rambut. Warna rambut pria itu tampak lebih gelap, hampir hitam ketika sedang basah. Tubuh tegapnya terbalut kemeja putih lengan panjang yang digulung bagian lengannya hampir mencapai siku. Celana panjang santai warna zaitun turut mendominasi. Aroma wangi sabun menguar di udara sampai tercium oleh Lilis.


'Tuan Murad wangi sekali!'


Kedua ujung bibir Lilis naik, menciptakan segaris senyum. Shehan yang dapat melihatnya dari pantulan cermin malah menduga hal aneh.


'Kenapa dia senyum-senyum sendiri? Apa dia sudah kena gejala gila?' batin Shehan saat melirik.


Usai Shehan meletakan sisir kembali di wadah plastik yang dipaku dekat cermin, Lilis menghampiri suaminya. Shehan pun menoleh kemudian berbalik badan. Keduanya saling bersemuka.


"Mas Shehan ...," panggil Lilis semringah.


Respon Shehan mengernyit heran. "Kenapa kamu memanggilku seperti itu?"


"Bukannya Tuan menyuruhku untuk memanggil dengan sebutan yang baru. Sudah kuputuskan, aku akan memanggil Tuan dengan sebutan Mas Shehan." Raut ceria Lilis kembali terukir.


"Mas Shehan ...." Pria itu tertegun mengulangi.


"Iya, Mas Shehan. Mas itu artinya sapaan hormat untuk laki-laki. Tapi kalau untuk pasangan suami istri, itu seperti panggilan karib," terang Lilis, lalu menunduk malu.


Shehan menaikkan satu alisnya, mengangguk pelan beberapa kali, tanda mengerti.


"Kalau aku memanggil Mas Shehan, Mas Shehan memanggil aku apa?" kelakar Lilis dengan manja.


Namun, bukannya menjawab dengan romantis sebagaimana pasangan pengantin baru lainnya. Shehan malah mengernyih tak menggubris.


"Ayo, kita keluar! Ibu dan Doni sudah menunggu kita."


Tidak menunggu jawaban Lilis, Shehan beranjak keluar kamar, meninggalkan istrinya di belakang. Lilis cuma bisa mencebik sebal, lalu ikut keluar kamar juga.


**


Karena tidak ada ruang makan, maka Nining menyajikan menu sarapan pagi yang telah dia buat di atas meja ruang tamu. Nasi hangat dalam bakul. Lauk-pauk serta sayur-mayur ditaruh di dalam mangkuk dan piring enamel. Terdapat gambar bunga yang cukup besar pada bagian tengah mangkuk dan piring, agaknya itu motif zaman dulu.


"Selamat pagi, Bu," sapa Shehan ramah, tatkala tiba.


"Eh, Tuan Murad." Nining bangkit "Silakan duduk, Tuan."


"Terima kasih, Bu." Shehan membalas, dialihkan perhatiannya pada Doni yang berada di hadapan. Pemuda itu tersenyum tipis sambil mengangguk singkat. Shehan lalu membalas dengan tindakan yang sama. "Selamat pagi, Doni."


"Selamat pagi, Mas," sahut Doni dengan intonasi pelan. Agaknya dia masih canggung.


Lilis kemudian muncul dengan rambut yang juga basah. Nining seketika terhenyak, tetapi gelagatnya malah jadi senang. 'Benar dugaanku, Lilis sudah belah duren tadi pagi, hihihi!'


"Lis, sini! Duduk di sebelah suamimu." Nining mengarahkan tangannya ke kursi kosong di sebelah Shehan.


"Baik, Bu."


Gadis itu menurut, duduk sesuai arahan ibunya. Nining juga ikut duduk di depan Doni, hendak memulai acara makan bersama.


"Tuan Murad, maaf kalau Ibu cuma bisa menghidangkan makanan ini." Nining merendah.


"Tidak apa-apa, Bu. Kebetulan saya juga tidak terlalu pemilih kalau soal makanan. Ibu, sekarang Ibu adalah mertua saya. Panggil saya cukup Shehan saja. Jangan lagi memanggil Tuan. Karena saya adalah anak Ibu sekarang."


"Ah ...." Nining tersipu, menoleh Lilis. "Ibu segan kalau memanggil nama."


"Tidak apa-apa, Bu. Tolong jangan segan. Dan ada satu hal lagi yang mau saya katakan. Sebelum menikah, saya sudah berjanji pada Lilis akan memberikannya hadiah pernikahan."


Lilis, Nining dan Doni saling bertukar pandang sejenak.


"Hadiah pernikahan?" Nining bingung.


"Iya, Bu. Waktu itu saya pernah berjanji akan membangunkan sebuah rumah atas nama Lilis di Banyuwangi. Tetapi karena Lilis akan tinggal bersama saya di Bali, lebih baik Ibu dan Doni saja yang menempati rumah itu."


Sekonyong-konyong Nining beralih pada putrinya. "Benar itu, Lis?"


"Iya, Bu. Benar. Sebelum menikah, Mas Shehan memang sudah merencanakan ini semua dan sudah memberitahu Lilis juga."


Sontak mata Nining berembun ketika kembali menatap menantunya yang kaya. Suara wanita paruh baya itu bergetar menahan tangis haru yang mau pecah.


"Te--terima kasih, Nak Shehan. Ibu sangat bersyukur Lilis menikah dengan Nak Shehan. Selama ini dia bekerja banting tulang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Sekarang sudah ada yang menanggungjawabi. Ibu bisa sedikit lega, tidak terlalu kepikiran Lilis lagi."


"Lilis adalah istri saya sekarang. Ibu dan Doni sudah menjadi keluarga saya juga. Saya akan berusaha membantu Lilis memikul beban yang selama ini ditopangnya sendiri."


"Sekali lagi terima kasih, Nak Shehan." Disapu Nining pucuk matanya, menyeka genangan air mata di sana.


"Nanti saya akan minta tolong asisten saya untuk mencarikan lokasi tanah yang bagus di Banyuwangi. Atau kalau Ibu ada keinginan sendiri untuk membeli tanah di lokasi mana, sesuai yang Ibu inginkan, Ibu bisa beritahu Lilis. Biar Lilis sampaikan pada saya."


"Kalau soal itu, Ibu tidak banyak permintaan. Terserah Nak Shehan dan Lilis saja. Kalau Ibu ini ya, tahu anak-anaknya hidup berkecukupan saja, sudah bersyukur. Sebenarnya juga, Ibu tidak mau memberatkan Nak Shehan dan Lilis."


"Sama sekali tidak, Bu. Ini memang inisiatif dan janji saya sendiri pada Lilis. Sekarang saya mau menepati janji itu. Dan untuk Doni." Shehan menoleh adik iparnya. "Belajarlah yang rajin. Soal biaya kuliah dan kebutuhan lainnya untuk sekolah, saya juga akan membantu."


Bak ketiban durian runtuh, Doni senang sekali mendengarnya. "Terima kasih, Mas. Terima kasih, Kak Lilis."


"Doni belajar sungguh-sungguh, ya. Supaya cita-cita Doni mau menjadi guru, tercapai." Lilis menimpali.


"Iya, Kak." Doni mengangguk dalam.


Nining tampak menyeka air matanya lagi sebab dilimpahkan kebahagiaan bertubi-tubi.


"Nak Shehan, Lilis, ayo, sekarang kita sarapan! Nanti keburu dingin makanannya," ajak Nining kemudian.


"Baik, Bu," balas Shehan yang sudah mulai lebih akrab dengan keluarga Lilis.


"Don, ayo, makan juga!" imbuh Nining lagi.


"Iya, Bu." Doni menyahut.


Lilis mengaduk permukaan nasi dengan centong. Mengambil sebuah piring lalu mengisinya dengan nasi hangat. Tak ketinggalan sayur-mayur dan lauk-pauk juga. Barulah dia memberikan piring itu pada suaminya.


"Silakan dimakan, Mas."


"Terima kasih, Lilis." Shehan menerima sodoran piring tadi.


Piring nasi untuk Nining dan Doni, juga diambilkan oleh Lilis. Lilis sendiri menjadi yang terakhir mengisi nasi ke piringnya.


"Ayo, silakan dimakan! Kalau mau tambah, ambil saja, ya. Jangan malu-malu." Nining membuka acara makan sarapan bersama. Keempat orang itu kemudian makan dengan tenang.


Di sela-sela acara makan, Doni iseng bertanya perihal bulan madu kakaknya.


"Bulan madu nanti, Kak Lilis sama Mas Shehan ke mana?"


"Uhuk!" Tetiba Lilis tersedak.


"Hush! Doni ...." Nining memperingatkan puteranya lewat decakan.


Shehan mengambilkan segelas air putih untuk istrinya. "Minum ini!"


"Iya, Mas."


Glek! Glek! Glek!


Lilis menandaskan air sampai tinggal setengah. Kemudian meletakkan gelas itu lagi di atas meja.


"Kami tidak buru-buru untuk pergi bulan madu Doni. Sementara saya harus menyesuaikan dengan jadwal pekerjaan di kantor juga." Shehan menjawab.


"Begini saja, hari ini Nak Shehan dan Lilis jalan-jalan saja di Banyuwangi. Mumpung masih libur kerja. Besok baru pulang ke Bali." Nining menyarankan.


"Iya, Bu. Kami akan jalan-jalan di sekitar sini saja. Lagipula Mas Shehan belum sempat diajak ke pusat kota waktu itu."


Lilis menoleh suaminya, Shehan pun mengangguk setuju.


"Ibu dan Doni ikut saja! Biar kita jalan-jalan bersama-sama."


"Ah, tidak usah. Ibu sama Doni bisa jalan-jalan lain waktu. Kalau Lilis dan Nak Shehan kan, pengantin baru. Jadi harus dinikmati."


Lilis menunduk, tersipu malu.


***


BERSAMBUNG...


Terima kasih sudah memberi jawaban atas pertanyaan kemarin. Yang menjawab selain Mas, tenang saja. Karena kata Mas dan Abang pun, artinya tetap sama. Hanya pengucapannya berbeda.


Dukung terus cerita Lilis, ya. Dengan cara memberi like, vote dan komentar. Semakin banyak komentar, semakin semangat Author mengetiknya. (^_^)