Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 15 : Getaran Hati



Melihat secercah kemurungan terbit di paras Lilis, entah mengapa Shehan menjadi kasihan. Sejujurnya, ia juga kurang menyukai penampilan Lilis yang dianggapnya kampungan. Namun, bukan salah gadis itu juga. Lilis tak punya uang lebih untuk mempercantik diri sendiri.


Semua orang tahu perawatan kecantikan itu mahal dan pastinya menelan banyak biaya. Apalah daya seorang Lilis yang hanya bekerja sebagai baby sitter. Gaji yang dia terima pun tidak bisa dia hamburkan untuk menyenangkan diri sendiri. Masih ada ibu serta adik Lilis yang mesti gadis itu tanggung biaya hidupnya.


Setelah ayah Lilis wafat tujuh tahun silam, Lilis dengan kesadarannya mengambil alih tanggung jawab untuk menopang perekonomian keluarga. Mengemban status sebagai tulang punggung lantas membuat Lilis harus bekerja keras sampai lupa untuk memanjakan diri sendiri.


"Angkat wajahmu!" titah Shehan pada Lilis yang sedang menunduk sedih.


Gadis itu menurut, mendongakan kepalanya. Shehan kemudian memperhatikan lekat-lekat tiap inci garis wajah Lilis. Meski Lilis masih bermuram durja, tetapi tak menutupi kilau kecantikan natural yang dia miliki.


'Sebenarnya Lilis tidak terlalu jelek. Dia cuma kurang berdandan saja,' gumam Shehan dalam hati.


"Apa kamu membawa lipstik?" tanya Shehan sebab melihat aura pucat gadis itu. Mungkin bila ditambahkan sedikit pewarna, bias pucat tadi akan sedikit berkurang.


Namun sayang, jawaban Lilis menggeleng pelan.


"Kenapa tidak bawa? Biasanya perempuan membawa kotak bedak dan alat make up seperlunya kalau mau berpergian." Shehan mengernyit heran. Baru kali ini dia menjumpai perempuan sepolos Lilis.


Dikatakan demikian oleh Shehan, Lilis jadi semakin sedih. "Aku tidak punya lipstik, Tuan."


'Apa? Yang benar saja? Bisanya seorang gadis tidak punya lipstik,' gerutu Shehan menambah garis kerutan di dahinya.


"Ya sudah. Nanti aku belikan untukmu. Sekarang kita selesaikan masalah ini dulu. Tidak mungkin kamu terus berada di dalam kamar pas ini untuk menghindari mantan pacarmu. Kamu harus keluar dan berani menghadapinya."


Lilis menghela napas panjang. Otaknya menimang-nimang ucapan Shehan. Sangat masuk akal apa yang dikatakan oleh pria itu barusan. Lilis pun menjadi lebih terbuka pikirannya usai dinasihati.


"Baiklah, Tuan. Aku akan berusaha berani menghadapi kenyataan ini," ungkap Lilis. Kemantapan hatinya tersirat dari sikap yang lebih bersemangat ketimbang tadi.


"Tapi sebelum itu, akan sedikit kuperbaiki penampilanmu."


Shehan berangsur mendekat, menyisakan jarak dua sentimeter saja di antara dirinya dan Lilis. Ia menarik karet pita yang mengikat simpul kepangan gadis itu.


"Akh ...." Lilis berdecak kaget, refleks menoleh ke belakang.


Seketika rambut Lilis tergerai bebas membingkai wajahnya. Helaiannya tebal berwarna hitam legam. Sangat pas bersanding dengan kulit Lilis yang kuning langsat.


Aksi Shehan tak berhenti sampai di situ. Dengan telaten ia menyisir rambut Lilis dengan belaian jemari. Setiap kumpulan rambut yang masuk ke dalam sela jari, Shehan tarik perlahan agar rapi. Belaian demi belaian ia lakukan.


Lilis yang berdekatan dengan Shehan terperanjat. Sepasang netra hitamnya tak berkedip menatap sekelumit perhatian yang terukir di mimik wajah Shehan.


Dag! Dig! Dug!


Mendadak Lilis gugup tak menentu. Di relung kalbu, ia tidak menginginkan perasaan itu terjadi. Namun, siapa yang tidak akan bergetar hatinya bila diperlakukan dengan manis oleh pria tampan yang biasanya bersikap dingin, tak acuh pula.


Belum lagi ketika tatapan mereka saling bertemu. Sejenak Shehan berkedip, seolah membuka tirai. Sementara di balik tirai kelopak itu, manik coklat Mudanya menampung cahaya terang yang berasal dari nyala lampu, membuat bola mata Shehan menjadi jernih bersinar.


'Matanya bagus sekali! Warna coklat muda yang bening.' Kekaguman Lilis menari dalam keheningan.


Sesaat setelahnya Lilis pun sadar telah dirayapi belenggu godaan. Ia tak boleh membiarkan rasa kagum itu berlarut-larut menghinggapi hatinya. Takut menjelma menjadi sebuah bumerang yang menyerang dirinya sendiri.


Perlahan raut buncah Lilis menekuk, mengitari lantai. Demi meredam debaran yang melanda seisi jiwa. Diam-diam dikepalnya tangan, rasa sakit akibat kepalan itu memberitahu Lilis tentang batasan. Batasan perasaan yang boleh terjadi dan yang tidak.


Shehan tidak membalas dengan kalimat, melainkan dengan memberikan untaian senyum tipis. "Ayo, kita keluar!"


"Eum ... ya, Tuan."


Dehaman Lilis menyertai anggukan singkat. Keduanya bersama-sama keluar dari kamar pas hendak menuju meja kasir. Kebetulan, Hendra dan istrinya-Tina yang masih berada di dalam butik terkesiap saat tak sengaja melihat mereka.


"Lilis!" panggil Hendra cukup kencang, sorot matanya fokus mengamati sang mantan pacar yang berdiri bersama seorang pria.


Begitupun Tina, ia ikut menoleh ke arah pandangan suaminya berlabuh. "Eh, itukan Lilis!" timpalnya kemudian.


Lilis yang menjadi objek pengelihatan pasangan selingkuh yang kini resmi menjadi pengantin baru, bertukar pandang dengan Shehan. Shehan pun mengangguk lemah, mengisyaratkan bahwa Lilis harus berani melangkah maju. Tidak ada yang perlu ia takuti. Apalagi gadis itu tidak sendirian. Ada Shehan yang mendampingi.


Lilis kembali bersirobok dengan kedua tetangganya. "Mas Hendra, Mbak Tina. Apa kabar?" Sapaannya meluncur ketika sudah berdekatan dengan kedua orang tersebut. Bagai reuni, keempatnya berkumpul di dekat kamar pas butik.


"Aku baik. Tidak sangka bisa bertemu kamu, Lis, di Bali. Kebetulan aku dan Tina sedang berbulan madu ke sini," tutur Hendra dengan ramah.


"Iya, Lis. Kami memang pernah mendengar katanya kamu merantau ke sini. Tidak tahunya sekarang jumpa." Tina menimpali perkataan suaminya.


"Iya, Mas Hendra, Mbak Tina. Sudah setengah tahun aku merantau ke sini. Oh iya, selamat atas pernikahannya. Maaf kemarin tidak bisa datang ke acara resepsi Mas dan Mbak."


"Tidak apa-apa, Lis," balas Tina lagi.


"Lagipula kamu memang jauh di Bali." Hendra kemudian menyeret pandangannya pada sosok Shehan yang sedari tadi berdiri di samping Lilis. "Ini siapa, Lis?" tanyanya penasaran.


Lilis menoleh majikannya. "Oh, ini---"


"Aku tunangannya." Shehan memotong ucapan Lilis. Jawabannya tegas malah serta-merta menggenggam tangan kiri gadis itu.


'Tuan Murad ....' Melihat dengan sorot mata tak percaya, Lilis terperangah mendengar penuturan Shehan.


"Tunangan Lilis?"


Bukan hanya Lilis, Hendra rupanya juga terkejut. Bisa terbaca dari intonasinya yang meninggi.


"Ya, kami baru saja bertunangan." Shehan menutupi jari-jari Lilis dengan telapak tangannya agar tidak kentara berbohong, sebab di jari itu tidak ada cincin pertunangan yang melingkar.


"Wah, selamat ya, Lis! Nanti jangan lupa undang kami, ya." Tina menyampaikan segenap suka citanya.


Lilis kembali bertukar pandang dengan Shehan. Mereka bersama-sama menunjukan keharmonisan. "Iya, pasti kami undang."


Di sisi lain, Hendra diam-diam mengamati Shehan yang tak dia sangka kalau pria berpakaian jas eksklusif nan mentereng itu adalah tunangan Lilis. Dari atas kepala sampai ujung kaki, Hendra menyadari kalau Shehan bukanlah pria dari kalangan biasa. Kulitnya yang halus bahkan sudah bisa menjelaskan kalau pria itu tidak pernah bekerja banting tulang di bawah sinar matahari yang terik.


'Hebat juga Lilis, bisa mendapat tunangan orang kaya. Tapi sepertinya umur mereka lumayan jauh berbeda. Tunangannya kelihatan sangat dewasa. Jadi Lilis berpacaran dengan om kaya setelah putus denganku,' batin Hendra. Senyum piciknya mencuat.


***


BERSAMBUNG...