
Nurbanu asyik memainkan sebuah permainan anak-anak di aplikasi gawai ibunya, sambil duduk di sebelah bangku kemudi kabin depan mobil. Mulai siang ini sampai minggu depan, anak kecil itu akan tinggal bersama Sarah.
Sementara di luar mobil, Sarah sendiri tengah bersemuka dengan Lilis. Sarah berdiri menyandar di badan mobil berjenis SUV warna putih dan Lilis berada di depannya. Kedua wanita itu melakukan perbincangan ringan setelah jam belajar Nurbanu di sekolah TK Bunga Matahari usai.
"Shehan memang sudah mengatakannya padaku, kalau hubunganmu dan dia akan dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Aku ikut merasa senang. Ibu Nurbanu akan bertambah dan yang sayang pada Nurbanu akan lebih banyak nantinya."
Keramahan Sarah terbias di rautnya yang tak pernah lepas dari riasan wajah. Senyum tipis menutup kalimat yang ia ucapkan pada Lilis. Serta-merta sorot matanya bersinar terang, mengungkapkan bahwa ia tulus mengikhlaskan niat mantan suaminya untuk menikah lagi.
Meski awalnya sempat ragu dengan hubungan Lilis dan Shehan, akhirnya Sarah mempercayai penjelasan pria itu kemarin siang, yang mengatakan bahwa sudah cukup lama berhubungan dengan Lilis.
Lilis sedikit menunduk, tersipu malu.
"Mbak Sarah, aku mau minta izin sama Mbak. Mau menikah dengan Tuan Murad dan akan menjadi ibu sambung Nurbanu. Aku berharap, aku dan Mbak Sarah bisa bersama-sama menjaga Nurbanu. Dan kalau ada yang belum kupahami, tolong ajari aku dan mohon bimbingannya ya, Mbak."
Lilis memanglah gadis yang lugu nan rendah hati. Perangainya lembut serta tulus menyayangi Nurbanu. Kualitas dirinya sungguh baik. Sebab itu pula Sarah juga menyukai kepribadian pengasuh putrinya itu.
"Ya, Lilis. Selama aku tidak ada di Bali, tolong jaga Nurbanu baik-baik, ya. Kasih tahu apa saja perkembangannya di sekolah dan di rumah. Kamu juga bisa menghubungiku lebih dulu kalau ada yang mau disampaikan tentang Nurbanu. Jangan sungkan lagi karena kita berdua akan sama-sama menjadi ibu Nurbanu."
Dalam kesahajaan, Lilis mengedipkan mata perlahan. Terharu mendengar ucapan Sarah barusan. "Iya, Mbak. Terima kasih Mbak sudah berkenan mau menerimaku jadi ibu sambung Nurbanu."
Seketika senyum Sarah mencuat lebih lebar. "Tentu saja, Lilis. Aku sudah hidup bahagia bersama Jody--suamiku. Aku juga ingin Shehan dan Nurbanu hidup bahagia juga. Kalau mereka bahagia bersamamu, tentu saja aku mendukungnya."
"Iya, Mbak. Sekali lagi terima kasih."
"Oh ya, sekarang sudah jam makan siang," terang Sarah setelah melihat arloji yang melingkari pergelangan tangan kirinya. "Makan siang sama-sama, yuk!"
Di dalam hati, teringin Lilis mengiyakan ajakan Sarah. Namun, gadis itu ingat kalau Shehan menyuruhnya ke mall bila jam pelajaran Nurbanu telah usai.
"Eum ... maaf, Mbak. Tapi aku sudah ada janji lain siang ini. Mungkin lain kali, aku tidak akan menolak ajakan Mbak Sarah lagi."
"Baiklah Lilis, tidak apa-apa. Kalau begitu, aku berangkat duluan, ya!"
"Iya, Mbak. Hati-hati di jalan!"
"Hhmm ...."
Anggukan pelan mengiringi dehaman Sarah yang kemudian masuk ke dalam mobilnya lalu duduk di bangku kemudi. Sebelum melajukan kendaraan roda empat itu menuju badan jalan, Sarah membuka kaca jendela mobil dan menyuruh Nurbanu berpamitan pada Lilis.
"Sayang, pamit dulu sama Kakak," ujarnya seraya membelai rambut Nurbanu yang dikepang dua pada sisi kiri dan kanan.
"Iya, Ma," sahut Nurbanu, patuh pada ibunya. Anak kecil itu kemudian melongok ke arah jendela mobil sembari melambaikan tangan pada Lilis beberapa kali.
"Kak Lilis, aku pulang sama Mama, ya!"
"Iya, Nurbanu. Hati-hati di jalan. Jangan terlambat makan dan tidur siang yang cukup, ya!" seru Lilis dari luar, semringah.
"Iya, Kak. Dah ... Kakak!"
"Dah ... Nurbanu!"
Balasan lambaian tangan Lilis mengudara sejenak. Lalu terhenti tatkala kaca jendela mobil Sarah bergerak menutup lagi. Cukup lama Lilis masih melihat kepergian mobil itu, sampai menghilang tertutup oleh kendaraan roda empat lain. Selanjutnya barulah ia masuk ke dalam mobil yang biasa digunakan untuk menjemput Nurbanu dan diantar oleh Pak Maman.
'Mudah-mudahan Tuan Murad tidak kelamaan menungguku di sana. Kalau kelamaan, Tuan Murad pasti marah nanti,' gerutu Lilis tak tenang.
"Sekarang kita ke mana, Non?" tanya Pak Maman dari kabin depan seraya melihat Lilis dari kaca spion.
Kegalauan Lilis pun buyar, tersentak suara pria paruh baya itu. Lantas ia menoleh pada Pak Maman yang masih memperhatikannya dari kaca spion.
"Oh ... sekarang kita ke mall ya, Pak. Tuan Murad menyuruh ke sana."
Pak Maman menyalakan mesin mobil, melajukannya ke luar area parkir menuju jalan raya yang tampak cukup ramai siang ini. Bukan hanya kendaraan roda empat, para pesepeda motor juga banyak berseliweran menghuni badan jalan.
**
Beberapa saat kemudian.
Lilis memilih turun di area pintu masuk bagian depan mall. Tidak ikut Pak Maman yang harus memarkirkan mobil di rubanah. Langkah kakinya berayun menjejaki lantai marmer yang kilap. Sebentar ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari-cari keberadaan Shehan.
Akan tetapi, sosok pria Turki itu tidak Lilis temukan. Agaknya Shehan belum tiba di lokasi atau sudah masuk ke dalam mall lebih dulu. Entahlah, Lilis tidak tahu. Untuk mengakhiri kebingungannya, gadis itu mengeluarkan gawai dari dalam tas selempang yang ia sampirkan di pundak sebelah kiri. Hendak menelepon majikannya.
Ddrrtt ... Ddrrtt ... Ddrrtt ....
Belum jua Lilis menggeser tombol layar kunci, gawai milik Lilis sudah berdering lebih dulu. Ternyata panggilan itu berasal dari Shehan yang ingin memastikan apakah Lilis sudah tiba atau belum. Tak membuang waktu, lekas gadis itu menjawab panggilan telepon dari majikannya.
"Halo, Tuan."
"Lilis, kamu sudah sampai di mall?" tanya Shehan yang masih berada di mobil, tengah menuju ke mall yang sama.
"Sudah, Tuan."
"Tunggu aku di sana. Sekitar lima menit lagi aku sampai."
"Ba---"
Tut ... Tut ... Tut ....
Belum selesai Lilis menyempurnakan kata "Baik" dari mulutnya, Shehan sudah lebih dulu menutup panggilan telepon itu.
'Apalah Tuan Murad ini, buru-buru sekali menutup telepon!' celoteh Lilis selagi melihat layar gawai yang masih terang oleh cahaya lampu.
Lilis menekan tombol layar kunci, seketika cahaya gawai itu ikut padam. Barulah ia menyimpan benda elektronik itu kembali ke dalam tas selempang.
Gadis itu celingukan beberapa kali, melempar pandangannya jauh ke depan. Kalau-kalau Shehan telah tiba. Namun, sekitar sepuluh menit Lilis menunggu, Shehan baru tampak batang hidungnya. Seorang pria turun lebih dulu, membukakan pintu kabin belakang mobil sedan hitam itu.
"Silakan, Tuan."
"Terima kasih."
Beberapa pengunjung mall antusias melihat kemewahan kendaraan roda empat milik Shehan, terutama para gadis belia. Mereka berbisik seraya senyum-senyum sendiri tatkala Shehan turun dari sana.
Sudah tampan, kaya raya pula. Shehan memang sosok idaman semua wanita. Penampilannya mentereng, wangi parfumnya semerbak ditambah lagi cara jalannya yang berwibawa. Orang lain pasti bisa menebak kalau pria itu bukanlah sosok sembarangan.
Lilis yang sudah sedari tadi menunggu Shehan, turut melihat antusias para gadis belia di sana. Sekonyong-konyong senyum nakalnya tersungging. Ia pun mencandai dirinya sendiri.
'Tampan kan, Tuan Murad? Tapi hati-hati, kalau sudah marah, singa pun kalah.'
"Psshh ... hihihi!" Tak dapat mengontrol rasa ingin tertawa. Cepat Lilis berpaling lalu cengengesan di balik telapak tangan yang menutupi mulutnya.
Shehan yang sudah berada di belakang Lilis, mengernyit heran melihat sikap gadis itu. "Kenapa kamu tertawa?" sergahnya.
Sontak kedua mata Lilis membulat, tahu orang yang sedang ditertawakannya sudah berada di belakangnya. 'Mati aku! Tuan Murad!'
Bergegas Lilis berbalik badan, lalu mendapati tatapan tajam milik majikannya.
***
BERSAMBUNG...