
Sebuah kompres air hangat yang baru saja diperas airnya, Lilis letakan di kening Nurbanu. Sudah sedari tadi ia duduk di tepi ranjang--mengompres seraya menemani anak sambungnya yang tengah terbaring sakit sambil menunggu kedatangan Sarah. Sebelumnya Sarah telah diberitahu oleh Shehan perihal sakit Nurbanu.
"Ma ... Mama...."
Suara parau menguar berasal dari bibir kering Nurbanu yang meski tengah terjaga dalam tidurnya, namun sesekali mengigau--memanggil sang ibu.
"Kasihan, Nurbanu."
Lilis menjadi sangat tidak tega melihat betapa berat beban psikis yang harus Nurbanu tanggung akibat perceraian kedua orang tuanya hingga menyebabkan anak kecil itu sakit seperti ini. Lantas diraihnya tangan kanan Nurbanu lalu LiIis menggenggamnya erat. Berharap kehangatan tangannya dapat menggantikan kasih sayang Sarah yang belum tiba hingga kini.
'Mbak Sarah, cepatlah datang. Nurbanu sangat merindukan Mbak,' batin Lilis terenyuh. Sorot mata prihatinnya tak sekalipun lepas dari Nurbanu.
Setelah cukup lama menunggu, sekitar lima belas menit kemudian Sarah datang dengan membawa makanan serta buah-buahan. Sarah menyerahkan makanan dan buah yang dia bawa pada Mbok Tum agar ditempatkan di wadah yang layak. Selanjutnya Sarah langsung pergi ke kamar Nurbanu.
Tok ... tok ... tok....
Bunyi jejakan sepatu stiletto di lantai menyentak LiIis yang tadi melamun. Bunyi jejakan itu terdengar buru-buru.
'Mungkin Mbak Sarah yang datang.'
Lilis menoleh ke pintu kamar Nurbanu yang saat ini tertutup rapat.
Ceklek!
Daun pintu yang tadi tertutup seketika dibuka oleh Sarah yang datang dengan mengenakan sepatu stiletto warna magenta. Selaras dengan gaun yang membalut tubuh langsingnya.
"Mbak Sarah!" Sontak Lilis semringah, bangkit dari duduknya.
"Bagaimana kabar Nurbanu, Lilis?" tanya Sarah, lekas menghampiri.
Sebentar Lilis menoleh anak sambungnya. "Suhu tubuhnya masih cukup tinggi, Mbak. Aku sudah mengompresnya, tetapi belum juga turun. Nurbanu juga memanggil-manggil Mbak Sarah selagi tidur," papar Lilis.
Sarah menghela napas dalam, kasihan melihat putrinya tergolek lemah di ranjang. Biasanya Nurbanu akan langsung memeluk Sarah dengan girang bila tahu Sarah datang. Sekarang mata anak kecil itu terkatup dan wajahnya pucat.
Sarah duduk di tepi ranjang--sama seperti Lilis tadi. Ia meletakan punggung tangannya di kening Nurbanu, ingin memastikan sendiri kondisi putrinya dan ternyata benar. Suhu tubuh Nurbanu masih cukup tinggi.
"Apa Dokter sudah datang memeriksanya, Lilis?"
"Sudah, Mbak. Kalau Nurbanu tahu Mamanya ada di sini, Nurbanu mungkin akan segera sembuh," ujar LiIis.
"Ya, LiIis. Aku juga berharap seperti itu. Oh, ya...." Sarah mengalihkan perhatiannya pada LiIis yang berdiri di sampingnya, "kamu pasti lelah dari tadi sudah menjaga Nurbanu. Biar aku yang menjaganya sekarang, Lilis. Kamu bisa istirahat."
"Tidak apa-apa, Mbak. Aku tidak lelah." Lilis segan jikalau harus pergi di saat genting seperti ini.
"Tidak apa-apa, LiIis. Kamu istirahat saja agar bisa menjaga Nurbanu malam nanti karena aku tidak bisa tinggal di sini."
Menyadari hal itu, timbul keinginan LiIis untuk menyuruh suaminya--Shehan agar mengizinkan Sarah menginap di rumah mereka selama Nurbanu sakit. Lilis pun mengutarakan niatnya melalui sambungan telepon. Percakapan mereka tidak berlangsung lama karena Shehan cepat menyetujui usul LiIis.
Lilis beranjak keluar kamar utama, hendak mendatangi kamar Nurbanu serta memberitahu Sarah tentang usulnya ini. Namun, siapa sangka dengan tegas Sarah menolak.
"Maaf, Lilis. Aku tidak bisa menginap di rumah ini meski kamu dan Shehan sudah mengizinkanku. Aku tetap akan pulang ke rumahku sendiri."
"Ini semua demi Nurbanu, Mbak. Kalau Nurbanu melihat Mbak Sarah setiap saat, dia pasti akan segera sembuh."
"Tidak, LiIis. Aku akan datang ke sini lagi besok. Tapi aku tidak akan menginap di sini." Sarah bersikeras.
"Mbak Sarah, meskipun tidur, tapi dari tadi Nurbanu memanggil-manggil Mbak terus. Aku kasihan pada Nurbanu, Mbak. Dia sangat merindukan ibunya."
"Aku minta maaf karena sudah seminggu tidak datang menjenguk Nurbanu. Setelah ini aku akan menjenguknya lebih rajin."
"Mbak Sarah, aku punya satu permintaan. Tolong jangan salah mengerti dengan permintaanku ini."
Sekonyong-konyong Sarah mengernyit. "Permintaan apa, Lilis?"
Tidak langsung bicara, LiIis memantapkan hatinya terlebih dahulu selama beberapa saat. Sementara Sarah terlihat penasaran menunggu kelanjutan perbincangan LiIis.
Bagai petir menyambar di siang bolong, Sarah amat terkesiap. "Apa maksudmu menyuruhku kembali pada Shehan, Lilis?" Alisnya berkerut hampir bertaut, menggambarkan suasana hatinya yang mendadak penuh kecamuk.
"Aku ... aku ingin Mbak kembali pada Mas Shehan." Lilis ragu setelah melihat ekspresi tegang Sarah.
"Apa kamu merendahkan aku? Karena sekarang statusku seorang janda, jadi kamu menyuruhku kembali pada Shehan!" Sarah sampai meletakan tangannya di dada. Bergegas Lilis minta maaf sudah menyinggung perasaan Sarah.
"Maaf, Mbak Sarah. Maksudku bukan itu. Sekali lagi aku minta maaf." Lilis mengatupkan kedua belah telapak tangan di depan dada, "aku melakukan ini semata-mata demi Nurbanu, Mbak."
"Lilis, suamiku--Jody belum lama meninggal dunia dan aku masih berduka atas kepergiannya. Kenapa kamu tega memberi saran seperti ini?"
Sarah menangis dan itu membuat Lilis semakin merasa bersalah. Ia ikut menangis juga.
"Maaf, kalau Mbak Sarah sudah prasangka. Maksudku bukan apa-apa, Mbak. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang sesungguhnya menjadi penyebab Nurbanu sakit dan keinginan Nurbanu yang dipendamnya selama ini, Mbak."
"Hiks ... hiks ... hiks...." Sarah terisak menyeka air matanya, "kalau memang ini semua adalah demi Nurbanu. Aku akan pikirkan cara lain untuk membuatnya sembuh dari luka psikis ini. Tapi tidak untuk kembali pada Shehan."
"Aku mohon, Mbak. Pikirkanlah dulu!"
"Tidak, Lilis. Kurasa percakapan kita soal Shehan tidak perlu dilanjutkan lagi. Aku menganggapnya kamu tidak pernah mengatakan itu. Tolong jangan dibahas lagi."
Sarah meninggalkan Lilis usai mengakhiri percakapan mereka secara sepihak. Saat mengemudikan mobil menuju arah pulang rumahnya, sepanjang jalan itu pula Sarah dilema. Memikirkan nasib putrinya yang sakit karena andil kesalahannya juga. Sementara di satu sisi, Sarah tidak mau dianggap menjadi orang ketiga yang dapat merusak keharmonisan hubungan LiIis dan Shehan.
Sepanjang hari pikirannya tidak tenang. Terus memikirkan solusi terbaik yang tidak akan merugikan siapapun. Tatkala esok pagi sudah menjelang, Sarah akhirnya membuat keputusan mutlak. Ia mendatangi kantor Shehan sebelum pergi lagi untuk menjenguk Nurbanu yang masih sakit. Mantan pasangan suami-istri itu pun bicara serius empat mata di dalam ruangan kerja Shehan.
"Shehan, terus terang tujuanku datang ke sini untuk membahas soal Nurbanu dan LiIis."
Sebenarnya dari tadi Shehan menerka-nerka apa yang membuat Sarah mendatanginya pagi-pagi seperti ini. Shehan juga sudah menebak pastilah ada sesuatu yang tidak beres. Lantas ia bergeming--mendengarkan Sarah lebih dulu bicara.
"Kemarin LiIis memintaku untuk kembali padamu."
"Apa?" Sontak Shehan terkejut bukan kepalang. Shehan ingat Lilis pernah meminta hal yang sama padanya--kembali pada Sarah, sebelum Nurbanu jatuh sakit.
"Lilis mengatakan itu juga padamu?" imbuh Shehan.
"Apa kalian pernah membahas ini sebelumnya?"
"LiIis-lah yang pertama kali mengatakan ini."
"Kalau begitu aku minta maaf, Shehan. Aku tidak ingin menjadi duri dalam rumah tanggamu bersama LiIis. Nurbanu juga sakit karena aku. Aku tidak bersungguh-sungguh menjaganya. Meskipun hak asuh Nurbanu jatuh ke tanganku, tetapi aku tidak pernah merawatnya dan malah menyerahkan tugas untuk mengurusnya padamu." Binar mata Sarah mulai berkaca-kaca.
Shehan pun menangkap sinyal berbeda dari arah pembicaraan Sarah. "Maksudmu---"
"Ya, Shehan." Sarah memotong sebelum Shehan melengkapi kalimatnya, "izinkan aku membawa Nurbanu untuk tinggal bersamaku. Kali ini aku akan merawatnya dengan sungguh-sungguh. Tidak akan pernah mengabaikannya lagi. Kamu juga tetap bisa merawat Nurbanu nanti. Kapan pun Nurbanu ingin tinggal bersamamu, aku pasti tidak akan melarangnya. Kita berdua mengasuh anak kita bersama-sama meski di rumah yang terpisah."
"Tapi kita harus bertanya pada Nurbanu dulu, Sarah. Aku tidak mau memaksanya."
"Aku yakin Nurbanu pasti setuju jika aku mengajaknya tinggal bersamaku. Setelah itu, kamu bisa menjalani biduk rumah tanggamu bersama LiIis sebagaimana mestinya."
"Sebenarnya LiIis tidak keberatan mengasuh Nurbanu. Dia juga menganggap Nurbanu seperti anak kandungnya sendiri."
"Shehan, aku mohon izinkan aku menunaikan kewajibanku sebagai seorang ibu. Aku sadar selama ini tindakanku salah. Aku mohon izinkan aku memperbaikinya. Aku masih akan tetap tinggal di Bali agar sewaktu-waktu Nurbanu juga bisa tinggal bersamamu lagi."
Shehan diam--berpikir keras. Alasan Sarah cukup logis untuk bisa diterima akal sehatnya. Lagipula Shehan juga tahu kalau putri mereka sangat merindukan sosok ibu kandungnya.
"Baiklah, Sarah. Aku mengizinkanmu kalau Nurbanu juga mau ikut denganmu."
Segaris senyum bahagia Sarah tercipta menyambut kebaikan hati Shehan. "Terima kasih, Shehan. Kamu memang sosok ayah yang baik."
Shehan ikut tersenyum tipis, menemani kebahagiaan Sarah.
***
BERSAMBUNG...