Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 36 : Istri Yang Terabaikan



Pakaian-pakaian serta beberapa barang sudah selesai Lilis kemasi. Gadis itu memasukannya ke dalam koper, agar mudah saat dibawa pindah ke kamar Shehan. Pandangan Lilis mengedar ke sekeliling, meneliti adakah barang yang masih tertinggal.


Usai yakin kalau semuanya sudah beres dan tidak ada yang luput dari pengamatan, Lilis menyeret kopernya menuju kamar Shehan. Meninggalkan kamar asisten rumah tangga yang sudah selama enam bulan terakhir dia tinggali.


"Selamat tinggal kamarku! Mungkin suatu saat, aku akan merindukanmu lagi. Ingin tidur di dalammu seraya mengenang hari pertama aku tiba di sini."


Lilis menyoroti sudut ke sudut kamar lamanya. Ada rasa sedih menggulung relung kalbu. Namun, tetap harus Lilis lakukan, meninggalkan kamar itu.


Ceklek!


Pintu tertutup rapat. Cerita tentang baby sitter yang bekerja sebagai pengasuh anak dari seorang investor asing telah selesai. Berganti dengan kisah baru, dengan tokoh utama yang sama. Lilis kini menjabat sebagai Nyonya Rumah di kediaman investor asing tersebut.


**


Sebuah pintu kayu bercat putih, kini berhadapan dengan Lilis. Sebelumnya, Lilis sama sekali tidak pernah membuka pintu itu selagi masih berstatus sebagai baby sitter Nurbanu. Mbok Tum-lah yang punya tugas untuk membersihkan kamar utama dan sekarang, Lilis harus pula tinggal di dalamnya.


'Tidur di mana aku nanti? Apa mungkin satu ranjang dengan Tuan Murad?' Bimbang Lilis dalam hati.


Jika di dalam kamar itu hanya ada satu ranjang, Lilis berniat akan tidur di bawah saja. Menggunakan alas seperti kasur lipat, tidak akan masalah baginya.


Ceklek!


Bunyi tuas dibuka menyapa gendang telinga. Bau harum seketika semerbak, merasuki indera penciuman Lilis dengan lembut. Keharuman itu berasal dari aroma parfum Shehan yang sehari-hari pria itu gunakan. Lilis menyesapnya lebih dalam, menghayatinya. Segaris senyum tipis tercipta kemudian.


'Wangi sekali!'


Drett ....


Roda koper menderit ketika diseret memasuki area kamar yang hening. Pemilik kamar itu-Shehan sendiri, sedang bekerja di kantornya sekarang. Sehingga Lilis bisa leluasa mengitari kamar itu seorang diri.


Ia memperhatikan desain kamar, dicat warna coklat muda yang hangat dan terdapat kertas dinding kontemporer pada satu bagian dekat rak hias. Kemudian Lilis melongok ke ceruk ruangan di sisi kiri, ditemukannya tempat tidur Shehan di sana.


Sebuah ranjang berukuran besar, terlihat nyaman serta modelnya mewah. Namun, bukan hanya menemukan tempat tidur saja, Lilis juga menemukan foto pernikahan Shehan dan Sarah masih tergantung di dinding atas headboard tempat tidur. Bahkan di foto itu, Shehan dan Sarah masih sama-sama mengenakan pakaian pengantin.


'Ternyata Tuan Murad masih memajang foto pernikahannya bersama Mbak Sarah dulu. Benar dugaanku, Tuan Murad masih sangat mencintai Mbak Sarah,' gumam Lilis selagi masih menatap foto berukuran besar itu cukup lama.


Ia ingin bersikap biasa saja, merespon keberadaan foto itu dengan sikap lapang dada, tetapi sejujurnya ada sedikit rasa ketidaknyamanan timbul di hati Lilis. Bukan sebab gadis itu iri atau cemburu. Melainkan Lilis merasa sudah masuk ke dalam kamar yang salah.


Bukankah di kamar ini dulunya, Shehan dan Sarah pernah saling berbagi cinta. Sekarang, Lilis-lah yang mesti tinggal di kamar itu menggantikan Sarah. Kamar yang penuh cinta untuk Sarah, tetapi tidak untuk Lilis. Miris!


"Hhmm ...." Embusan napas panjang, keluar dari rongga dada Lilis. Sedikit rileks yang dia rasakan setelah itu.


Tak mau berlarut-larut sedih, Lilis mengalihkan perhatiannya ke samping kanan dan untungnya ide itu cemerlang. Lilis melihat sebuah sofa malas warna abu tua berukuran cukup besar ditaruh di sana. Bersebelahan dengan balkon.


"Ah, syukurlah! Ada sofa di sana!"


Lilis setengah berlari menghampiri sofa. Malahan jongkok, memeluk resbang itu penuh sukacita.


"Hai, sofa! Terima kasih sudah menyelamatkanku. Mulai sekarang, aku adalah temanmu di sini. Aku minta izin karena mulai malam nanti, aku akan tidur di atas tubuhmu. Jangan marah kalau sesekali aku tendang, ya. Hihihi!" Lilis bercanda, menghibur diri.


Beberapa jam berlalu.


Lilis yang sekarang sudah bergelar sebagai Nyonya tengah berdiri di teras rumah, hendak menyambut suami pulang. Dibalut gaun berwarna dasar krem terang yang ditambahi motif bunga kecil warna kuning memenuhi bagian bawah gaun, penampilan Lilis tampak cerah, secerah senyumnya. Apalagi ketika Shehan tiba dan turun dari mobil. Garis lengkungan itu tambah mengembang.


Shehan sendiri menatap datar seraya menenteng tas kantor miliknya. Sempat ia memperhatikan Lilis yang memang cantik dari atas kepala sampai ujung kaki. Shehan pun menyadari kalau Lilis kini cantik. Hanya saja sulit bagi Shehan untuk mengakui kekagumannya sekarang.


"Selamat datang, Mas."


Lilis menyapa, menghampiri dan hendak meraih tas kantor Shehan. Ia berniat membawakan tas itu. Menjalankan kewajibannya sebagai istri yang patuh, meskipun statusnya hanya istri kontrak.


Alih-alih senang dengan perhatian Lilis, Shehan malah menjauhkan tasnya dari jangkauan Lilis. Serta-merta Lilis terkesiap. Menatap Shehan dengan sorot tanda tanya, salahkah perbuatannya?


"Biar aku saja yang membawa tasku," kata Shehan, dingin. Kemudian berjalan, meninggalkan Lilis seorang diri di depan teras rumah.


Lilis menatap redup suaminya yang mengabaikannya. Selain menghela napas panjang dan bersabar, apalagi yang bisa gadis itu lakukan. Ini sudah nasibnya, membina rumah tangga tanpa cinta. Sedari awal Lilis harus siap terluka.


Selang sepuluh detik, Lilis menyusul Shehan, berjalan di belakang. Ketika sudah di kamar, Lilis menutup pintu. Lalu dilihatnya Shehan sedang mengendurkan simpul dasi sambil melihat foto pernikahannya bersama Sarah.


"Apa kamu keberatan dengan foto itu?" tanya Shehan berbalik menghadap Lilis.


Lilis melihat foto itu sebentar, lalu memamerkan wajah tabah. "Tidak, Mas."


"Baguslah," sahut Shehan singkat, tak acuh.


Lantas Lilis berinisiatif hendak membantu Shehan lagi. "Mas, mau mandi sekarang? Mau kusiapkan air hangat di bak?"


"Tidak usah!" balas Shehan tanpa melihat. "Aku bisa menyiapkan air mandi untukku sendiri."


Lagi-lagi, Lilis terenyuh. Ia diam seribu bahasa. Bingung mesti berbuat apa. Rasa-rasanya semua tindakan Lilis selalu salah dan tidak diterima oleh Shehan.


"Baiklah, Mas. Mau kusiapkan pakaian ganti?" Meski tahu kali ini akan ditolak lagi, Lilis tetap menunjukkan pengabdiannya sebagai seorang istri.


"Aku akan mengambil sendiri pakaianku nanti." Shehan kemudian melihat koper Lilis yang teronggok di dekat rak hias. "Apa itu kopermu?"


Pria itu menunjuk lewat gerakan kepala. Lilis ikut menoleh ke arah petunjuk Shehan.


"Iya, Mas. Isinya pakaian-pakaianku. Aku tidak tahu harus meletakkannya di mana. Jadi belum aku bongkar dan pindahkan."


"Kamu bisa memakai ruang berpakaian juga," ujar Shehan menjelaskan tentang sebuah ruangan yang diisi dengan barang-barang pribadi Shehan serta pintu masuknya terletak bersebelahan dengan kamar utama. "Rak pakaian di sebelah kiri paling pinggir masih kosong. Kamu bisa menggunakannya."


"Iya, Mas. Terima kasih."


Shehan melihat Lilis sebentar, sorot mata keduanya bertemu. Lilis menatap hangat sementara Shehan menatap dingin. Peristiwa saling tatapan itu hanya terjadi sebentar.


Setelahnya Shehan beranjak pergi ke toilet yang tersedia di dalam kamar itu juga. Sementara Shehan mandi, Lilis menyeret lagi kopernya ke ruang berpakaian. Menyusun serta merapikan pakaiannya di rak yang diberitahu oleh Shehan tadi.


***


BERSAMBUNG...