Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 22 : Kebenaran Terungkap



"Daripada kalian saling menuduh, tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Lebih baik kita lihat CCTV saja untuk mengetahui kejadiannya secara jelas dan terperinci," ujar petugas keamanan di hadapan Tina, Hendra dan Shehan ketika mereka semua sudah berada di ruang keamanan mall.


"Ya, Pak. Putar saja!" Hendra memicingkan mata sinis ke arah Shehan. "Biar ketahuan siapa yang berbohong!"


"Mas, sudah Mas! Jangan ribut-ribut lagi. Aku tidak apa-apa, kok. Tidak terluka sedikit pun. Ayo, kita pulang saja, Mas!" Tina khawatir sebab ia tahu dia bersalah. Jika rekaman CCTV diputar ulang, sudah pasti dia akan merasa malu. Belum lagi menghadapi suaminya yang bersikukuh membelanya sedari tadi. Hendra pasti akan kecewa.


"Jangan pulang dulu, Tin. Shehan bukan cuma mendorong kamu ke dinding. Tapi dia juga sudah mencemarkan nama baik kamu. Mas tidak terima istri Mas diperlakukan seperti itu. Mas mau membuktikan kalau kamu tidak bersalah."


Shehan menghela napas pelan. Dia tidak mau berdebat lagi karena Shehan pikir akan percuma memberi penjelasan berulang-ulang pada orang yang bebal. "Pak, bisa tolong diputar sekarang rekaman CCTV-nya agar tidak membuang waktu lagi."


"Baiklah, akan kita lihat bersama-sama apa yang telah terjadi sebenarnya," sahut petugas keamanan mengabulkan permintaan Shehan.


Di samping Hendra, Tina berdiri gelisah. Wajahnya yang semula merah akibat sembap kini bagai dipaksa surut darahnya hingga berubah menjadi pucat pasi. Matanya terus mengawasi petugas keamanan yang sedang menyetel pengaturan CCTV. Sesekali ia meremas lengan Hendra yang dipeluknya.


Terlebih lagi ketika rekaman CCTV diputar ulang ke satu jam yang lalu, Tina-sang tersangka utama tidak dapat mengelak lagi. Ia memejamkan mata, memalingkan muka ke sembarang arah. Sama sekali tidak ingin melihat rekaman dirinya yang sedang merayu Shehan.


Hendra sendiri terpaku dengan kedua mata membulat tak berkedip. Mulutnya yang tadi lantang menghardik Shehan, kini tak sepatah kata pun dapat meluncur lugas dari lidahnya yang kelu.


Wajahnya serasa tebal sepuluh inci melebihi ketebalan kerak pantat kuali. Hendra malu setengah mati. Betapa perbuatan Tina telah mencoreng martabat serta harga dirinya sebagai suami. Sang istri tega memeluk pria lain di belakangnya. Bahkan hendak mencium pria itu pula.


Shehan menatap iba pada Hendra yang berdiri di sampingnya. Salah paham di antara mereka telah selesai sekarang. Tak ada lagi alasan bagi Shehan untuk terus berada di tempat itu. Apalagi Lilis sedang menunggunya di restoran sejak tadi. Gadis itu pasti cemas.


"Aku tidak akan memintamu untuk meminta maaf. Ataupun menunggumu meminta maaf. Aku hanya ingin mengatakan jangan marahi istrimu. Cukup nasihati saja dia dan beri kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Seseorang pernah membaca buku. Di sana tertulis kita hidup hanya untuk hari ini. Karena yang kemarin sudah berlalu dan hari esok belum terjadi. Lakukanlah yang terbaik hari ini sebagai penyelamat untuk hari esok."


Hendra termangu mendengar perkataan bijak Shehan.


"Kau tahu siapa yang membaca buku itu? Orang itu adalah Lilis. Dia memang tidak cukup cantik dari luar, tetapi dia cantik dari dalam. Saat kita menikah bukan hanya fisik yang perlu kita lihat, hati juga perlu kita nilai."


Seusai memberi wejangan pada Hendra, Shehan beralih pada petugas keamanan. "Masalah ini sudah selesai, Pak. Saya tidak bersalah dan tunangan saya sedang menunggu saya. Saya harus menemuinya segera. Saya pamit sekarang."


"Baiklah, Tuan." Petugas keamanan memberi izin dan dimanfaatkan oleh Shehan untuk beranjak pergi meninggalkan ruang keamanan mall.


Pria Turki itu merapikan kerah jasnya yang sedikit berantakan selagi berjalan menuju restoran steik. Tak berselang lama, tampak olehnya dari balik dinding kaca restoran, Lilis tengah menunggu di dekat meja kasir dengan gelagat bingung.


"Tuan ...." Lilis semringah mendapati majikannya sudah kembali, baru saja pria itu melewati ambang pintu restoran. Bergegas Lilis menghampiri. Namun, saat posisi keduanya sudah dekat, raut riang Lilis berganti resah. Ia terkejut melihat luka memar di sudut bibir Shehan.


"Tuan, apa yang terjadi? Di mana Mas Hendra dan Mbak Tina?" racau Lilis seraya mengekori Shehan yang melangkah ke meja kasir.


"Berapa total tagihannya?" tanya Shehan pada pramusaji restoran begitu tiba. Belum digubrisnya celotehan Lilis. Shehan memilih membayar tagihan biaya makan lebih dulu agar dapat pergi dari tempat itu.


"Ini nota tagihannya, Tuan." Pramusaji itu menyodorkan selembar kertas yang terselip di dalam sebuah sampul kulit warna hitam.


Shehan melihat nominalnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu untuk pembayaran tunai. Beres urusan di restoran, ia mengajak Lilis pulang.


"Ayo, kita pulang!"


"Baik, Tuan." Sambil menenteng tas belanja, Lilis mengikuti Shehan berjalan keluar mall. Di dalam hati, sebenarnya ia ingin bertanya lagi musabab luka memar di sudut bibir majikannya dan hilangnya keberadaan Hendra serta Tina. Ketiga orang itu pergi ke toilet tadi, tetapi yang kembali hanya Shehan seorang.


'Ya sudahlah. Nanti saja aku tanyanya. Tuan Shehan juga diam saja. Tidak enak kalau aku terus bicara.'


'Tidak mungkin aku kembali ke kantor dengan luka seperti ini. Pasti akan menjadi perhatian semua karyawan nanti,' gumam Shehan.


Lantas ia menelepon sekretarisnya untuk menanyakan perihal jadwal pekerjaannya. "Halo, Miranda."


"Ya, Tuan," sahut si sekretaris dari seberang.


"Apa saja jadwalku siang ini?"


"Itu saja?"


"Tuan harus menghadiri rapat dengan semua pimpinan divisi hotel dan resor sore nanti pukul empat."


"Baiklah. Sekarang masih jam setengah dua siang, beritahu semua divisi agar rapat nanti sore via aplikasi zoom saja."


"Baik, Tuan."


"Ada lagi, tolong antarkan dokumen yang harus kuperiksa dan kutandatangani ke rumahku segera. Karena ada urusan mendadak, aku tidak bisa kembali ke kantor hari ini."


"Ya, Tuan. Akan segera saya laksanakan perintah anda."


"Terima kasih, Miranda."


"Ya, Tuan. Selamat siang."


"Selamat siang."


Shehan menutup panggilan teleponnya. Kemudian berlanjut menelepon supir pribadinya hendak meminta dijemput. Setibanya di beranda pintu masuk utama mall, mobil mewah Shehan telah menunggu.


"Lilis!" panggil Shehan sebelum masuk ke kabin belakang mobil.


Lilis menoleh. "Ya, Tuan."


"Kamu ikut pulang bersamaku saja."


"Loh, Tuan tidak kembali ke kantor?" Lilis heran.


"Tidak."


"Tapi Pak Maman masih menungguku di rubanah, Tuan."


"Ya sudah, kalau begitu kamu pulang bersama Pak Maman saja." Shehan memalingkan muka, melengos masuk ke kabin belakang mobil tanpa menunggu sahutan Lilis.


Lilis pun terdiam memperhatikan mobil Shehan yang sudah melaju pergi meninggalkannya sendirian.


'Tuan Murad kenapa, ya? Waktu pergi ke toilet baik-baik saja. Mas Hendra dan Mbak Tina juga tidak kelihatan. Entah apa yang terjadi dengan mereka,' keluh Lilis dalam hati.


Bagaimana nasib Hendra dan Tina?


Hendra merajuk setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya. Ia berjalan terburu-buru, meninggalkan Tina di belakang. Meski tahu kalau istrinya itu terus mengikutinya.


"Mas Hendra, maafin aku, Mas. Aku tahu aku bersalah. Tolong kasih aku kesempatan, Mas!"


"Lepaskan!" Hendra menepis rangkulan Tina di tangannya. "Mas tidak sangka kamu seperti itu, Tin. Mas malu di depan Shehan. Pasti dia akan menceritakan masalah ini ke Lilis. Dan Lilis akan cerita ke ibunya di kampung. Malu Mas, Tin. Malu!"


"Mas, aku sungguh-sungguh minta maaf. Tolong maafkan aku, Mas." Tina menangis menyesali perbuatannya. Tidak peduli pada pengunjung lain yang menonton mereka.


Namun nahas, nasi sudah menjadi bubur. Hendra tidak bisa memaafkan Tina semudah itu. Ia pergi ke restoran steik untuk membayar tagihan pesanan makanan mereka dan mengambil kantong belanja yang tertinggal di sana.


Pramusaji itu mengatakan kalau semua tagihan makanan mereka sudah dibayar oleh Shehan. Hendra yang tidak mau berutang lagi, tetap memberikan uang itu pada pramusaji. Kemudian beranjak kembali ke hotel, tidak berminat jalan-jalan lagi sebab suasana hatinya masih buruk.


***


BERSAMBUNG...