
Sudah beberapa kali Lilis menoleh arloji yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Sambil sesekali menancapkan garpu ke makanan dengan malas. Rupanya menjelang waktu makan siang, Lilis dan suami barunya pergi ke sebuah mal yang terletak di pusat kota Banyuwangi.
Tujuan mereka mendatangi mal itu adalah untuk merayakan hari pernikahan mereka, berdua saja. Lebih tepatnya bulan madu kecil-kecilan. Akan tetapi, pemandangan yang Lilis lihat ataupun perlakuan yang Lilis dapatkan, bukanlah hal romantis selayaknya pasangan baru menikah pada umumnya. Shehan sedari tadi sama sekali tidak menggubris Lilis. Terus sibuk dengan percakapan-percakapan tiada henti melalui ponsel.
"Halo, selamat siang ... oh, ya, ya. Tentang proyek kerjasama waktu itu ...."
'Mas Shehan sibuk teleponan terus!' keluh Lilis hanya bisa bergumam dalam hati.
Bilapun tidak sedang menerima panggilan telepon ataupun Shehan sendiri yang menelepon orang lain, fokus mata Shehan serta pikirannya tak jauh-jauh dari layar gawai pintar. Padahal sudah ada segelas minuman dan sepiring makanan tersaji di hadapannya dengan menu yang sama seperti milik Lilis.
Hanya seteguk saja minuman dingin itu disesap. Selebihnya dibiarkan begitu saja, sama halnya dengan makanan dan istrinya sendiri. Lantas Lilis celingukan, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Jenuh melihat pemandangan membosankan di depan matanya.
Ingin mengeluh atas sikap Shehan, apalah daya dia hanya seorang istri kontrak. Derita seorang istri kontrak, ya memang begini. Statusnya saja yang seorang istri, tetapi keberadaan Lilis bahkan tidak dianggap ada, nyaris seperti hantu.
Terus uring-uringan, Lilis akhirnya meninggalkan garpu dan makanannya di atas piring, ikut membuka ponsel juga. Di sebuah aplikasi sosial media, banyak saudara-saudara Lilis yang mengunggah foto pernikahannya. Tak lupa foto itu juga menandai akun sosial media milik Lilis.
Walaupun sekadar istri kontrak, Lilis tetaplah wanita biasa. Ingin juga dia mengunggah foto pernikahannya bersama Shehan. Meski awalnya takut, Lilis akhirnya nekad mengunggah sebuah foto.
Dalam hitungan detik, banyak sekali teman, kerabat dan juga kenalan Lilis yang menyukai unggahan foto itu. Mereka juga memberikan ucapan serta doa bahagia sampai kakek nenek di kolom komentar.
Namun, hanya sesaat kebahagiaan Lilis berlangsung. Dia pun menyadari di sela kesibukan Shehan, ternyata suaminya masih menyempatkan diri untuk memberi tanda suka beserta komentar pada unggahan foto Sarah--mantan istri Shehan yang juga mengunggah foto di waktu yang sama. Bukan hanya komentar, Shehan juga memberikan emoji hati pada komentarnya lantaran Sarah berfoto bersama Nurbanu.
'Sudah nasibmu, Lis, seperti ini. Kamu harus banyak-banyak bersabar dan sadar diri. Ingat statusmu hanya figuran. Jangan bermimpi mendapatkan perhatian lebih.' Lilis mencoba memperingatkan dirinya sendiri.
"Mas Shehan," panggil Lilis, lembut.
Shehan menoleh datar. Sedikit menjauhkan ponselnya. "Ada apa?" tanyanya datar juga, sama sekali tidak mesra.
"Kenapa makanannya belum dimakan?"
Melirik makanan sekilas. "Oh, aku masih kenyang."
"Tapi sekarang sudah waktunya makan siang, Mas. Harus makan tepat waktu, supaya tidak sakit."
"Ya, sebentar lagi aku makan." Shehan melihat ke piring Lilis. "Makananmu juga belum kamu habiskan."
"Iya, Mas. Sebentar lagi aku habiskan."
"Ayo, cepat habiskan! Aku masih sibuk bekerja."
"Iya, Mas."
Lilis meletakan ponselnya di atas meja, kembali menancapkan garpu ke potongan makanan. Berbanding terbalik dengan Shehan yang kembali sibuk dengan ponselnya.
**
Tiga jam berlalu di mal begitu saja. Tidak ada hal spesial terjadi. Tidak ada obrolan menyenangkan. Tidak ada foto berdua sebagai pengantin baru. Bahkan, ketika berjalan pun malah berjauhan. Lilis tertinggal di belakang. Sementara Shehan masih sibuk teleponan di depannya.
Dengan raut sedih, Lilis memperhatikan sepasang suami istri dengan seorang anak mereka, sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Sang Suami bercakap-cakap mesra dengan istrinya seraya menggendong anak mereka di punggung. Istri pria itu sangat senang. Senyumnya merekah lebar, sambil sesekali bercanda ria dengan suami dan anaknya.
'Kapan ya, aku punya keluarga harmonis seperti itu?' lirih Lilis, sedih.
Kebanyakan melamun, alhasil Lilis tidak memperhatikan jalan di depannya dan akibatnya, dia menabrak sepasang kekasih yang sedang melintas.
Duk!
"Akh!" decak Lilis, sakit. Tatkala kepalanya membentur dada pemuda itu.
Lilis menunduk malu, semakin sedih. "Maaf ya, Mbak."
"Maaf! Maaf! Makanya punya mata dipakai!"
"Sudahlah, Sayang! Ayo, kita pergi saja! Aku tidak apa-apa, kok!" ujar Si Pemuda pada kekasihnya.
Sambil mencebik kesal, Si Gadis akhirnya menuruti permintaan pemuda tadi. Ia merangkul lengan kekasihnya dengan erat lalu melanjutkan perjalanan mereka.
Shehan yang tadi sibuk teleponan, sempat melihat kejadian itu. Ia sengaja berhenti untuk menunggu Lilis. Sementara Lilis, setelah kejadian tadi terus berjalan menunduk. Ingin menyembunyikan wajah murungnya.
Sampailah Lilis di posisi Shehan, tiba-tiba pria itu mengulurkan tangan kanannya, membuat Lilis terhenyak, refleks mengangkat kepala.
"Mas ...," ucap Lilis, pelan. Pandangannya sayu menatap Sang Suami.
"Peganglah tanganku," titah Shehan.
Sesaat Lilis bingung. "Pegang tangan Mas?"
"Ya, ulurkan tanganmu dan pegang tanganku."
Sempat ragu, tetapi perlahan Lilis mengulurkan tangannya dan meraih tangan Shehan. Sekejap kemudian, Shehan menggenggam tangan Lilis erat. Kehangatan segera beradu di telapak mereka masing-masing.
"Mas ...." Lilis menatap dalam.
"Aku akan menuntunmu supaya kamu tidak menabrak orang lagi." Shehan berbalik badan dan mengayunkan langkah ke depan.
Meski Shehan berwajah dingin ketika mengatakan itu, entah mengapa relung hati Lilis menjadi hangat. Sehangat telapak tangan Shehan yang sedang menggenggamnya. Mereka berdua menyusuri jalan menuju rubanah mal, lalu pulang ke rumah Nining.
**
Esok hari.
Lambaian tangan serta derai air mata mengiringi kepergian Lilis dari rumah ibunya, hendak kembali ke Bali bersama Shehan. Meski berat bagi Lilis untuk meninggalkan wanita paruh baya itu serta adiknya--Doni. Namun, sudah sepatutnya Lilis harus pulang ke rumah Sang Suami.
Setibanya mereka di rumah Shehan, Mbok Tum menyambut Lilis bak nyonya besar. Wajar Mbok Tum berbuat demikian sebab Lilis sudah menjadi istri majikannya, tetapi Lilis tetap rendah hati seperti sediakala.
"Lilis, semua orang di rumah ini sekarang tahu kamu adalah istriku. Mereka akan berpikiran aneh kalau kamu tidak tidur di kamarku," jelas Shehan ketika sudah berdua dengan Lilis di ruang tengah.
"Jadi rencana Mas bagaimana?"
"Dengan berat hati, kamu harus tidur sekamar denganku."
Sekonyong-konyong mata Lilis membesar. "Ti--tidur di kamar Mas!"
"Iya, Lilis. Ini semua agar orang lain tidak curiga. Aneh bagi mereka kalau kita tidur di kamar terpisah. Padahal kamu sudah menjadi istri sahku."
"Ta--tapi, Mas. Rasanya tidak mungkin." Lilis mengernyit panik.
"Aku tahu kamu pasti terkejut mendengar ini, tetapi hanya kita yang tahu tentang rahasia pernikahan ini. Sedangkan yang lainnya tahu kalau kita adalah pasangan suami istri yang sah. Kita sudah sepakat untuk bekerjasama. Jadi mau tidak mau, kamu harus tidur di kamarku." Tegas Shehan, tidak bisa dibantah lagi.
Lilis sendiri bergeming, tak habis pikir. Tetapi dia juga tidak bisa menolak.
***
BERSAMBUNG...