Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 50 : Berakhirnya Surat Perjanjian Pernikahan



Shehan menyipitkan mata dari balik kaca depan jendela mobil, ketika melihat sosok Jesslyn berdiri di depan teras utama rumah, sedang menunggu kepulangannya. Pria Turki itu kemudian turun dari kendaraan roda empat mewah miliknya seraya menenteng tas kantor. Meski sekarang sudah pukul 17.40 sore, penampilan Shehan tidak ada yang kurang sedikit pun. Tetap rupawan dan segar seperti tadi pagi tatkala dia pergi bekerja.


"Selamat sore, Shehan." Jesslyn menyapa, tersenyum menawan pula. Hendak diraihnya tas kantor milik Shehan, sengaja ingin memberi perhatian. Namun, Shehan malah menjauhkan tas kantor itu dari jangkauan Jesslyn.


"Biar aku sendiri yang membawa tasku," jawabnya sinis, lalu berpaling. Tidak mau lama-lama melihat Jesslyn.


Jesslyn menghela napas panjang, berusaha sabar menghadapi sikap dingin Shehan. Jesslyn tahu dahulu sikap Shehan tidaklah begini, mereka tadinya adalah teman dekat. Mesti butuh waktu agar semuanya kembali seperti sediakala.


Saat pria itu berjalan masuk ke dalam rumah, Jesslyn mengikutinya dari belakang. Sampai masuk ke dalam kamar utama pun, Jesslyn juga turut masuk ke dalam. Usai meletakan tas kantor di atas nakas, Shehan terkejut melihat kelancangan Jesslyn yang berani memasuki area kamar pribadinya.


"Kenapa kau masuk ke sini juga? Di mana Lilis?" tanyanya, mengernyit tidak senang.


"Lilis? Ehem ...." Jesslyn mengatur pita suara sebelum menceritakan drama baru. "Eum, Shehan. Ada yang ingin kukatakan padamu. Sebenarnya Lilis sudah tahu tentang hubungan kita."


"Hubungan kita? Apa maksudmu hubungan kita?" Kerutan di kening Shehan berlipat ganda.


Jesslyn mendekat beberapa langkah. "Shehan, dengarkan dulu penjelasanku," imbuhnya dengan lembut. Dia tahu Shehan lelah seharian bekerja, terlebih lagi mengingat status pertemanan mereka saat ini, salah bicara satu kata saja bisa membuat emosi Shehan meledak.


"Sebenarnya tidak sengaja, Lilis mendengar perbincanganku di telepon dengan dokter kandungan," sambung Jesslyn lagi. "Jadi dia bertanya setelah itu. Awalnya aku tidak mau mengatakan apapun. Tapi dia terus mendesak dan akhirnya kuceritakan semua hal yang terjadi tentang kita padanya."


"Apa! Kau menceritakan semuanya tentang kita?" seru Shehan, saking terkejutnya.


"Ya, Shehan. Tapi jangan khawatir, Lilis sudah mengerti. Dia malah menawarkan diri untuk tidur di kamar tamu mulai malam ini dan aku akan menggantikannya tidur di sini menemanimu."


"Di mana Lilis sekarang?"


"Di kamar tamu."


Shehan bergegas pergi ke kamar tamu mencari istrinya. "Lilis! Lilis!"


Ia berseru cukup kencang selagi berjalan tergesa-gesa. Untung saja Nurbanu sedang pergi bersama Mbok Tum ke pasar swalayan, jadi tidak mengetahui keributan yang terjadi.


"Shehan! Shehan! Kenapa kau mencarinya!  Lilis tidak mau diganggu olehmu!"


Jesslyn menyusul Shehan di belakang. Namun, Shehan tidak peduli. Dia terus berjalan cepat seraya memanggil Lilis.


"Lilis! Lilis!"


Ceklek!


Tampak Lilis sedang memasukkan tumpukan pakaiannya ke dalam lemari ketika pintu kamar tamu dibuka. Gadis itu spontan menoleh, terkesiap melihat Shehan muncul di sana.


"Mas Shehan ...." Lilis berkata pelan. Suaranya nyaris habis sebab terus menangis.


Shehan menatapnya intens. Lalu melirik beberapa tumpuk pakaian Lilis yang sudah tersusun di dalam lemari. Lantas ia masuk ke dalam kamar tamu, sekonyong-konyong mengambil pakaian Lilis dari lemari, memasukkannya lagi ke dalam koper yang terbuka dan tergeletak di atas tempat tidur.


"Mas, kenapa mengambil pakaianku?" Lilis bingung melihat sikap Shehan.


"Kamu harus kembali ke kamarku!" Tegas Shehan.


Jesslyn yang sudah tiba di sana juga, memperhatikan dari ambang pintu.


"Tidak Mas! Tidak! Aku tidur di kamar ini saja!" Intonasi Lilis bergetar, menahan rasa ingin menangis lagi.


Shehan mengentikan aksinya menaruh pakaian Lilis ke dalam koper. Ditolehnya Lilis yang sedang berdiri di sampingnya. Raut wajah gadis itu biasanya ceria, tetapi kini terlihat sembap. Matanya bengkak dan ujung hidungnya pun merah. Shehan menduga pasti Lilis sudah menangis sepanjang hari ini.


"Tidak, Lilis! Kau harus kembali ke kamarku!"


"Tidak Mas! Aku tidak mau! Aku mau di sini saja!" Lilis bersikeras.


"Bukankah sudah kubilang padamu, Shehan, kalau Lilis memang mau tinggal di kamar ini. Dia tidak mau diganggu olehmu!" Jesslyn masuk ke dalam kamar. Ikut mencampuri perdebatan sepasang suami-istri itu. Perhatian Shehan dan Lilis spontan teralihkan padanya.


"Shehan! Bukankah kau sudah mendengar sendiri kalau Lilis mau tinggal di kamar ini!" seru Jesslyn membantah keras kepala Shehan. Tetapi pria itu malah membalasnya dengan jawaban yang membuat Jesslyn cemburu.


"Dia istriku! Dia harus bersamaku!"


"Istriku! Istriku! Dia cuma istri kontrakmu, Shehan! Kau terlalu membelanya!"


Seketika Shehan terkesiap. Maju dua langkah menghadang Jesslyn. "Dari mana kau tahu kalau Lilis adalah istri kontrakku?"


"Itu karena ...." Jesslyn bingung menjawab apa. Takut ketahuan, ia bersilat lidah memutarbalikkan fakta. "Lilis yang memberitahuku kalau dia cuma menikah kontrak denganmu!"


"Apa!" Sepasang mata Lilis membesar mendengar tuduhan Jesslyn. Lekas ia menyambangi Shehan, memeluk salah satu lengan pria itu dan menangis "Mas, aku tidak bersalah, Mas! Bukan aku yang memberitahu Nona Jesslyn soal pernikahan kontrak kita. Benar, bukan aku, Mas!"


"Lilis, kenapa kau berbohong!" Jesslyn menghardik.


"Nona-lah yang berbohong." Lilis balik menyerang. Lalu kembali mengiba di depan suaminya dengan terisak "Sungguh Mas, bukan aku yang memberitahunya!"


Sementara Shehan bergeming, mengkaji perdebatan Lilis dan Jesslyn. Siapakah yang benar di antara kedua wanita itu? Shehan ingat beberapa waktu lalu Jesslyn pernah datang ke kantornya untuk mengajak makan siang bersama. Di saat itu, surat perjanjian pernikahannya dengan Lilis masih tetap terbuka di atas meja kerja, usai Shehan membacanya ulang. Shehan yakin kalau Jesslyn pasti sudah melihat surat itu ketika dia pergi ke toilet.


"Mas Shehan! Sungguh bukan aku yang memberitahu, Mas!" Lilis masih terisak membela dirinya.


"Lilis, berikan surat perjanjian pernikahan kita padaku!" perintah Shehan kemudian.


"Tapi Mas ...." Lilis ragu.


"Berikan surat itu padaku sekarang!" Shehan memaksa.


Lilis terpaksa mengambil surat perjanjian pernikahan miliknya yang dia simpan di bagian paling bawah koper, tertimpa dengan pakaian. Lalu diserahkannya surat itu pada Shehan.


"Ini, Mas."


Selang sedetik surat itu sudah berpindah tangan. Shehan mengeluarkan surat tersebut dari dalam amplop, menunjukkan lembarannya tepat di depan muka Jesslyn. "Apa yang kau maksud adalah surat ini? Surat yang menyatakan kalau Lilis adalah istri kontrakku?"


Jesslyn melihatnya dengan seksama. "Ya, Shehan. Lilis pernah menunjukkan surat ini padaku dan bilang kalau dia hanya istri kontrakmu."


"Tidak, Mas! Itu tidak benar!" Lilis menyangkal.


Satu sudut bibir Shehan naik, tersenyum pelik. Tanpa aba-aba ia merobek surat perjanjian pernikahan itu menjadi dua bagian. Refleks kedua wanita yang ada di sana menganga, terkesiap bukan main.


"Mas, kenapa dirobek?" tanya Lilis, bingung.


Bukan hanya jadi dua bagian, Shehan juga merobek surat itu menjadi potongan-potongan kecil. Setelahnya menghempaskan semuanya ke udara.


Wus ....


Tiap potongannya jatuh berhamburan di sekitar Jesslyn. Jesslyn dan Lilis sama-sama terpaku melihat aksi nekad Shehan. Tak lama pria itu menarik Lilis dengan kencang, hingga menabrak tubuhnya sendiri.


"Akh!" decak Lilis.


Shehan merangkul Lilis dengan erat di depan Jesslyn. "Dia istri sahku sekarang. Jadi kau mau apa?"


"Hah!" Lilis menoleh Shehan dengan ekspresi tak percaya.


"Shehan, kau ini!" Sedangkan Jesslyn menggigit bibir bawahnya, menahan kesal. "Ah!" Ditepisnya tangan ke udara. Sambil bersungut-sungut pergi keluar dari kamar tamu.


***


BERSAMBUNG...