
Sementara Lilis sedang berada di rumah Nugie, anak asuhnya--Nurbanu sedang merengek di rumah ketika Sarah berpamitan hendak pulang.
"Mama! Jangan pergi dari sini, Ma! Tinggal saja di sini sama Banu dan Papa!" Nurbanu merengek pada ibunya seraya mengguncang-guncang kedua tangan Sarah.
Sambil mengusap kepala Nurbanu dengan lembut, Sarah menjawab, "Lain kali Mama datang ke sini lagi, ya! Nanti Mama temani Banu main piano lagi. Main permainan lain juga boleh!"
Namun, bujukan Sarah tidak mempan meluluhkan hati Nurbanu yang malah semakin merajuk. "Uuuh ... tidak mau nanti! Maunya sekarang, Ma! Mama kenapa sih tidak mau tinggal di sini lagi sama Papa dan Banu, Ma?"
Sarah dan Shehan saling bertukar pandang. Nurbanu memang belum sepenuhnya mengerti kalau kedua orang tuanya sudah resmi bercerai. Lagipula Sarah hanya mengatakan akan tinggal bersama temannya yang lain--Jody ketika ia pergi meninggalkan rumah Shehan untuk berangkat ke Jakarta.
"Banu, Mama masih harus bekerja. Besok Mama pasti datang ke sini lagi, menemani Banu bermain." Shehan ikut turut tangan membujuk putrinya, tetapi malahan beralih menjadi objek sorot mata kesal Nurbanu.
"Uuuh, tidak mau, Papa! Banu mau Mama tinggal bersama kita seperti dulu! Mama kan sudah tidak tinggal di Jakarta lagi! Ajak Mama tinggal di sini, Pa!"
Sarah membungkuk, melihat wajah putrinya dari jarak yang lebih dekat. "Banu Sayang, kan ada Kak Lilis yang tinggal di sini dan menemani Banu bermain," bujuknya sambil mengusap kepala Nurbanu dengan lembut.
"Kak Lilis tinggal di sini. Mama juga tinggal di sini! Nanti kita main sama-sama, Ma!"
Sekali lagi, Shehan dan Sarah saling bertukar pandang.
"Banu Sayang, Mama tidak bisa tinggal di sini. Mama harus bekerja sekarang. Mama janji besok datang lagi," ungkap Sarah.
"Selesai bekerja pulang ke sini ya, Ma. Banu masih rindu sama Mama!"
"Maaf Banu, Mama tidak bisa."
"Kenapa Ma? Mama tidak sayang lagi ya sama Banu dan Papa?" Binar mata Nurbanu mulai berkaca-kaca. Kecewa mendengar jawaban ibunya.
"Bukan begitu, Banu. Nanti kalau Banu sudah besar, Banu akan mengerti kenapa Mama tidak bisa tinggal di sini lagi."
Sejujurnya Sarah merasa bersalah, tetapi tidak ada pilihan lain untuk menjelaskan secara gamblang karena Nurbanu pasti masih belum nalar dengan kata perceraian dan kenyataan bahwa kedua orang tuanya telah resmi bercerai.
"Shehan...." Sarah menoleh, "aku pulang sekarang."
"Ya, Sarah."
"Dadah Banu!" Sarah melambaikan tangan beberapa kali, "besok Mama ke sini lagi."
"Mama! Jangan pergi, Ma! Tinggal di sini sama Banu, Ma! Hiks ... hiks ... hiks ... Banu rindu Mama!" Nurbanu langsung berlari memeluk Sarah, menangis dan berteriak histeris--mengungkap kerinduan pada ibunya.
"Banu! Banu tidak boleh seperti ini! Besok Mama datang lagi!" Shehan menghardik cukup tegas.
"Banu, besok Mama datang lagi, Nak!" Sarah berusaha memberi pengertian dengan cara halus. Tidak ingin membuat putrinya semakin terluka.
"Mama tidak sayang lagi sama Banu! Mama tidak sayang lagii!" pekik Nurbanu, lalu melepaskan pelukannya dari Sarah. Anak kecil itu cepat berlari meninggalkan kedua orang tuanya.
"Banu! Banu!" Tangan Sarah hendak menggapai. Rasanya sungguh tidak tega.
"Tidak apa-apa, Sarah. Biar aku saja yang menjelaskannya nanti pada Nurbanu. Kamu pulanglah sekarang!"
"Ya, Shehan. Aku pamit pulang sekarang."
"Hhmm...." Shehan mengangguk singkat.
Seusai kepergian Sarah, Shehan mencari keberadaan putrinya yang ternyata bersembunyi di balik selimut dalam kamar. Shehan mendatangi lalu duduk di tepi ranjang. Masih terdengar isak tangis Nurbanu yang belum reda.
"Hiks ... hiks ... hiks...."
"Hiks ... hiks ... hiks...."
Nurbanu tidak menjawab. Hanya suara sesenggukannya saja yang membalas perkataan Shehan. Di dalam hati, Shehan juga merasa bersalah. Putrinya menjadi korban perceraiannya dengan Sarah. Shehan sendiri juga tidak mau bercerai kala itu. Sarah-lah yang memaksa ingin mengakhiri rumah tangga mereka demi bisa menikah dengan Jody.
Sarah mengatakan jiwanya gersang. Sangat kesepian menghadapi sikap kaku Shehan. Jody-lah yang membuat hari-harinya menjadi penuh tawa karena sifat humoris pria itu. Kini menyesal pun tiada guna. Sarah juga menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu egois hanya mementingkan kebahagiaannya saja.
Di saat menyetir mobil, air mata Sarah menitik di pipi. Ia sedih saat teringat kembali pada Nurbanu yang memohon--memintanya untuk tinggal. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Yang Sarah terima saat ini adalah buah dari hasil benih perbuatan yang dia tabur.
**
Beberapa saat berlalu.
Shehan mondar-mandir gelisah di ruang kerja kantornya seraya memegang gawai. Miranda--sekretarisnya baru saja datang memberikan dokumen hasil kerja hari ini dan wanita itu juga mengatakan kalau sebentar lagi adalah jam pulang kerja seluruh karyawan. Tetapi sampai detik ini, LiIis tidak ada kabar.
(Shehan : Lilis, di mana kamu? Kenapa dari tadi tidak menjawab teleponku? Mbok Tum bilang tadi siang kamu pergi keluar rumah? Keluar ke mana? Kenapa tidak minta izinku dulu kalau mau keluar?)
(Shehan : Lilis, sebenarnya kamu sedang apa dan bersama siapa? Jawab teleponku Lilis.)
Berkali-kali Shehan menghubungi nomor ponselnya. Panggilan telepon itu masuk, tetapi tidak diterima oleh Lilis. Sudah banyak juga pesan yang Shehan kirim menanyakan kabar, tetapi tidak ada satu pun yang dibalas. Alhasil Shehan semakin uring-uringan. Sampai sore berubah petang dan petang menjadi malam. Lilis belum juga kembali.
'Sebenarnya, apa yang sedang Lilis lakukan?' gumam Shehan sambil mengetuk-ngetuk tepi ponselnya ke dagu.
Malam ini cuma Shehan saja yang menghuni meja makan. Nurbanu masih merajuk jadi tidak mau makan. Sedangkan LiIis belum juga kembali. Lantas Mbok Tum meminta izin Shehan untuk menyuapi Nurbanu makan di kamarnya. Shehan pun menyetujui usul Mbok Tum, daripada putrinya sakit--pikirnya.
Lilis sendiri ternyata tengah ketiduran di rumah Nugie. Tubuh lelahnya terbaring dengan posisi cukup nyaman di atas sofa ruang tamu. Nugie mengambil sehelai selimut--menyelimuti tubuh Lilis sampai ke batas dada. Lalu duduk di sofa lain seraya masih memperhatikan Lilis dengan bingung.
Nugie ingin menelepon suami LiIis--Shehan, tetapi tidak punya nomor ponselnya. Mau melihat dari gawai LiIis, toh Nugie juga tidak tahu kata sandi untuk membuka kunci layarnya. Lagipula memeriksa ponsel Lilis adalah pilihan terakhir Nugie jika tidak ada cara lain lagi. Bukan tipe Nugie berani mengotak-atik barang yang bukan miliknya.
Cukup lama Nugie bingung, akhirnya terlintas dalam benaknya untuk menghubungi Ibu Mutia--kakaknya dan menanyakan nomor telepon rumah Shehan.
'Ah! Kenapa tidak terpikir dari tadi!' gerutu Nugie. Ia lekas mengambil ponselnya, menelepon Ibu Mutia. Ibu Mutia sendiri agak terkejut saat Nugie meminta nomor telepon tersebut, tetapi wanita itu tetap memberikannya.
Bukan hanya Ibu Mutia yang terkejut, Shehan juga lebih terkejut saat Nugie menghubungi nomor telepon rumahnya. Kebetulan Shehan-lah yang menerima panggilan telepon itu.
"Kenapa istriku bisa ada di rumahmu?" tanya Shehan selagi bicara melalui panggilan udara.
"Panjang ceritanya. Lebih baik anda datang saja dan jemput Lilis," jawab Nugie.
"Di mana istriku sekarang? Aku mau bicara dengannya!" Shehan mulai gusar.
"Dia sedang tidur."
"Apa? Sedang tidur? Di rumahmu?"
"Iya."
Tak pelak lagi, kegusaran Shehan makin bertambah saat tahu Lilis ada bersama Nugie dan malah tidur di sana.
'Benar-benar keterlaluan!' celoteh Shehan tidak terima.
***
BERSAMBUNG...