Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 92 : Butterfly In You



"Kau seperti kupu-kupu dan kupu-kupu itu ada di dalam dirimu. Dari ulat menjadi kepompong. Melewati proses metamorfosis yang cukup panjang, sang ulat kemudian menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang cantik. Mengepakkan sayapnya dengan bebas. Pergi ke tempat indah yang dia sukai." ~Shehan Murad


**


Betapa Nining terkejut saat mengetahui kalau putrinya menderita penyakit kanker darah dan sedang berjuang melawan penyakit itu. Tubuh tuanya gemetar seraya menangis pilu. Tidak sanggup lagi Nining berkata apapun. Nining kembali teringat kalau itu adalah penyakit yang sama yang menyebabkan ayah LiIis meninggal dunia beberapa waktu silam.


"Kenapa Lilis tidak pernah bilang sebelumnya, hiks ... kalau dia sedang sakit," ungkap Nining, sedih. Berkali-kali wanita tua itu menghapus air mata yang mengalir deras melintasi pipinya yang telah keriput.


"Saya meminta izin untuk membawa Lilis ke Amerika, Bu. Saya akan berusaha menolong LiIis semampu saya."


"Ya, Nak Shehan. Ibu iklhas apapun itu yang terbaik untuk LiIis. Ibu berharap dia bisa sembuh dan segera. Hiks...." Nining kembali terisak.


Shehan ikut sedih selagi berbicara empat mata dengan Nining di ruang tengah. Binar matanya berembun, tetapi dia tidak mau menunjukkannya. "Tolong doakan kami, Bu."


"Ya, Nak Shehan. Sudah pasti Ibu akan doakan yang terbaik untuk kalian berdua."


"Terima kasih, Bu."


Demi mengobati LiIis yang sudah sekarat, Shehan membawanya ke rumah sakit pengobatan kanker di Amerika Serikat. Berbagai upaya terbaik pun dilakukan oleh dokter setempat, salah satunya dengan cara kemoterapi.


Namun sayang, pengaruh obat-obatan dari proses pengobatan tersebut membuat Lilis harus rela kehilangan helai demi helai rambut indahnya. Setiap hari jumlah rambut yang rontok semakin banyak. Berdampak pada penampilannya yang tidak lagi cantik seperti sediakala.


"Hiks ... hiks ... hiks...." Lilis menangis--tubuhnya gemetar ketika melihat bayangannya sendiri di cermin. Dia hampir tidak mengenali wajahnya lagi. Sangat berbeda dengan yang dulu, "hiks ... hiks ... hiks ... arrrgghhh...."


Prang!


Braaakkk!


Kaca cermin itu retak dan pecah. Beberapa pecahannya jatuh ke sekitar bibir wastafel dan lantai toilet. Lilis yang frustasi memukul cermin itu menggunakan gelas yang biasa dia pakai untuk berkumur usai menyikat gigi.


Darah menetes dari tangan LiIis akibat terkena serpihan kaca. Saat LiIis menurunkan tangannya ke bawah, darah yang mengucur semakin banyak jatuh ke lantai. Ketika itu seorang perawat datang ke kamar Lilis dirawat untuk mengantar makan siang, lantas menemukan LiIis berdiri di dalam toilet--menghadap cermin wastafel dengan darah yang mengucur dari tangannya. Sontak perawat itu panik.


"Oh, my gosh! What happened to you? Your hands are covered in blood!"


Sambil tergesa-gesa, perawat itu meletakan kotak makan siang untuk LiIis di atas nakas. Segera berlari menghampiri LiIis di dalam toilet. Sebentar perawat itu menoleh cermin wastafel yang sudah pecah dan retak pada bagian pinggirnya. Ia pun menyadari kalau tangan LiIis terluka akibat memukul cermin wastafel itu menggunakan gelas. Sebab tangan LiIis yang berdarah masih memegang gelas tersebut meski sebagiannya ikut pecah.


"Come on! Let's walk carefully!" kata perawat usai mengambil gelas yang LiIis pegang--meletakannya di bibir wastafel. Ia merangkul LiIis menuju kamarnya lagi. Sementara LiIis sesenggukan, berjalan perlahan menapaki lantai yang terasa dingin meski sekarang masih musim panas.


"Please, sit on your bed! I will take a bandage and medicine to treat your wound," imbuh perawat itu. Tergopoh-gopoh keluar dari kamar LiIis untuk mengambil perban dan obat. Tak berselang lama, ia datang lagi sambil membawa kotak obat di tangannya bersama petugas kebersihan yang dia suruh untuk membersihkan cermin wastafel yang pecah


Beberapa saat kemudian.


Shehan datang sambil membawa sebuah tas kertas belanja warna marun. Belum diketahui apa isi dari tas itu. Tetapi sebelum tiba di kamar Lilis, Shehan sudah diberitahu oleh pihak rumah sakit kalau LiIis sudah memecahkan cermin wastafel menggunakan gelas kumur.


Ceklek!


Lilis sedang berbaring di tempat tidur rumah sakit ketika Shehan masuk ke dalam kamar. Saat melihat Shehan muncul dari balik pintu, cepat-cepat LiIis menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. LiIis tidak mau Shehan melihatnya dalam kondisi menyedihkan seperti ini.


"Jangan mendekat, Mas!" seru LiIis dari dalam selimut.


"Lilis, kamu sudah makan siang?" tanya Shehan seraya mengelus kepala LiIis dari luar.


"Jangan mendekat, Mas! Apa Mas tidak mendengarku? Aku sedang tidak ingin Mas ganggu!"


Lilis menjadi lebih emosional dan cepat marah karena frustasi dan depresi. Ia tertekan menghadapi penyakitnya yang tidak kunjung sembuh. Malahan hidupnya kini bergantung pada obat-obatan dan cuci darah.


Meskipun begitu, Shehan mengerti mengapa sikap LiIis berubah menjadi demikian. Sebagai suami, ia tegar dan bersabar menemani LiIis sepanjang waktu. Tidak pernah mengeluh sama sekali.


"Lilis, ayo, kita keluar! Cuaca sedang bagus di luar," ajak Shehan, mengedarkan pandangannya sejenak ke luar jendela.


"Tidak mau, Mas! Aku mau sendirian! Jangan ganggu aku!" sergah LiIis lagi lalu sayup-sayup terdengar suara tangisnya, "hiks ... hiks ... hiks...."


Shehan yang begitu mencintai istrinya tidak akan membiarkan LiIis menangis. Ia memaksa membuka selimut yang menutupi sekujur tubuh LiIis meski awalnya ditahan oleh LiIis dan terjadi sedikit pergulatan di antara mereka. Usai berhasil mengambil paksa selimut itu, Shehan melihat LiIis sedang menutupi hidungnya yang mimisan.


Lagi, Shehan tersenyum tipis--berusaha tabah. Mengambil selembar tisu kering dari kotaknya yang berada di atas nakas--bersanding dengan tas kertas belanja yang dia taruh tadi.


"Kemarilah! Aku akan membersihkannya!"


Awalnya Lilis bergeming. Namun, ajakan Shehan yang kedua telah meluluhkan hatinya.


"Kemarilah, Sayang! Aku ingin kamu mendekat padaku."


Lilis menurut saat Shehan membantunya duduk di tempat tidur. Shehan kemudian membersihkan darah mimisan Lilis menggunakan tisu yang tadi dia ambil dan ternyata tidak cukup untuk membersihkan darah Lilis yang keluar cukup banyak. Shehan mengambil lebih banyak tisu, dengan telaten merawat Lilis.


Lilis bergeming--memperhatikan Shehan. Di dalam hati ia merasa tersentuh sekaligus terenyuh. Tersentuh karena Shehan begitu baik masih mau mendampinginya meski ia telah tidak berdaya. Di satu sisi Lilis khawatir pada Shehan bila dia tidak bisa bertahan lebih lama, siapa yang akan menemani suaminya.


"Mas...," panggil Lilis tatkala Shehan sudah selesai membersihkan darah mimisannya.


"Ya." Shehan tersenyum--menatap penuh cinta.


"Aku sudah jelek, Mas. Aku malu bila berada di dekat Mas," ratap Lilis. Matanya cepat berembun.


"Kamu tidak jelek, Lilis. Sama sekali tidak." Shehan mencoba menghibur istrinya. Ia mengambil tas kertas belanja dari atas nakas lalu mengeluarkan isinya. Sehelai kain panjang penutup kepala sudah Shehan persiapkan ketika ia mendengar kabar dari perawat yang membantu Lilis tadi kalau Lilis depresi melihat penampilannya yang nyaris botak.


Shehan memakaikan kain itu--menutupi kepala Lilis. Supaya Lilis tidak lagi terbebani karena kehilangan rambutnya. Shehan lalu menyeka setetes darah mimisan terakhir yang keluar dari hidung Lilis dengan jari telunjuk. Ia mengoleskan darah itu ke bibir Lilis agar wajah Lilis tidak pucat.


"Kamu seperti kupu-kupu dan kupu-kupu itu ada di dalam dirimu. Dari ulat menjadi kepompong. Melewati proses metamorfosis yang cukup panjang, sang ulat kemudian menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang cantik. Mengepakkan sayapnya dengan bebas. Pergi ke tempat indah yang dia sukai."


Shehan ingat bagaimana penampilan Lilis dulu yang dianggapnya kampungan. Seiring berjalannya waktu, LiIis berubah menjadi istrinya yang cantik jelita. Meski sekarang kecantikan fisiknya telah pudar. Namun, kecantikan hati tetap menjadi aura kecantikan yang sejati.


Kedua sudut bibir Lilis berkedut. Sedikit demi sedikit membentuk segaris senyum penuh arti. Senyum yang menyejukkan hati Shehan setelah cukup lama ia tidak melihat secercah kebahagiaan terpancar dari raut istrinya yang pucat.


***


BERSAMBUNG...