Butterfly In You

Butterfly In You
Bab 82 : Perasaan Shehan Pada Sarah



Kilas balik dua jam yang lalu.


Aroma wangi mawar menguar di udara setelah Sarah menyemprotkan parfum kesukaannya ke sekitar tubuhnya. Diletakannya kembali botol parfum di atas meja rias. Lantas, kedua tangannya menyeka ke belakang rambut panjangnya yang tergerai. Bayangannya tampak cantik memukau di cermin dan Sarah sendiri juga mengetahui itu.


Ia kemudian berbalik badan, hendak mengambil tas tangan warna dewangga yang ditaruh di atas nakas. Tas tangan itu senada dengan sepatu stiletto dan sangat kontras mendampingi gaun warna kerak terusi yang sedang dia kenakan. Sekali ayunan, pegangan tas tangan tersebut langsung tersanggah di genggamannya.


Sarah melenggang gemulai menuju mobilnya yang terparkir di garasi di samping rumah. Dengan kecepatan sedang, ia mengemudikan mobil keluar dari pelataran menuju badan jalan raya yang cukup ramai. Selang semenit, mobil itu sudah bergabung di antara kendaraan roda empat dan roda dua lainnya.


Tepatnya kemarin, Sarah tiba di Bali usai memutuskan untuk meninggalkan kota Jakarta. Sarah kini menempati rumah lamanya. Dia sama sekali tidak berkeinginan untuk kembali ke Jakarta sebab alasannya untuk menetap di kota metropolitan itu sudah tidak ada. Mungkin, Sarah akan menetap di Bali atau setidaknya dia akan tinggal di pulau Dewata untuk waktu yang lama.


Lantas, ke mana laju mobil Sarah berhenti?


Tempat perhentian itu ternyata adalah halaman depan rumah Shehan. Sarah sebelumnya telah memberitahu mantan suaminya itu sejak hari pertama dia tiba di Bali. Shehan pun menanggapi hal tersebut dengan gembira lalu menyuruh Sarah datang ke rumahnya untuk menemui Nurbanu.


Tidak bermaksud apa-apa, Shehan pikir dengan menyuruh Sarah datang dapat menghibur suasana hatinya yang masih berduka atas rasa kehilangan suami. Begitupun dengan Nurbanu, pasti akan senang bila bertemu ibu kandungnya.


"Banu Sayang...."


"Mama...."


Nurbanu kecil sontak berlari menuju rentangan tangan ibunya. Sarah senang bisa memeluk putrinya seperti ini. Cukup lama ia menggendong, baru setelahnya Nurbanu diturunkan lagi. Keduanya duduk bersebelahan di sofa ruang tamu. Sebentar Sarah mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia heran mendapati keadaan rumah yang sepi.


"Di mana Kak Lilis, Banu?"


"Kak Lilis bilang tadi mau keluar sebentar, Ma. Tapi tidak tahu mau ke mana soalnya Banu disuruh di rumah saja. Tidak boleh ikut," adu Nurbanu sedikit cemberut. Dia memang sempat merajuk saat meminta LiIis agar mengajaknya juga.


"Oh ... begitu, ya," balas Sarah dengan tenang.


"Nyonya Sarah...."


Panggilan Mbok Tum dari arah belakang mengecoh perhatian Sarah dan Nurbanu. Kompak pasangan ibu dan anak itu sama-sama menoleh Mbok Tum yang tengah menyambangi mereka di ruang tamu seraya membawa nampan berisi dua gelas minuman dingin serta dua piring berisi camilan.


"Mbok Tum! Bagaimana kabar, Mbok?" Seketika Sarah tersenyum lebar dapat bertemu mantan asisten rumah tangganya lagi.


Mbok Tum balik tersenyum ramah. "Saya baik, Nyonya Sarah," jawabnya sambil meletakkan gelas dan piring ke atas meja. "Kabar Nyonya bagaimana?"


Sarah menghela napas ringan dengan sorot mata teduh yang tidak hilang dari tatapannya. "Sudah lebih baik, Mbok," ungkap Sarah.


"Syukurlah kalau begitu, Nyonya. Silakan dinikmati hidangannya, Nyonya Sarah," kata Mbok Tum kemudian.


"Terima kasih. Oh ya, ke mana LiIis pergi, Mbok?"


"Non Lilis?" Mbok Tum jeda sejenak, "oh ... tadi Non Lilis bilang mau keluar sebentar. Tapi tidak tahu pergi ke mana, Nyonya. Jadi Mbok disuruh menjaga Non Nurbanu."


Sarah mengangguk samar.


"Nyonya Sarah, apa ada lagi yang Nyonya butuhkan?"


"Tidak, Mbok." Sarah menggeleng lemah.


"Kalau begitu, Mbok tinggal ke belakang dulu, ya."


"Iya, Mbok."


Mbok Tum membungkuk singkat untuk menghormati mantan istri majikannya. Selepas kepergian Mbok Tum, Nurbanu tiada henti bermanja-manja dengan ibunya. Nurbanu sangat bahagia saat tahu Sarah kembali ke Bali dan tidak akan tinggal di Jakarta lagi.


"Jadi Banu sudah bisa main piano lagu apa?" tanya Sarah penuh kasih, menanggapi cerita putrinya.


"Bintang kecil, Ma. Mama mau lihat Banu main piano? Sini Ma, Banu kasih tahu!" Nurbanu antusias menarik tangan ibunya agar mengikutinya ke ruang piano. Sarah pun menurut saja.


Keduanya duduk di bangku grand piano. Senyum Sarah terus merekah menyaksikan putri kecilnya sudah mulai lincah menekan tuts meskipun tangga nada yang terdengar belumlah beraturan. Sarah pasti akan mendukung hal positif yang baik untuk perkembangan buah hatinya.


"Mama, sekarang Mama coba main piano, ya!" pinta Nurbanu.


"Baiklah, Sayang!" Sarah menempatkan jari-jarinya ke atas deretan tuts dengan benar.


"Mama bisa main lagu apa?" tanya Nurbanu, bersemangat.


"Eum ... lagu apa, ya!" Manik mata Sarah berputar sembari mengingat sesuatu. "Banu dengar ini, ya!"


"Ya, Ma."


Perlahan, jari-jari Sarah menekan tuts piano dengan lentik, menghasilkan alunan melodi yang indah. Di saat itu, Shehan yang kebetulan pulang ke rumah karena mau mengambil dokumen yang tersimpan di ruang kerjanya sontak terperanjat ketika mendengar alunan melodi yang sangat akrab di telinganya.


Lantas, Shehan berputar arah. Tidak jadi pergi ke ruang kerjanya. Melainkan beranjak menuju ruang piano. Semakin dekat langkah kakinya, semakin jelas pula alunan melodi itu terdengar. Shehan pun mendapati Sarah sedang bermain piano di sebelah putrinya.


Deg!


Tanpa sengaja, Shehan terenyuh. Ingatannya tentang masa empat tahun silam kembali terngiang. Kala itu Sarah bermain piano dengan alunan melodi yang sama di hari ulang tahunnya. Mereka adalah pasangan suami-istri yang bahagia dan serasi menurut Shehan sebelum Jody datang lalu memisahkan Sarah darinya.


Shehan bergeming, memerhatikan dari ambang pintu. Ketika Sarah menoleh, ia terkesiap melihat Shehan sudah ada di sana entah sejak kapan.


"Shehan, kenapa berdiri di situ? Ayo, duduklah bersama kami!" ajak Sarah sambil tersenyum manis.


"Iya, Pa. Ayo, sini, Pa! Kita main piano sama Mama!" Nurbanu menimpali dengan girang.


"Hhmm...." Shehan berdeham lalu menghampiri keduanya. Ia duduk di bangku yang sama dengan mantan istrinya. Sedangkan Nurbanu-lah yang menjadi pemisah di antara mereka.


Shehan kembali bergeming, menghayati permainan piano Sarah. Dia sangat senang mendengar alunan melodi itu. Namun, itu dulu dan sekarang ketika mendengarnya lagi dari orang yang sama, hatinya terasa hampa.


Kembali ke masa sekarang.


Tatkala ketiganya sedang bercengkrama, Lilis yang baru pulang dari rumah sakit tanpa sengaja melihat kedekatan mereka. Nurbanu tertawa riang. Sarah juga tersenyum bahagia, lepas bebas tanpa beban. Sementara Shehan, Lilis tidak melihat ekspresi suaminya karena posisi Shehan membelakanginya.


Dengan sedih LiIis berpaling. Mengayunkan langkah lemahnya menjauh dari ruang piano. Ia terus berjalan sampai ke pelataran rumah, sampai keluar dari gerbang utama. Sambil terus berjalan di trotoar tanpa tahu ke mana arah tujuannya. Sesekali dia menyeka darah mimisannya sampai tangannya kotor berlumuran darah dan menjadi perhatian orang-orang yang berpapasan dengannya.


Sadar orang-orang menatapnya dengan sorot mata curiga, akhirnya LiIis berhenti di halte bis dan duduk di sana. Ia mengambil sebungkus tisu basah dari dalam tas yang dia kenakan kemudian mulai membersihkan tangannya yang berlumur darah.


Beberapa saat berlalu, meski tangannya sudah bersih, tetapi LiIis masih enggan pulang. Tetap duduk di halte seraya melamun seorang diri. Sudah ada beberapa bis yang berhenti. Namun, Lilis bergeming tidak peduli hingga akhirnya bis itu pergi lagi.


Di antara kerumunan pengemudi mobil yang sedang melaju di jalan raya, tampak seorang pria tanpa sengaja melihat Lilis duduk sendirian di halte bis. Bukan sekadar duduk, pria itu juga menyadari kalau wajah Lilis sedikit menunduk dan tampak murung.


***


BERSAMBUNG...


Hai Readers Tercinta, terima kasih banyak masih setia mengikuti cerita LiIis sampai sejauh ini. Nah, di episode kali ini, Author mau nanya, nih! Menurut Readers gimana sih perasaan Shehan ke Sarah? Pengen tau komentar Readers untuk menjawab judul dari bab ini.


Jawabannya bisa Readers tulis di kolom komentar, ya! ^^