
Lilis menyusupkan jarinya di sela-sela jari tangan Shehan. Berbaring menyamping--membelakangi Shehan yang ikut berbaring seraya memeluknya dari belakang. Selembar selimut menutupi separuh tubuh keduanya. Sprei yang telah kusut menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya percintaan yang baru saja mereka tunaikan.
"Mas...," panggil Lilis seraya masih bermain-main dengan jari tangan suaminya.
"Hhmm...." Shehan berdeham untuk merespon.
Cup....
Lantas mengecup bahu Lilis dari belakang.
"Terima kasih atas semua kebaikan Mas pada keluargaku. Mas adalah malaikat bagiku." Lilis terharu mengungkapkan perasaannya yang paling dalam.
"Kita semua sudah menjadi bagian dalam satu keluarga sekarang. Apalagi Ibumu, aku tidak menganggapnya sebagai ibu mertuaku, tetapi melebihi itu. Aku sudah menganggapnya seperti ibu kandungku sendiri. Kalau kamu masih mau tinggal di sini lebih lama, tidak apa-apa. Biar aku, Nurbanu dan Pak Maman saja yang pulang ke Bali besok."
Sekonyong-konyong Lilis berputar badan menghadap Shehan. "Tidak, Mas. Aku memang suka bila berada di dekat Ibu. Tapi statusku sekarang adalah istri Mas. Aku harus berada di tempat yang sama dengan suamiku berada. Jadi aku akan ikut pulang bersama Mas besok."
"Tidak apa-apa, Sayang." Jemari Shehan menyisir rambut Lilis ke belakang. "Aku akan mengizinkanmu tinggal selama dua hari lagi di sini. Setelah itu, Pak Maman akan menjemputmu."
"Kalau aku tidak ada, siapa nanti yang akan memasak makanan untuk Mas?" Lilis bermanja-manja dengan suaminya.
"Kan ada Mbok Tum," balas Shehan ringan.
"Terus, siapa yang akan membantu Mas berpakaian?" Lilis lebih menuntut.
Shehan mengerutkan alisnya, jahil. "Kenapa kamu sekhawatir ini? Apa kamu takut aku membawa perempuan lain ke dalam rumah?"
Lilis mencebik cemberut. Hal itu seketika membuat kedua sudut bibir Shehan berkedut menahan tawa. "Jangan cemberut, Sayang! Kejadian yang lalu adalah kesalahan yang aku sendiri juga tidak menginginkannya. Percayalah, aku tidak akan meninggalkanmu ataupun membawa wanita lain lagi ke dalam rumah."
Barulah senyum lega Lilis tercipta. "Mas ini! Aku tidak berharap kejadian seperti waktu itu terjadi lagi," rengeknya kemudian.
Shehan mengelus pipi istrinya mesra. "Ya, itu tidak akan terjadi lagi. Giliranmu untuk bahagia sekarang."
"Tapi, apa Mas terkadang juga rindu dengan keluarga Mas di Turki dan ingin pulang ke sana?"
"Tentu, mereka adalah keluargaku. Aku menghabiskan seluruh masa kecilku sampai besar di Ankara. Pastinya sesekali aku merindukan Turki dan udara musim semi di sana," kenang Shehan.
"Bagaimana rasanya musim semi, Mas? Aku tidak tahu karena Indonesia hanya punya dua musim saja."
Shehan menyeret pandangannya yang sempat berpaling ke arah Lilis lagi. "Musim semi itu hangat. Salju yang menumpuk di sekitaran rumah akan mencair saat menjelang musim semi tiba. Bunga-bunga bermekaran dan daun tumbuh dengan warna hijau cerah."
"Pasti bagus sekali!" gumam Lilis, kagum.
"Ya, Sayang." Shehan memainkan sekumpulan rambut Lilis yang terjuntai di pipi. Menggulung-gulungnya dengan jari, "apa kamu mau ke Turki bersamaku?"
"Ke Turki bersama Mas?" Sontak Lilis tercengang, nyaris belum percaya ajakan Shehan.
"Ya, aku ingin mengajakmu mengunjungi negaraku. Lagipula sejak menikah, kamu selalu di rumah saja. Aku belum pernah mengajakmu pergi berbulan madu."
Tak perlu waktu lama bagi Lilis untuk menjawab. "Tentu, ya! Aku mau, Mas!" Bersemangat.
"Tapi kamu tidak bisa melihat musim semi karena sekarang sedang musim panas."
"Yah...." Helaan napas kecewa Lilis menguar, "jadi apa yang bisa kita lakukan di musim panas, Mas?"
"Hhmm ... kita bisa naik balon udara di Kapadokia."
"Baiklah, aku akan mengajakmu naik balon udara. Tapi sebelum ke Kapadokia, kita harus singgah dulu ke Ankara untuk bertemu sanak saudaraku di sana."
"Ya, Mas. Aku mau." Sekonyong-konyong Lilis menghamburkan diri memeluk suaminya. Membenamkan wajahnya di dada Shehan. "Terima kasih sudah mau mengajakku ke sana."
Shehan tidak membalas dengan kata-kata, melainkan memberi sebuah kecupan di kepala sebagai bentuk ungkapan rasa sayang yang lebih nyata.
**
Esok hari.
Lilis membenahi beberapa barang yang dia bawa saat hendak pergi ke Banyuwangi kemarin. Ketika akan bertolak kembali ke Bali, tak lupa barang-barang tersebut dia susun lagi ke dalam tas jinjing berukuran cukup besar. Selepas dari Banyuwangi, mungkin Shehan tetap akan pergi bekerja, tetapi datang agak siang. Sementara sekarang masih pagi dan mereka semua sedang menghuni ruang makan untuk sarapan.
Sebelumnya, Lilis menyempatkan diri bangun awal agar bisa membantu ibunya memasak. Doni, Shehan dan yang lain juga bangun cepat, tetapi mereka memilih untuk lari pagi di sekitar area rumah seraya menikmati hangatnya sinar ultraviolet. Hampir satu jam berada di luar, barulah para rombongan itu pulang dan mandi secara bergantian.
Piring-piring berisi makanan dan cangkir-cangkir teh telah Lilis susun di atas meja kayu yang dilapisi dengan kaca. Di tengah meja terdapat vas bunga mawar sebagai hiasan. Jendela-jendela dibuka, semilir angin masuk dengan bebas dan membuat suasana ruang makan jadi lebih sejuk.
Masing-masing orang menarik kursi sebelum acara makan dimulai. Nurbanu duduk di dekat Nining. Pak Maman berada di sebelah Doni dan Lilis--tentu saja berdampingan dengan suaminya. Kegiatan makan mereka dimulai setelah Nining mempersilakan semua anggota keluarga untuk makan. Lilis-lah yang membantu mereka untuk menyajikan makanan ke piring masing-masing.
Saat sedang makan, Shehan memberanikan diri untuk menyampaikan keinginannya pada Nining. "Ibu, saya berniat mau mengajak Lilis ke Turki untuk mengunjungi keluarga saya di sana. Jadi berhubung kita masih bertemu di sini, saya mau meminta izin Ibu untuk membawa Lilis."
Nining menanggapi dengan semringah. Sedangkan yang lain ikut mendengarkan sembari melahap makanan mereka.
"Ke Turki, ya? Wah, Ibu tidak menyangka anak Ibu bisa pergi ke tempat bagus itu! Tentu, Nak Shehan. Ibu mengizinkan Lilis pergi ke sana. Nak Shehan adalah suaminya dan mau berkunjung ke rumah saudara juga."
"Ya, Ibu. Apalagi sejak awal menikah, kami belum pergi ke mana-mana untuk bulan madu," imbuh Shehan lagi.
"Iya, ya. Waktu itu sehabis acara resepsi pernikahan, Nak Shehan dan Lilis cuma sekadar jalan-jalan di pusat kota Banyuwangi saja. Belum benar-benar pergi untuk bulan madu yang sebenarnya."
Lilis menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena tersipu malu.
"Ibu, saya juga berencana mau mengajak Ibu dan Doni untuk ikut bersama kami ke Turki."
Nining dan Doni saling bertukar pandang.
"Ah, terima kasih, Nak Shehan. Tapi mohon maaf, sepertinya Ibu dan Doni tidak bisa ikut ke sana. Nak Shehan dan Lilis belum pernah merayakan hari pernikahan berdua saja. Biarlah Nak Shehan dan Lilis saja yang pergi. Saat-saat seperti ini sulit terjadi lagi. Jadi Ibu dan Doni masih bisa pergi lain waktu."
"Tidak apa-apa, Bu. Kami tidak keberatan." Lilis menimpali.
Nining yang merasa segan lekas menolak lagi. "Tidak usah, Lis. Tidak apa-apa, Ibu dan Doni di rumah saja. Nikmatilah kehidupan pernikahanmu, Nak. Apalagi usia pernikahan kalian masih bisa dikatakan baru."
"Iya, Kak Lilis. Doni juga masih ada tugas kuliah yang belum selesai dan sebentar lagi harus dikumpulkan. Jadi Doni mau fokus dengan tugas kuliah dulu," tandas Doni.
Shehan mengangguk lemah sekali. "Baiklah, Bu, Doni. Lain kali kalau kita semua punya waktu luang, kita semua akan pergi bersama-sama."
"Iya, Nak Shehan. Ibu titip salam untuk keluarga Nak Shehan di Turki, ya."
"Ya, Ibu. Akan saya sampaikan."
Semua orang kembali menyantap makanannya dengan tenang.
***
BERSAMBUNG...